Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 35. Bernyanyi Bersama


__ADS_3

Day 5. Kerja Bakti Sosial


Halaman parkir kampus sudah penuh dengan mobil truk tentara ada sekitar 20 truk yang akan mengangkut 1000 Mahasiswa Baru ke lokasi Bakti sosial kali ini. Bakti sosial yan dilaksanakan adalah penanaman bakau di areal Jimbaran. Berata sendiri dapat pembagian untuk mengambil bibit bakau, jadi jam 5 sudah berangkat terlebih dahulu ke lokasi dengan 1 truck sewaan.


Setibanya di areal pengambilan bibit, berata turun dari truk, kemudian dipanggil salah seorang panitia, teman yang lainnya sudah berjalan terlebih dahulu, hanya berata yang tinggal dengan 3 orang panitia.


Hari masih gelap sekitar 5:30 pagi di kawasan pembibitan hutan mangrove, tiba tiba salah seorang panitia memukul perut Berata, secara reflek berata menangkis dengan mengalirkan tenaganya kebagian perut, panitia tersebut seperti menghantam tembok dan tangannya kesakitan


“Apa maksud kalian??, aku menghormati kalian sebagai kakak panitia, tapi jika kalian ingin berbuat jahat, aku tak akan segan”, kata Berata


“Jangan sombong kamu ya, jangan kira baru jadi idola di kampus kamu bisa seenaknya”


“Hei, aku tidak mengerti Maksud kalian”


“Aku suka dengan Erika, tapi dia menolak aku dan kamu terlalu dekat dengan Dia”


“Kamu tau Berata, Andini pacarku selalu memuji kamu di depanku” kata yang lainnya


“Maaf aku tidak ada hubungan nya dengan masalah kalian, aku hanya suka berteman dengan siapa saja”


“Dan itu jadi masalah kami”, kemudian mereka bertiga mencoba memukul berata lagi, Berata tidak menghindar dan membiarkan mereka memukulnya, jadilah seperti mereka memukul tembok dan kesakitan sendiri


“Kalian beruntung, saat ini masih jamnya kegiatan, aku tak akan melawan kalian”, kata Berata lalu terlihat seorang teman Berata sesama MABA datang menghampiri Berata karena melihat Berata dipukuli.


“Kamu tidak apa-apa Berata??”


“Tidak Ivan, tidak apa-apa, kamu lihat, merekalah yang kesakitan karena memukulku” sambil tersenyum


“Hahah, kamu memang anak ajaib”


“Ayo kita jalan, tugas kita banyak nie” kata Berata


Mereka kemudian bergabung dengan teman teman yang lain, ada sekitar 50 orang dengan 3 truk pengangkut bibit. Sambal bekerja Ivan menceritakan apa yang dilihatnya bahwa Berata dipukuli oleh kakak Pembina. Mereka semua marah dan ingin membalas, tapi berata menahan mereka


“Jangan buat masalah, kita masih ada kegiatan dan masih dalam Ospek, lihat nanti kalau sudah selesai, mereka bukan kakak panitia lagi”, kata Berata Tersenyum


Akhirnya mereka kembali bekerja. Untuk mengambil bibit bakau ternyata susah juga, mereka berendam hampir setinggi pinggang dan saat mencabutnya bisa seluruh badan terendam air. Pk. 07:00 hampir 5000 bibit sudah diangkut oleh team Berata menuju lokasi penanaman pohon bakau


Sampai di lokasi Team Berata diberikan waktu beristirahat 1 jam dan penanaman bakau dimulai, semua mahasiswa harus berkotor ria untuk menanam bakau , berendam di lumpur hampir selutut. Ternyata menanam bakau susah susah gampang dan sangat melelahkan.


Berita tentang pemukulan Berata ternyata menyebar dari mulut ke mulut ke siswa lain, dan sampai ke telinga Erika, Erika datang dan memeriksa Berata. Berata kikuk karena Erika hampir memeriksa seluruh bagian mukanya dengan tangan yang belepotan lumpur. Saking kuatir nya Erika, dia lupa belum mencuci tangannya. Sesaat mereka terdiam berpandangan dan tertawa bersama melihat Muka Berata yang penuh lumpur.


Salah seorang panitia Cewek datang kepada berata membawa air aqua untuk mencuci muka berata, katanya kepada Erika dengan Sedikit jutek “Kalo pacaran jangan dimuka umum”


Erika Sedikit kesal tapi dia diam dan menahannya


“Berata, kamu ngak apa apa?


“Tenanglah, gara gara kamu sih”


“Gara-gara aku?”


“Iya penggemarmu cemburu dan memukulku”


“Penggemarku yang mana sih, kan penggemarku banyak “Kata Erika lebay


“Gak Usah disebut namanya, ngabisin energy”


“Heran, teman bukan , pacar bukan kok bisa cemburu sama kamu”


“Kamu soalnya secantik Princess”, Goda Berata


“Gombal”, sambal mencubit Berata


“Aw..aw..aw” Kata Berata


“yang gini ni.. bikin orang salah focus ngira kalian pacaran, hati hati kalian bisa kena masalah , jadi public enemy”, kata Ivan yang datang kepada mereka


“Maksudnya Van, “


“iya.. penggemarmu akan Jadikan Erika musuh bersama,”sambil menunjuk Berata, “begitu juga sebaliknya kwkwkwkk”

__ADS_1


Kemudian Ketua Panitia memanggil Berata menuju Tenda Panitia, disana terdapat beberapa Dosen dan ketua Menwa


“Berata, kami baru mendengar insiden tadi pagi, bagaimana keadaanmu” kata ketua panitia


“Baik kak, tidak apa apa, tidak ada masalah”


Lalu seorang dosen menghampiri Berata, “Kamu tau tangan Rexy retak karena memukulmu”


“Maaf tidak tau pak”


“Kamu tau siapa Rexy??, dia adalah putra pejabat tinggi negeri ini dan donatur kampus kita, seharusnya kamu tidak membuat masalah.”


“Kenapa harus Berata yang salah “, Kata Ketua Menwa


“Kamu tau dana operasional Kemahasiswaan ?? hampir 50% dari bapaknya Rexy”


“tidak juga bisa seperti itu pak, terbukti dia menyerang terlebih dahulu”


“Tapi dia terbukti terluka dan Berata tidak apa-apa , bisa saja dia melakukan hal yang berlebihan sehingga melukai rexy”


“Saya tidak membalas pukulan mereka, saya punya saksi mata”, Kata Berata


“AKu ingin masalah ini selesai sampai disini , tidak melebar kemana-mana, kalo sampai meluas, aku bisa mengeluarkan kan kamu dari kampus ini”, lalu keluar tenda Panitia


Sepeninggalan Dosen tersebut, berata diberi pengarahan lagi untuk bisa menghindari masalah selanjutnya.


“Terimakasih kakak Senior, selama jam kegiatan dan diarea Kampus, saya akan diam, tapi jika dia berani menyentuh saya di luar kampus, saya tidak berani berjanji untuk diam”, kata Berata lalu keluar tenda panitia


Jam 1 siang semua peserta kembali ke kampus untuk mempersiapkan acara penutupan di hari ke 6.


Sore harinya setelah Ospek Berata mengantarkan Erika pulang. Di jalan yang cukup sepi mereka di hentikan oleh sekitar 5 motor yang berboncengan penumpang.


“Rexy, apa yang ingin kamu lakukan”, Kata Erika


“Aku ingin kamu menjauhi Berata, kamu pulang dengan Aku”


“Siapa kamu, pacar bukan, keluarga bukan, memaksa aku untuk ikut dengan kamu”


Berata cuman tersenyum,”Aku sih tergantung Erika, kalo Erika mau ya silahkan, kalo tidak mau, dewa pun tidak akan bisa memaksanya”


“Sombong kamu Berata, pukul dia”


Belum berata memukul tiba tiba Erika sudah melompat dan menghadang mereka yang mau memukul Berata.


“Erika menyingkir lah”, kata Berata


“Kamu duduk saja, biar aku yang menghadapinya”, kemudian dia bergerak meliuk seperti menari, melepaskan pukulan dan tendangan, tidak sampai 1 menit sepuluh orang tadi sudah tergeletak di tanah


Berata bertepuk tangan, “Hebat… hebat, tidak menyangka kamu juga bisa silat”


“Abah yang mengajariku untuk membela diri, ayo kita pulang , gerah mau mandi”


Sampai dirumah Erika, Berata diminta duduk sebentar oleh Abah


“Siapa gurumu nak?”


“Guru Saya Kakek urip dan kakek Banaspati Abah”


“Luar biasa akhirnya Abah bisa bertemu dengan murid mereka berdua”


“Kakek tau kakek guru??


“Mereka adalah orang – orang Adi Linuwih dalam dunia persilatan”


“Kamu harus menjaga warisan Kakek gurumu Berata”


“ Baik Abah, Berata ijin pulang Abah” lalu pamit untuk pulang


Berata lalu langsung menuju kosan karena Anindya sudah bilang akan memasak makanan untuk berata untuk merayakan 1 tahun mereka bertemu, yaitu saat Berata pertama kali kerja Di Warung Bu Agung.


Day 6. Penutupan

__ADS_1


Pagi harinya Berata ke kampus membawa kayu bakar yang akan di gunakan untuk APi unggun raksasa pada saat penutupan.


Sampai di kampus berata langsung di tunggu oleh Panitia dan diajak keruang Dekan, Disana sudah terdapat petugas polisi . Berata bingung kenapa dibawa keruangan Dekan.


“Berata, Anda di tuduh melakukan penyerangan kepada Rexy dan temannya” Kata Petugas Polisi


“Saya pak, melakukan penyerangan, ada buktinya?”


“Saya buktinya” masuk Rexy dengan tangan di Gift, “Kamu memukul saya dan teman teman saya, jangan mentang mentang kamu jago silat kamu bisa memukul orang seenaknya, tangkap saja pak”


“Tunggu, saya akan ikut kalau memang saya salah. Jadi tuduhannya saya yang memukul mereka kan Pak Polisi?”


“Iya laporan penyerangan tertera nama kamu sebagai penyerang mereka”


“Bagaimana kalau saya bisa membuktikan kalau bukan saya yang menyerangnya”


“Kita harus buktikan dahulu dan kamu bisa bebas dari tuduhan”


“Baik, ijinkan saya meminta waktu sebentar” lalu berata mengirim pesan teks kepada Kapten Sagara, dan menelpon Erika ,”AKu minta bantuanmu , cepatlah pergi keruang dekan”


Setelah menunggu 5 menit, Erika datang keruang Dekan, Rexy tampak berkeringat dingin.lalu Berata Menjelaskan kepada Erika tentang laporan di kepolisian tentang dirinya


“Bukan Berata yang memukul mereka, tapi saya Pak Polisi “, Kata Erika


Semua yang ada dalam ruangan terkejut, “Bagaimana kamu bisa memukul mereka”, Kata Polisi


“Malam hari kemarin , Berata mengantarkan saya pulang, diperjalanan kami di cegat 5 sepeda motor dan 10 orang, ternyata Rexy dan teman temannya. Saat itu mereka mengeroyok Berata , jadi saya menolong berata dan memukul mereka semua, jadi bukan Berata, tuduhan ini salah alamat, harusnya sayalah yang dituntut, tapi saya membela diri, mereka yang terlebih dahulu menyerang”


“Benar begitu Rexy” kata polisi


Rexy diam tak bisa menjawab


Lalu masuklah Kapten Sagara kedalam ruangan Dekan.


“Kapten Sagara, kenapa anda bisa disini”, kata petugas polisi


“Berata Meneleponku, dan aku sudah mendengar semuanya, kasus ini tidak bisa dilanjutkan karena terlapor tidak terbukti melakukan pemukulan”


“Baik Kapten tapi Terlapor tetap harus membuat pernyataan dan tanda tangan berkas di kantor pak”


“Kamu tidak lihat Hari ini Berata masih ada kegiatan, nanti setelah selesai kegiatan, baru dia tandatangan berkas di Kepolisian, saya jaminannya”


“Baik Kapten”


Dan akhirnya semua berjalan dengan baik, berata yang keluar ruangan dekan dengan Berata dan Erika, “Berata, berata, ciri khas kamu selalu bermasalah dengan wanita”, kaya Kapten sagara tertawa.


Akhirnya acara berlangsung dengan baik, api unggun di mulai pk. 19:00. Berata dan Erika menjadi Peserta terbaik putra dan putri dan didapuk untuk memberikan pertunjukan seni Duet.


Akhirnya mereka memilih untuk Bernyanyi. Berata meminjam Gitar dan Erika Bernyanyi Lagu WHAT UP dari Group 4nonBlonde. Semua bertepuk tangan meriah karena ternyata Erika Fasih sekali bernyanyi, persis seperti Penyanyi Aslinya


Tibalah pengumuman Surat Cinta Terbaik. Ketua panitia mengambil mic, “Terimakasih Semua, saatnya untuk pemenang surat cinta terbaik, tapi kami bingung, siapa kakak panitia yang dimaksud dalam surat ini,karena tidak ada nama panitia yang disebutkan dalam surat. Kalo begitu kita panggil saja pemenangnya, Pemenangnya adalah Berata dari Peleton 10.


Diikuti dengan tepuk tangan meriah dari semua yang hadir, bahkan para peserta dan panitia cewek pun tak malu lagi untuk berteriak memangil nama Berata, dan Erika pun sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan peserta dan panitia Cewek


“Berata, Berata, Berata’, Teriakan mereka


“Baiklah, mohon maaf sebelumnya, nama dalam surat ini bukanlah panitia atau peserta lainnya, tapi surat ini saya buat untuk orang yang sangat special di hati saya, saat ini, diapun ada disekitar tempat ini dan melihat saya berdiri dipanggung ini. “


Disambut dengan suara “huuuuuu “yang panjang dari peserta cewek


Lalu Berata mulai membaca , dan suasana hening tercipta, apalagi Erika kemudian memainkan gitar yang syahdu mengiringi puisi Berata.


“Sepasang mata dalam mobil menitikkan air mata mendengar Puisi Berata, dan dia juga heran kenapa Berata tau kalau dirinya ada disana memperhatikan Berata


Puisi Berhenti, suara gemuruh tepuk tangan dari peserta, sebagian peserta cewek menitikkan air mata, “Terlalu manis, andai itu surat untukku” kata sebagian dari mereka.


Acara Usai, Berata mengajak Erika yang tadi bilang nebeng pulang mencari Anindya di parkiran, Erika menolak, takut Anindya salah paham, tapi Berata membujuk kalau dia sudah bilang ke Anindya.


Anindya yang melihat Berata, langsung berlari menuju Berata, memeluk Berata, adegan manis yang membuat banyak Wanita disekitarnya sakit hati


“Ayo kita pergi dari sini”, kata berata.

__ADS_1


Mereka meninggalkan Kampus, singgah di Café ANindya untuk makan malam dan kemudian mengantarkan Erika pulang, Berata Menyetir, Anindya di depan, Erika di belakang, dengan kocak Erika bernyanyi “Begini nasib jadi obat nyamuk”, dan mereka pun tertawa dengan lepas


__ADS_2