Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 70. Identitas Terbongkar


__ADS_3

Pasukan militer Prancis mengelilingi Berata dan Anindya dengan moncong Laras panjang menghadap mereka dengan siaga. Tapi Anindya dan Berata masih tetap santai meminum tehnya,. Duduk berdua sambil sesekali mengambil makanan kecil .


Hal ini membuat Jedral Rhino kesal, lalu dia duduk di depan Berata dan Anindya.


“Siapa kalian, apa hubungan kalian dengan Bertrand, Cesar atau 99 Anarchi?”


“Kami bukan siapa-siapa Jenderal, kami hanya pelancong yang kebetulan bisa traveling sampai ke tempat ini”, kata Berata sambil meminum tehnya dengan tenang sehingga Jenderal Rhino kesal


“Kalian.. , kami sudah menyelidiki kasus yg terjadi belakangan ini dan kalian ada di setiap kejadian, misal penyerangan di cafe . Yang di serang adalah kalian.., besoknya gerombolan Bertrand sudah lenyap , kami yakin ini ada hubungannya dengan kalian”, kata Jenderal Rhino


“Kami hanya pelancong biasa Jenderal”, kata Berata


“Anindya, Diplomat muda berprestasi yang terkena musibah ledakan Bom di Mogadishu, di vonis cacat 2 tahun lalu, tapi saat ini besa berada disini dengan tanpa tanda terkena ledakan sedikitpun, sebuah keajaiban yang membuat kami semakin yakin kalian bukan orang sembarangan, karena biaya pengobatan nya bisa menghabiskan trilyunan”, kata Jenderal Rhino


“Apa lagi yang kamu tau Jenderal”, kata Anindya dengan tenang


“Berata, kamu lebih aneh lagi, tak tercatat di berkas apapun, selain hanya pemilik Me&You Cafe, tapi bisa memiliki kekayaan milyaran, kalau bukan pengedar obat terlarang kalian pasti mafia “, kata Jenderal Rhino dengan yakin


“Kalian hebat juga, sepertinya Damar harus merubah sedikit dataku”, kata Berata


“Kalian ditangkap, kami akan membawa kalian ke markas France Air force Karena dituduh sebagai mata mata, tangkap mereka” kata Jenderal Rhino


Segera sekitar 100 orang tentara berlaras panjang mendekati Berata dan Anindya.


“hahaha, kalian sungguh tak bisa diajak bercanda, Jenderal, berbicaralah baik baik, kami akan menurutimu, tapi bukan begini caranya”, kata Berata


Tiba tiba beberapa Jejak titik sinar laser mengenai Jenderal Rhino, juga pada setiap kepala tentara yang ikut mengurung Berata.


“Berhenti Jenderal, satu langkah lagi, tempat ini akan menjadi lautan darah manusia, apakah kamu menginginkan hal ini, pertimbangkan baik baik Jenderal , nyawamu dan 100 Anggota pasukan mu akan menjadi korban kecerobohan mu”, kata Berata


Jenderal Rhino tercengang, 100 Anggita pasukan pun terdiam.


“turunkan senjata kalian, kalian bisa terluka” kata Berata.


“Jenderal Rhino Setiawan, komandan pasukan Divisi ke 5 France Air Force, apakah kamu mau mati karena hal sepele ini?” Bentak Berata


“Siapa kamu?, Kenapa kamu tau namaku?”


“tak susah bagiku karena aku pernah menyelamatkan mu di Kenya saat kamu terkepung 10.000 Anggota pemberontak, saat itu kamu terluka parah, bukanlah kamu masih punya bekas luka di punggung kiri karena di bacok pisau pemberontak”, kata Berata


“Kamu.. kamu.. kenapa kamu bisa tau hal itu??”


Ingatan Rhino kembali ke 5 tahun lalu saat nyawanya terancam dan diselamatkan pasukan PBB dari Indonesia


“Apakah kamu Anggota Pasukan Garuda Divisi Jatayu?” kata Jendral Rhino


Rhino mendekati Berata, melihat Berata dengan seksama, lalu ingatannya kembali lagi saat saat terakhir seorang tentara perdamaian melumpuhkan penyerangnya dan menyelamatkan hidupnya, saat itu dia tidak melihat wajahnya tapi melihat perawakan Berata dia yakin kalau orang dihadapannya adalah penolongnya.


“Kamu komandan pasukan Resimen Jatayu, aku yakin itu, apakah aku benar?”

__ADS_1


“Turunkan Senjata kalian semua”, perintah Jenderal Rhino kepada anggota pasukannya.


Kemudian dia memeluk Berata, “Terimakasih telah menyelamatkan nyawaku”, kata Jenderal Rhino


“Jangan berterima kasih untukku, menyelamatkanmu adalah tugas ku “, kata Berata


“Aku mohon maaf telah mencurigai anda” , tunduk Jenderal Rhino dengan hormat


“jangan begitu, kamu adalah Jenderal, apa kata anak buahmu kalau sikapmu seperti ini” , kata Berata


“Maaf kan aku,silahkan duduk, aku akan memanggil ibuku dan menjelaskan kekeliruan ini”, kata Jenderal Rhino


Tiba tiba Berata bertepuk tangan dan berteriak “kalian kembalilah, aku sudah menanganinya” sambil menengadah.


Tiba tiba langit yang tadi tampah cerah berganti dengan sebuah pesawat berukuran hampir 40 meter diatas langit mereka dengan jarak hampir 30 meter dan mereka tidak tau , lalu pesawat itu menghilang lagi dari pandangan tanpa suara


Jenderal Rhino terbelalak, “Apakah itu pesawat dengan teknologi Stealth??, Aku belum pernah melihatnya “


“itu teknologi yang kamu kembangkan untuk memberantas kejahatan di bumi ini”, kata Berata


Rhino tidak jadi memanggil ibunya, “Berata, setelah aku sadar, aku mencari semua berita tentang resimen Jatayu tapi tak ada satupun aku dapatkan, aku mendengar semua anggota mereka hanya berjumlah 100 orang dan semuanya telah mengundurkan diri dari militer, tak seorang pun tau mereka ada Dimana “


“belum saatnya Jenderal tau tentang hal ini, kalau sudah waktunya aku akan menghubungi anda Jenderal” kata Berata


“Ijinkan aku bergabung dengan pasukanmu Berata?”, Rhino memohon


Rhino lalu mengajak Berata dan Anindya untuk masuk kedalam rumah Utama, d di depan pintu Nenek Retno sudah menunggu.


“Apa yang terjadi? Kenapa tadi ada banyak pasukan mu disini”, katanya kepada Rhino


“maaf ibu, ini hanyalah kesala pahaman saja, ternyata Berata dulunya juga Anggita militer dan dialah yang menyelamatkan aku ketika di Kenya”.


“Benarkah Rhino??”


“Benar ibu, Berata adalah komandan pasukan PBB yang menyelamatkanku dulu, aku sungguh bahagia , aku bisa menemukan penolongku”


“Alhamdulillah doamu terkabul Rhino”, “Berata terimakasih telah menyelamatkan nyawa Rhino anakku”, sambil menggenggam tangan Berata.


“Sama sama nek, ini adalah tugasku”, kata Berata


“Nenek, aku lelah sekali, bolekah kami beristirahat “ kata Anindya memecah suasana


“Oh iya, hari sudah larut malam, kalian beristirahat lah, besok pagi suamiku akan datang, aku harap kalian bisa menunggu dia, dia pasti senang sekali bisa melihat kalian”, kata nenek Retno


“Baik Nek, terimakasih jamuan makan malamnya enak sekali,kami akan beristirahat, oh ya Jenderal, kalo bisa tolong matikan semua cctv di kamar kamu, atau aku yg akan mematikannya sendiri??” sambil tersenyum


“tidak Berata, aku akan memerintahkan mereka mematikan semua CCTV di Paviliun kalian”, kata Rhino dengan malu


Malam telah larut, Berata dan Anindya sudah beristirahat, tiba tiba Berata terbangun , telinga kanannya bergerak – gerak, dia mendengar seseorang membuka pintu pavilium, Berata kemudian membangunkan Anindya.

__ADS_1


“Sayang, bangun ada yang mencoba masuk ke pavilium kita”, kata Berata


“arrrgh, siapa sih yg menggangu istirahat kita”


“Sabar sayang, kita tunggu saja apa yang hendak mereka perbuat”


Berata dan Anindya pura pura tertidur, lalu masuk tiga orang tak di kenal ke dalam kamar tidur pavilium, 1 orang wanita dan 2 laki – laki.


“Cepat segera bius mereka berdua”, kata si perempuan


“Beatrik, Sayang” kata Anindya dalam hati


“Kita biarkan saja sayang, sepertinya anak ini perlu di diberi pelajaran”


“Baik kak, kita ikuti permainan mereka”


Lalu 2 orang laki – laki itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, dan membekap hidung Berata dan Anindya, tapi mereka tida tau kalau Anindya dan Berata kebal dari obat bius apapun.


“Cepat agkat yang laki – laki ke kamarku”, perintah yang Beatrix


“Kamu”, menunjuk salah seorang yang lainnya, “Berikan pelajaran pada wanita ini, dia membuatku kesal, dia milikmu”, sambil pergi mengikuti laki laki yang menggendong Berata


“Kamu wanita yang cantik sekali, aku beruntung malam ini, aku akan menikmati dirimu sampai puas”, lalu naik ke tempat tidur dan mendekati Anindya, tiba tiba ruangan menjadi gelap gulita, laki laki itu kebingungan dan menghidupkan senternya. Dia terkejut kalau Anindya sudah tidak ada di tempat tidur.


Laki – laki itu bergegas bangun mencari Anindya, saat dia menoleh kebelakang, di melihat Anindya sudah berdiri di belakangnya,


“Mencariku?” kata Anindya tiba tiba laki laki tersebut pingsan.


Sementara itu di kamar Beatrix, “ambilkan aku Suntikan obat perangsang, malam ini aku akan bersenang senang dengan laki – laki tampan ini”, kata Beatrix. Lalu anak buahnya pergi mengambil obat perangsang.


Beatrik mendekati Berata, kemudian mengelus Wajah tampan Berata,”kamu sungguh Ganteng Berata, kenapa kamu tidak menyukaiku, dibandingkan istrimu, aku yakin aku bisa lebih memuaskan kamu”, lalu Beatrix membuka kancing baju tidur Berata, tapi tiba tiba sebuah tangan memegang tangan Beatrix.


Beatrix terkejut, “Kamu masih bisa sadar??”


Berata tersenyum,”obat ini tak mempan untukku, kini saatnya kamu yang akan mengalaminya”,


Tiba tiba mata Beatrix tampak gelap dan jatuh di tempat tidur, sementara itu teman laki laki beatrix masuk ke kamar dia terkejut melihat beatrix yang sudah pingsan, belum sempat untuk mengambil tindakan , laki laki itu juga pingsan di pukul Berata.


“Sayang masukklah”, kata Berata, lalu masuklah Anindya yang menggendong laki-laki yang di tinggalkan untuk menyakiti anindya tadi.


“kita apakan mereka kak”


“hahah, saatnya memberikan pelajaran”, kata Berata tersenyum


Berata dan Anindya lalu kembali ke pavilium mereka.


Sementara itu di pavilium Beatrix, Beatrix terbangun, “Dimana aku”, sambil kebingungan, “kenapa badanku rasanya aneh, panas sekali, sambil melepaskan baju yang menempel di tubuhnya, hei kalian bangun, bangun”, sambil mengguncang tubuh 2 temannya yang ada di tempat tidurnya. Kedua temannya bangun tak percaya melihat Beatrix sudah tidak mengenakan pakaian.


“Hei kenapa kalian melihatku begitu, pergi, pergi kalian”, saat melihat temannya mendekati dirinya, tapi seluruh badannya lemas tak bertenaga, Beatrix pasrah diperlakukan oleh teman – temannya.

__ADS_1


__ADS_2