
Malam hari tiba . . .
Syifa baru selesai berganti baju dan, langsung menidurkan tubuh di atas sofa sambil mengingat kembali malam kelam, yang sama sekali tidak ia ingat.
"Tuhan, apakah bisa waktu untuk aku putar kembali?" ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu menitihkan air mata, kemudian menghapus setiap tetes air yang membasahi pipinya.
"Aku harus kuat dan, semoga saja aku tidak hamil," ucap Syifa dengan sangat berharap.
Sebab, dia tidak akan mampu melewati semua bila dirinya hamil anak Syerkhan, sang calon mertuanya.
Pada saat itu pintu rumah Syifa diketuk oleh seseorang, membuat gadis itu penasaran siapa yang datang malam-malam seperti ini.
"Siapa ya? Apa, itu om Syerkhan?" gumam Syifa.
Kemudian dia bergegas pergi menuju pintu rumahnya dan, membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia melihat ternyata Anggi yang datang.
"Syifa, boleh aku masuk?" tanya Anggi dengan sangat lembut.
Syifa terdiam, karena dia bingung harus berbuat apa sekarang. Gadis itu pun sudah memutuskan agar tidak membiarkan Anggi bersamanya selama satu bulan ini, sampai dia memutuskan hubungan mereka.
"Tidak bisa, karena warga akan marah bila kita di dalam berdua. Sebab, sudah sering kali kita bersama," jawab Syifa dengan lembut.
"Kalau begitu, kita di sini saja!" sahut Anggi.
Syifa semakin bingung mencari alasan, agar Anggi pergi dari rumahnya. Sebab, ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun, karena hatinya benar-benar kacau saat ini.
"Anggi, sebenarnya aku tidak enak badan. Beberapa hari lagi aku akan pergi ke luar kota, mengurus proyek," jawab Syifa dengan lembut.
Anggi sedih, karena terlihat jelas Syifa menghindari darinya. Namun, ia tidak mempermasalahkan hal itu dan memilih untuk menghargai keputusan Syifa.
"Baiklah, aku akan pergi. Selamat malam." Anggi bergegas pergi dari sana dengan sangat sedih.
Syifa meneteskan air mata, sambil terus menatap kepergian Anggi. Jujur, hatinya sangat sakit, karena dia tidak akan bisa memiliki pria pujaan hatinya.
"Maafkan aku," ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu langsung membuang pandangannya saat Anggi berbalik badan dan menatap dirinya. Kemudian, Anggi bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Syifa semakin terisak-isak dan, masuk ke dalam dengan sangat sedih saat mengingat kembali wajah Anggi tadi.
"Salahkah aku mencintaimu, salahkah aku menginginkanmu?!" Syifa menangis sambil memegang dada.
Sebab, rasanya sangat sakit saat dirinya ingat bahwa mereka tidak akan bisa bersama, karena Syerkhan sudah merenggut kesuciannya.
"Aaahhh! Tuhan, bawa aku menemui ibu!" teriak Syifa dalam isak tangisannya.
Gadis itu benar-benar sangat sedih dan, berpikir kenapa semuanya terjadi, dia juga semakin membenci Syerkhan.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan mau menikah dengan om Syerkhan, walaupun aku hamil anaknya!" ucap Syifa dengan tegas.
Gadis itu juga bersumpah tidak akan mau menikah dengan Syerkhan, apapun yang terjadi. Sebab, dia sangat membenci calon mertua yang tega merusak masa depannya.
. . .
Anggi pulang dengan sangat sedih, karena dia berharap sekali bisa pergi melihat persiapan pernikahan yang telah dibuatnya.
Namun, Syifa menolak dan memberikan banyak alasan padanya sehingga semua keinginannya hanya menjadi angan-angan saja.
'Mungkin memang dia lelah, karena pekerjaan di perusahaan sangat banyak,' batin Anggi lirih.
"Sayang, ada apa?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Iya, ada apa?" tambah Dila dengan cemas.
Anggi langsung menghampiri sang mama dan memeluk wanita itu dengan lembut, kemudian menceritakan semua tentang Syifa.
Syerkhan tersesemum, karena semua rencanya sudah berhasil membuat Syifa menjadi miliknya, tanpa memikirkan sang anak dan istrinya.
'Tidak sia-sia, aku menanamkan benih kepemilikanku di rahim Syifa,' batin Syerkhan.
Entah apa yang membuatnya sangat egois sampai merebut wanita, yang akan menjadi menantunya.
"Ma, sampai kapan kami harus berdiam-diam seperti ini?" tanya Anggi dengan lirih.
Jujur, dia tidak tenang karena ucapan Syifa beberapa Minggu lalu, saat gadis itu mengatakan bahwa mereka tidak berjodoh.
"Sudahlah, nanti mama akan bicara padanya," jawab Dila dengan lembut.
__ADS_1
"Benar itu, karena beberapa hari lagi, kami akan ke luar kota sampai satu bulan. Sebab, ada proyek yang harus selesai dalam waktu satu bulan," tambah Syerkhan.
Anggi langsung diam, karena dia benar-benar tidak tenang. Bagaimana dia tidak gelisah, karena satu bulan kedepan ia tidak akan bisa berkomunikasi dengan Syifa.
"Pa, bisakah Papa memintanya untuk menerima panggilanku?" ucap Anggi dengan lembut.
Syerkhan tersenyum dan menganggukkan kepala, karena dia memang akan berbicara dengan Syifa. Namun, bukan membicarakan apa yang di pinta oleh Anggi, melainkan hanya minta Syifa agar memutuskan hubungan dengan sang anak.
"Terima kasih Papa, Anggi sangat senang," ucap Anggi dengan sangat bergembira.
Anggi langsung menghampiri sang papa dan, memeluk pria itu dengan sangat lembut. Hati Syerkhan tidak merasakan penyesalan sudah merusak kebahagiaan sang anak.
'Maafkan papa, karena sudah merusak kebahagiaanmu,' batin Syerkhan.
Syerkhan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun, karena dia memang pandai bersandiwara.
"Euum, senangnya bisa melihat kalian akur dan, semoga kita selalu bersama seperti ini sampai selamanya," ucap Dila dengan sangat bergembira.
Sebab, bisa melihat suami dan anaknya akur seperti saat ini. Sebab, biasanya mereka berdua akan selalu bertengkar.
"Kata siapa kita akan selalu seperti ini? Sebab, cepat atau lambat. Syifa akan selalu bersama kita di rumah ini dan, juga akan ada seorang bayi," ucap Syerkhan dengan lembut.
Dila dan Anggi tersenyum, karena mereka tidak sabar akan pernikahan yang sudah 50 persen selesai, hanya tinggal menunggu hari saja.
'Apa yang aku katakan memang benar, karena Syifa akan hadir di sini menjadi istriku dan, dia juga pasti akan hamil anakku,' batin Syerkhan.
Pria itu tersenyum sambil terus memeluk sang anak dan,Dila merasakan hal janggal saat sang suami berkata tentang Syifa.
'Apa ini hanyalah perasaan ku saja? Tapi, Papa tidak mengatakan Syifa datang ke rumah ini menjadi istri Anggi,' batin Dila sambil terus berpikir.
Hatinya seakan tidak tenang, saat sang suami berucap seperti itu tadi dan, dia langsung bergegas pergi. Sebab, tiba-tiba saja pikirannya langsung terbang ke sembarang arah.
Dila duduk di sofa sambil memegang anting Syifa dan, terus memikirkan ucapan sang suami tadi. Entah mengapa, hatinya langsung cemas.
"Kenapa hatiku mengatakan, mereka memiliki rahasia yang tidak aku ketahui. Apa sebenarnya hal buruk itu terjadi?" ucap Dila dengan sangat cemas.
Wanita itu berniat akan bertanya pada sang suami, apa saja yang dilakukan Syerkhan bersama Syifa. Jujur, saat melihat tanda merah di leher gadis itu, dia benar-benar cemas.
BERSAMBUNG.
__ADS_1