Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 11. Sekolah Anindya


__ADS_3

Sudah pukul 12 siang, Berata menuju sekolah Anindya, dia berjanji untuk menjemputnya.


Jalan didepan SMA 1 Denpasar sangatlah ramai, berata kebingungan mencari Anindya karena ini pertama kalinya dia menjemput Anindya


Sementara itu disekolah.. "Ayolah Anin, ijinkan aku mengantarmu pulang, ayolah, aku sangat menyukai kamu" Kata Oka, anak yg mengejar Anindya


"Tidak usah" Jawab anin


"Oka kemudian merebut tas anin dan menyembunyikan di belakang punggungnya, Anindya sangat kesal


" Oka berikan tasku"berusaha merebut tas yg ada di punggung oka


" Adegan seperti orang memeluk, Anindya yg ada didepan Oka, tak sadar, oka lalu akan mencium Anindya yg sedang merebut tasnya... Tapi kemudian Anindya sadar sebelum oka mencium nya, Anindya telah lebih dulu menampar Oka


"Jgn kurang ajar kamu Oka"


Oka yg tidak Terima,kemudian melempar tas anin ke tanah yang berdebu


"Anindya, apa sih kurang nya aku, kenapa kamu terus menolak ku, sedangkan cewek lain semua antre ingin pulang bersamaku, harusnya kamu bangga aku duluan yg mengajak kamu"


"Oka, dasar laki laki kurang ajar kamu, suka mempermainkan perempuan, aku tak akan pernah mau dengan laki-laki bejat seperti kamu" Sambil meninggalkan oka dan mengambil tasnya yang kotor


"Hahah..Anindya.. Kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, jangan panggil aku oka kalau kamu tak naik ketempat tidurku" Kata oka dengan bangga


Dengan kesal dia keluar gerbang " Semoga kak berata benar menjemput ku" Kata Anindya dalam hati


Keluar gerbang Anindya gembira sekali, ternyata berata menunggu didepan sekolah dengan Mega Pro bututnya


"Kak Berata," panggil Anindya dan berjalan menuju berata


Berata tersenyum melihat Anindya "ternyata baru baru ku perhatikan Anindya gadis yg cantik" Gumamnya dalam hati


"Dya.. Kenapa tas mu kotor"


"Tadi gak sengaja jatuh kak disenggol orang" Muka Anindya cemberut


"Eh eh nona manis kalo cemberut tambah cantik" goda berata


"Kak berata..." Anindya mencubit pinggang Berata


Berata pura pura mengaduh dan kesakitan lalu Anindya menghentikan aksinya mencubit Berata


Tiba tiba disampingnya berhenti sebuah mobil sport berwana merah metalik


" Ternyata kamu meninggalkanku demi pemuda yg naik motor butut ini ya" Kata oka menyindir


" Bukan urusanmu aku pulang dan dekat dengan siapa" Kata anindya sinis


"Kamu akan menyesal anin, ingat kata kataku"

__ADS_1


Lalu dari mobil sport keluar 3 orang yg membawa stik baseball


"Hancurkan motor ini" kata oka menunjuk ke berata


"Oka,kurang ajar kamu ya" Teriak Anindya


Berata kemudian turun dari motor


"Dya.. Tenanglah, aku akan memberi mereka pelajaran sopan santun"


"Jgn kak berata Oka adalah preman sekolah, temannya juga banyak preman preman di pasar yg suka memukuli orang, tak ada orang yg berani melawannya karena bapaknya orang kaya"


"Justru itu Dya, kakak akan menggantikan bapaknya untuk mengajarinya sopan santun"


"Hah kamu akan memberikan aku pelajaran sopan santun?? Hahah mimpi di siang bolong bro, patahkan juga kakinya" Oka memerintah


Anindya berteriak ketakutan, tapi sebelum teman teman oka menendang ke tiga orang tersebut sampai terlempar 5 meter kebelakang


"Hebat juga kamu, tapi kami belum tau aku" Kata oka sambil menendang ke udara dengan gata tendangan taekwondo


"Biasanya orang yg besar mulut tidak ada apa apanya, tong kosong nyaring bunyinya" Kata berata santai


"Bangsat kamu" Sambil menyerang berata dengan tendangan


"Hanya begini saja kemampuanmu, kau sudah sombong, aku akan tunjukkan kamu tendangan taekwondo yg sebenarnya"


Berata bergerak melompat dan menendang berputar "dwi hurigi" Katanya dan tendangannya mengenai wajah oka dan oka langsung tersungkur jatuh


"Ayo kita pergi Dya, hilang nafsu makan kakak melihat anak sombong ini" Lalu pergi menuju Warung bu Agung.


Dengan naik motor butut Berata, Anindya bahagia dengan riang membonceng sambil memegang pinggang Berata, wajahnya bersemu merah.


Berata merasakan detak jantung Anindya seperti drum tertabuh. "Kamu kenapa Dya.. kenapa jantungmu berdebar-debar kencang banget... Kamu takut sama anak yg tadi"


"Ihh.... gak lah .. mana ada takut . Kan ada kak Berata disini"


"Trus kenapa jantungmu berdetak kencang?"


"Kakak..." Anindya mencubit pinggang Berata sampai motor sedikit oleng, dengan refleks Anindya memeluk pinggang Berata


Darah muda Berata berdesir, 2 kali sudah Anindya memeluk dirinya. Dia membiarkan Anindya memeluk pinggangnya.


Wajah Anindya semakin merah, dalam hati dia bergumam "Kak Berata, jangan pernah tinggalkan Dya, aku suka kak Berata, aku sayang kakak"


Berata tiba tiba mendengar suara hati Anindya , tanpa sadar dia berkata "Aku tak akan pernah meninggalkanmu Anindya"


Anindya yang mendengar tiba tiba terkejut "kak Berata bilang apa"


Berata gelagapan " gak.. gak", ternyata Anindya menyukai ku pikirnya

__ADS_1


Tak berapa lama, akhirnya Berata tiba di warung Bu Agung, Bu agung sangat senang melihat Berata


"Eh Berata.. kamu udah lupa tempat ini ya... kamu gak pernah datang kemari"


"Tidak.. Bu, saya tak akan pernah lupa tempat ini" kata Berata sambil tersenyum


"Mari Berata, kamu makan dulu, tadi Anindya sudah minta ijin minta kamu antar dia beli buku"


Sambil menoleh Anindya "pakai merengek Lo Berata" menggoda Anindya


"Ibu... "Jerit Anindya . Sambil berlari ke kamar dengan wajah merah


Berata tertawa, lalu membantu Bu Agung.. merapikan meja dan mengumpulkan piring kotor untuk dicuci


"Duduk Berata" dengan wajah serius "ibu ingin berbicara sama kamu"


Berata canggung, tumben melihat Ibu Agung tampak Serius


"Berata, ibu mau berbicara sama kamu, ibu harap kamu tidak marah"


"Ibu bicara' saja, Berata tak akan pernah marah dengan Ibu" kata Berata hormat


"Begini Berata, ibu lihat Anindya menyukai kamu, ini pertama kalinya ibu melihat Anindya menyukai laki laki"


Menarik Nafas berat "Berata, Anindya masih terlalu kecil untuk menjalani hubungan yang serius, ibu harap kamu tau, masa depan Anindya masih panjang, ibu harap kamu tidak merusak masa depan Anindya"


"Maaf Bu, Berata tidak mengerti"


"Ibu harap kamu menjaga Anindya Baik baik, ibu tidak melarang kalian saling menyukai, tapi kamu harus membuktikan sama ibu bahwa kamu itu layak bagi Anindya"


"Baik Berata mengerti, Berata tau saat ini Berata bukan apa apa, tapi suatu saat nanti ibu akan melihat Berata menjadi orang yg berhasil"


"Ibu jangan pernah kuatir, Berata akan menjaga Anindya baik baik, bahkan dengan nyawa Berata sendiri sebagai taruhannya"


"Ibu percaya kamu anak yang baik, kamu harus membuktikan dirimu layak untuk Anindya, jika tidak jangan salahkan ibu akan keras kepadamu"


Suasana jadi sedikit Canggung, untung nya Anindya sudah datang


"Kak.. yuk kita jalan ke Gramedia..." Menarik tangan Berata


"Makan dulu, baru pergi' kata Bu Agung


"Nanti aja Bu.. makannya, masih siang nie" sambil menarik tangan Berata


"Jgn pulang terlalu sore"


"Ya Bu" kata Anindya


Berata canggung, "mohon ijin Bu" kata Berata

__ADS_1


"Hati hati, tolong jaga Anindya" kata Bu Agung dengan dalam


__ADS_2