
Syifa sangat menyesal sudah pergi dari rumah, karena semua yang dia dengar hanya salah paham. Gadis itu langsung mencium tangan sang suami dengan lembut.
"Maafkan Syifa ya Om, karena sudah salah paham dengan semua dan, malah memilih untuk pergi," ucap Syifa lirih.
Syerkhan tersenyum dan, menganggukkan kepala, kemudian dia pun mencium tangan sang istri.
"Paman, jangan sakiti Bunda Micella lagi ya?" ucap Micella lembut.
Syerkhan langsung menoleh dan, dia pun memegang tangan gadis kecil itu dengan lembut, karena ia gemas akan Micella.
"Siap gadis cantik, aku akan menjaga Bunda mu dengan baik," jawab Syerkhan lembut.
Micella senang sang bunda ada yang menjaga, sehingga dia tenang meninggalkan gadis itu di sini.
'Aku tenang Bunda ada yang menjaga, sebab aku khawatir dia akan selalu tersakiti,' batin Micella.
Ya, saat Syifa dan sang papa berdua, Micella mengintip dan mendengar ucapan gadis itu, membuatnya sangat sedih.
"Bunda, bila ada waktu mainlah ke rumah Micella ya," ucap Micella dengan lembut.
Syifa menganggukan kepalanya, kemudian dia memeluk gadis itu itu dengan lembut. Jujur, ia sedih berpisah dari adiknya, karena hanya mereka yang ia punya sekarang.
'Jujur, aku kecewa pada diriku sendiri, sebab tidak bisa memiliki Syifa seutuhnya, karena dia memiliki wajah yang sama seperti Cinta,' batin Dilon lirih.
Dilon hanya pura-pura tersenyum, agar tidak ada yang mencurigainya, kalau ia tidak menyukai Syerkhan kembali lagi bersama Syifa.
"Kalau begitu, kami permisi pulang," ucap Dilon lembut.
Syifa merasa sedih, karena Micella akan pulang. Namun, ia juga harus ingat, kalau sang adik harus pulang ke rumahnya sendiri.
"Ya, Bunda Micella harus pulang," ucap Micella lirih.
Jujur, Micella masih ingin bersama Syifa dan, tidur berdua lagi dengan wanita cantik itu, sebab ia merasa tidur bersama mamanya.
"Bagaimana jika, gadis kecil ini tidur di sini dan, besok akan om antara ke sekolah?" usul Syerkhan.
Pria itu senang pada anak perempuan, sebab ia menginginkan punya anak sepasang. Namun, Dila tidak bisa melahirkan lagi, sebab wanita itu trauma akan kelahiran Anggi.
"Papa, ya," ucap Micella dengan sangat imut.
Agar dia bisa membujuk sang papa dan, pria itu pun menganggukan kepalanya, sebab ia tidak bisa menolak keinginan anaknya.
"Yes!" sorak girang Micella.
Gadis kecil itu berpelukan dengan Syifa, sebab ia senang diizinkan menginap di rumah Syerkhan, yang artinya akan tidur berdua dengan sang bunda seperti semalam lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, papa pulang dulu," ucap Dilon lembut.
"Hati-hati di jalan," ucap mereka semua dengan serempak.
Dilon tersenyum, kemudian bergegas pergi dari sana, karena ia harus segera pulang dan, mengerjakan tugas untuk meeting besok pagi.
Setelah kepergian Dilon, Syerkhan maupun Syifa sama-sama saling lirik dan tersenyum manis, begitu juga dengan Micella.
"Bunda, di mana kamar kita? Micella sangat mengantuk?" tanya Micella dengan lembut.
"Mari om antara kalian," jawab Syerkhan cepat.
Syifa dan Micella, menganggukkan kepala mereka dan, bergegas mengikuti pria itu menuju kamar tamu.
"Sudah sampai," ucap Syerkhan lembut.
Micella langsung tersenyum dan, masuk ke dalam, kemudian dia menidurkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman.
"Kamu tidak merindukan, aku?" tanya Syerkhan lembut.
Syifa langsung menoleh, kemudian dia menggelengkan kepalanya. Padahal ia sangat merindukan sang suami. Namun, malu mengungkapkannya.
"Bohong! Mana mungkin, anakku dan istriku tidak merindukan aku, selama satu hari berpisah," bantah Syerkhan.
"Bunda!" panggil Micella.
Syifa langsung bergegas menghampiri Micella, kemudian tidur di samping gadis kecil itu dan, Syerkhan pun ikut bersama mereka.
"Micella, sekarang kelas berapa?" tanya Syerkhan lembut.
Pria itu bertanya pada Micella. Namun, matanya tertuju pada Syifa, sebab ia sangat merindukan sang istri.
Apa lagi, dia mengingat pagi istimewa yang diciptakan oleh Syifa kemarin, membuatnya semakin ingin lagi dan lagi.
"Baru kelas dua, Om Syerkhan," jawab Micella lembut.
"Lalu, di mana mama Micella?" tanya Syerkhan lagi.
Sontak membuat Micella diam dan, menitihkan air matanya, sebab ia sangat merindukan sosok sang mama.
"Ada apa, kenapa menangis? Apa perkataan ku ada yang salah?" tanya Syerkhan lembut.
Micella tidak menjawab, malah semakin terisak-isak, membuat Syifa dan Syerkhan panik, kemudian mereka memeluk gadis itu dengan lembut.
"Om, sebenarnya ... " Syifa menceritakan semua pada Syerkhan.
__ADS_1
Pria itu langsung diam dan, mengelus-elus kepala Micella dengan lembut, sebab ia sedih mendengar kisah hidup gadis kecil itu.
"Micella sayang, di sini ada om dan juga Bunda, dia akan sangat menyayangi mu, begitu juga dengan om," ucap Syerkhan lembut.
Micella langsung berhenti menangis dan, menjawab ucapan Syerkhan dengan gumam, kemudian gadis itu kembali diam.
"Micella jangan bersedih lagi, sebab di sini ada om Syerkhan dan Bunda Syifa, yang akan mencintai kamu dengan tulus," tambah Syerkhan.
Micella hanya diam, membuat Syerkhan bingung harus berbuat apa, sehingga dia menceritakan dongeng putri kerajaan.
Bukan hanya Micella yang tidur, melainkan Syifa juga tertidur mendengar dongengnya, membuat dia sangat gemas.
'Kalau aku pindahkan Syifa, pasti Micella bangun. Tapi, aku ingin sekali memeluk istriku dan mencium dia,' batin Syerkhan bingung.
Pria itu tidak bisa menahan dirinya terlalu lama, sehingga dia memindahkan tubuh Micella ke tempat tidur satu lagi dan, ia pun memeluk sang istri sepuas hatinya.
"I really miss you," ucap Syerkhan di telinga Syifa.
Pria itu mencium seluruh wajah sang istri dan, sang empunya sama sekali tidak bangun, sebab sudah terlelap dalam alam mimpi yang indah.
. . .
Di mana-mana, pasangan pengantin baru, menikmati masa indah mereka bersama. Namun, kali ini jauh berbeda, Anggi dan Juwita selalu bertengkar, hanya karena masalah sepele.
"Lepaskan aku!" teriak Juwita.
Gadis itu terus memberontak, agar dirinya terbebas dari dekapan sang suami. Namun, tidak bisa, sebab kekuatan Anggi melebihinya.
"Tidak akan!" jawab Anggi.
Juwita semakin memberontak dan, Anggi pun semakin menguatkan dekapannya, membuat Juwita lemas.
"Gue minta maaf dan, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," ucap Juwita lembut.
Sebab, gadis itu sudah kehilangan tenaganya, karena Anggi benar-benar sangat kuat. Bahkan, berkeringat pun pria itu tidak.
"Bagus, jangan elo pikir gue ini bencong ya, selalu pakai baju seksi sama kayak elo," ucap Anggi.
Pria itu langsung melepaskan dekapannya dan, melemparkan bajunya pada Juwita, meminta sang istri memakai bajunya.
"Nggi, gue gak biasa tidur pakai baju, tolong ngertiin gue ya?" ucap Juwita dengan memohon.
Agar Anggi mengizinkannya memakai hot pans, sebab ia merasa panas, walaupun di dalam kamar mereka ada AC.
BERSAMBUNG.
__ADS_1