Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 57. Nusa Karang Suwung


__ADS_3

Berata dan Anindya kembali kerumah, kemudian mengganti pakaian dengan pakaian santai lalu naik motor kembali ke Denpasar. Sampai di Denpasar mereka singgah ke mall untuk membeli beberapa pakaian untuk dipakai sehari-hari.


“Kak Berata, percaya gak kalau Dya tidak pernah pergi ke Mall”, kata Aninyda kepada Berata sambil memeluk tangan Berata


“Benarkah, sayang, trus selama ini bagaimana caranya membeli pakaian?”


“Benar kak, biasanya yang membeli pakaian adalah Kak Ditha”, kata Anindya dengan malu


“Kalo begitu kita saja borong sayang”, kata Berata


“ayo siapa takut”, kata Anindya sambil melihat – lihat bermacam-macam pakaian di dalam Mall, lalu Anindya berhenti dan memegang sebuah baju yang bagus, ”Kak Bagus ngak??”, kata Anindya kepada Berata lalu tiba - tiba seorang ibu menunjuk juga baju itu.


“Aku mau itu” katanya sambil menunjuk baju yang dipegang Anindya, lalu pengawalnya menuju Anindya dan mencoba mengambil baju yang ada di tangan Anindya.


“Aku melihatnya duluan”, kata anindya lalu menendang pengawal tersebut


Pengawal tersebut terjengkang, lalu 3 orang pengawal lainnya datang membangunkan pengawal yang terjengkang itu.


“Kamu.. kamu berani dengan aku” Kata Wanita itu


“Mahadewi”, kata Berata


Mahadewi terkejut, “wah.. wah kebetulan yang baik, aku telah mencarimu kemana – mana akhirnya kamu muncul sendiri, aku sudah bilang kalau aku tidak bisa memilikimu, orang lain pun juga tidak, tunggu saja, kamu akan jatuh ketanganku”, kata Mahadewi


Anindya yang kesal langsung menyaut, “coba saya kalau bisa , aku akan merobek mulutmu”


“Hei… kamu gadis kecil itu kan, ternyata kamu sudah sembuh, kamu beruntung tapi sebentar lagi suamimu akan jadi milikku”


Anindya ingin memukul Mahadewi tapi Berata menahannya dan berbisik, “Biarkan saja sayang, tak ada yang bisa menyentuh kita”


Berata lalu pergi kearah lain, Mahadewi kemudian terlihat menelpon seseorang, “Sayang aku butuh pengawal pribadimu untuk menangkap seseorang, aku sedang ada di mall, cepat suruh dia kemari”


Berata dan Anindya memborong lumayan banyak pakaian, mereka menitipkan pada penitipan Barang karena nanti akan diambil pegawai Berata. Lalu menuju ke parkiran motor, tapi disana ternyata ada banyak preman yang menungu Berata.


“Kamu yang namanya Berata?? kamu ikut saya” kata pemimpinnya


“Kemana??, kalian mau menculikku?”, kata Berata


“Kami diperintahkan membawa kalian”


“Lebih baik kalian pulang saja dari pada nanti tidak bisa pulang sendiri”, kata Berata


“Sombong kamu , kamu belum tau siapa kami, Ayo lumpuhkan dia”.


20 orang maju mengepung Berata, Berata dan anindya tersenyum, “Kak, banyak orang, jangan terlalu mencolok”, kata Anindya


“Baiklah, sebenarnya malas menghadapi mereka”, katanya kepada Anidnya


“Majulah kalian semua”, kata Berata kepada pengepungnya


Lalu terjadi perkelahian, Berata sengaja melawan dengan setengah hati, dan 5 menit kemudian 20 orang tersebut terkapar.


“Kamu tidak ikut maju??”, kata Berata kepada pimpinannya. Sang pimpinan celingukan bingung mau berbuat apa, lalu sebuah mobil hardtop berwarna hitam masuk areal Parkir, pemimpin tersebut langsung berlari menuju mobil itu.


“Bos… untung bos datang, orang itu jago silat, semua anak buah kalah bos”, kata pemimpin

__ADS_1


“Masa 20 orang bisa kalah dengan 1 orang, mana dia orangnya??”, kata orang yang baru turun dari mobil.


“Itu Bos” menunjuk Berata dan Anindya


Tiba tiba tubuh lelaki paruh baya botak berbadan segede gajah itu gemetar, peluh dingin menetes, “i.. itu yang mau kamu tangkap??” katanya kepada anak buahnya


“Ya bos, perintahnya begitu”.


Plak , sebuah tamparan mendarat di pelipis pimpinan tadi, “Bos Kenapa kamu menamparku” katanya bingung


“Kamu bodoh, tidak bisa mengenali orang, bukankah selalu kukatakan siapa Bos besar kita, lihat itu… lihat wajahnya”, Sambil menjambak rambut anak buahnya


“Pa..Pak Berata??”, kata anak buahnya


Bug…. Tendangan mendarat lagi diperut anak buahnya, lalu orang itu berjalan menuju Berata, “Pak Berata, maafkan anak buah saya”,katanya dengan kaki bergetar


Berata mengulurkan tangannya, “Lama tak berjumpa Pak Yan Botak, aku kira kamu sudah insyaf, ternyata masih juga seperti dulu”, sambil tertawa


Pak Yan Botak menerima uluran tangan Berata dengan tangan gemetar, maafkan saya, mereka tidak tau anda pak Berata mungkin karena selama ini saya cuman memberi mereka poto saja, mereka belum pernah melihat bapak langsung”


“Sekarang sudah tau??” sambil tersenyum, “Siapa yang memerintahmu menangkapku”, kata Berata


“Selain bekerja dengan Pak Berata saya dapat pekerjaan menjaga artis , suaminya seorang anggota DPR, jadi saya dibayar untuk menjaganya saat ada di Bali”


“Mahadewi??”, kata Anindya


“Iya bu Berata, tapi saya akan mengembalikan uangnya, saya tidak mau mengambil pekerjaan itu lagi”, kata Yan Botak


“Harusnya kalau kamu kurang uang, kamu tinggal bilang sama Maya, kamu cukup menjaga tempatku saja, tidak usah keja sama orang lain lagi”, kata Berata


“Baik pak, saya tidak akan bekerja dengan orang lain lagi”


“Bisa Pak Berata, saya akan mengantar Bapak Ke sanur”, kata Pak Yan Botak


“Biar aku yang mengantarnya”, kata sebuah suara


Berata dan Anindya menoleh kea rah suara, “Kapten Sagara”, kata Berata


Mereka berjabatan tangan, “Lama sekali aku tak bertemu denganmu”, kata Kapten Sagara


“Benar Kapten , 5 tehun lebih, kita harus merayakan pertemuan kita, kebetuan kapten bawa mobil, ayo kita pergi makan dulu setelah itu tolong antarkan kami ke Dermaga” kata Berata


“Baiklah , kebetulan ada yang akan aku sampaikan padamu Berata, kita bisa membahasnya sambil makan malam”


Lalu mereka Makan di Me&You Café pertama, Mbak maya senang sekali menerima Berata dan Anindya, “Berata aku pinjam istrimu dulu, kalian ngobrollah berdua, lagi pula kalian lama tidak bertemu”, kata Mbak Maya.


Berata dan Kapten Sagara tertawa, lalu mereka berbicara banyak hal lalu mereka makan malam bersama dengan Anindya dan mbak Maya.


“Berata terimakasih makan malamnya, ada sesuatu yang aku mau sampaikan padamu, sebentar lagi aku akan pensiun, aku cuman memikirkan 9-11, divisi yang ku bentuk. Saat ini mereka tidak mendapat tempat yang baik dikesatuan karena mereka memang aku pilih secara rahasia, sehingga kalau aku pensiun, aku takut mereka hanya jadi anggota biasa padahal skil mereka diatas rata-rata”, kata kapten Sagara


“Kapten, ikut aku pulang, aku akan menunjukkan sesuatu padamu, setelah itu baru kita putuskan tentang 9-11”, kata Berata


“baik, tapi aku sampai sekarang tidak bisa menemukan dimana kamu tinggal”, kata kapen sagara dengan agak bingung


“Kita tinggal di Sebuah pulau Kapten”, kata Anindya

__ADS_1


“Pulau kosong di sekitar Nusa Penida???”


“Kenapa anda tau, kapten??” kata Berata


“AKu dengar, Ada pulau tak berpenghuni di sana yang diberikan kepada Komandan Pasukan Garuda Divisi Jatayu atas jasa jasanya, aku juga baru tau, pulau kecil gersang itu skr sudah ada sebuah villa ditasnya saat aku melintas diatasnya dengan helikopter”


“Aku Mantan komandan Jatayu , Kapten”, kata Berata tersenyum


“Hebat.. hebat, aku sudah menduga kamu akan menjadi salah satu pemimpin pasukan yang disegani”


……………


Mereka bertiga menuju Dermaga Sanur, lalu sebuah, Boat mewah berwarna hitam sudah menunggu di Dermaga , mereka naik kedalam Boat, Kapten Sagara terheran heran melihat fasiltas dalam Boat, “Seumur hidupku aku tak akan bisa membeli barang seperti ini”, kata Kapten Sagara


Mereka meninggalkan Dermaga, jarak tempuh dari Dermaga ke pulaunya dengan kapal biasa ditempuh dalam 2 jam. Tapi kapal Boat Berata sudah di modifikasi dengan teknologi tinggi bisa menempuh perjalanan dalam waktu hanya 30 menit, Kapal mengaktifkan mode anti getaran dan mode hantu sehingga tidak terlihat oleh kapal lainnya.


Anindya yang lelah tidur di pangkuan Berata tak perduli dengan Kapten sagara yang ada di ruang utama. Setelah 30 menit mereka sampai di pulau, saat ini pintu masuk pulau sudah di modofikasi sehingga bisa masuk melewati pintu rahasia yang di bangun dan langsung menuju ruang Ruang Bawah tanah.


Sampai disana. Damar sudah menunggu di depan, “Damar aku serahkan Kapten Sagara padamu, ajak dia berkeliling”, Baik Berata


“Kapten, mohon maaf, kami mau beristirahat dahulu,kita bertemu besok pagi”, kata Berata sambil menggendong Anindya.


“Baik Berata, kelihatannya Anindya sudah sangat lelah, biar Damar saja yang menemaniku”, kata Kapten Berata


Berata naik Lift menuju Villa diatas. Lift ini hanya sampai pada ruang tamu, untuk menuju kamar tidur Berata, mereka naik lift khusus yang hanya bisa di buka dengan scan retina Berata dan Anindya. Berata Menggendong Anindya dengan cara Bridal Style karena Anindya sudah sangat mengantuk.


Sesampainya diatas, “Sayang.. mandi dulu, supaya kamu bisa tidur nyenyak”, kata Berata


“Ngantuk Kak, besok saja”.


“Jangan badanmu kotor sehabis perjalanan jauh, tidak baik istirahat dalam keadaan kotor”, lalu menggendong Anindya menuju kamar mandi


“kak, capek, mandi aja ya”


“Iya… emangnya kakak mau ngapain”, tersenyum nakal


“Kakak nakal, pasti ada maunya, tadi pagi kan udah 3x lo kak” dengan suara manja


“Aku cuman mau membersihkan badanmu saja sayang, kalo nanti terjadi, bonuslah” sambil tertawa


“Dasar mesum”, kata Anindya


……..


Pulau dimana Berata tinggal dari dulu dikenal dengan pulau mati karena tempat itu tidak ditemukan sumber air dan tidak ada pohon besar yang tumbuh karena dilapisi bebatuan dan karang sehingga sering disebut Karang suung atau tanah Sepi sehingga dinamakan Nusa Karang Suung oleh penduduk sekitar. Saat ini hanya satu bangunan yang terlihat diatas dan sekarang areal disekitar rumah dibuat hutan buatan yang ditanami dengan pohon buah buahan, kurang lebih 1 km2 sehingga sekarang banyak burung-burung yang tinggal dan juga beberapa binatang yang sengaja di beli untuk dilepas di hutan buatan seperti kelinci, tupai dan binatang yang jinak lainnya. Bagian villa yang ditempati Berata yang bisa dimasuki oerang lainnya adalah hanya bagian bawah sedangkan bagian atasnya benar-benar hanya bisa dimasuki oleh Berata dan Anindya sehingga, kebersihan dan apapun itu dikerjakan mereka berdua.


Bangunan yang lainnnya di bagun di dalam Gua bawah tanah, seluruh fasilitas rumah dan lainnya di bangun disana, tempat pelatihan fasitas olah raga dan ada juga mesin water threatment yang bisa mengubah air laut menjadi air tawar yang memenuhi kebutuhan pulau.


Pagi harinya Berata menemui Kapten Sagara, “Bagaimana Kapten, Aku berencana untuk merekrut anda dan team 9-11 anda untuk bergabung, kapten akan membantu sebagai penasehat, sedangkan yang lain akan ditemampatkan sesuai kemampuannya”, kata Berata


“Ini yang aku impikan Berata, aku dengan senang hati akan membantumu, aku akan mengumpulkan mereka, mungkin sebagian dari mereka akan pensiun supaya bisa bergabung dengan team ini”, kata Kapten Sagara


“Aku percaya dengan anda kapten, saya butuh orang yang hebat untuk bisa mempercepat perkembangan Pasukan”


“Baik Berata, aku sangat terkesan dengan pasukan ini, aku akan mencoba merekrut beberapa tenaga ahli supaya bisa mempercepat penelitian dan pengembangan senjata”

__ADS_1


“Jangan lupa operasi kita adalah Rahasia, target utama kita menghancurkan Wrath Of God, dan menjaga keamanan Negara kita, jadi semua harus di merahasiakan ini semua, semua tindakan haruslah dilakukan dengan perhitungan”


“Baik Berata “ kata Kapten Sagara dan Damar.


__ADS_2