Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 34. Surat Cinta


__ADS_3

Orientasi hari Pertama berakhir, Berata menunggu Erika di motornya karena Helm Erika ada di motor Berata.


“Berata.., nich” Erika memanggil sambil menyerahkan minuman mineral dingin kepada Berata


“Terimakasih’ menerima minuman dari Erika


“Kamu pulang sama siapa?”


“Aku mau cari kelengkapan, sekalian nebeng kamu boleh ngak” dengan senyuman khas


“Kamu gak takut nebeng aku, kan baru kenal, siapa tau aku berbuat jahat kepada kamu”, Bercanda sambal tertawa


“Kata Abah, kamu orang baik, Abah gak pernah salah menilai orang, lagi pula tadi aku dengar kok abah bilang ANAK LANGIT, jadi pasti kamu orang baik


"Anak langit??, aku melihat dan mendengar beberapa orang tua yang melihatku selalu bilang anak langit, akupun tak mengerti'


"Aku pernah mendengar legenda anak langit Dari Abah, katanya pemimpin dunia yang lahir 1000 tahun sekali"


“Baiklah, aku juga bingung mau cari kemana, tapi aku telpon dulu” kata Berata


“Takut dimarahin pacar nie yeeee”, kata Erika


Lalu Berata menelpon Anindya kalau akan pergi mencari barang Keperluan untuk besok, Berata janji akan ke Café ke bertemu Anindya disana setelah selesai mencari kelengkapan.


Tugas sore ini adalah mencari Pohon Cabe setinggi 30 cm berisi Buahnya 3 bh berwarna merah dan sabun cap SUPERBUSA


Berata dan Erika keliling toka mencari Sabun Superbusa yang memang sebetulnya sudah langka, karena sudah keliling tak menemukannya mereka akhirnya menyerah dan mengantar Erika pulang


Sampai dirumah Erika, dia disambut Abah Erika, sebenarnya Abah ingin berbicara banyak tapi mengurungkannya niatnya melihat mereka pulang kelelahan.


Erika kemudian meminta tolong Abahnya untuk memindahkan pohon cabe yang ada di belakang rumah ke polibag yang sudah disiapkan. Berata mengucapkan terimakasih lalu ijin pulang.


Berata menuju Café dan sudah di tunggu Anindya. Anindya yang mendengar motor Berata langsung menuju tempat parkir.


“Kak Berata,”, Anindya tak bisa menahan tawanya melihat atribut Berata


“Jangan tertawa dulu, nanti Dya juga akan mengalami ini nanti pas MABA nanti” Kata Berata tersenyum


Anindya bergelut manja di lengan Berata, “Dya kakak belum mandi “, Kata Berata


“Tidak apa-apa, kakak tetap harum kok dan kakak tetap ganteng walau belum mandi”


“Udah pinter ya sekarang” sambil menoel hidung Anindya


Berata masuk ditemani Anindya, membuat semua karyawannya terkejut


“Bos… ampun bos, kok kaya gini amat jadi mahasiswa barunya”, Kata karyawannya sambal tertawa


“Eh… dilarang menertawai bos, bisa dipotong gajinya”


“Yeee, lupa ya bos, sekarang bos kita kan Non Anindya, jadi bos ga bisa mecat”, Sambil tertawa


“Dasar anak anak ngelunjak”, kata Berata sambal tersenyum


Lalu Berata mengeluarkan Polibag berisi pohon cabe yang tadi diminta kepada Erika.


“Lem G yang kakak pesan sudah dibeli”


“Sudah kak, ini” Anindya menyerahkan Lem G kepada Berata


Lalu Berata mengambil Beberapa CAbe berwarna merah yang masih ada cabangnya dan mengelem pada batang pohon cabe.


Setelah selesai, Berata mengantarkan Anindya pulang dan istirahat.


Malam harinya Berata bercerita kepada Anindya tentang kegiatan hari ini, bercerita juga tentang Erika teman yang baru dilihatnya. Tentunya Anindya sempat ngambek dan cemburu.


“Pokonya besok Kakak dianter Dya ke Kampus”


“Gak usah, kan sepulang MABA pasti cari sesuatu yang langka buat dibawa esoknya, pokoknya Dya tenang saja, Kakak hanya berteman dengan Erika”


“Pokoknya kalo kak Berata berani macam macam, Dya gak akan pernah maafin kak Berata, dan kakak tidak akan pernah melihat Dya lagi”


“Tenanglah Dya Sayang, Kakak tidak akan pernah tertarik dengan cewek lain”.

__ADS_1


“Jangan lupa, satu kali saja kakak membohongi Dya, kakak tak akan pernah melihat Dya lagi”


“Iya, Sayang, tidurlah sudah malam”


“Ya kak, Dya sayang kakak”


“Kakak Juga”


“Ternyata Anindya orang yang sangat keras kepala”, Kata Berata


………….


Keesokan harinya MABA di mulai dengan kegiatan PBB dan pengenalan seluruh organisasi yang ada di kampus. Berata yang mudah bergaul dan cepat akrab dengan semua orang sudah jadi idola diantara teman temannya. Karena antusiasnya dalam mengikuti kegiatan para instruktur Menwa pun sangat suka dengan Berata, bahkan ada beberapa Instruktur yang mengerjai Berata dengan mencari-cari kesalahan Berata sehingga Berata akan dihukum Push up.


Hari kedua saja , dari Pagi sampai sore Berata sudah push up 250 kali dan masih tetap segar. Berata pun jadi Idola diantara para Cewek anggota MABA juga.


Pas Waktu istirahat dia didatangi oleh Erika, “Hei, Berata, gak nyangka kamu jadi idola di peleton ku”


“Kenapa Rik, idola apa”


“Ah kamu emang gak peka, setiap kamu dihukum push up, cewek cewek pada ngeliatin tau, terpesona”


“Hahah… tak tertarik, yuk kita baris lagi.”


……


Hari ke 4 tugas Berata adalah menulis Surat cinta kepada kakak pembimbing atau panitia Maba dari Senat. Hal in tentunya membuat bingung Berata yang tak pernah membuat surat cinta.


Sore harinya Berata menemui Anindya di Café, ternyata ada Aninditha juga disana.


“Hei, Ditha tumben kemari” Kata Berata


“Hmmm kak Berata mana liat Ditha kalo kesini, orang mata, hati dan pikirannya ke Anindya terus” sambal pura pura sewot


“Hahaha, kamu yang paling tau Ditha”


Berata duduk di round table depan Ditha, lalu Anindya menyuguhkan Kopi kesukaan Berata.


“Bagaimana hari ini kak Berata, udah push up berapa kali “, kata Anindya menggoda


“Apa, 300 kali push up?, kakak ga capek?


“Kok bisa sampai 300x Push up kak Berata??” kata Aninditha


“Sekarang kakak kenal hampir semua anak Menwa dan Akrab dengan mereka, jadi mereka sengaja cari kakak, untuk disuruh Push up, tapi gak apa kakak senang kok”


“Kakak mau minta tolong dong” kata Berata


“Minta tolong apa sih, mukanya kaya gusar begitu” Kata Aninditha


“hari ini dapat tugas untuk buat surat cinta untuk panitia”


“Ah itukan gampang kak”


“Tapi kakak belum pernah buat surat Cinta Ditha”


“Trus kemarin Pacaran sama Anindya gak pake surat-suratan??”


“Ih kak Ditha norak”, Kata Anindya


“Ih Awas ya nulisnya jadi beneran sayang sama kakak panitia”, Kata Anindya lagi


“Neh, mulai lagi” Berata mendekatkan dirinya dengan Anindya yang sedang mengetik di Laptop


“Bisa jadi kan?? Awalnya main-main kirim surat cinta, akhirnya sayang beneran” sambil tetap mengerjakan sesuatu di Laptop


“Jangan gitu sayang” Berata memegang kursi Anindya, lalu memutarnya kehadapan Berata,”bantu kakak nulis surat cinta”


“Dya juga belum pernah kak” Anindya menggelengkan kepalanya


“Dasar kalian berdua ya, bucin akut, aku jadi obat nyamuk disini, Ditha pergi ajalah”Sambil mengambil minumannya dan duduk di sudut yang lain dari Café


“Trus kakak harus gimana??” kata Berata kepada Anindya

__ADS_1


“Gimana kalo kakak nulis surat cinta untuk Dya aja”, sambil menunduk dengan wajah memerah


“Ya, ide bagus, biar sekalian saat memeriksa panitia bingung, siapa namanya Anindya, karena gak ada yang namanya mirip kamu Dya”


“Tapi kakak benar tidak bisa membuat surat cinta Dya… biarlah kakak besok push up saja”


“Jangan, kakak cari aja di internet”


“Ah Dya memang paling baik, sumber inspirasi kakak.


Lalu Berata Searching internet, tapi tak menemukan surat cinta yang bagus, semua terlalu cengeng, akhirnya dia menemukan sebuah surat cinta yang unik dan dia memulai untuk menyadurnya, tentunya menyesuaikan bahasanya


...Kala malam di bulan purnama...


...Teruntuk Anindya...


...Adakah sesuatu yang tidak kau sukai dari aku Anindya?...


...Apakah yang harus aku lakukan agar segera engkau mengenal namaku?...


...Ah Anindya, kalau kamu tau belum pernah ada orang yang mencintai wanita seperti aku ini...


...Cintaku padamu lebih besar daripada cinta seorang anak kepada orang tuanya...


...Karena cintaku padamu terlalu tinggi...


...Hanya dua yang mampu menandingi besarnya cintaku...


...Yaitu Tuhan dan kematian...


...Taukah kamu, tak pernah namamu lepas dari mulutku...


...Tak pernah cintaku berpaling darimu...


...Saat aku melihat mentari pagi, engkaulah yang tergambar...


...Saat mentari kembali keperaduan pun yang kulihat hanya dirimu...


...Saat kudengar burung tekukur bernyanyi, aku dengarkan dengan khusyuk...


...Karena disana tersimpan suaramu yang merdu...


...Anindya, saat aku melihat bunya yang mekar, luluh lah semua lemah ku...


...Karena aku melihat senyummu kepadaku aku kuat kembali...


...Karena bunga itu tercipta karena keindahanmu...


...Anindya, lebih dari seratus kali kusebut namamu dalam sehari...


...Kadang dalam nyanyianku kadang juga dalam diam ku...


...Aku bukan siapa siapa bagimu...


...Tapi aku yakin bisa jadi yang pertama di hatimu...


...Dan aku akan berjuang untuk itu...


...Akan aku tunjukkan kepada dunia bahwa aku layak untuk kamu...


...Akan ku tunjukkan kalau aku pantas mendampingi mu....


...Peluk cinta dan Sayang....


...Berata...


Selesai menulis Puisi itu, Anindya memeluk berata dari belakang, “kakak terimakasih”


Hanya terucap dalam hati tapi Berata mendengarnya.


“Dya , mungkin inspirasi surat ini dari internet, tapi kakak menuliskannya dengan hati yang tulus untuk Kamu Dya”


“Jalan kita masih panjang kak, semoga Surga selalu menjaga cinta kita”

__ADS_1


Anindtha, yang melihat adiknya tampak bersedih, “Dya, seandainya kamu tau rencana ibu pasti kamu akan bersedih, kakak tidak siap untuk melihatmu menderita. Tapi jika Kalian memang di takdirkan untuk bersama, bahkan sang maut pun tidak akan bisa memisahkan kalian”


penasaran kan?? pantengin terus ya.🙏🙏🙏


__ADS_2