Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 3. Pekak Ketut Urip


__ADS_3

Akhirnya dengan dibantu orang tua tersebut, Bi made bisa sampai di desa Alas Angker Singaraja, desa ini adalah desa kakeknya bi made.


Sampai di sebuah pegunungan Made, Dewa dan bintang tinggal di rumah Kakek Made yg sudah berusia 90 tahun, made memanggilnya Pekak Ketut Urip. Perawakan beliau seperti orang yg berusia 50 tahun padahal sudah berumur hampir 90 tahun, kulit hitam terbakar matahari, otot otot yg masih perkasa, badan yg tegap sungguh nyata beliau adalah Pendekar yg dulu dikenal dengan sebutan Toh Jiwa, yg berani memberantas semua kejahatan dan keturunan Abdi dalem kerajaan Buleleng Anak Agung Panji Sakti.


Melihat Dewa, wajah kaku Pekak Urip tersenyum bahagia, dia memegang kepala Dewa, lalu memeriksa seluruh badan dewa.. "Sungguh kamu adalah anak langit, hatimu adalah lautan yang luas, tubuhmu adalah langit yg tak bertepi, aku akan menjadikan kamu tak terkalahkan, aku akan menurunkan seluruh ilmuku kepadamu, Dewa, kamu adalah anak yg ku nantikan sejak lama.


Pekak Urip menoleh Bi Made, "Made,kamu harus menjaga anak ini, pekak akan mengajar anak ini, tapi nama anak ini akan Diganti supaya orang jahat itu tidak bisa mencari keberadaannya"


"Pekak urip, made serahkan sama pekak, made akan tinggal disini membantu pekak Mengurus dewa dan Bintang"


Pekak Urip memegang Dewa, mulai sekarang namamu adalah BERATA, namamu Gede Berata, ingat itu, kamu aku angkat menjadi muridku", lalu pekak urip melompat dan menghilang dari pandangan Bu Made dan Dewa


Hari hari Gede Berata diisi dengan kerja keras, sedikit pun tidak mencerminkan bahwa dia adalah Pewaris Kerajaan Perusahaan Hyman.


Berata tumbuh menjadi pemuda yg cakap, tiap hari berlatih disebuah enjung yg berisi air terjun, setiap hari selesai berlatih Berata akan bersemedi dibawah Air Terjun selama 1-2 jam


.........


10 tahun kemudian


Berata sudah berumur 18 tahun, sudah tamat SMA, menjadi pemuda yang gagah, pemuda yg berparas tampan, tinggi 175 cm, berkulit sawo matang bersih khas orang Indonesia. Berata sudah mewarisi semua Ilmu Pekak Urip, Pekak Urip di akhir hayatnya memberikan sebuah Seruling bambu yg diberi nama Seruling Sukma. Berata sering memainkannya dikala senja, diatas pegunungan di desa alas angker, suara Seruling Berata bisa terdengar sampai jauh dan terdengar sangat merdu sehingga mereka yg mendengarnya akan merasa sangat damai


.....


Suatu sore, Bi Made duduk di ruang tamu di rumah berdinding bambu diatas bukit yg sunyi, di depannya ada Berata, dan Bintang duduk disebelah bi Made. Bintang berumur 10 tahun dan oleh Berata juga diajarkan Ilmu Beladiri yg membuat Bintang bisa menghadapi orang Dewasa saat berkelahi.


"Berata, mari sini nak.. Duduk dekat ibu"


"Ada apa bu.. Sepertinya serius sekali hari ini?" Sambil duduk di samping Bi Made.


Bi Made memeluk Dewa, sesaat kemudian dia bangkit, menuju ke kamar dan kembali membawa sebuah amplop, dan memberikan kepada Berata.


Berata menerimanya, membuka amplop, di dalam nya ada sebuah poto keluarga, Ayah, Ibu dan seorang anak berusia 5 tahun


"Siapa ini bu??,kenapa anak kecil ini mirip dengan Berata?"


"Berata, ini orang tua kamu, ini Tuan Arga dan Nyonya Dewi, mereka adalah orang tua kandung kamu"


Dewa terkejut, dia tidak ingat masa kecil nya, kemudian Bi Made menceritakan semua kejadian yang menimpa Berata dan apa yg menimpa kedua orang tua nya. Bintang yg mendengar, tampak memeluk kakaknya Berata sambil menangis.


"Jadi ayah dan ibuku dibunuh Darius " Dewa mengepalkan tangannya dengan marah, tiba tiba hawa terasa dingin.. Binatang hutan yg sebelumnya terdengar ramai tiba tiba sepi sehingga suara nafasnya terdengar


"Dewa, kendalikan dirimu, kamu tidak boleh jatuh dalam niat balas dendam terhadap kematian orang tuamu, banyak hal yg bisa dilakukan selain membalas dendam, ingat dewa, namamu adalah Berata, bila berjodoh nanti, kamu akan bisa mencari keadilan terhadap kematian orangtuamu" Bi made memeluk dewa


Bi Made melepas pelukannya, lalu dia menyerahkan sebuah kalung emas dengan hiasan bertuliskan Hyman, "Kata ayahmu, kamu harus menemukan Mardi, orang kepercayaan Ayahmu, setelah itu kamu bisa mewarisi seluruh kekayaan orang tuamu, Tuan Arga menitipkan sebuah nomer telpon yg sekiranya kamu bisa menemukan Bapak Mardi" Sambil menyerahkan secarik kertas buram berisi sebuah nomer telpon rumah yg Berata tau itu tidak ada di Bali


Sambil menyerahkan sebuah ATM berwarna Emas " Ini kartu yg tuan Arga berikan ke Ibu, ibu tidak pernah mengambilnya, walau tuan bilang itu adalah biaya untuk merawat kamu Berata, ibu tidak pernah tau berapa uang di dalamnya,bawalah ini adalah milikmu"

__ADS_1


"Ibu, aku akan Bekerja, ibu pakai saja uang ini untuk kehidupan bintang" Sambil menyerahkan kembali ke Bi Made


" Tidak nak, sebelumnya Ayahmu juga memberikan uang tunai 1 milyar, ibu juga sudah menaruhnya di bank, sebagian kita sudah gunakan untuk biaya kami sekolah, dan membuka warung makan di kota singaraja, itu sudah lebih dari cukup untuk biaya adikmu sekolah nanti "


"Baik bu, terimakasih ibu sudah merawat Berata selama ini, tapi Berata laki laki, berata akan berusaha untuk mencari Pekerjaan di Kota Denpasar, Berata mau belajar hidup mandiri"


Bi made hanya mengiyakan, Bintang sudah terlebih dahulu menangis, bi made tau dia tidak akan bisa menahan dewa.


"Jadilah anak yang baik, jgn suka cari masalah, hormati semua orang, tetap rendah hati, dan jangan sekali kali kamu menyakiti hati perempuan karena ibu dan bintang adalah perempuan Berata"


Berata mengangguk dan memeluk Bi made dan Bintang.


"Berata, kami akan pindah ke kota Singaraja, kani akan tinggal disana sambil mengelola warung makan kita, rumah ini akan dirawat oleh sepupu ibu, kapanpun kamu pulang, carilah kami"


..........


Setelah naik angkot dari Singaraja ke Kota Denpasar hampir selama 2 jam tibalah Berata di terminal Ubung, terminal ubung adalah terminal terbesar di Bali yg melayani antar provinsi.


Setelah membayar ongkos angkot sebesar 30 ribu rupiah, Berata merasa lapar, lalu duduk disebuah warung makan. Baru mau masuk pintu warung.. Tiba tiba ada seorang yang menabraknya, "maaf " Lalu orang tersebut pergi berlalu


"Ah Enak sekali masakan ibu, berapa bu?", kata Berata


" Nasi campur dan teh manis, 20.000 dik" Kata ibu penjual


Dewa lalu bangkit, mengambil tasnya, mencari cari dompet tapi tidak ketemu, di didapatinya bahwa tasnya robek


"Dasar pembohong bilang saja kamu minta makan gratis" Kata orang disebelahnya


" Iya, kamu sengaja kan biar gao bayar makan disini" Kata yg lainnya


"Benar kak.. Benar saya tidak bohong, sebelum saya makan disini, dompet saya masih ada, mohon maaf bu"


"Tidak apa apa nak.. Kalo memang tidak ada uangnya" Kaya ibu warung dengan sabar


" Benar bu saya minta maaf,ijinkan saya kerja membantu disini,mungkin cuci piring atau lainnya.. Uang saya semua disana..saya tidak bisa kemana - mana.. Saya harus menemukan dompet saya, didalamnya ada alamat orang yg saya tuju"


"Jangan di kasi bu.. Orang ini pasti penipu.. Kalo ibu kasihani..malah nanti dia merampok semua dagangan ibu" Kata orang sebelahnya


" Benar bu... Saya tidak bohong" Lalu Berata mengambil kalung dilehernya dan menyerahkan kepada ibu warung


"Tidak usah nak, kamu pakai kembali, kamu bisa tinggal disini sementara, membantu ibu di warung sampai kamu bisa menemukan dompet mu"


"Baik bu, terimakasih banyak atas bantuannya" Kata Berata


Saat Berata mengeluarkan kalung emas tersebut ada pengunjung yg matanya berbinar terus bilang ke Berata "kamu di copet, kalo kamu mau aku bisa membawa kamu ke tempat orang yg mengambil Dompet mu"


'Benarkah.. Antar aku sekarang, aku kesana "

__ADS_1


"Sebaiknya jangan nak" Kata ibu warung kuatir


"Ayo cepatlah.. Mungkin uang kamu bisa diselamatkan"


"Ayo" Kata Berata lalu bangkit dan keluar warung


Orang tersebut membawa Berata kebelakang terminal, ada beberapa bangunan tua yg tampak tak terurus..


"Benar kesini bang" Kata Berata


" Sedikit lagi, markasnya di depan rumah itu" Sambil menunjuk sebuah tempat


Berata bergegas menuju ketempat yang dituju, ternyata yg dia temui adalah orang yg menabrak nya di depan warung makan, dia tampak duduk sambil menyilangkan kaki dan tangan kanannya memegang dompet coklat


" Pemuda bodoh" Katanya, tiba tina dari arang sampingnya keluar 2 orang lagi


"Hahaha, kamu datang menyerahkan nyawamu kepada kami, serahkan kalung di lehermu maka kamu akan selamat" Kata orang yg menolong Berata tadi


"Berata tersenyum, aku sudah tau kamu satu komplotan, makanya aku mau datang kesini, kaliang yg masih sembunyi keluar lah" Kata Berata


Lalu 5 orang lagi keluar dari balik reruntuhan bangunan, "hah.. Kok anak ini bisa tau ya kalo kita sembunyi" Kata yg bermata sipit


"Sudahlah, jangan banyak bicara, pukul anak ini, ambil kalungnya,mlm ini kita bisa ke Kafe hahaha" Kata pemimpinnya


Tak banyak bicara 4 orang langsung maju, Berata masih dengan tenang menghadapinya.. Tiba tiba Berata bergerak.. Dan 4 orang yg menyerang tiba tiba sudah jatuh..


"Oh ternyata kami bisa ilmu Silat, kalo begitu kami akan mati dengan aku, aku Wrespati akan membunuhmu" Kata pemimpin langsung meloncat melayangkan tinjunya ke Berata


Berata tidak menghindar..tepat sebelum pukulan Wrespati sampai didepan Berata, berata memegang kepalan tangan Wrespati, memelintirnya, terdengar suara patahan tulang


"Oh Segitu saja kemampuanmu ternyata" Kata Berata


" Argh... Kalian semua, bunuh bocah ini bersama sama"


8 orang yg tadinya diam langsung menyerang Berata, wus... Hanya sekelebat bayangan Berata,8 orang tiba tiba jatuh kesakitan


"Kamu kamu..." Wrespati tercengang, 8 anak buahnya semua sudah jatuh kesakitan


Berata berjalan kearah Wrespati yg kesakitan, plak.. Dia menampar Wrespati sampai berdarah, kemudian mengambil dompet nya, memeriksa dan lega, walau uangnya tidak ada, karti ATM dan nomer telpon Pak Wardi masih ada.


"Kali ini aku mengampuni kamu" Kata Berata Sambil menunjuk Wrespati


"Kamu akan mati,aku murid Banaspati dari Perguruan Gagak Hitam,penguasa terminal ini..aku akan mencari kamu, kamu akan mati" Kata Wrespati


"Banyak omong" Lalu menendang kepala Wrespati sampai pingsan.. semua anak buah Wrespati takut melihat kejamnya Berata


.....

__ADS_1


Lalu Berata kembali ke ibu warung, minta maaf agak lama, memberi tau kalau dompet nya sudah ketemu, tapi uangnya sudah habis,jadilah dewa membantu ibu warung seharian,jam 12 mlm warung tutup, dan dewa diijinkan tidur di warung,kebetulan ada kamar pembantu yg kosong.


__ADS_2