Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
29 > Pelukan Terakhir


__ADS_3

Setelah pagi hari, Syerkhan terbangun kemudian dia berjalan menghampiri kamar Syifa dan mengetuk-ngetuk pintu kamar. Namun, tak ada jawaban sama sekali membuatnya benar-benar sangat kesal dan tidak bisa bersabar lagi.


Dengan kekuatan penuh, ia langsung mendobrak pintu kamar Syifa dan pintu itu pun terbuka. Namun, tidak ada sang istri di dalam.


"Ke mana perginya Syifa, apa dia kabur?!" tanya Syerkhan dengan begitu emosi.


Pria itu langsung berteriak, memanggil semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Syifa, membuat Dila sangat terkejut.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Dila dengan terkejut.


Karena, pagi hari sang suami sudah berteriak-teriak seperti kehilangan sebuah ema besar.


"Syifa kabur!" jawab Syerkhan.


Membuat Dila sangat terkejut. Sebab, tidak menyangka kalau Syifa akan kabur dari rumah sang suami.


"Mas, bercoba tenang dahulu setelah itu baru kita cari Syifa bersama. Karena, saat ini ia tengah mengandung anakmu, aku takut dia kenapa-kenapa," jawab Dila dengan lembut dan Syerkhan menganggukan kepalanya.


Syerkhan bergegas pergi dari sana menuju kamar utama. Sebab, ia ingin berganti baju setelah itu ingin mencari keberadaan sang istri.


Sedangkan Dila, masih di sana. Sebab, ia sudah bersiap-siap sejak pagi karena hari ini akan menemui sang anak di toko.


"Sebaiknya, aku titip pesan saja kepada pelayan aku pergi ke toko Anggi. Sebab, yang mencari Syifa ada anak buah yang lain. Jadi, aku tidak perlu ikut," gumam Dila sambil terus berjalan.


Wanita paruh baya itu berjalan, menuju dapur kemudian bertemu dengan pembantu dan menyampaikan kalau ia pergi ke toko Anggi.


"Jika mas Syerkhan bertanya, katakan saja aku pergi menemui Anggi, dan sampaikan maafku kepadanya. Karena, tidak bisa membantunya mencari Syifa," ucap Dila dengan lembut.


"Baik nyonya, saya akan sampaikan itu nanti kepada tuan Syerkhan," jawab sang pembantu.


"Terima kasih, ya BI. Aku pergi dulu," ucap Dila sampai bergegas pergi dari sana.


Wanita itu mengemudikan mobil sendiri karena ia tidak mau merepotkan sopir. Sebab, ia tahu para supir akan mencari keberadaan Syifa.


"Aku sangat sedih, suamiku mencari wanita lain yang sudah menjadi istrinya. Tapi, apa boleh buat dia tidak mau melepaskanku dan, apa aku saja yang menggugatnya? Tetapi, aku masih sangat mencintainya?" gumam Dila dengan sangat bingung, sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Setelah sampai di toko sang anak ia sama sekali tidak melihat toko itu buka, dan langsung menelepon.


Anggi: Halo Ma, maaf Anggi masih di rumah Juwita, karena semalam Anggi pingsan.


Dila: Katakan di mana rumah Juwita, mama akan datang!


Anggi: Baik Ma, Anggi Sherlock!


Anggi memutuskan sambungan teleponnya, kemudian mengirimkan lokasi rumah Juwita kepada Dila, dan wanita paruh baya itu langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah calon menantunya.


"Aku benar-benar sangat cemas kepada anak itu," gumam Dila dengan sangat cemas akan keadaan sang anak.


Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar, segera sampai lokasi yang dikirimkan oleh Anggi.


Namun, saat dia tengah di lampu merah Dila melihat Syifa tengah duduk di pinggir jalan dengan keadaan yang terlihat seperti orang gila.


"Astaga itu Syifa!" pekik Dila.


Wanita itu turun dan langsung menghampiri Syifa, kemudian menarik tangan gadis masuk ke dalam mobilnya.


Syifa menangis tersedu-sedu sambil memeluk Dila dengan erat, karena ia begitu sangat hancur saat ini.


"Tante, maafkan Syifa sudah menikah dengan suami Tante, yang artinya Syifa adalah seorang pelakor," ucap Syifa dalam isak tangisnya.


"Jangan katakan seperti itu! Karena, kamu bukan seorang pelakor, tante yang ingin om Syerkhan menikahimu, bukan kamu yang merebut om Syerkhan dari tante," ucap Dila dengan sangat lembut.


Syifa semakin terisak-isa, karena Dila sangat baik kepadanya. Wanita paruh baya itu pun memberikan air minum kepada Syifa agar gadis itu tenang.


"Sayang, kamu tenang dulu! Jangan menangis histeris seperti ini, ayo ceritakan pelan-pelan kepada tante," ucap Dila sambil mengemudikan mobilnya, karena lampu sudah berubah berwarna hijau.


Syifa sudah tenang, kemudian ia menceritakan semua yang terjadi kepadanya, dan Dila merasa sangat iba Sebab, sama sekali tidak bisa membantu gadis itu.


"Kalau saja benih om Syerkhan tidak ada di dalam rahimmu, tante akan membebaskanmu dari pernikahan ini. Tapi, tante sendiri tidak bisa karena kamu sedang mengandung anak om Syerkhan," ucap Dila dengan lirih.


Syifa menganggukkan kepalanya, karena ia juga tahu akan hal itu jika ia tidak hamil maka dia tidak akan pernah kembali bersama Syerkhan lagi, apalagi menikah dengan pria itu.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Juwita, hati Syifa benar-benar sangat sakit, kemudian ia menenangkan diri dan turun bersama Dila menuju rumah sang sahabat.


Karena, ia ingin melihat keadaan Anggi yang diceritakan oleh Dila tengah sakit, dan sangat ingin segera menghampiri pria itu.


Dila mengetuk-ngetuk pintu rumah Juwita, dan tak berselang berapa waktu pintu terbuka dan terlihat gadis itu membukakan pintu sambil menatap tajam ke arah Syifa.


"Kenapa Syifa juga ada di sini?" tanya Juwita jangan ketus.


"Tidak apa sayang, tadi tante bertemunya di jalan. Jadi, tante membawa dia sekalian ikut," sahut Dila yang mengetahui kalau Juwita tidak menyukai adanya Syifa.


"Kalau aku tidak diperbolehkan masuk. Aku tunggu di dalam mobil saja, tidak apa-apa," sambung Syifa.


Sebab, ia melihat raut wajah Juwita yang sangat tidak menyukai keberadaannya dan, dia sadar bahwa kehadirannya tidak dibutuhkan.


"Tidak, maksudku bukan begitu, aku hanya heran saja di saat pengantin baru kamu malah ikut Tante Dila menjenguk Anggi," sahut Juwita agar Syifa tidak salah paham.


Ketiga wanita itu pun bergegas masuk ke dalam, terlihat Anggi duduk sambil memakan sarapan yang dibuatkan oleh Juwita tadi.


Anggi sangat terkejut saat melihat Syifa ada di hadapannya, kemudian ia menggantikan sarapan dan menatap gadis itu dengan sangat dalam.


Begitu juga dengan Syifa, menatap Anggi dengan tatapan lirih. Kemudian, meneteskan air matanya.


"Anggi, bisakah aku berbicara sebentar saja?" tanya Syifa dengan sangat lirih dan, Anggi langsung menganggukkan kepalanya.


"Kita bicara di dalam mobil saja! Karena, aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita," ucap Anggi sambil beranjak bangun.


Anggi berjalan bersama dengan Syifa ke luar. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam mobil Anggi, sedangkan Juwita dan Dila mereka hanya menunggu di ruang tamu atas permintaan Anggi .


"Anggi, maafkan aku, semua ini terjadi bukan karena keinginanku, aku juga tidak ingin berada di dalam posisi yang seperti ini. Aku ingin seperti dulu bisa mencintaimu dengan bebas dan kita bisa bersama," ucap Syifa dengan sangat diri sampai meneteskan air matanya.


Anggi juga menangis, karena ia tidak tahan melihat Syifa bersedih seperti saat ini. Jujur ia sangat mencintai gadis itu sampai detik ini.


"Aku juga sangat mencintaimu. Tapi, apa boleh buat papaku sudah menanamkan benih di dalam rahimmu, yang artinya kita tidak akan bisa bersama sampai kapanpun karena adikku," jawab Anggi dengan lirih.


Syifa sama sekali tidak bisa menahan tangisnya dan, ia langsung memeluk Anggi kemudian menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Anggi pun tidak keberatan akan hal itu, karena ia juga sangat merindukan Syifa dan ia berpikir ini adalah pelukan terakhir mereka.


BERSAMBUNG.


__ADS_2