Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 62. Paris


__ADS_3

Mereka tiba di Paris , selama dalam perjalanan mood Anindya mulai membaik, sering merajuk, mungkin sudah bosan bersikap dingin dengan suaminya.


“Kak, kakak pernah ke Prancis sebelumnya?”, kata Anindya


“Pernah, kakak pernah menjalanan misi disini dengan pemerintah Prancis saat ada penyanderaan seorang Diplomat Indonesia”, kata Berata


“Benarkah sayang?, kenapa kita tidak bertemu??, Dyalah ketua tim negosiator itu kak”


“apa??, berarti yang memerintahkan penyerbuan itu kamu sayang??


“Iya Dya yang memerintahkan, bukankan kita beberapa kali berkomunikasi lewat HT kak, kenapa kakak tidak mengenali aku”


“Ntahlah sayang, mungkin belum dapat ijin dari Dewata”, kata Berata memeluk pinggang istrinya menuju hotel tempat mereka menginap.


“Kak, 11 bulan lagi baru kita bisa bertemu dengan mereka, aneh rasanya kalau saat bertemu mereka sudah seperti berumur 20 tahun”


“Jangan kuatir, kakak sudah memeohon kepada Kakek Naga Basuki untuk mengembalikan pertumbuhan mereka secara Normal karena jika dibiarkan mereka akan kehilangan masa kecil mereka dan susah untuk bersekolah, saat kita bertemu mereka, mereka hanya akan menjadi anak berumur 11 tahun normal”


“Benarkah kak, mereka tumbuh terlalu cepat, belum puas Dya menggendong mereka, mereka sudah keburu besar”


“iya sayang, sekarang sayang mandilah, kita akan makan malam romantis di sebuah resto mewah, kita belum pernah memanjakan diri kita”


“Kalo sama kakak, warteg pun enak kak”, merajuk sambil memeluk Berata


Anindya membersihkan badannya sedangkan Berata menunggu di sofa sambil menonton TV, ternyata telah terjadi gempa yang aneh beberapa kali di tempat yang tidak ada patahannya.


Lalu pintu kamar mandi terbuka , Anindya menampakkan sedikit mukanya kepada Berata, “Tidak ikut mandi kak??”, berata gelagapan langsung melompat menutup Kamar mandi menyusul istrinya.


….


Malam harinya mereka makan di sebuah restoran Michelin Bintang 5, mereka makan hampir mengeluarkan uang sebesar $4000, Anindya sedikit kesal dengan itu


“Kak kita terlalu boros, $4000 bisa memberi makan banyak mulut”


“Tenang sayang, supaya kegundahanmu terbayarkan, kakak akan menyumbang 10x lebih banyak dari apa yang kita keluarkan dalam perjalanan ini”


“hhmmm dasar sombong”


Berata terkekeh, “sayang kita jalan kaki saja ke hotel , dekat kok, kita menyusuri taman ini saja sudah sampai di depan hotel kita, hitung-hitung kita lagi pacaran sayang”


“Kalo Dya Capek gendong ya”


“iya”


Mereka berjalan menyusuri pusat kota lalu masuk kesebuah taman, ada banyak pertunjukan seni disana, Berata membeli sekuntum mawar dan diberikan kepada Anindya, bahkan mereka sempat berhenti untuk mendengaran permainan biola dan kemudian berdansa dengan syahdu, orang yang lewat memperhatikan sekilas dan berlalu begitu saja karena pemandangan yang biasa bagi mereka. Berata memberikan tips kepada pengamen hampir $500, dan pengamen itu sangat senang .


Tapi saat Berata memberikan uang kepada pengamen, sepasang mata memperhatikan dia dengan seksama.


Berata dan Anindya duduk di sebuah bangku taman, mereka terlihat mencolok karena mengenakan gaun dan tuxedo. Anindya tidur di pangkuan Berata.


“Sayang, kamu bahagia”


“Aku sangat Bahagia kak”


“Trus kenapa kemarin marah bisa sebulan?”


“Abis kakak seperti santai saja kalo anaknya diasuh orang lain”


“Salah sayang, kakak juga sedih”


“Sudah- sudahlah kak, kita kan mau pacaran kok malah ngomongin yang sudah lewat”


“Maafkan kakak sayang” lalu membelai rambut Anindya.


Kemudian ada 2 pengamen kecil datang menghampiri Berata, 2 orang remaja , membawa gitar, Berata meminta mereka menyanyikan lagu Lady of Dream Kitaro dan Jon Anderson dengan tantangan kalau bisa Berata akan memberikan mereka uang $1000


Mereka setuju, lalu mulai menyanyi, Anindya masih tetap berbaring di pangkuan Berata.


LADY OF DREAM


Save me a place


In the heart of your hearts


When you think of love


Never forsake me


Wanting and dreaming you


Each time I think of you


Lying naked beside me


Only a Lady of Dreams


She will bring magic


To sing to your heartstrings


Only a Lady of Dreams


Come alive, you are all


That I desire


Save me a place


In the heart of your hearts


When you think of dreams


Never forsake me


Waiting and holding you

__ADS_1


Each time I come to you


Lying naked beside you


Only a Lady of Dreams


Could there be magic


To sing to your heartstrings


Only a Lady of Dreams


Come alive, you are all


That I desire


Something tells me


This is love that surrounds


Only a fool


Without wisdom can see


Blind as I am


In your eyes


My Lady of Dreams


Blind as I am


In your eyes


My Lady of Dreams


Save me, save me


A place in your heart


Tears escape from me


When we're apart


Please dream of me now


My Lady of Dreams


My thoughts and wishes


Are all the surrounds


Mysteries hold you


Then fly you away


My Lady of Dreams


My Lady of Dreams


Save me a place


In the heart of your heart


When you think of love


Never forsake me


Wanting and dreaming you


Each time I think of you


Lying so naked beside me


Only a Lady of Dreams


Could there be magic


To sing to your heartstrings


Only a Lady of Dreams


Come alive, you are all


That I desire


Something tells me


This is love that surrounds


Only a fool


Without wisdom can see


Blind as I am


In your eyes


My Lady of Dreams


Blind as I am


In your eyes


My Lady of Dreams

__ADS_1


Berata sangat senang lalu memberi 2 orang pengamen remaja itu uang $1000, “Terimakasih Kak”, kata Anindya lalu mencium Berata.


Tiba –tiba, “Serahkan uang kalian, kalau kalian tidak ingin terluka “, kata seorang menodongkan pisau di leher berata


“Lebih baik kalian pergi jangan menggangu kami”, Kata Berata


“teman kami banyak disini, jadi lebih baik serahkan uang kalian”


Tangan kiri berata memegang pisau penodong, tentu saja penodong tersebut mencoba menariknya, tapi berata memegang kuat pisau tersebut lalu memukulnya sampai patah, itu di lalukan berata sambil tetap duduk di kursi taman


Anindya yang kesal, bangkit, mengangkat gaunnya dan menendang kedua penodong tersebut sampai terpental kebelakang, dan kedua orang itupun lari.


“Kak.. kita pulang gara – gara penodong itu , moodku hilang”


“yuk, sudah malam juga, ayo naik ke punggungku, aku akan menggendongmu”


“yeeeeee”, Anindya sangat bahagia, dia naik keatas punggung Berata, berata kemudian berlari kecil, Anindya merentangkan tangannya bak naik pesawat, berata juga gembira bisa menyenangkan istrinya, setelah berlari beberapa saat, dia berjalan pelan, yang melihat merekapun sedikit iri dengan kemesraan mereka, lalu disebuah sudut tamat Berata melihat 2 pengamen tadi sedang di pukuli 4 orang tak dikenal.


Telinga berata yang bisa mendengar dari jauh mendengar jeritan anak yang dipukuli, “Jangan pukul adikku, jangan pukul… kami tak punya uang lagi”


“Kalian bohong , aku tadi dengan jelas melihat kalau pasangan itu memberi kalian banyak uang setelah bernyanyi, dimana kalian simpan uang itu??”


“Itu uang untuk pengobatan ibu kami yang sakit , kami tak akan memberikan nya” kata si kakak


“kalau begitu kalian akan menukarkan uang tersebut dengan nyawa kalian”, sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat.


Berata menendang sebuah kerikil , kerikil itu melesat mengenai tangan orang yang memegang pisau, orang itu menjerit kesakitan karena tangan nya tertembus batu kerikil.


“Siapa pelakunya”,


Lalu Berata berjalan menuju mereka dan masih menggendong Anindya, melihat Berata datang, mereka langsung ketakutan , dan pergi dari tempat itu karena mereka telah menyaksikan berata mematahkan pisau dan memukul teman mereka.


“Bangunlah kalian berdua”, kata Berata sambil menurunkan Anindya


“Terimakasih tuan dan nyonya “, kata anak yang lebih tua


“Siapa nama kalian “, kata Anindya


“Saya Constantine dan ini adik saya camile, terimakasih atas bantuan tuan dan Nyonya, tapi tuan dan nyonya harus segera pergi, mereka anak buah Cesar, penjahat di kota ini”,


“Kami tidak takut pada mereka Constantine”, kata Anindya


“mereka sangat berbahaya, mereka mengendalikan semua penjahat di kota ini”, kata Constantine


“Kebetulan sayang, kakak pingin olah raga”


“Jangan gegabah tuan, mereka juga punya senjata api”, kata Camile


“Oh Begitukah?”, Berata tersenyum


“Hei , Constantine, aku tadi mendengar kamu bilang kalau ibu kalian sedang sakit”, kata Berata


“Benar tuan, ibu kami sakit dan tidak bisa bekerja , jadi kami membantu dengan mengamen Tuan”


“Kalo begitu antarkan kami untuk menemui ibu kamu, saya bisa mambantu pengobatan ibu kamu”.


“Jangan Tuan , kami sudah sangat berterimakasih dengan bantuan tuan tadi”


“Sudahlah, Antarkan kami kesana, siapa tau kami bisa membantu kalian”, kata Anindya


Constantine dan Camile tidak bisa menolak laku berjalan keluar dari taman kota, menuju kawasan kumuh di pinggir sungai Seine, Saint Denis. Berata dan Anindya masuk kawasan itu tempak miris, di luar keindahan yang ditawarkan ada pula kawasan kumuh yang menghiasi, layaknya kota besar lainnya


Mereka berempat memasuki kawasan itu, dari kejauhan tampak puluhan orang yang berkumpul membawa tongkat baseball dan besi. Constantine dan Camile ketakutan, ingin berhenti tapi Berata dan Anindya memaksanya untuk tetap berjalan.


Mereka Anak buah Caesar, itu Bertrand tangan kanannya, tampaknya mereka menunggu aku disini, karena disamping itu adlah rumahku”, kata Constantine


Layaknya seorang mafia, Bertrand duduk di sofa tunggal, sambil memegang Senapan UZI di tangan kanannya dan Cerutu di tangan kirinya. Berata dan Anindya tetap berjalan menuju kedepan Bertrand.


“Hohoho, seorang turis asing berani melukai anak buahku, kamu mungkin belum tau, berapa turis asing yang pulang tanpa nyawa di tempat ini”, Kata Bertand


Anindya tampil kedepan, “Setelah ini tak akan ada yang mengenal namamu lagi”, sambil menunjuk Bertrand


“Gadis yang manis, sayang sebentar lagi kamu akan jadi janda, tapi jangan kuatir, aku akan menggantikan suamimu yang mati untuk menghangatkan tempat tidurmu, hahahahha”


Anindya tidak sabar untuk memukulnya, tapi Berata menahannya, “Sabar sayang, ini bagianku”


Lalu tampak seorang lelaki menarik perempuan setengah baya, langsung Constantine dan Camile menjerit , “mama.. mama, lepaskan mama kami”


Perempuan setengah baya itu dibawa kehadapan Bertrand , “Hai Rosie, kamu akan menjadi saksiku, anakmu akan menjadi contoh bagi mereka yang berani melawan aku”, kata Bertrand


“Lepaskan anakku, Tuan Bertrand, ampini anakku, mereka masih kecil, mereka tidak tau apa yang meeka perbuat”, kata Ibu Rosie


“Terlambat rosie , aku akan memotong tangan mereka hahahahhha, tangkap mereka semua”, kata Bertrand


Lalu puluhan orang segera berlari menuju Berata, Constantine ketakutan, lalu Anindya memegang tangan Constantine dan Camille dan melompat mundur, tentu Constantine dan Camille berteriak tidak menyangka kalau tubuh mereka seperti terbang kebelakang dan mendarat hampir 20 meter kebelakang.


“Ajarkan Aku nyonya cara melompat seperti tadi” kata Constantine


“Oke kalau kalian mau”, kata Anindya


Lalu mereka melihat Berata sedang memukuli semua anak buah Bertrand, sampai tidak ada yang berdiri , padahal baru berjalan kurang dari 2 menitan. Melihat Bertrand menodong berata dengan senjata UZI otomatisnya, berata mengambil 2 buah besi dan menangkis peluru yang datang kepada Berata, terdengar riut suara tang ting tang ting karena pelru yang di tangkis besi yang di bawa Berata.


Peluru UZI habis, Bertrand kelabakan dengan kemampuan Berata menangkis peluru, kemudian mencari Magazine cadangan, tapi berata melemparkan besi yang dipegangnya dan menembus tempurung kedua kaki Bertrand, dan langsung terjungkal dari kursinya


“ka… kamu akan mati, aku adik dari Caesar, penguasa kota ini”, lalu pingsan menahan sakit


Constantine dan Camille berlari menuju Ibunya, mereka memeluk ibunya sambil menangis. Ibu Rosie berusaha bangkit menuju ke Anindya, berjalan tertatih-tatih menahan sakit. Kemudian Anindya berlari menyongsong dan menahan ibu Rosie


“ Terimakasih sudah menyelamatkan anak saya, tapi kami harus segera pergi dari tempat ini, tempat ini sudah tidak aman, setelah kalian memukuli Bertrand dan anak buahnya”, kata Rosie


“Tenanglah bu, yang utama sekarang kit obati sakitmu dahulu, setelah itu aku akan mencarinya temat perlindungan buat kalian, aku punya beberapa teman disini”, kata Anindya


“Bagaimana kami bisa berobat, kami tidak punya asuransi”


“tenanglah, itu tanggung jawab kami”, kata Berata.

__ADS_1


Akhirnya Berata mengajak Ibu Rosie ke Rumah sakit, ternyata kakinya bengkak Karena terluka dan infeksi, mereka di rawat di ruang VIP, sehingga Constantine dan Camille bisa berjaga disana. Mereka dipesankan untuk tidak keluar kemana-mana, mereka bisa memesan makanan apa saja yang di masukkan ke tagihan Kredit Card Berata.


__ADS_2