
Berata meminta ijin khusus kepada Pak Gubernur untuk mengikuti Orientasi selama 1 minggu penuh, tentunya yang paling keberatan adalah Maharani karena tugasnya akan bertambah karena sangat terbantu dengan adanya Berata.
“Berata, kenapa harus ijin sih, kan bisa tinggal kasi surat rekomendasi , gak perlu ikut orientasi” kata Maharani kesal
“Justru aku mau tau keseruannya jadi mahasiswa baru”
“Tapi tugasmu jadi aku yang kerjakan”
“Nanti aku traktir makan seminggu di tempatku” sambil tertawa
“Ah… malas… pokoknya gak lebih dari seminggu” kata Maharani lalu meninggalkan Berata dengan kesal, Pak Gubernur hanya melihat dengan tersenyum 2 ajudannya yang sangat akrab
…..
Hari minggu , Anindya minta ijin untuk membantu Berata menyiapkan perlengkapan Maba-nya. Setelah seharian keluar membeli perlengkapan yang membuat mereka pusing 7 keliling, mereka kembali kosan Berata.
“Kak lihat List nya lagi dong, nanti biar gak salah”
Lalu Anindya mencentang satu persatu, kebutuhan MABA Berata
“Ballpoint casing Oranye”
“ siap”, lalu mengambil Cat pylox mencat body ballpoint supaya berwarna Oranye
“Jangan lupa pensil, penghapus dan rautan berwarna Oranye juga kak”
“Ok” lalu mencat semuanya juga dengan warna orange
“emang kalo Fak ekonomi warnanya kebesarannya orange ya kak”
“Mungkin kali, kakak juga belum tau”
Lalu mereka berdua berpandangan kebingungan. “Kak Berata, apakah kita baru saja berbicara dari hati tanpa berkata-kata” kata Anindya
“Oh iya ya, kok bisa kita bicara dari hati kehati tanpa berkata” kata Berata berpura-pura, "pasti karena kita sehati"
Wajah Anindya langsung memerah
“kita coba lagi ya “, kata Anindya
“Ok, semua terserah tuan putri, hamba ikut” kata merata berlagak menunduk dan menghormat ala kerajaan
“Kakak ini”, lalu mengejar Berata, Berata kemudian berlari, jadilah terjadi kejar-kejaran mengitari meja makan, tiba-tiba Berata diam ditempat dan menghadap Anindya. Anindya yang tidak siap langsung menabrak Berata dan memeluknya. Jadilah moment ini jadi momen yang canggung, Berata menatap mata Anindya, begitu pula Anindya.
“Kak Berata aku sayang kakak, jangan pernah tinggalkan Dya”
“kakak juga sayang Dya, kakak rasa kakak tidak akan bisa hidup tanpa Dya di samping kakak”
“Ih kak Berata sekarang pintar gombal ya”
“Siapa yang ngajarin Ayo…”
Dan semua percakapan ini dilakukan didalam hati, batin mereka berdua menyatu sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan baik walau tidak ada kata yang terucap”
Berata mendekatkan bibirnya ke wajah Anindya, Anindya memejamkan mata, dia siap kalau Berata menciumnya, tapi ternyata tidak mencium bibir atau pipinya malah mencium Kening Anindya.
“Kakak sang Dya, Kakak akan menjaga Dya”
“Makasi kak” lalu merebahkan kepalanya di dada Berata yang bidang
Setelah beberapa lama, “Yuk kita siapkan lagi yang lain”, kata Berata
__ADS_1
Sore harinya Berata mengajak Anindya ke Me&You Café ke-4. Lalu menyerahkan sertifikat kepemilikannya kepada Anindya, dan mengenalkan nya kepada seluruh karyawan
Anindya sangat terkejut diberikan sebuah café di kawasan Jl. Merdeka Renon yang sangat Strategis. Kemudian mengantarkan Anindya Pulang.
……
Hari senin, pk. 05:00 Berata sudah bersiap dengan semua atribut Mahasiswa Baru
Topi Sombrero dari kertas karton berwarna oranye, talinya dari sumbu kompor yang di cat oranye
Tas dari Karung tepung dengan tali tas dari tali kerbau berwarna oranye
Name tag ukuran Jumbo. 30cm x 20 cm, bertuliskan Nama Panggilan diatasnya dan binatang kesayangan. Jadilah Berata menulis Kucing karena itu binatang kesayangan Anindya
Celana kain hitam, Baju kaos putih yang di bagikan panitia
Memakai sepatu kets berwana Orange, terpaksa di cat pylox
Memakai kaos kaki bola berwarna oranye
Membawa botol minum tanggung berwarna oranye, isinya juga air putih yang di warnai serba oranye
Mengenakan sabuk dari tali rafia oranye yang di gantung dengan sayur wortel yang tentunya berwarna orange
Berata memandang dirinya di cermin lalu mengambil poto, dan mengirimnya ke Anindya. Anindya yang masih tidur, langsung terbangun mendengar dana dering pesan Berata, melihat poto, ngantuk nya langsung hilang .
“Ya Ampun kakak, kok sebegitu nya, memang harus dari rumah memakai atribut itu”
“iya kata panitia memang harus begini, katanya mereka sudah berjaga dari jalan sebelum masuk kampus”
Dan semua ini dilakukan dari hati mereka berdua saja.
Berata naik motor mega pro bututnya ke kampus, dalam perjalanan dia melihat seorang gadis yang mengenakan atribut yang sama dengannya sedang mendorong motor yang di tuntun seorang laki-laki tua. Berata lalu berhenti dan bertanya
“Motornya kenapa Pak”,
“Ini Dik bocor kena Paku tadi”
“ Pak Mohon maaf kalau bengkel pagi seperti ini mungkin tidak ada, kalau boleh saya menolong biarlah anak bapak ikut saya saja, saya juga satu kampus dengan anak bapak, lihat atribut saya”
Si bapak dan anak saling berpandangan , lalu si bapak memandang Berata dengan seksama, mukanya penuh dengan gurat tua yang dihiasi kumis dan janggut panjang yang sudah memutih, lalu dia tersenyum “Anak Langit”
“Rika, kamu ikut saja dengan anak muda ini, ia orang baik”
“Ayo naiklah, supaya kita tidak terlambat”, kata Berata
Gadis tersebut lalu naik motor dengan Berata, tampak agak kerepotan dengan segala kelengkapan dan atributnya.
Sampai di tempat parkir, waktu berkumpul masih 15 menit lagi, tapi ternyata sirine tanda berkumpul sudah berbunyi.
“Baru 05:45 kok sudah berbunyi tanda kumpul” Kata Berata
“Eh nama kamu siapa aku belum tau,”
“Namaku Erika, panggil saja Rika, atau Erika” sambal menjabat tangan Berata
“Terimakasih ya sudah mengantarkan aku, kamu kelompok berapa? Aku kelompok 5”
__ADS_1
“Aku kelompok 10, yuk kita cepat ke lapangan”
Lalu tampak panitia membawa Toa di tangan pergi ke tempat parkir, “ayo… cepat, cepat, kalian pemalas,, cepat, banci, lambat kaya bebek, sambil terus ngoceh”
Akhirnya Berata sampai di lapangan, karena terlambat jadilah dia bersama orang lainnya di kumpulkan terpisah termasuk juga Erika
Lalu seorang panitia menghampiri kelompok yang terlambat, “Hei kucing, kenapa kamu terlambat” katanya sambal menunjuk Berata
Berata yang merasa namanya tidak dipanggil hanya diam saja.
Panitia tersebut menghampiri Berata, “ Hei Kucing, kenapa kamu terlambat”
Berata masih tetap diam.
“Saya Tanya kamu, kenapa kamu tidak menjawab”
“Nama saya bukan kucing, nama saya Berata”
Panitia tersebut menunjuk name tag Berata, “Ini kamu tulis Kucing, berarti namamu kucing”
“Ingat, mulai sekarang saya panggil nama kamu atau binatang kesayangan kamu, kamu harus menjawab” kata panitia tersebut
“Sekali lagi saya Tanya, kenapa kamu terlambat?”
“Saya tidak terlambat, di pengumuman kemarin katanya kumpul jam 06:00, sedangkan Sirine baru 05:45 sudah berbunyi, saya tidak terlambat”
Lalu Panitia terebut mengambil MIC, “Kalian Anak Mahasiswa Baru dengarkan saya, hanya ada 2 peraturan saat Orientasi Mahasiswa Baru kali ini, yang pertama PANITIA SELALU BENAR, yang kedua APABILA PANITIA SALAH KEMBALI KE ATURAN PERTAMA”
“Jadi yang terlambat hari pertama ini saya ampuni, sekarang kalian semua jongkok”
“Ayo jongkok…jongkok” kata panitia lain” Ayo jongkok, tangan kebelakang, ayo cepat”
“Sekarang kalian jalan jongkok, kalian cari peleton masing-masing, ayo cepat”
Jadilah hampir 100 orang yang terlambat itu berjalan jongkok mencari peleton atau kelompoknya.
Hari pertama MABA di buka dengan upacara pembukaan oleh Dekan FE Univ. Warmadewa, setelah di buka oleh Dekan, anak MABA langung ikut latihan PBB oleh anggota Resimen Menwa.
Berata di Peleton 10 dilatih seorang Menwa Cewek bernama Elsa, Berata yang sering melakukan kesalahan akhirnya sering dihukum push up, tapi Berata mengikutinya dengan ceria, tidak Nampak ada rasa lelah di wajahnya.
Sampai dengan sebelum istirahat makan siang, Berata sudah dihukum 10kali karena salah melakukan gerakan PBB, 10kali kesalahan dikalikan dengan 10 x push up. 100x Push Up masih melakukan dengan tersenyum membuat para instruktur Menwa Berata mendapat perhatian karena masih dengan santai melakukan setiap hukuman.
Tiba waktunya istirahat siang, semua dikumpulkan dengan peletonnya di pinggir lapangan yang teduh, lalu masing-masing membuka bekal mereka dan makan. Suasana ini baru pertama kali dialami dengan Berata, dia sangat senang dan antusias, Berata yang dulu pendiam sekarang menjadi Berata suka memulai pembicaraan terlebih dahulu. Berata pun dipilih sebagai ketua Peleton karena tampak aura pemimpinnya.
Saat makan Berata sempat juga berbicara dengan anindya dari dalam hati. Berata lupa kalau dia sedang bersama teman peletonnya, Jadilah Berata sedikit aneh karena dia tampak tertawa sendiri.
“Berata, Kamu tertawa sendiri, jangan-jangan kamu obatmu habis” kata sebelahnya sambal tertawa
“Ah.. maaf, maaf, aku terlalu bahagia , mengingat sebelumnya aku tak menyangka bisa kuliah dan ikut acara ini”
“Oh aku kira obatmu habis”
Suasana yang sangat disukai Berata, mereka sangat akrab karena merasa satu nasib sepenanggungan.
“Berata kamu tidak lelah??, kamu sudah 100 kali push up”, kata temannya
“Sssstt, tenang aku sengaja kok, kalo aku dihukum kan teman teman semua bisa istirahat”
“Kamu gak capek”
“Aku masih bisa 200 kali push up, tenang saja”
__ADS_1
Semua teman Berata jadi tertawa