Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 58. Mahadewi


__ADS_3

1 Bulan setelahnya Berata mengunjungi Mantan gubernur Ida Bagus Udayana di Gria ( Gria adalah sebutan rumah orang berkasta Ida Bagus di Bali), di rumahnya yang sederhana Berata dan Anindya diterima beliau seorang diri, dimasa Tuanya belau masih sangat gagah, ada juga Pak De Goro dan Maharani bersama mereka, maksud kedatangan mereka adalah untuk mengajak mereka untuk memegang beberapa perusahaan Berata karena beberapa kandidat yang sebelumnya di pilih tidak masuk dalam kriteria Berata terutama di dalam hal kejujuran. Hal ini dikarenakan dr. Sandra mengundurkan diri menjadi DIrektur Bali Internasional Hospital.


Berata duduk bersama Pak Udayana dan Pak De Goro, sedangkan Anindya duduk di tempat lain bersama Maharani.


“Pak Udayana, maksud kedatangan kami berdua kesini, selain karena kangen sudah lama tidak bertemu adalah untuk memeinta bantuan Bapak sekiranya bisa membantu saya”, kata Berata


“Kalau kami yang tua ini bsa membantu, pasti dengan senang hati akan membantu kamu Berata”, kata Pak Udayana


“Kamu aja yang tua Bli, saya masih muda kok”, kata pak de Goro


“hehheh, tua Bangka sudah mau masuk liang kubur masih bilang muda” kata Pak Udayana , lalu tertawa bersama, sungguh suatu persahabatan yang tulus.


“Begini Pak Udayana, saya sedang mencari pengganti dr. Sandra, saat ini dia sudah menikah dan mau mengundurkan diri untuk mengurus suami, saya butuh orang yang jujur dan berpengalaman untuk menjadi Direktur Bali International Hospital”


“Berata, kamu jangan bercanda..kamu mau membebani lelaki tua ini dengan pekerjaan yang berat???, aku sudah cukup bahagia tenang menikmati masa pensiun”, kata Pak Udayana


“Bukan Begitu Pak Udayana, saya tidak punya orang yang saya percayai”


“maaf kan aku Berata, aku menolaknya tapi bukannya aku tidak mau membantu, kalau aku pribadi aku mengajukan Maharani untuk membantumu, dia muda, pintar, energik dan jujur, dia pantas diberi kesempatan”


“Iya benar, aku lupa masih punya seorang sahabat yang hebat”, kata Berata


Lalu mereka memanggil Maharani untuk menerima penawaran Berata, pada awalnya menolak karena tidak mampu tapi setelah didesak oleh Berata dan Pak Udayana berjanji akan membantu baru Maharani mau menerima penawaran Berata.


Secara Pribadi Berata mengundang Pak Udayana dan Pak De Goro untuk melatih pasukan berata dalam hal ilmu Bela diri dan juga meminta beliau berdua untuk membentuk tempat latihan beladiri silat untuk anak-anak demi menyehatkan tubuh dan kegiatan yang positif.


………


Suatu ketika Anindya pergi sendiri untuk, berbelanja kebutuhan sehari hari karena khusus untuk mereka berdua, mereka tidak mau memberatkan bawahannya untuk menyediakan makanan buat mereka. Anindya pergi ke Pasar Swalayan di Denpasar dengan beberapa pengurus rumah tangga, tapi sebelum berbelanja mereka mengajak mereka untuk membeli beberapa step pakaian untuk mereka pakai sehari-hari.


Setelah selesai berbelanja Mereka makan di sebuah resto fast food, saat Anindya mencoba minumannya, diamerasakan hal lain, “Sepertinya ada yang membubuhkan obat tidur dalam minuman ku”, kata Anindya dalam hati. Sebagaimana Berata yang kebal terhadap racun, anindya pun kebal juga setelah mendapat anugrah dari Naga Basuki.


“Hmm, aku Akan mengikuti permainanmu”, lalu dia menyusuh pegawai rumah tangganya untuk kembali ke pulau terlebih dahulu dengan alasan dia mau mengecek Kafe. Lalu anindya pura pura pergi ke kamar mandi dengan sempoyongan, lalu tiba tiba ada 2 orang wanita menghampiri dirinya yang pura – pura pingsan dan membawanya kesebuah mobil Alpard, mobil Aplard tersebut didalamnya ada 2 penjaga laki-laki dan seorang wanita yang suaranya Anindya kenali, tapi dia pura pura pingsan. Kemudian Anindya memanggil Berata Dalam hati.


“Kak Berata”, panggil Anindya


“Ya sayang”,kata Berata yang saat itu bersama Kapten Sagara dan Damar, Berata berbicara sendiri tak memerhatikan orang sekitar


“Kak, seseorang menaruh obat bius di minumanku”


“Trus bagaimana keadaanya , bukankan sayang sudah kebal dengan racun dan obat bius”


“Tenang saja kak, Dya mau ikuti semua permainannya”


“Berbahaya sayang”


“Kakak kuatir padaku??”


“Sayang jelas kakak kuatir, tapi kakak lebih kuatir dengan mereka, ntah apa yang akan sayang perbuat pada mereka”


“hi hi hi.. tenang saja kak, tidak akan terjadi apa – apa sama Dya, eh kak sayangku tau ngak siapa dalangnya??”


“SIapa”

__ADS_1


“Penggemar kesayangan kakak, Mahadewi looo”


“Apa yang dia mau??”, Teriak Berata marah sehingga orang disekitarnya bingung Berata sedang berbicara dengan siapa


“Tenang kak, kita akan jatuhkan dia dengan cara yang elegan, minta tolong saja sama kak Damar untuk merekam semua kejadian, Dya tau kak damar mampu”


“Iya sayangku, tapi hati hati”


“Kamu sedang berbicara dengan siapa Berata?’ kata Kapten Sagara


“Aku bicara dengan Anindya dengan telepati, Anindya di culik”, kata Berata


“Anindya di culik??” kata Damar dan Kapten Sagara


Damar lalu membuka control kendali operasinya. Memang sebelumnya dia memberi Jam yang baru untuk Anindya dan Berata , sehingga jam tersebut mampu memberikan sinyal yang bisa meretas semua sytem CCTV maupun Hp yang sedang menyala di dalam radius 10 meter, sehingga saat ini tampak gambaran di dalam mobil Anindya terlihat seperti pingsan dan di jaga 2 orang laki-laki. Darah Berata mendidih melihat gambar itu, “Beraninya kamu Mahadewi”,’ kata Berata


“Sabar Berata, ikuti permainan Anindya”, kata Damar.


Lalu Anindya di bawa kesebuah Villa yang besar dikawasan Canggu, di dalamnya terdapat banyak orang yang sepertinya sedang berpesta, Mahadewi memerintahkan 2 orang pengawalnya untuk membawa Anindya ke sebah kamar. Semua adegan itu tak luput dari pengamatan CCTV yang terpasang di areal Villa ditambah citra Satelit dan ponsel yang diretas Damar.


Kapten Sagara menelpon anggota Team 11 yang masih bertugas di kepolisian untuk segera bersiap menjalankan misi penangkapan. Sedangkan berata tiba – tiba hilang dari ruang komando yang membuat semua yang ada kebingungan.


“Sayang..”, mahadewi memeluk seorang lelaki tambun yang sedang ditemani 4 cewek yang sedang telanjang


Lelaki itupun menyambut Mahadewi kemudian menciumnya dengan Bernafsu, “Tahan Sayangku, aku membawa hadiah spesial untukmu”, kata Mahadewi


“Hadiah spesial untukku, apakah ada barang baru sayang”, sambil tangannya terus meremas dan meraba tubuh Mahadewi


“Mata laki laki itu terbelalak, “cantik sekali sayangku, benar-benar hadiah yang luar biasa, kamu memang istriku yang paling pengertian, dimana dia “


‘Sabar sayang, dia sudah aku bius, 1 jam lagi dia akan sadar, dia jadi milikmu sampai kamu bosan suamiku”


“Hahahahahah, apa yang kamu minta sayangku, katakanlah”


“Aku menginkan suami perempuan itu, tapi dia jago berkelahi, kamu panggilah semua pasukan pengawalmu sayang, aku akan menelpon suaminya agar datang kemari setelah itu kita akan sama-sama berpesta”.


“Hahahah, baiklah sayang aku akan menelpon mereka sekarang”, lalu menelpon seseorang, ‘Ki Sadrak, tolong bawa kemari seluruh anak buahmu, akan ada orang yang datang kemari membuat kekacauan”


“Hahah, tenang sayangku sebentar lagi mereka akan datang, sekarang biarkan aku menikmatimu dulu sebelum kita berpesta sayang”, lalu laki-laki itu melucuti semua pakaian Mahadewi dan mereka XXXXX di hadapan orang lain.


…….


Disisi lainnya Berata sudah berada dalam kamar villa dimana Anindya di Sekap, mereka tertawa berdua, mereka mengunci pintu dari dalam dan asik merebahkan diri beristirahat.


“Kak, penculikan yang aneh”, kata Anindya sambil tertawa


“Kamu sih sayang, ada-ada saja, kita pergi saja dari sini yuk”, kata Berata


“Jangan… kita harus memberikan pelajaran pada orang-orang ini, wartawan sudah siap kak??”


“Tenang, Kapten Sagara sudah mengaturnya”


Lalu berata merasakan seperti ada orang yang punya aura ilmu kanuragan memasuki area Villa, “ssstt sayang, ada orang sakti masuk areal ini mungkin dia pengawal mereka, tapi oran itu jauh di bawah kita, tekan auramu supaya dia tidak merasakannya”, kata Berata ke Anindya

__ADS_1


Masuk keareal villa sekitar 50 orang berbaju hitam semua di pimpin seorang laki laki tua, laki-laki tambun itu menyambut mereka.


“Ki Sadrak, akhirnya kamu datang juga, aku sudah menungu dari tadi”, kata lelaki tambun bernama Sony


“Tuan Sony, maafkan aku, aku lama karena mengumpulkan anak buahku”, kata ki Sadrak


“Ki Sadrak lihat para wanita ini, mereka akan jadi milikmu setelah menyelesaikan tugasmu”, kaya Sony


“tuan , katakan apa tugasku, aku akan menyelesaikannya dengan mudah”, kata Sadrak


“Ki Sadrak, istriku menginginkan seorang pemuda, tapi pemuda itu jago silat, makanya aku mengundangmu kesini”, kata Sony


“hahah itu mudah, aku akan segera menyelesaikan tugasnya dengan mudah”, kata Ki Sadrak, lalu Ki Sadrak mengatur 50 anak buahnya untuk menjaga tempat itu. Lalu Mahadewi mangambil HP Anindya dan menelpon nomer dengan nama Suamiku, Mahadewi yakin itu nomer Berata. Berata yang menerima telpon dari nomer Anindya merasa Lucu, Anindya sedang tidur dipelukannya pun terbangun, lalu berata mengankat telponnya.


“Halo Sayang, kamu dimana, jam segini belum pulang”, kata Berata pura pura


“Anindya ada bersamaku”, kata Mahadewi


“Maksudmu”


“Aku menculik istrimu”


“Mahadewi”, kata Berata


“Ternyata kamu mengenaliku Berata, aku menculik istrimu, kamu harus menebus dia”


“Maksud kamu apa”, kata Berata pura pura marah sambil menahan tawa


“Kamu harus datang ketempatku malam ini, kalau tidak istrimu akan aku bunuh”


“Jangan… jangan sakiti istriku, aku bersedia melakukan apa saja demi keselamatan istriku”, kata Berata sambil menahan tawanya sedangkan Anindya menggelitik pinggang Berata.


“Kamu mau melakukan apa saja Berata???”


“ya aku mau, yang penting istriku selamat”


“hahahhaha, Aku menantikanmu Berata, Jam 12 malam ini kamu harus datang di villaku” kata Mahadewi.


“Kamu tidak minta tebusan uang atau apapun???” kata Berata


“hahahah dirimu lebih berharga dari pada uang Berata, aku tidak butuh uang aku hanya butuh kamu” kata Mahadewi gembira, lalu menutup telpon


Berata menutup telponnya, Anindya bangun dari tidurnya sambil memegang wajah Berata, “ Awas ya kalo nakal, mentang – mentang punya banyak penggemar”


“Tenanglah, hatiku pintunya sudah terkunci, dan kuncinya kamu yang bawa sayang”, kaya Berata


“Hmmm, gombal.. udah mulai pinter ya merayu sekarang “ kata Anindya


“Sayang, baru jam 8 malam, masih banyak waktu untuk kita, sambil memeluk ANindya”


“Kak, liat – liat tempat dong, nanti ada CCTV di kamar ini”


“Tenanglah, dari awal kakak sudah memutus aliran listrik CCTV, jadi mereka tak akan tau kakak ada disini” lalu memeluk Anindya karena bagi Berata , tubuh istrinya adalah Candu .

__ADS_1


__ADS_2