
Pagi harinya, Berata dan Anindya sudah ada di Meja makan dengan nenek Retno dan Rhino.
“Rhino, anak nakal itu kemana?, jam segini belum bangun”, kata Nenek Retno
“Ngak tau bu, mungkin dia masih dikamarnya, semenjak ibunya tidak ada, aku sulit untuk mengendalikan anak gadisku itu”, kata Rhino
“Kamu ini, terlalu asik bekerja sampai lupa dengan anak sendiri”, kata nenek dengan marah
“Bi Darmi, pergi kekamar Beatrix, lihat dia sedang apa”
“Baik Nyonya”, kata bi Darmi sambil bergegas menuju pavilium Beatrix
“Berata, Anindya kita tunggu sebentar Beatrix ya” kata nenek Retno
“Arrrggghhh”, terdengar teriakan nyaring Bi Darmi dari arah pavilium Samping. Rhino langsung bangun berlari ke tempat Beatrix, sedangkan Anindya memapah nenek Retno menuju kamar Beatrix. Sesampainya di akamr beatrix, semua terbelalak, Beatrix tidur di pelukan 2 laki-laki tanpa sehelai benangpun. Rhino kemudian mengambil ember di Kamar mandi dan menyiram mereka bertiga, mereka langsung bangun, terkejut melihat banyak orang di kamar mereka.
“Kalian, apa yang kalian lakukan”, Rhino menyeret 2 laki – laki itu dan menendangnya, Matt dan Green, kalianaku tugaskan untuk menjaga anakku, bukan tidur dengan anakku”, lalu rhino memukuli 2 anak buahnya sampai pingsan.
Beatrix menangis sambil menutup kepalanya, Berata dan Anindya memilih kembali ke kamar mereka, bersiap untuk pamit kepada nenek Retno.
Rhino menginterogasi Beatrix, Beatrik mengatakan bahwa dia memerintahkan Matt dan Green untuk membius Berata dan Anindya, dengan mauksud supaya Berata jatuh di pelukannya, dan memberi pelajaran kepada Anindya.
Rhino geram, lalu menampar Beatrix, “Tahukah kamu kalau mereka itu siapa?? Mereka tidak layak kita sentuh, hanya dengan sekali telpon, maka kita akan menghilang dari bumi ini, sekarang dengarkan ayah, ayah sudah tidak bisa mentolelir kelakuanmu, ayah akan mengirim kamu ke sekolah militer supaya kamu tau betapa kerasnya hidup ini, jangan sentuh mereka berdua, ingat itu”, lalu Rhino meninggalkan Beatrix yg tetap menangis. Rhino pergi ke pavilium Berata dan Anindya, dia yakin dengan kejadian ini, pasti mereka berdua memutuskan untuk pergi.
Rhino mengetuk Paviliumm Berata, “Berata, Anindya, maafkan kelakuan anakku, dia sudah mendapatkan pelajaran dari kesalahannya”.
Pintu terbuka, “maafkan kami tapi anakmu dan pengawalnya berusaha mempekosa Anindya dan aku tak terima, sudah untung aku tak mengambil nyawanya”, kata Berata
“itu yang aku maksudkan, terimakasihsudah mengampuni nyawa anakku, aku tak mau kejadian ini membuat kalian pergi dan memberi kesan yang tidak baik bagi kami, lagi pula ibuku akan sedih jika kalian mendadak pergi dari rumah ini”.
“Maafkan kami Rhino, sebenarnya kami ke Prancis ini karena ada suatu misi, misi untuk menemukan pegawai ayahku, aku harus segera pergi dari tempat ini untuk mencari beliau, karena orang orangku mangatakan dia berada di desa Bonneval ini, kalau aku cuman diam disini, kapan aku bisa menemukan Bapak Mardi?”,
“Sebentar siapa yang kamu sebutkan?”
“Akuu hanya mengetahui dari Poto dan Namanya saja, lalu memperlihatkan sebuah poto dari HPnya, yang aku tahu Namanya cuman Mardi”,
Rhino yang melihat poto ini terkejut, “ Kamu ikutlah aku”, kta Rhino
Lalu Berata dan Anindya ke ruang tamu, dia mengambil sebuah album poto dari rak kaca, kemudian mengambil sebuah poto dari album dam memberikannya kepada Berata.
Berata dan Anindya membandingkan 2 poto dengan seksama, “Benar poto ini orang yang sama”, kata Berata
“Siapa orang yang ada dalam poto ini??” tanya Berata
“kamu tenanglah, aku akan menceritakannya”, kata Rhino
Rhino menunjukkan poto pemuda belasan tahun, ini Aku, Ini Ibuku”, belum selesai sudah dipotong Anindya
“Nenek Retno??”
“Benar, dan ini Ayahku, Dulu Namanya Mardi tapi semenjak datang kesini 20 tahunan yang lalu, beliau mengubah namanya menjadi Gunawan”,
“Jadi Pak Mardi adalah ayahmu??”
“Benar Mardi adalah nama ayahku dulu”, kata Rhino
__ADS_1
Tiba tiba ada suara besar dari arah pintu, “Jangan sebutkan nama itu, nama itu sudah mati”,
Semua menoleh kearah suara, “Ayah, ayah sudah pulang, kebetulan temanku mencari nama Bapak Mardi, apakah ayah tau??”
Pak Gunawan memandangi Berata, dia terdiam, mematung dan membisu, lalu datang nenenk retno mengajaknya duduk, tapi pak Gunawan berdiri mematung, “Tuan... Tuan Arga.. benarkah ini anda” setelah berkata itu, Tuan Gunawan langsung Pingsan dan dipapah Rhino yang sedang ada di dekatnya.
Kepanikan melanda rumah Pak Gunawan, Dokter kemudian datang. Setelah beberapa saat dokter menghampiri Rhino, “ Pak Gunawan hanya kelelahan dan terkejut, kondisinya baik, beliau tidak apa apa.”
“Terimakasih Dokter, bolehkan kami mengajak beliau berbicara”, kata Rhino
“Biarkan ayahmu istirahat hari ini, dia aku sudah beri obat tidur, berbicaralah dengan beliau besok pagi”
“kamu dengar Berata, ayahku tidak bisa diajak bicara hari ini, kamu harus menunggu besok untuk memastikannya, jadi kamu memang harus tinggal sehari lagi disini”, kata Rhino dengan tersenyum
“Tapi akan sangat membosankan kalau hanya diam menunggu sampai besok pagi”, kata Berata
“Kamu bisa ikut aku, ke tempat latihan France Air Force divisi ke 5, aku yakinkamu tak akan bosan”, kata Rhino
“Aku tergantung istriku, kalau istriku mengijinkan, maka aku akan pergi”, kata Berata
“Aku juga ingin pergi kak, sudah lama aku tidak berolah raga, aku juga ingin memukul beberapa orang untuk melepaskan jenuhku, “ kata Anindya dengan centil
“Baiklah, kami akan berbaik hati kepada kalian”, Kata Rhino
Dengan menggunakan Helikopter, Berata dan Anindya sampai di Tempat Latihan Angkatan ke 5 France Air Force mereka di sambut oleh 1000 orang yang sedang berlatih, semua berbadan kekar.
“Kalian beruntung, hari ini akan ada ujian untuk 1000 orang kadet yang terpilih untuk masuk kedalam pasukan kami, dari 1000 orang ini akan terpilih 100 terbaik yang mampu melewati ujian yang kami berika”, kata Rhino
“Paslah kalau begitu, aku juga ingin melihat latihan kalian seperti apa”, kata berata sambil tersenyum.
Untuk ujian di bagi dalam 5 group masing masing , grup akan diberikan kesempatan untuk menelwati semua halang rintang yang sudah dibuah. Praktis dalam 2 jam Berata dan Anindya hanya menyaksikan 1000 orang yang sedang melakukan ujian. Setelah 2 jam akhirnya terpilih 100 orang terbaik.
“oh aku sangat senang jika kamu mau mencontohkan kepada kami waktu terbaikmu, sebagai informasi, waktu terbaik hari ini 10 menit untuk bisa menyelesaikan semua rintangan, dan ini sangat berbahaya, untuk rekor terbaik masih aku yang memegangnya, sudah bertahan selama hampir 10 tahun, aku menyelesaikannya dalam 8 menit”, kata Rhino dengan bangga
“Tidak masalah jenderal, aku hanya bosan disini”, kata Berata dengan tersenyum sambi membuka bajunya dan memberikan pada Anindya
“Sayang, aku tak mau mengotori baju pemberianmu”, kata Berata sambil mencium kening Anindya
Saat Berata membuka bajunya para tentara tertawa, melihat badan Berata yang kurus seperti tak bertenaga.
“Tuan, sebaiknya anda tidak mencobanya, kami takut anda terluka”, di ikuti tertawaan terntara yang lainnya
“Lihatlah kami, badan kami semua kekar seperti ini, bandingkan dengan badan anda, anda takakan sanggup untuk memindahkan beban yg ada di rintangan”, di lanjutkan dengan cemoohan tentara lainnya
Berata menoleh kepada Rhino,”Jenderal, kamu tadi bilang pemegang rekor dan bisa menyelesaikannya dalam 8 menit kan, aku akan menyelesaikannya tidk terlalu cepat supaya aku tak mempemalukan kalian, aku akan menyelesaikannya dalam 5 menit saja”
Mendengar kata 5 menit, semua tentara tertawa, “Kamu terlalu membual tuan, kalo kamu bisa menyelesaikannya dalam 5 menit, kami masing masing akan push up 1000 kali”, “Setuju”, kata temannya
“Hitung waktunya jenderal”, Kata Berata lalu melompat berlari dengan cepat, melihat berakan berata yang sangat cepat, semua tawa prajurit langsung hilang, rintangan pertama yang di buat seperti ninja warriors di selesaikan dengan waktu kurang dari 30 detik, dimana orang biasa hanya bisa menyelesaikannya dalam 2 menit, setelah itu rintangan kawat berduri, dengan cekatan Berata merayap seperti seekor buaya tanpa tergores sedikitpun. Mulut para prajurit ternganga tak percaya. Tak terkecuali Rhino, menggelengkan kepalanya melihat keterampilan Berata.
“Ayo kak, aku ingin melihat masing – masing dari mereka push up 1000X “, kata Anindya dengan kencang membuat 100 prajurit mulai keluar keringat.
Kemudian Berata mengambil beban seberat 50 kg dan memindahkannya sejauh 100 meter hanya dalam 30 detik, kemudian dian membawa beban itu naik ke tali jaring setinggi 30 meter dan melemparnya kebawah seperti melempar beban seberat 1 kg.
Mulut para prajurit tak berhenti terbuka melihat pemandangan luar biasa di depan mereka. Berata sudah tiba di garis finish hanya dalam waktu kurang dari 3 menit, dia berhenti tak melewati garis finish.
__ADS_1
“Jenderal Rhino, aku berjanji akan menyelesaikannya dalam waktu 5 menit, ini masih 3 menit, aku akan menunggu melewatinya kalau sudah 5 menit, mungkin sebaiknya kalian mulai push up, dengan senang hati aku akan melihatnya dari ini”, kata Berata
Tanpa Komando 100 orang prajurit itu mulai melakukan push up, setelah 30 menit akhirnya semua menyelesaikan 30menit push up mereka.
“Kamu Sungguh luar biasa Berata, aku pikir kamu bukan manusia, dengan kecepata seperti itu siapun tak akan mampu menandingimu”, kata Rhino
“Anda belum melihat semuanya Jenderal, banyak di negeri kami para master tersembunyi yang mempunyai kehebatan lebih tinngi dari aku”, kata Berata
“Kak, aku bosan, aku ingin bermain”, kata Anindya yang sedari tadi bergelut di tangan Berata
“Jenderal, istriku ingin berlatih sebentar jikalau diperbolahkan”
“Ah, kamu bercanda, istrimu ingi berlatih apa?”
“Aku ingin bertarung dengan pasukan anda Jenderal”, kata Anindya
“hahahaha, anda bercanda nyonya, anda tak akan mampu mengakahkan satu dari mereka”, kata Rhino
“Kita lihat saja , siapa yang akan tertawa sampai akhir”, lalu berjalan menuju tentara yang duduk kelelahan setelah push up 1000 X.
Anindya mengambil 2 stick rotan sepanjang 80 cm dan membawanya, “Kaliantelah menertawakan suamiku, aku akanmemberi kalian semua pelajaran”, kata Anindya
“Pergilan jauh dari kami Nona manis, kami tak mau melukai anda, anda terlalu cantik, sebaiknya anda menemani kami minum setelah ini saja”, kata prajurit yang paling depan
Anindya kesal, dengan satu gerakan dia memukul prajurit tersebut sampai tersungkur.
“Wanita gila”, kata seorang prajurit lalu menyerbu ingin memukul Anindya, dan dengan satu gerakan, tendangan Anidnya mengena telahk di dadanya dan prajurit tersebut langsung tersungkur jatuh kesakita.
“Wah ternyata istrimu jago berkelahi juga Berata”, kata Jenderal Rhino
“Jangan membuatnya kesal Jenderal, aku saja tak berani melawannya”, kata Berata
Jenderal Rhino panik, “ Kalian, ambil senjata kalian, berikan yang terbaik kemampuan kalian”, kata Jenderal Rhino
Segera semua prajurit tersisa mengambil senjata tongkat dan kendo yangada di tempat pelatihan.
“Kalian mau maju satu-satu atau sekalian tidak apa apa, aku akan memberi kalian pelajaran”
Anindya tak memberi kesempatan, dia berlari ke arah kumpulan para tentara, tangannya berkelebat cepat lemah gemulai seperti penari, tapi tongkat di tangannya serubah laksan pedang haus darah, setiap sabetannya menemuai sasaran tubuh para tentara, dia mengamuk, membabi buta memukuli para tentara sampai meringkuk kesakita.
“Berata, tolong hentikan istrimu”, kata Rhino
“Aku tak berani, kalau kamu berani silahkan saja” kata Berata terseyum
Rhino menutup kedua matanya, tak tega melihat tentaranya di pukuli, dalam 5 menit 100 orang meringkuk kesakitan tak ada yang mampu berdiri.
“Kalian memang pasangan gila”, kata Rhino dengan cemas lalu memerintahkan tim kesehatan memeriksa kondisi tentara yang kesakita.
Anindya mendekat kepada Berata dan Rhino, “Terimakasih Jenderal, aku sudahbisa berolah raga dengan baik”, sambil tersenyum
“Olah raga katamu ??, kamu menyiksa prajuritku”, kata Rhino kesal
“Abis, mereka menertawai suamiku”, sambil memeluk Berata
“Kamu senang Sayang?”, kata Berata
__ADS_1
“Senang dong, bisa olah raga” kata Anidnya
“Ayo kita pulang, semakin lama kalian disini membuat aku semakin pusing”, kata Rhino dengan kesal