Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
44 > Sakit hati


__ADS_3

Juwita langsung diam dan, menutup mulutnya, karena dia sudah keceplosan bersikap kasar pada sang suami.


'Astaga, kenapa mulut ini keceplosan, 'kan Anggi jadi melihat aku dengan tajam,' batin Juwita.


Anggi langsung diam dan, dia pun bergegas pergi dari sana, sebab mereka harus pergi secepat menemui sang mama.


. . .


Lagi-lagi hati Syifa sakit dan nyeri, saat melihat Syerkhan akan menemui Dila, walaupun hal itu Anggi yang memintanya. Namun, dia tidak bisa menerima hal itu.


"Sayang, kenapa hanya diam? Bukankah, kita akan pergi?" tanya Syerkhan lembut.


Syifa langsung tersadar dan, menatap wajah sang suami yang terlihat sangat tampan. Padahal pria itu tidak berubah sejak mereka bertemu.


"Iya Om, ini Syifa sudah siap. Tapi, tiba-tiba perut Syifa sakit," jawab Syifa dengan nada manja.


Syerkhan langsung menghampiri sang istri, kemudian mengelus-elus perut Syifa dengan lembut, sebab ia sangat khawatir akan keadaan anak yang ada di dalam kandungan gadis itu.


"Apa masih sakit? Kalau masih, kamu di rumah saja! Biar aku yang pergi sendiri," ucap Syerkhan lembut.


Syifa langsung menatap wajah Syerkhan, sebab bukan ucapan itu yang ingin dia dengarkan. Namun, ia ingin sang suami tidak pergi dan, tetap di rumah bersamanya.


"Euum, masih Om," jawab Syifa yang seolah-olah menahan rasa sakit.


'Hal ini bagus, sebab aku bisa bertemu Dila dengan bebas tanpa adanya Syifa dan, aku juga bisa membujuk dia kembali lagi bersamaku,' batin Syerkhan.


Syifa sedih, karena sang suami sama sekali tidak memperdulikannya dan, lebih memilih pergi menemui Dila dan Anggi.


"Aku pergi dulu." Syerkhan bergegas bangun dan mencium puncak kepala Syifa dengan lembut.


Kemudian dia bergegas pergi dari sana tanpa memikirkan istri yang masih sakit perut. Padahal Syifa sangat berharap diperhatikan oleh pria itu.


"Ya, om Syerkhan pergi menemui tante Dila," ucap Syifa lirih.


Gadis itu menitihkan air mata, karena sedih sang suami pergi. Padahal dia tidak mencintai pria itu.


"Sayang, papa pergi," ucap Syifa sambil mengelus-elus perutnya.


Entah mengapa, semenjak kehamilannya yang mulai membesar, dia semakin ingin berada didekat sang suami.


"Tidak-tidak, aku harus pergi sebelum om Syerkhan mencerainkan aku dan, dia mengambil anakku," ingat Syifa pada diri sendiri.


Gadis itu mulai menyusun barang-barangnya ke dalam koper dan, langsung bergegas pergi dengan mengendap-endap, agar tidak ada yang tahu akan kepergiannya.

__ADS_1


"Aman. Tapi, aku mau pergi ke mana?" gumam Syifa sambil terus berjalan menyusuri jalanan.


Tiba-tiba saja, ada sebuah mobil yang hampir menabraknya, membuat Syifa menangis, karena ketakutan.


"Aaahhh! Hiks ... hiks!"


Pria tampan langsung turun, sambil membawa anaknya yang masih berusia delapan tahun.


"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya pria tersebut dengan lembut.


"Kak, apa ada yang luka? Maafkan Papa ya, karena hampir menabrak Kakak," ucap gadis kecil yang masih mengenakan seragam sekolah SD.


Syifa langsung menoleh dan, menatap wajah mereka dan, pria itu langsung membuka mulut lebar-lebar.


"Kamu mirip sekali dengan dia, wanita yang sangat aku cinta selama ini," ucap pria tersebut dengan sepontan.


Syifa hanya mengerutkan keningnya, kemudian dia pun ikut bersama mereka masuk ke dalam mobil.


"Kak, ambil minum ini agar Kakak tenang," ucap gadis kecil itu.


Syifa langsung meminum air yang diberikan oleh gadis kecil itu, kemudian kembali menatap wajah pria yang hampir menabraknya.


"Lihatlah, bukankah wajahmu dan dia sangat mirip," ucap pria tersebut.


Syifa langsung membuka mulutnya, karena Poto yang pria itu perlihatkan adalah mamanya.


Dilon sangat terkejut, saat mengetahui kalau yang ada dihadapannya adalah anak adik tirinya, yang sangat dicintai sejak dulu.


"Jadi, kamu keponakanku?" tanya Dilon dengan sangat tidak percaya.


Sebab, ia dan adik tirinya sudah puluhan tahun tidak bertemu, karena wanita itu menolak cintanya.


"Keponakan?" tanya Syifa bingung.


Sebab, dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya.


"Sebenarnya . . ." Dilon menceritakan semua pada Syifa dan, gadis itu langsung mengerti.


Dilon memeluk Syifa dengan lembut dan, mereka berdua menangis tersedu-sedu, sebab terharu bisa bertemu.


"Jadi, di mana mama dan papamu?" tanya Dilon dengan lembut.


Syifa hanya diam, karena dia sedih mengingat kedua orang tuanya yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

__ADS_1


"Kak, papa bertanya pada Kakak, kenapa hanya diam?" tanya Micella lembut.


Syifa tidak menjawab, melainkan menangis tersedu-sedu, sebab ia mengingatkan saat kecelakaan terjadi dan, merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Kak, jangan bersedih, Micella juga adik untuk Kakak, kita bisa bersama selamanya," ucap Micella lembut.


Syifa langsung memeluk gadis kecil itu dan, mereka saling tersenyum, kemudian Syifa menceritakan semua yang terjadi pada Dilon.


"Ya ampun, aku sama sekali tidak tahu apapun tentang itu, sebab mereka berdua kabur dan, kami kehilangan komunikasi," ucap Dilon tak percaya.


"Sekarang, kamu tinggal di mana dan, bersama siapa?" tambah Dilon.


Syifa mengelengkan kepalanya, kemudian Dilon melihat tas besar milik gadis itu dan, mengambil kesimpulan, bahwa keponakannya tidak memiliki tempat tinggal.


"Jangan bersedih! Kami, akan menampungmu, sebab kamu juga bagian dari keluarga kami," ucap Dilon lembut.


Pria itu tahu, kalau Syifa bersedih, karena memikirkan tempat tinggal dan, sang keponakan pun menganggukan kepalanya.


'Sepertinya tidak apa, kalau aku tinggal bersama pamanku sendiri, sebab aku tidak memiliki siapapun lagi, kecuali om Syerkhan,' batin Syifa lirih.


"Asik, Micella ada teman di rumah, kalau Papa pergi!" teriak Micella dengan girang.


Tunggu, gadis kecil itu senang adanya Syifa di rumah mereka? Lalu, di mana mama gadis kecil itu?


"Sebenarnya ..." Dilon menceritakan semua pada Syifa.


Kalau mamanya Micella pergi dari kehidupannya, hanya karena melahirkan anak untuknya dan, hal itu membuat Syifa bersedih.


"Aku akan menjadi kakak untukmu," ucap Syifa lembut.


"Asik!" teriak Micella dengan girang.


Dilon tersenyum bahagia, sebab Syifa benar-benar sangat mirip dengan adik tirinya, membuat dia bisa melepaskan rindu yang terpendam lama.


'Setidaknya, aku bisa melepaskan rinduku padanya, walaupun dia sudah tenang di surga,' batin Dilon lirih.


. . .


Syerkhan merasa cemas akan keadaan sang istri, dia pun menyesali perbuatannya yang meninggalkan sang istri sendiri di rumah.


Hanya karena ingin bertemu dengan Dila, wanita yang ingin bercerai dengannya dan, ia meninggalkan gadis yang tengah mengandung buah hatinya.


"Bodohnya aku, kenapa meninggalkan Syifa sendirian? Bagaimana jika dia semakin sakit, atau dia tiba-tiba pingsan?" gumam Syerkhan.

__ADS_1


Pria itu memutar balik mobilnya, karena dia sangat cemas akan keadaan Syifa yang mengeluh sakit perut tadi.


BERSAMBUNG.


__ADS_2