Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 25. Pulang Kampung


__ADS_3

Pagi pagi buta Berata memacu motornya menuju Kampung halaman,. Rasanya tak sabar untuk bertemu Anindya.


Setelah 2 jam Berata sampai di Kampung Halamannya, dia takjub melihat perubahan besar di kampungnya saat memasuki desa terdapat Gerbang desa yang dulunya tidak terawat, ada tulisan besar SELAMAT DATANG DI DESA ALAS ANGKER.


Jalan yang dulunya tanah sekarang sudah di Beton, di kiri kanannya saluran air dan telajakan nampak Asri, berpadu dengan Alam


“Ah ternyata Quinton melakukan pekerjaan dengan baik”


Jalan masuk utama desa sekelilingnya adalah persawahan yang asri, Berata melihat’ setiap 20 meter terdapat lahan parkir 1-2 mobil yang memungkinkan untuk pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang persawahan


“Sebentar lagi, desa ini akan menjadi desa wisata dan edukasi yang akan dikenal dimana mana”


Berata memacu motornya pelan, jam masih menunjukkan 5:30 pagi, tapi desa sudah menggeliat, ayam berkokok bersahutan, membuat suasana yang nyaman.


Mendekati rumahnya, Berata melihat beberapa bangunan baru dan alat alat berat yang ada di depannya, Berata sangat senang, 3 bulan lagi bangunan sekolah ini akan rampung, dan tahun ajaran depan sudah bisa memulai untuk menerima siswa baru.


Bangunan rumah Berata pun tampak berbeda, tampak bersih dan Asri.


Tampak seorang gadis sedang menimba air di sebuah sumur yang ada di depan rumah, Berata memencet bel motornya


“tet... Tet....” gadis itu menoleh kemudian menaruh timba yang penuh air kemudian berlari kearah Berata”


“Kakak”, Anindya berlari . Dan melompat ke pelukan Berata.


“Kakak, jangan tinggalkan Dya lagi” memeluk erat sambil menangis


“tidak.. kakak tidak akan meninggalkan Dya lagi, kakak akan terus bersama Dya” kemudian menggendong Anindya ala Bridal style menuju teras rumah


“Berata, “ panggil Bi Made


“Ibu” lalu menurunkan Anindya dan berlarian memeluk Ibunya


“Anak ibu sudah besar, kamu harus sadar kalo kamu sudah dewasa, tidak baik memeluk anak orang sembarangan.. kalo begini terus, menikah sajalah, ibu akan meminta Anindya menjadi menantu ibu”


“tidakkah terlalu cepat ibu” kata Berata


“ya kamu nya, nempel terus, dari pada ada setan lewat,. Kamu bikin dosa, kan lebih baik menikah walau usianya masih muda”


“Ibu” Anindya mukanya memerah lalu masuk kedalam rumah


“Masuklah terlebih dahulu, beristirahat,. Hari masih terlalu pagi. “


“Aku ingin minim kopi buatan ibu dan pisang goreng yang ibu buat sekarang kata Berata Manja”


“Baiklah, kamu tunggu disini, sudah saat nya ibu akan mengajari menantu ibu, untuk merawat kamu Berata” lalu pergi ke dapur dan memanggil Anindya


Anindya datang tapi tak berani menoleh ke Berata, wajahnya memerah


“cie cie calon menantu” tiba tiba Bintang keluar dari kamar, membuat Anindya semakin salah tingkah


“Bintang, sini adikku sayang” Berata memanggil


Bintang lalu berlari dan memeluk kakaknya “kakak lupa pulang ya?? Pasti kalo gak ada kak Anindya disini Kakak gak pulang pulang”


“Haha tidak lah dik... Kakak lagi sibuk, kakak sudah mulai bekerja, kakak sibuk sekali, apalagi sebentar lagi sudah mau mulai tahun ajaran baru, kakak harus mempersiapkan diri untuk lanjut kuliah”


“Kakak sudah kerja.. yeee, uangnya tambah banyak doong”

__ADS_1


“memang kamu perlu uang?? “ lalu berbisik “uang yg kakak kasi di ATM sudah habis??”


“tidak...” jawabnya pelan .”Bintang belum pernah pakai kok, semua sudah dikasi sama ibu”


“ya.. ya.. kamu emang adik Kakak yang luar biasa”


Tak lama datang Anindya membawa kopi dan pisang goreng,. Setelah menaruhnya langsung akan beranjak pergi


“Eh.. mau kemana Dya ... Kamu temani kakak disini, biar ibu saja di dapur”


“Dasar Ganjen” kata Bintang, “ kak Berata sejak kapan kakak bisa ganjen seperti ini?? Perasaan dulu ngomong sama cewek saja takut??”


“sejak menemukan belahan jiwaku Bintang “ jawab Berata


Wajah Anindya semakin merah, “Dya ke dapur saja bantu ibu” Langsung berlari masuk dapur


Bi Made yang melihat anaknya yang banyak berubah pun hanya bisa geleng-geleng kepala


15 menit kemudian Berata pamit untuk pergi ke air terjun diatas bukit.


Sampai disana dia melihat Kakek Banaspati sedang bersemedi di bawah air terjun. Lalu Berata yang sudah lama tidak melakukan semedi dibawah air terjun.


Hampir tengah hari bersemedi kemudian dia berlatih bersama Kakek Banaspati, ternyata ilmu yg diturunkan oleh guru kakek Urip dan Banaspati adalah sebagian sebagian dan saling melengkapi, sehingga saat berlatih dengan Kakek Banaspati, hal hal yang selama ini belum dapat dipahaminya langsung menjadi lengkap


Kekuatan Berata bertambah 100x lipat karena ilmu yang turunkan semuanya lengkap.


Kakek Banaspati sangat terharu, “Berata, sekarang aku dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang, tugasku sudah selesai


“kakek, terimakasih sudah mengajarkan aku ilmu yang luar biasa”


“Tidakkah kakek mendengar bahwa tokoh tokoh silat hitam mulai bermunculan, contohnya Kalimaya, Berata yakin akan muncul Kalimaya kalimaya yang lainnya”


“benar Berata, saat ini kita harus menjaga diri kita sendiri”


“Terimakasih kakek, mohon ijin Berata tidak akan lama di tempat ini. Mungkin besok Berata akan kembali ke Denpasar”


“pergilah Berata, tetaplah jaga kebajikan dalam hatimu”


“Baik Kakek”


....


Sore harinya,. Berata mendapat telpon dari Pak Gubernur, bahwa beliau akan mengumpulkan para bupati di kediaman Bupati Buleleng, pertemuan ini adalah untuk membahas situasi setelah di Berantas nya 99Anarchi di Bali.


Malam harinya Diruang keluarga, Berata menyampaikan bahwa dirinya saat ini bekerja sebagai Ajudan Bapak Gubernur Bali, semua terkejut dan bangga dengan pencapaian Berata.


Damar kemudian melaporkan perkembangan perusahaan IT dan apa yg dikerjakan selama ini.


“Berata, ruang bawah tanah sudah selesai dengan tingkat keamanan yang luar biasa, saat ini aku sedang membangun di atas bukit yg lokasinya tersembunyi, sebuah instalasi Internet mandiri dengan basis satelit ”


“Nantinya semua area ini akan di amankan dengan sistem yang aku sebut Zirah Besi, tapi system’ ini harus didukung oleh unsur unsur lainnya”


“Baiklah, nanti kamu laporkan semuanya kepada ku” kata Berata


“ Made Bawa, bagaimana persiapan pembangunan sekolah dan sarana lainnya”


“Berata, tahun ini kita mulai bisa menerimanya murid baru, perekrutan guru guru saya sudah koordinasi kan dengan pemerintah daerah, kita mulai dari kelas 1 terlebih dahulu, gedung untuk SD, SMP dan SMA sudah rampung dalam waktu 3 bulan ini, dan saat peresmian, pak Bupati siap meresmikan sekolah kita”

__ADS_1


“baik terimakasih, semua dana yang dibutuhkan kamu bisa berkoordinasi dengan Quinton”


“Bawa, jangan lupa untuk mengurus semua ijin dengan baik, buatkan Nama Yayasan menjadi Yayasan Bali Sutrepti, yang akan menaungi seluruh kegiatan Operasional di Buleleng ini”


“Baik Berata”


“oh ya, besok siang, Bapak Gubernur akan rapat di rumah jabatan Bupati, yg hadir adalah semua bupati di Bali. Setelah itu Berata akan kembali ke Denpasar dengan Anindya, karena Anindya harus sekolah”


.......


Besok siang nya ternyata Pak gubernur sendiri yang datang menjemput Berata, tentunya membuat hal ini menjadi heboh, bahkan kepala desa dan penduduk pun berdiri di sisi jalan karena protokoler perjalanan gubernur sangat ketat.


Pak Gubernur turun bersama Pak De Goro dan Maharani, di mobil lainnya terlihat Quinton turun sebagai perwakilan PT Inti Nusantara sakti.


Maharani mendekati Barata “ah kamu susah sekali dicari, ternyata disini” bersalaman dengan akrab sekali. Tentunya ada sepasang mata yang tidak terlalu senang, Anindya.


“wah Berata, tempatmu ini luar biasa, cita citamu besar dan luhur dengan membangun tempat ini” Kata Pak Gubernur


Lalu pak Gubernur diam dan memandang sekeliling lalu berkata kepada Berata “apakah Banaspati tinggal disini”


“Bagaimana bapak tau, beliau jauhnya hampir 1 km diatas bukit”


“kamu salah, dia ada dibelakang rumah mu ini”


Lalu muncul dari arah belakang orang tua yang masih tampak Gagah..


‘’oh ternyata saudaraku Banaspati, pantas Berata hebat, guru nya adalah kamu” kata pak Gubernur sambil memeluk Banaspati


“Dia adalah murid kakak Urip, aku hanya menyempurnakan kemampuannya” lalu menoleh juga kepada Goro... “goro.. kamu ternyata disini juga “


“kakak Banaspati”, Pak De Goro memeluk Banaspati


Suasana sudah seperti reuni di halaman rumah Berata, sampai halamannya ramai oleh penduduk desa yang datang.


"mari kita berangkat, kita sudah ditunggu-tunggu oleh peserta rapat" kata pak Gubernur


tiba tiba Anindya datang, "aku ikut Kak Berata" langsung ada di samping Berata dan memegang tangannya.


"Eh, ini rapat yang penting , Dya gak boleh ikut" kata Berata


"trus cewek itu" sambil menunjuk Maharani


"dia ajudan Pak Gubernur juga, tentunya harus ikut Dya"


"aku tidak mau dia dekat dekat dengan kakak"


"hahah... ajak saja Berata," kata Pak Gubernur


" tidak usah Pak" kata Berata


"Dya, kakak kerja, percayalah dengan kakak"


"Anindya hanya mengangguk, lalu berlari kearah Bi Made dan memeluknya"


"Pacarmu ABG Berata " kata Maharani sambil tersenyum


Berata menggaruk kepalanya ambil tersenyum "Ayolah kita segera berangkat"

__ADS_1


__ADS_2