Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 68. Nenek Retno


__ADS_3

Segera Berata masuk kembali ke ruang rahasia, dia mengambil alkohol dalam ruang bawah tanah dan menutupnya dengan rapat, lalu membuat api dengan membakar beberapa kain dan menuangka alkohol di beberapa kudsen jendela. Asap mulai menyebar membuat bau yang menyengat , alarm kebakaran langsung berbunyi keras membuat semua tamu hotel menjadi panik, mereka berlari keluar ruangan, tamu hotel berebut untuk menyelamatkan diri. Begitu pula Berata dan Anindya , mereka segera keluar juga dari hotel.


Sementara itu pihak hotel berusaha mencari sumber api yang menyebabkan alarm kebakaran menyala, Martin terlihat sibuk, dia tidak memperhatikan Berata dan Anindya. Api membesar, Martin dan pihak hotel lari keluar ruangan, 15 menit kemudian pemadam kebakaran tiba bersama petugas kepolisian. Martin langsung naik mobil meninggalkan hotel bersama jimmy dan Sammy.


Setelah api padam, petugas pemadam kebakaran menemukan sebuah ruang tanah rahasia. Petugas membuka paksa dan menemukan beberapa mayat di ruang pendingin dan beberapa kotak yang berisi organ tubuh manusia. Tentunya enemuan ini membuat kehebohan dan terkejut bagi masyarakat kota kecil Bonneval. Polisi mengeluarkan perintah pencarian untuk Pemilik dan pengelola hotel, Martin Le Blanc


Sementara itu di suatu tempat “Jimmy, Sammy.. kenapa ruang bawah tanah bisa terbakar? Jelaskan”, martin menampar Sammy dan Jimmy


“Tuan Martin, kami tidak tau, kami tidak menyangka ada yang bisa menemukan ruang bawah tanah kita”, kata Sammy


“Kamu tau berapa kerugian kita ??’ selain itu kita sudah menerima uang Muka untuk ginjal Tuan Greg, kita harus segera menemukan tempat untuk beroperasi lagi”


“tuan Martin , aku curiga dengan pasangan suami istri yang masuk terakhir, mereka aneh”, kata jimmy


“maksud kalian?’


“Tuan Martin, pasangan suami istri itu aneh, kemarin ketika kami mencoba untuk mengambil sample darahnya , jarum nya patah terus”, kata Sammy


“Kenapa kamu baru bilang sekarang”


“Kami berdua mengira itu hal yang bisa, kami kira jarumnya memang rapuh”


“Aku akan menyelidiki mereka”, lalu Martin mengambil telponnya dan menelpon seseorang.


Sementara itu Berata dan Anindya Asik naik motor menyusuri pinggiran Desa Bonneval, hari sudah senja, angir mertiup semilih dan sejuk karena berada di kawasan pegunungan.


“Sayang, kita harus segera mencari tempat untuk menginap”,


“Kita ada di pegunungan, sejauh mata memandang hanya kebun dan hutan, mudah mudahan kita bisa menemukan rumah untuk kita berteduh Dya”, Anindya semakin mempererat pelukannya kepada suaminya


Di depan kemudian tampak sebuah mobil yang berhenti, dan seorang nenek tua yang mencoba untuk membuka ban.


“kak, sepertinya kita harus membantu mereka, sepertinya bannya kempes”


“baiklah sayang”


Mereka berdua berhenti, tampak seorang nenek tua dengan tangan rentanya mencoba membuka ban mobil mini truck terbuka, anindya sangat kasian dengan nenek tua. Lalu melihat seorang gadis muda yang tampak cantik keluar dari mobil.. dan berkacak pinggang


“Nenek.. berapa lama lagi bisa selesai, hari sudah malam, aku sudah katakan buang saja mobil tua ini, tapi nenek tidak pernah mau mendengarkan aku”


“Beatrix, sebaiknya kamu membantu nenek supaya kita segera pergi dari tempat ini”

__ADS_1


“Nenek , aku seorang model. Masa nenek minta aku untuk mengganti Ban?” sambil masuk kedalam mobil dan membanting pintu dengan keras


“Anak yang tak tau diri”, kata Anindya


Nenek itu menoleh, “Anda bisa berbahasa Indonesia nona”


“Nenek bisa mengerti Bahasa Indonesia??” kata Anindya


“Nenek dari indonesia nona muda, tapi nenek sudah tinggal disini selama 20 tahun lebih, senang bisa bertemu pasangan muda seperti kalian di negeri ini”


Anindya memeluk nenek tersebut, “aku yang senang nek, bisa ketemu orang Indonesia di tempat seperti ini, nenek, istirahatlah, biar suamiku yang membantu nenek mengganti ban”


“Nenek tidak mau merepotkan kalian, nenek bisa melakukannnya”


“Tenang nek, suamiku pasti bisa menyelesaikannya dengan mudah pekerjaan seperti ini”, akhirnya nenek menyerah dengan Anindya yang terus mendesak, lalu Berata dengan cepat mengganti ban yang bocor tersebut, tidak sampai 15 menit sudah selesai.


Tak disadari seorang gadis muda yang terpesona mengintip dari dalam mobil, memandangi Berata dengan tak berkedip, lalu dia keluar mendekati Berata. Berata sudah selesai merapikan peralatann dan menaruhnya di bak belakang, kemudian menaikkan ban yang bocor, gadis itu menghampiri Berata dan menyodorkan tangannya kepada Berata.


“Perkenalkan Aku Beatrix”, katanya


Berata Hanya menoleh , dengan sedikit senyum tapi tak menyambut tangan beatrix. Kemudian dengan Cepat Anindya menjabat tangan Beatrix,


“Aku Anindya, ini Suamiku, Berata”


“dasar anak manja”, seruu Anindya


“Maaf kan cucuk nenek Nona muda, dia terlalu di manja oleh kami semua oelh sebab itu kadang dia bertindak menang sendiri”


“tidak apa-apa nek, kami sudah biasa bertemu anak manja seperti cucuk nenek”


“Kalian mau kemana, hari sudah malam, ikutlah kerumah nenek, tinggalah malam ini, besok kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian”


“Nek terimakasih, sebenarnya kami juga sedang mencari penginapan di sekitar sini, kami memang sedang bulan madu dengan traveling naik motor, tapi dengan cucu nenek yang pemarah itu, kami rasa lebih baik kami tak ikut”


“nona muda, kamu tak usah sungkan, kalian telah membantu nenek, sekarang giliran nenek yang membantu kalian, suamiku pasti senang melihat pasangan muda dari Indonesia”


“nek, kami takut merepotkan tapi, terimakasih sudah menawarkan kami tempat tinggal, kami rasa untuk malam ini kami bisa tinggal di rumah nenek”, kata Anindya


“Nona Cantik, namamu siapa”


“Aku Anindya Nek, ini Suamiku Berata”

__ADS_1


“kalian ikuti kami, rumah kami tak sampai 30 menit dari tempat ini”,


“Baik Nek”, kata Anindya dan Berata bersamaan


Lalu nenek tua itu naik mobil diikuti dengan Berata dan Anindya di belakangnya.


“Nenek, kenapa nenek mengajak mereka kerumah kita, terutama wanita itu... “


“Beatrix, nenek minta kamu jangan berbuat ulah, mereka adalah tamu nenek”, kata nenek dengan tegas


“Baiklah, yang perempuan tamu nenek, yang laki-laki adalah tamuku”, dengan penuh senyum


“Beatrix, jangan coba coba menggangu mereka, mereka adalah pasangan suami istri”


“Nenek tau kan, aku tak pernah gagal mendapatkan apa yang aku inginkan”, sambil tertawa


Sang nenek hanya tersenyum kecut, menyesali keputusannya mengundang Anindya dan Berata, terutama dengan kelakuan cucunya yang selalu melakukan segaala cara untuk mendapat kan keinginannya.


Mereka berjalan menyusuri kebun anggur yang sanga luar, sejauh mata memandang di lreng pengunungan hanya perkebunan anggur. Diantara kebun itu banyak terdapat cahaya yang menandakan ada rumah pekerjanya. Di lereng yang agak tinggi tampak sebuah rumah yang besar yang tampak indah dari kejauhan, mereka menuju rumah tersebut.


Mendekati rumah tersebut, berata kagum dengan arsitekturnya yang bergaya reinasaince dengan tembok menjulang tinggi hampir 5 meter, terdapat pintu gerbang besar dengan penjaga bersenjata lengkap bak anggota militer.


Penjaga tampak mendekati mobil nenek tua itu, “Mereka tamuku”, katanya sambil melajukan mobilnya masuk kedalam rumah. Berata dan Anindya kemudian juga masuk, di ikuti dengan tatapan tak bersahabat para penjaga. Kemudian berhenti di sebuah tangga yang merupakan pintu masuk rumah. Di kiri kanannya sudah tampak berjejer para pegawai rumah dengan seragam yang sama.


“wow nek... aku tak menyangka nenek seorang bangsawan, rumah nenek besar sekali, sampai sampai para pegawai menyambut kedatangan nenek seperti seorang ratu”, kata anindya


“bukan untuk nenek, untuk cucuku, anakku salah seorang petinggi militer negeri ini, jadi mereka khusus datang kesini untuk melayani Beatrix cucuku, kalau nenek lebih suka tinggal di rumahyang sederhana”.


“Nenek terlalu merendah”, kata Anindya sambil tertawa


Beatric yang sudah naik tangga terlebih dahulu llu menoleh ke Anindya sambil berkata , “Ini kesempata sekali seumur hidupmu untuk masuk kerumah seperti ini, dasar wanita miskin?”


“beatrix”, tegur nenek dengan keras, “Nenek sudah bilang, mereka adalah tamu nenek, kamu tidak berhak menghina mereka”


Mendengar itu Beatrix dengan kesal naik menuju rumah diikuti para pelayannya.


“Mari iku nenek, nenek akan tunjukkan tempat kalian beristirahat malam ini”. Kemudian Berata dan anindya mengikuti nenek masuk kedalam rumah .


Seorang wanita paruh baya mendekati mereka,” Bi Darsih, antarkan tamu kita di pavilum khusus tamu, mereka dari indonesia lo” kata nenek


“Nyonya Retno bercanda ya, masa sih mereka ini dari indonesia?”

__ADS_1


“Benar Darsih , mereka tadi menolongku di jalan, mereka dari Indonesia, aku belum sempat berbicara banyak dengan mereka, nanti saat makan malam aku berharap bisa bercengkrama dengan mereka” kata nenek retno


“waduh, waduh, senang sekali ketemu sama non dan tuan yang cantik dan ganteng, sudah lama tempat ini gak kedatangan tamu, sekalinya datang orang dari kampung halaman, weleh – welwh... senengnya mbok Darmi, mari non, tuan ikutin mbok Darmi”, katanya sambil nyerocos dengan girang.


__ADS_2