
Hari senin hari pertama kuliah diisi dengan Kuliah Umum dari Beberapa Guru Besar dan Pak Gubernur diundang sebagai Dosen Tamu.
Erika sedari tadi menunggu Berata belum juga muncul, sudah mengirim pesan 5x dan hanya di jawaban "aku sudah datang".
Kuliah Umum dimulai dengan pembukaan Oleh Rektor dan diikuti seluruh Mahasiswa Baru. Pembicara pertama dari Bapak Gubernur Bali. Beliau kemudian masuk diikuti Ajudan, dan Ajudannya adalah Berata. Hal ini menjadi kejutan yang luar biasa bagi semua anggota Mahasiswa Baru dan tentunya juga panitia yang bertugas.
Yang paling berkeringat tentunya pak dosen yang sempat mengancam berata, keringat dingin sudah menetes dari keningnya. Berata berdiri di belakang Pak Gubernur, tapi pak Gubernur malah memanggil Berata untuk lebih dekat.
“Adik – adik mahasiswa semua, sudah kenal dengan pemuda di sebelah saya”, kata pak Gubernur
“Sudah” dijawab serempak semua yang hadir
“Berata ternyata kamu terkenal juga ya” menoleh Berata
“Perkenalkan Ini Ajudan saya yang selama ini membantu saya dalam pekerjaan, jangan salah selain itu dia juga adalah Direktur PT Bali Sutrepti dan pemilik Café yang paling terkenal di bali yang saat ini sudah ada 4 cabangnya”
Semua bertepuk tangan, tak pelak para panitia yang pernah menghukumnya juga tertawa. Yang paling gembira adalah Erika yang senang kalau semua mata terbuka mengetahui siapa berata
“Saya dengar juga kemarin ajudan saya ada yang memukulnya gara gara cemburu” Sambil tertawa
Tentulah Rexy juga gemetar setelah tau siapa Berata.
Tapi itu hanya guyonan Pak Gubernur, kemudian beliau memulai kuliah umunya dihadapan lebih dari 1000 orang mahasiswa baru.
Ospek sudah usai, Berata kembali kepada rutinitasnya untuk bekerja sebagai Ajudan. Kini tiba giliran Anindya dan Aninditha untuk Orientasi Mahasiswa Baru.
Pagi-pagi Berata menjemput Anindya dan Anindita dan mengantarkannya Kampus Udayana di Bukit Kampial Bualu. Hari pertama hari yang sangat sibuk, semua mahasiswa baru berkumpul, Anindya dan Aninditha sendiri sudah menjadi perhatian banyak orang karena kembar dan berwajah cantik.
Sepasang mata memandang Anindya dengan tak berkedip, Dimas sang ketua panitia dari Fakultas Fisip terus memandang Anindya, “Sungguh gadis yang sangat cantik dan menarik”
Hari pertama cukup melelahkan, ditambah dengan cuaca yang panas, lengkap sudah penderitaan anak mahasiswa baru. Saat istirahat, Dimas mendekati Anindya
“Minum?”, sambal menawarkan minuman dingin kepada Anindya
“Terimakasih, saya sudah membawa minuman sendiri”
Lalu Dimas duduk di depan Anindya,”Kamu Anak SMU Mana”
“Smansa” Jawabnya dingin
“Saya juga Smansa, saya 3 tahun diatas kamu.
Anindya hanya diam saja tak menjawab
“Kamu kembar ya, sebab tadi saya melihat kalian turun berdua dari mobil”
“Iya”
“Jawaban kamu dingin sekali, kamu tidak tau kalau saya ketua panitia disini, saya bisa membantu kamu”
“Saya tidak terbiasa untuk berbicara dengan orang yang tidak saya kenal” Anindya membentengi dirinya
“Aku bisa membantu kamu melewati ospek ini dengan baik atau dengan buruk”
“Saya hanya ingin melewati semua semua kegiatan dengan baik, jika anda mencoba berbuat sesuatu, maka saya juga tidak akan tinggal diam” Anindya juga sudah berkontak batin dengan Berata, dan berata segera meluncur ke Kampus dari Denpasar
“Panggil saya Kak Dimas, bukan anda”
__ADS_1
Anindya masih diam tak menggubris pembicaraan Dimas
“Kita lihat nanti siapa yang akan memohon kemudian”, Dimas meninggalkan Brata dan berkumpul dengan teman-temannya
“sepertinya gadis ini susah ditaklukkan bro” kata Anto kepada Dimas
“Jangan panggil aku Dimas bro kalo anak itu tidak bertekuk lutut di hadapanku”
“Ok… setuju, besok kita kerjain dia”, kata temannya yang lain
Siang itu Berata sudah berada di sekitar Area Kampus. Anindya merasa tenang saat Berata bilang ada di dekatnya
Sudah waktunya untuk pulang lalu Anindya segera meninggalkan lapangan, tapi dia dihentikan oleh Anto
“Anindya”
“Ya kak”
“Kenapa buru – buru pulang , hari masih sore, kamu ikut kita aja, kita mau nongkrong nih”, kata Anto
“Mohon maaf tidak bisa, lagian saya sudah di jemput” lalu menuju mobil Berata.
Berata keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil. Tampak Dimas dan Anto mengepalkan tangannya.
“Itu Mereka?”, kata Berata
“Iya kak, Anindya tidak suka, besok Dya tidak ikut saja ah”
“Jangan begitu, kalau Dya takut, kakak cuti dari kantor, kakak akan menunggu disini”
“Benar??”
Lalu mereka jemput Ditha dan meninggalkan kampus menuju Kerumah. Sepanjang perjalanan mereka saling bercerita pengalaman pertama Ospek.
Hari kedua Ospek, Berata menepati janjinya untuk menunggu di sekitaran Kampus. Dimas juga memperhatikan kalau mobil Anindya berada di tempat parkir kampus.
Hari itu semua yang dilakukan oleh Anindya salah dimata Panitia, dan dia selalu dihukum. Dia ingin menangis tapi selalu dikuatkan Berata.
Di tempat parkir, mobil berata di gedor oleh orang tak di kenal, mereka melihat kedalam kaca untuk memastikan
“Tidak ada orangnya, kemana ya??”
“Lho bukannya tadi kita awasi tidak ada yang keluar dari mobil”
“iya , ayo kita cari, jangan sampai bos dimas marah”
Mereka tidak tau kalau berata telah keluar dari mobil saat mereka mendekati mobil. Dan dia mencari sudut tersembunyi untuk mengawasi Anindya
Saat istirahat, Anindya di cari lagi oleh Dimas
“Bagaimana? Kamu tau kan akibatnya melawanku”
“lakukanlah Sesukamu”
“Baiklah, kita ikuti kemauanmu” kata Dimas
Setalah istirahat siang, cuaca sangat panas, peleton Anindya pun dipaksa untuk melakukan semua kegiatan di area yang panas, dan mereka semua dihukum
__ADS_1
Pukul 3 siang cuaca sangat panas, tiba-tiba Anindya merasa pusing, “Kak Berata " teriak Anindya lalu pingsan
Berata menoleh tapi tampaknya Anto lebih cepat menangkap Anindya dan membawanya ke ruang kesehatan. Anto segera memberikan tanda kepada Dimas untuk mendekat
Sampai di ruangan kesehatan, anto mengusir semua yang ada di ruang kesehatan,”Ayo keluar semua, berikan ruang, ada yang pingsan, lalu meletakkan Anindya di tempat tidur , sejenak dia memandang sambil menelan air liurnya, lalu keluar ruangan
“Bro Kesempatanmu”, kata Anto kepada Dimas.
Dimas masuk keruangan dan segera mengunci pintu, “hahah, akhirnya kamu milikku cantik”. Lalu dia berbalik tapi kemudian matanya gelap, seseorang memukulnya sampai pingsan.
Berata mengangkat Anindya dan segera pergi dari ruangan yang terkunci itu. Dan membawa Anindya masuk kedalam mobil.
Anto yang menunggu di depan pintu sudah menunggu hampir 1 jam, dengan tidak sabar dia segera menggedor pintu tapi tidak ada jawaban sehingga dia meminta teman temannya untuk mendobrak pintu ruang kesehatan. Saat terbuka dia malah melihat Dimas yang terjatuh pingsan.
Semua tampak Heboh, bukankah tadi Anindya ada dalam ruangan trus kenapa malah Dimas yang pingsan dalam ruangan.
Kemudian datang serombongan polisi bersama pihak rektorat, ikut pula Kapten Berata. Polisi kemudian menangkap Dimas dan Anto. Anto yang bingung kenapa ditangkap melawan saat ditangkap. Ternyata Berata sudah memerintahkan Damar untuk merekam semua percakapan yang dilakukan Anto, termasuk Berata juga merekam tindakan Anto dan Dimas
Hal ini membuat heboh Semua elemen Kampus. Rektor pun meminta maaf secara terbuka dan secara pribadi mengunjungi Rumah Anindya untuk meminta maaf.
Akhirnya Anindya diijinkan untuk tidak mengikuti sisa kegiatan Ospek. Jiwa Anindya pun sedikit terguncang, dan membuatnya murung , sehingga membuat Ibu Agung Kuatir dan mencari seorang Psikiater.
“Sejak Anindya mengenal Berata, selalu ada kejadian yang membuat Anindya dan keluargaku dalam keadaan bahaya” Kata Bu Agung.
Malam harinya Berata berbincang dengan Anindya, tapi Bu Agung yang melihat Anindya tampak menangis karena melihat Anindya jadi pendiam padahal sedang berbicara dalam hati dengan Berata
….
Esok paginya Berata menuju rumah Anindya , ingin menghibur Anindya tapi dia tidak diijinkan oleh bu agung.
“Berata, mohon maaf, mulai saat ini tolong jauhi Anindya. Sejak keluarga kami mengenal kamu selalu ada kejadian yang membahayakan kami sekeluarga”
“Kamu adalah pengaruh yang buruk bagi keluarga kami, pergi dan jauhi kami”, Bu Agung menangis
“Pergi, tinggalkan kami” Bu Agung menyembah Berata
“Tolong Berata tinggalkan Anindya, Ambil semua yang telah kamu beri kepada kami, kami tidak menginginkannya, kami hanya ingin hidup damai, kami hanya ingin hidup seperti orang lain, tolong Berata”
Berata tak bisa berkata kata apapun. Lalu dengan sedih dia meninggalkan rumah Anindya.
Sementara itu di dalam kamar Anindya, Anindya membuka sebuah Amplop, didalamnya terdapat Poto, terlihat pose mesra Berata bersama beberapa gadis lain, dan poto terakhir ada poto Berata bertelanjang dada dan disampingnya terlihat seorang gadis yang tertidur ditutupi selimut.
Di dalam kamar ada Aninditha dan Bu Agung Juga
“Maafkan ibu nak, ini semua demi kebaikan dirimu”, Kata Bu Agung dalam hati
Aninditha pun terlihat menangis “Maafkan kakak dik” di dalam hati
Anindya yang secara mental masih belum siap akibat kejadian Ospek, setelah melihat poto Berata, berteriak sekeras kerasnya lalu merobek poto poto tersebut, Anindita kemudian memeluknya dan mereka berdua menangis , tangisan Anindya menyayat hati.
Dia kemudian melepaskan jam tangan pemberian Berata.
sementara itu...
Berata yang terpukul mencoba menghubungi telpon Anindya tapi tidak bisa, mencoba juga untuk berkomunikasi lewat hati yang biasa mereka lakukan tapi juga tidak bisa. Berata bingung sepertinya Anindya menutup hatinya untuk Berata
Berata Frustasi, dia masuk kedalam cincin Dewi Aisani. Dia mengamuk, dia mengeluarkan segala kekesalannya, hawa mengerikan keluar dari tubuhnya. Pukulan pukulan mengerikan keluar tangannya.
__ADS_1
Berata Akhirnya Pergi ke Gunung menemui Kakek Banaspati dengan ilmu Sapta Buana. Dia kemudian bersemedi selama 3 hari di bawah air terjun.