
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, Berata naik ke atap warung, kebetulan bagian atap warung di cor beton, jadi diatasnya ibu pemilik warung menanam bunga dalam pot sehingga Terlihat asri, di pojok Terlihat bale bengong yang bisa jadi tempat istirahat.
Berata duduk bersila di bale bengong, kemudian mengambil sikap hening, dia membuka seluruh panca indranya dan merapalkan Mantra Kanda Pat, segera setelahnya dia melihat dirinya sendiri berada di sekelilingnya, ada di depan, belakang dan samping Kiri kanan,
Sungguh, manusia itu lahir ke dunia tidak sendiri, tapi bersama sama dengan saudara kembarnya, ada 4 , jadi saat manusia lahir berlima, dengan bakat dan latihan khusus kita bisa menghidupkan ke 4 saudara kita untuk menjaga diri kita.
Berata memandang langit, menghirup nafas dalam dalam dan menyerap energi semesta dari Bulan dan bintang. Segera setelah 3 jam berlalu Berata membuka matanya, dilihatnya dua buah dunia yg serupa, satu alam manusia satu alam gaib
Dua alam ini ibarat memandang melalui kertas bening, yg kita lihat didepan plastik adalah dunia manusia, di belakang plastik adalah alam yang berbeda.
Dia melihat sebuah istana yg megah dan indah didepannya. "Aku tak menyangka ternyata Terminal ini adalah sebuah pesinggahan yg indah"
Kemudian dia melihat sekitar seratus mahluk menyerupai manusia datang kearahnya, dibelakangnya tampak sebuah tandu yg indah yg diusung 4 orang yang gagah.
Tepat sekitar 30an mtr, 100 mahluk itu membagi diri menjadi 2 sehingga seperti membuat jalan untuk tandu. Mereka berlutut, tandu berhenti dan diturunkan, lalu tampak seorang dewi yang turun dari tandu menggunakan pakaian yg indah berwarna ungu. Dewi itu berjalan kearah Berata, dan memberikan sikap Hormat
"Selamat datang tuanku, hamba Dewi Aishani, penjaga tempat ini, kalau boleh hamba tau, apa yang membuat tuanku bisa datang ketempat hamba ini"
Berata terkejut " Dewi, apakah dewi mengenal aku? Kenapa dewi begitu sopan terhadap aku"
"Tuanku, kenapa tuan begitu sopan, siapa yg tidak mengenal tuan, semua senjata dewata yg ada di tubuh tuan sudah cukup membuat kami semua tau, bahwa anda adalah anak langit yg turun ke dunia 1000 tahun sekali"
Berata ingat, ternyata memang beberapa pusaka dewa ada di tubuhnya mulai saat kecil. "Mohon dewi tidak terlalu sopan kepadaku, aku tidak suka dengan penghormatan berlebihan, aku hanya ingin beberapa saat di tempat ini sebagai balas budiku kepada pemilik warung ini"
"Terimakasih tuanku"
"Jangan panggil aku dengan tuan, panggil aku Berata"
"Baik Berata, saat ini ijinkan aku memberikan sebuah cincin untukmu" Kemudian pelayan Dewi Aishani menghampiri Berata dengan melayang, membawa nampan berisi sebuah cincin berwarna coklat kulit
"Berata, ini adalah Cincin Nirwana, anda bisa menaruh apapun di cincin ini, tak tidak akan pernah kekurangan tempat, nirwana dalam cincin ini bisa menjadi tempat untukmu berlatih"
Berata mengambil cincin, "Terimakasih Dewi Aishani atas kemurahan anda" Memakai cincin di jari tengah tangan kiri.
Dewi Aishani dan rombongan menghormat ke Berata dan menghilang perlahan.
"Ah sudah jam 4 pagi" Lalu melihat sebuah mobil mendekati warung, dia melihat ibu warung sudah datang, dan melihat Berata ada diatas warung
__ADS_1
"Berata turunlah, bukakan pintu untuk kami" Kata ibu warung
Berata lalu turun, membukakan pintu, dia langsung terpana melihat seorang gadis berambut panjang terurai , wajahnya cantik tanpa riasan, bola mata bening di depan pintu. Mereka sama sama diam saling memandang, kemudian sang gadis menundukkan wajahnya pipinya merah karena malu
"Lho lho.. Kok kalian pada bengong " Kata bu Agung pemilik warung
Prok, bu agung menepukkan tangan di depan mereka berdua, langsung mereka " Sudah saling memandangnya??"
Keduanya salah tingkah lalu dengan cepat Berata Keluar, wajahnya merah.. Lalu mengambil sisa barang di mobil, begitu pulsa sang gadis, langsung lari ke dapur
"Selesai bu" Kata berata kepada ibu agung
"Berata.. kenalkan ini anak ibu yg kedua, Anindya, Anindya Prameswari Putri"
"Nama saya Berata" lalu menyorongkan tangannya kepada Anindya
"Anindya, bisa dipanggil Anin atau Dya" sambil menjabat tangan Berata dengan malu malu
"Sudah kenalannya???? " Berata tersipu, " berata, kamu bantu ibu masak ya"
Bu Agung yang melihat Berata senang sekali.. "Wah kamu cekatan, seperti benar benar bisa masak"
"Terimakasih bu, nanti kalau ada waktu saya akan masak buat ibu supaya bisa mencicipi masakan saya"
Mulailah acara memasak di dapur, Anindya juga membantu, tapi lebih banyak diam, sambil sesekali melirik Berata.
"Berata sini, ibu mau ngajarin kamu bikin masakan khas warung ini.. Ayam betutu Pedas"
"Kamu haluskan bumbu ini ya, pakai lesung, jangan pakai Blender, kalau di blender rasanya tidak enak" Kata bu Agung
Berata memasukkan Bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, kencur,jahe merica bubuk, ginten, pala, cabe bun (cabe khas bali) mulai menumbuk, sebenernya sudah terbiasa tapi tak urung peluh berata bercucuran.
Tiba tiba Anindya menghampiri Berata, membawa handuk kecil kepada Berata "Kak, lap dulu peluhnya"
Berata terkesiap, tumben mendapat perlakuan seperti ini dari seorang perempuan, Salah tingkah "Makasi Dya"
menerima saputangan Anindya kemudian menciumnya, "Hm harum, dan mengelap wajahnya, "Nanti Kakak cuci baru kembalikan ke Dya ya"
__ADS_1
"gak usah kak, buat kakak saja? kata Anindya
"Ehem.. Tumben kami baik sama laki laki Nin" Kata bu Agung
"Ibu ini" Langsung kabur dari dapur dengan wajahnya yg memerah
"Berata, nanti kamu cincang Serai ini ya sampai halus"
"Iya bu"
"Nah bumbu sekarang kita goreng ya', lalu bu Agung memanaskan minyak, menggoreng bumbu dan serak yg sudah di haluskan Berata, lalu menambahkan daun salam dan daun jeruk
"Nah selanjutnya kamu lumuri daging ayam kampung dengan lemon Berata, sampai semua kulitnya ya"
Dewa melakukan semua yg diperintahkan Bu Agung, lalu dewa memanaskan penggorengan dan menaruh ayam di penggorengan sampai bagian kulitnya coklat.. Kemudian ayam tersebut dimasukkan ke bumbu yg sedang di goreng, setelah kira kita 5 menit lalu dewa menuangkan air ke bumbu dan merebus ayam tadi
" Kita tunggu 1,5 jam.. Ayam betutu siap kita jual Berata "
"Bu, ijinkan saya tinggal disini dan membantu ibu, saya akan melakukan apapun yg ibu perintahkan, mengepel,menyapu, semua nya" kata berata memohon
"Ibu malah senang kalau kamu mau tinggal disini Berata, biar ibu ada yg Bantu, tapi nanti kalau kami dapat kerjaan kamu boleh bekerja di tempat lainnya"
"Terimakasih banyak bu, saya tidak punya saudara di Denpasar, jadi lebih baik saya disini saia membantu ibu"
Segera datang Anindya " Bu, sudah jam 5, Anin harus pulang, harus sekolah"
"Kamu hati hati jgn lupa bangunkan kakakmu, supaya jgn terlambat sekolah"
Anin datang menghampiri bu agung mencium tangan ibunya, lalu menghadap canggung ke Berata mengangkat tangannya "kak Berata"
Berata masih diam, tidak mengerti
"Kak" Kata anin agak kesal, lalu mengambil tangan Berata dan salim, " Anin sekolah dulu ya" Wajahnya merah lalu secepat kilat kabur
"Anak yg aneh..gak biasanya dia begitu, berarti Anin menganggap kamu baik Berata, dari dulu dia ingin kakak laki laki, mungkin dia menganggap kamu kakaknya"
"Oh.. " Kata berata yg salah tingkah
__ADS_1