Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 51. Yuki-Onna


__ADS_3

Berata dan Akari Nara makan dan berbicara dengan akrab. "Berata, apa menurutmu bahagia itu", kata Akira Nara


"Bahagia menurutku sederhana, bisa bersama orang kita sayangi itu bahagia, bisa memberi pada mereka yang tidak punya, itu bahagia, bisa makan enak seperti sekarang ini itu juga bahagia", kata Berata sambil tertawa


"Kadang aku merasa tak tau lagi apa itu bahagia, semua yang terjadi dalam kehidupanku selalu menyimpan luka, aku tak pernah tau sampai kapan aku bisa tertawa, aku tak tau sampai kapan bisa berhdapan dengan orang - orang", kata Akari Nara.


"Akari, bukankah kita tak pernah tau hari esok?, jadi mengapa kita terlalu kuatir?, apakah dengan kuatir kita bisa menambah umur kita?? tidak, oleh sebab itu serahkan saja pada sang pencipta, apa yang ia mau dari hidup kita, kita hanya perlu menjalaninya", kata Berata.


"kamu tau kan aku Geisha, dari kecil hidupku sudah diatur, dari umur 6 tahun aku di didik dengan keras untuk bisa membuat orang lain tertawa, tak perduli aku sedang bahagia atau sedih ku harus bisa membuat orang lain tertawa, aku tak punya hidup yang nyata semua dalam bayangan. menjadi Geisha adalah kehormatan, kami adalah master dari seni pertunjukan, kami dilatih dengan keras selama bertahun - tahun, kami juga harus bisa menjaga diri kami, seorang Geisha tidak boleh tidur dengan tamunya, saat iya melakukan itu dia tidak boleh menyebut dirinya sebagai Geisha" kata Akira Nara


"Apa yang kamu inginkan, aku bisa membantu untuk mewujudkannnya", kata Berata


"Tahun ini aku ingin menikah, tahun depan aku ingin memiliki seorang anak" kata Akira Nara


"Apa tak ada permintaan yang lainnya", kata Berata sambil menggaruk kepalanya.


Akira Nara tertawa ringan, "Jangan kuatir, aku tau kamu tak bisa membantuku tentang itu, tapi hanya itu saja keinginanku, bertemu orng sepertimu, menikah dan memiliki anak"


"Aku bisa memberimu Uang atau kekayaang bila kamu mau Akira"


"Uang bukanlah segalanya, walau segalanya butuh uang, sekarang ceritakan tentang istrimu supaya aku tau aku sepadan atau tidak dengan dirinya', kata Akira Nara lembut sambil memegang tangan Berata.


Berata melepaskan tangan Akira Nara dan mulai bercerita sejarah hidupnya, tentang orang tuanya, tentang keluarganya, tentang bagaimana ia bertemu Anindya, berpisah dan kembali dipertemukan walau dalam keadaan yang tidak baik. Dia juga bercerita tujuannya datang ke tempat ini, mencari Kuil Dewa Api Kagutsuchi.


"Berata aku mohon Jangan mencari kuil Dewa Api itu, aku mohon", kata Akira Nara


"Aku harus tetap mencari Cincin Api tersebut, karena aku sudah berjanji kepada istriku"


"Berata, tidakkah ada sedikitpun tempat untukku dihatimu?, ayo kita pergi keseluruh dunia, hanya kau dan aku, aku bisa menggantikan Anindyamu", kata Akira Nara sambil meneteskan air matanya


"Maafkan aku Akira, aku tak bisa", kata Berata


"Kamu memang keras kepala Berata, baiklah sebelum kamu mati hari ini, mari kita bersenang-senang, supaya saat kamu mati aku bisa mengenangmu"

__ADS_1


"Kamu yakin sekali bahwa aku akan mati", kata Berata


"selama ratusan tahun tidak satupun laki-laki yang hidup setelah mencari Kuil dewa Api di hutan Aokigahara, jadi kamupun pasti akan mati, itu tak di ragukan lagi, padahal kau bisa memilih pergi denganku, aku akan melepas statusku sebagai geisha dan kamu akan menerima hartaku yang paling berharga"


"Hartaku yang paling berharga adalah istriku", kata Berata.


"Aku tau aku tak akan mencoba lagi menghalangimu, sekarang temani aku keliling lagi untuk merayakan hari kematianmu", kata Akira Nara


Berata menggelengkan kepalanya, melihat Akira Nara kemudian dia mengikuti akira Nara berkeling lagi untuk membeli pernak pernik dan banyak lagi yang Berata tidak tau. Berata kemudian membelikan sebuah tusuk rambut atau Kanzashi berbentuk kupu kupu kepada Akira Nara, "Ini Untukmu sebagai kenang-kenangan dariku untukmu", lalu Berata memasangkannya pada rambut Akira Nara.


...........


Malam harinya Berata bersiap untuk pergi dari Rumah Kakek Izanagi dan Nenek Izanami, nenek Izanami memeluknya dan enggan melepas kepergiannya. kakek Izanagi merapikan Hakama Berata dan menyentuk pin bunga Sakura di baju Berata, "Semoga bunga ini besa melindungimu dalam perjalanan". katanya.


Berata masuk kedalam hutan sendirian , sungguh hutan sangat gelap dan menyeramkan, dia merasa sudah lama berjalan tapi tidak mencapai tengah hutan, selalu kembali dimana dia masuk hutan pertama kalinya.


"Rupanya ini labirin yang di katakan Kakek Izanagi, labirin ini membuah sebuah benteng atau perisai sehingga kita selalu kembali ke tempat semula, aku harus memakai mata batinku untuk melihat jalanyang sebenarnya. Berata memusatkan pikirannya, tapi tiba tiba dia mendengar sebuah suara yang iya kenal.


"Aku sudah mengira kamu tidak akan mampu untuk melewati labirin itu", kata Akira Nara


"aku sengaja menunggumu karena aku tau kamu pasti tak mampu melewati Labirin ini, Labirin ini adalah rintangan pertama dalam menemukan Kuil Dewa Api"


"Bagaimana kamu tau jalan melewati Labirin ini??"


"Apakah kamu tau kalau hutan Aokigahara ini adalah hutan laki laki, dan wanita tidak diijinkan untuk masuk, aku pernah memasukinya sekali untuk bunuh diri, tapi aku tak bisa melewati rintangan kedua, setelah itu aku pulang kembali dengan selamat, jadi aku adalah satu-satunya orang yang bisa keluar dan masuk dari labirin ini ", kata Akira


"gadis ini penuh dengan misteri", kata hati Berata. lalu berata mengikuti Akira yang membawa Toro (lentera jepang), saat Akira membawa toronya kedepan tapak sebuah jalan berbeda dari jalan yang berata lihat, mereka berjalan hampir 30 menit, dan sampai di sebuah tanah lapang seluas lapangan bola, "Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini saja Berata, aku tidak bisa membantumu lagi", kata Akira Nara


"Terimakasih sudah membantuku, kamu kembalilah, biar aku yang meneruskan perjalananku sendiri", kata Berata, kemudian Akira Nara pergi dari tempat itu.


Berata melangkahkan kakinya masuk kedalam lapangan tanah, baru satu langkah menginjakkan kaki , ribuan teriakan bergema, dari tanah tersebut bangun ribuan bayangan bayangan hitam bermuka tengkorak, merekalah roh roh orang yang bunuh diri di dalam hutan Aokigahara, bayangan roh hitam dengan kuku tajam dan panjang menjerit dengan jeritan yang memilukan hati.


Berata mengeluarkan Pedang Kalinyamat, Pedang kalinyamat saat ini beraura Biru. "Jiwa - jiwa ini harus dibebaskan sehingga bisa menuju Sorga atau neraka, bila mereka tetap disini, mereka akan selalu mengganggu penduduk sekitarnya. Jurus pedang penyucian jiwa", Berata melompat dan menerjang , ribuan bayanga menyerang Berata dari segala arah, tapi berata mampu melawannya dan setiap tebasan 10-20 roh penasaran tersebut terpotong dan menghilang, terlihat pertarungan seperti bola hitam raksasa yang di dalamnya mengeluarkan sinar biru, semakin lama sinar biru tampak semakin terang, dan akhirnya semua bayangan hitam tersebut habis menghilang.

__ADS_1


Setelah bayangan hitam tersebut, muncul ribuan bayangan putih menggunakan Hakama, bayangan tersebut semua adalah bayangan laki laki yang melakukan bunuh diri atau mati di hutan Aokigahara, mereka menunduk hormat kepada Berata dan terbang melesat kelangit, langit yang gelap tiba tiba berubah dihiasi ribuan bintang.


Tak sampai beberapa saat tiba tiba sebuah bayangan raksasa hitam melompat dan berdiri di depan Berata, tingginya sepohon kelapa, matanya merah, bukanya mengerikan dengan gigi taring yang keluar


"Aku iblis Bakemono, pemilik roh penasaran itu, kamu telah melepaskan mereka, kamu harus mati di tanganku", lalu menyerang berata dengan pukulan, berata melompat dan menghindar, tempat dimana sebelumnya berata bediri, tampak berlubang dan berdebu.


Berata menyerang dengan pedang Kalinyamat, tapi pedang tersebut seperti menebas angin, beberapa kali berhasil menebas kepala bakemono, tapi tak berhasil dan sebuah pukulan menimpa dada berata, berata terlempar dengan keras ketanah. Berata bangkit, berteriak marah kemudian menyerang lagi, dia menebas kepala Bakemono tapi tetap hanya seperti menebas angin saja, kembali sebuah pukulan dahsyat mendarat di dada berata dan dia terhempas ketanah, mulutnya mengeluarkan sedikit darah.


Iblis Bakemono tidak puas, mengeluarkan pedang besar dan menebas Berata, berata yang sedan berusaha bangkit tak melihat serangan Iblis bakemono, tiba tiba Akira Nara Berdiri didepannya Berata dan menghadang serangan pedang dengan tusuk konde pemberian Berata, "Berata ayo kita pergi dari tempat ini, cepat", kata Akira Nara


"Akira kenapa kamu kembali kesini, Pergilah, tempat ini berbahaya," kata Berata


Belum sempat Berata memperingatkan Akira nara tiba- tiba kuku-kuku panjang Bakemono yang seperti pedang menembus tubuh Akira Nara, "Arrghhhh, Berata Pergilan dari sini cepat.." kata Akira Nara


tubuh Akira nara di bawa terbang kelangit oleh Bakemono, setelah itu Pedang Bakemono menusuk jantung Akira Nara, tubuh Akira Nara lunglai di ujung pedang Bakemono, perlahan tubuh Akira Nara menghilang berubah menjadi seperti serbuk bintang dan naik kelangit.


"Akira Nara"berata berteriak sangat sangat marah, "Kamu sudah membunuh temanku, kamu pantas mati", teriak Berata.


Berata kemudian mengeluarkan senjata Punta Dewa , dan melemparnya ke Iblis Bakemono, iblis Bakemono juga mencoba menangkis Punta dewa tapi tak mampu, saat Ujung Punta Dewa mennyentuh bayangan Iblis Bakemono, Iblis bakemono terbakar sampai habis.


"Akira Nara, aku tak mengira kamu akan mengorbankan dirimu untuk aku, beristirahatlah yang tenang Akira Nara, kamu memang cahaya yang terang yang menyinari langit.


Berata melanjutkan perjalanan, lalu tiba di sebuah kuil, kuil tersebut di jaga 4 iblis perempuan berbaju kimono putih. lalu tiba -tiba salju turun di kuil tersebut. "Iblis Yuki-Onna", kata Berata, "Aku harus menghindari pandangan matanya"


Yuki- Onna atau iblis Salju yang hanya muncul saat hujan salju. 4 Yuki-Onna ini mengeliling Berata, kemudian berteriak mengerikan dan memagari Berata dengan perisai tenaga, tiba tiba pandangan Berata menjadi gelap, bayangan bayangan kematian terlintas di pikirannya, muali dari kematian ayah-ibunya, ada suara- suara yang berkata,"kamulah penyebab kematian Ayah ibumu"


"Tidak bukan aku", kata Berata Menjerit


"Coba perhatikan, mereka mati karena ingin menyelamatkan kamu, kamulah penyebab kematian orang tuamu", kata suara itu


Mental Berata terguncang, setelah itu muncul kematian Pak Radji Sopir keluarga Berata


"Lihatlah, seorang sopir tak bersalahpun mati karenamu", kata suara itu.

__ADS_1


"Sopirmu mati . Sopirmu mati karenamu, anak pembunuh. Anak pembunuh.. kamu anak pembunuh"


Berata memegang kepalanya, "tidak aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh teriaknya"


__ADS_2