Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 69. Rhino


__ADS_3

Berata dan Anindya di bawa oleh Bi Darmi ke Pavilium Samping yang berada di sebelah utara bangunan utama.


“Mari Tuan dan Nona, silahkan beristirahat, Makan malam akan di mulai 30 menit lagi, jadi silahkan untuk bersiap, saya akan menjemput 30 menit lagi”, kata Bi Darmi dengan sopan.


“Terimakasih Bi Darmi , kami akan segera bersiap – siap”, kata Berata, lalu masuk kedalam ruang tamu pavilium


“Dya sayang”, kata Berata dalam hati


“Kenapa kak”


“ Tempat ini dipenuhi dengan cctv tersembunyi, sepertinya tempoat ini mencurigatak, kita harus hati – hati” kata Berata


“kurang ajar, biat aku hancurkan saja tempat ini”, kata Anindya dengan marah


“Jangan sayang, kakak rasa karena ini bangunan untuk tamu, mungkin merekaingin menjaga tamunta tetap aman”


“kakak periksa kamar mandi dan ruang tidur, kalau ada CCTV juga aku benar akan menghancurkan tempat ini”, kata Anindya dengan geram


“Sabarlah istriku sayang, jangan membuat gerakan yang mencurigakan, kakak yakin mereka sedang mengawasi kita, diamlah sejenak disini”, lalu bergegas membawa barang ke kamar, sedangkan Anindya duduk di kursi santai di ruang tamu.


“Sayang, masuklah, Kamar tidur dan kamar mandi tidak ada CCTV, cepatlah mandi, kita sebentar lagi ditunggu”


Anindya bangkit, lalu segera kekamar mandi, sedetik kemudian, kepalanya nonggol dari pintu kamar mandi, “Gak mau ikut mandi sayang??”, katanya kepada Berata


Berata yang bengong langsung melompat bergegas ke kamar mandi, tapi tiba tiba pintu tertutup


“Dya, katanya mandi bareng”


“Maunya, gak ah, ntar jadi lama”, sambil terkekeh


Senyum Berata langsung mengkerut..


Sementara itu, di sebuah ruangan, “Selidiki tamu nyonya besar dengan benar, aku tidak memenukan data mereka, bisa saja mereka orang yang berbahaya”


“Baik Kapten Devon”, kata Anak buahnya


Kapten Devon lalu mengeluarkan ponselnya, “Maaf Jendral Rhino, saya harus melaporkan hal ini kepada jendral, Nyonya besar membawa 2 orang tamu yang berasal dari Indonesia, tapi anehnya saya tidak bisa menemukan data data tentang mereka, hal ini sangat mencurigakan Jendral, jadi maaf saya menggangu anda”, lalu menutup telponnya


Nun jauh disana, Di pulau Karang Suwung, Damar dihadapan komputernya, “Oh, kalian mencoba untuk mencari tau siapa bos aku ya, gak bakal bisa, biar kalian tambah penasaran, tangannya bergerak cepat di keyboard laptopnya sambil mengetikkan sebuah pesan kepada Berata


Berata mengambil HPnya, membaca pesan dari Damar sambil tersenyum.


“Kenapa kakak tersenyum, pesan dari siapa”, selidik anindya


“Damar bilang, mereka sedang mencari tau siapa kita, damar sedang jail, jadi dia bloksemua data tentang kita”


“bukannya itu membuat mereka tambah penasaran”


“tenang saja, aku baru ingat kalau nenek retno bilang anaknya petinggi militer disini, jadi sepertinya ini demi keamanan putrinya”


Tok tok tok, pembicaraan dalam hati mereka terhenti oleh ketukan di pintu paviluim mereka. Lalu mereka keluar dan mendapati 2 orang dengan seragam tentara di depan pintu mereka.


“Saya Kapten Devon, anda berdua harus ikut kami, ada hal yang ingin kami tanyakan”


“Apakah kami berbuat sesuatu yang salah kapten?” kata berata sopan


“Anda ikut dengan kami”, kata Devon memaksa, dan orang disampingnya menodongkan enjata laras panjangnya kepada Berata

__ADS_1


“Sebaiknya anda tidak menodong suami saya dengan senjata Kapten, jika kaliantidak ingin terluka”, kata Anindya


“ Ada apa ini ribut – ribut “ Sebuah Suara memecah ketegangan


“Maaf nyonya besar, identitas mereka sangat mencurigakan, kami harus memeriksa mereka dengan seksama”, kata kapten Devon


“Mereka adalah tamuku, kalian berani menentang aku”, kata Nenek Retno


“Ini Perintah kapten Rhino Nyonya”, kata kapten Devon


“Telpon Jendralmu, Ibunya ingin makan malam dengan tamunya, jika dia keberatan, dia bisa datang kesini dihadapanku”


Kapten Devon tidak berani membantah, dia memberi tanda agar anak buahnya menurunkan senjatanya. Nenek Retno lalu menggandeng Anindya, lalu anindya menolehke kapten devon den menjujurkan lidahnya mengejek kapten devon.


“Jangan nakan nduk, mereka hanya menjalankan tugas”, kata nenek retno


“Abis mereka ngeselin, emangg Dya sama suami penjahat?”


“ Sudahlah, mari kita makan, kita makan enak malam ini, setelah itu kita ngobrol, nenek harap kalu bisa bercerita tentang diri kalian dan Indonesiaku”


“baiklah nek”, sambil bergelut manja di tangan nenek retno.


Sampai diruangan makan, Berata takjub dengan mewahnya desain ruang makan, dan banyaknya makanann yang di hidangkan.


“nenek mau membuat aku jadi gendut ya... banyak sekali makanan disini”, kata Anindya


“dasar kampungan, mata jelalatan liat makan enak” saut beatrix


“Beatrix, ingat apa yang nenek katakan”


“Semua duduklah, kita akan malam, nenek sengaja membuat makana khas indonesia, Bi Darmi yang menyiapkan semuanya”


Di meja berbentuk oval, nenek Retno dduduk dengan Beatrix sedangkan Berata dengan Anindya, duduk berhadapan Anindya dengan nenek retno, Berata dengan Beatrix.


Makan malam di mulai dengan suasana yang ceria terkecuali Beatrix yang cemberut. Setelah memerapa lama Berata merasakan ada yang menyentuh kakinya, dia melihat Beatrix terseyum menggoda kepadanya.


“kurang ajar anak ini”, katanya dalam hati


“Kenapa kak”, kata Anindya dalam hati


“Anak ini mencoba menggodaku sayang”


“Biar aku damprat kak”


“Jangan , kasian nenek retno


Lalu terulang lagi, Beatrix menggoda Berata dengan menyentuh kaki Berata, dan memandang dengan genit kepada Berata.


“Anak ini sepertinya perlu dikasi pelajaran”, guman Berata lalu dia mengeluarkan sedikit listrik ditubuhnya, saat beatrix mencoba menyentuk kaki Berata, tiba tiba dia menjerit kesakitan.


“Aduh” jeritnya


“kamu kenapa Beatrix”, tanya nenek


“Kakiku terasa keserum nek”


“mungkin kamu tadi menabrak kakii meja, makanya kalau makan diamlah”, kata nenek Retno

__ADS_1


Berata pura pura tak menanggapi dan asik berbicara tentang enaknya masakan dari Bi Darmi kepada Anindya.


Makan malam berakhir, waktu menunjukkan pk 8 mlm waktu setempat, nenek Retno mengajak Berata dan Anindya duduk di taman di bwah bintang yang temaram sambil menikmati teh hangat dan makan kecil


“Ceritakan kenapa kalian bisa sampai di negeri ini”, kata nenek Retno sambil menyeruput tehnya


“Panjang ceritanya nek, bisa bisa nenek gak bisa tidur kalo Anin ceritakan semua “, kata Anindya tertawa


“Kamu memang pintar mengalihkan pembicaraan anindya, kalo begitu ceritakan bagaimaka kalian bertemu” kata nenek


“Wah malu nek, kalo itu biar kak Berata saja yang cerita”, sambil menyembunyikan kepalanya di bawah ketiak Berata, melihat itu nenek retno tertawa


“Kalian benar benar pasangan yang sempurna, aku mengingatkan pada kisahku dan suamiku”


“Emang Suami nenek kemana”, kata Anindya


“Sudah 3 bulan dia pulang ke indonesia untuk mencari jejak anak dari majikannya, setiap tahun dia akan ke indonesia dan berkeliling mencari anak yang mungkin sudah mati, aku merindukannya, dia sudah sangat kelelahan, tapi tak pernah mau menyerah untuk mencari anak majikannya, ah cukup, kok jadi nenek yang cerita, sekarang giliranmu Berata”, kata nenek


“baiklah nek, Aku cerita, tapi agak sedih, nenekk janji tidak bopleh bersedih mendengar ceritaku ya”


Nenek Retno mengangguk.


“Berata anak yatim piatu nek, ayah dan ibu Berata mati dibunuh saudaranya yang ingin merebut harta ayah dan ibuku, aku diselamatkan oleh pengasuhku yang kuanggap ibuku.”, berata terdiam, dia teringan ibunya di bali


“Selesai SMA aku pergi merantau ke Denpasar, disanalah aku bertemu dengan istriku pertama kali, aku bekerja di warung makan ibunya, sejak lai pertama kami bertemu Istriku sudah sangat menyukaiku nek”, kata Berata


“iiihhh kok aku yang dibilang kuda duluan”, kesal sambil menjewer kuping Berata


“ Aduh aduh... kakak yang suka duluan” kata Berata, dilajutkan dengan gelak tawa mereka bertiga.


“tapi sang waktu tak menjijinkan kami untuk bersatu dengan mudah Nek, Anindya tiba tiba menghilang, aku mencarinya keseluruh pelosok negri, mencari keberadaanya, akhirnya setelah 5 tahun aku bisa mendapati keberadaan Anindya, dia ada di Amerika, aku mengejarnya kesana, ternyata dia ditugaskan ke Mogadishu, lalu Berata menelpon Anindya, saat mendengar suaranya setelah 5 tahun tidak bertemu Aku sangat senang, tapi kembali sang waktu sangat membenci kami, hotel temoat Anindya menginap di BOM dan Anindya terluka parah”


Berata meminum tehnya , membayangkan masa dimana dia sangat sedih mengetahui Anindya terkena Bom.


“Aninya di vonis lumpuh seumur hidup, dokter menyarankan untuk Eutanasia karena harapan hidupnya kurang dari 1 %, tapi aku merawat Anindya, danaku menikahi anindya saat dia menjadi lumpuh, itu 2 tahun lalu”


“hah, 2 tahun lalu, katamu anindya lumpuh, tapi kenapa sekarang bisa sehat sekali , tidak ada tanda tandanya menjadi korban Bom”, kata Nenek Retno


“Aku beruntung nek, bertemu seorang dewi pengobatan, dia merawat Anindya selama 1 tahun, dan Berata harus berkeliling dunia untuk menemukan berbagai macam obat yang diminta olrh dewi tersebut. Dan sekarang kami disini untuk berbulan madu nek kesini”, tanpa menyebukan alasan sebenarnya ke bonneval


“ah kalian memang ditkdirkan untuk menjadi pasangan yang serasi, nenek yakin kalian akan hidup bahagia selamanya.


“terimakasih nek, sudah memberikan kami tumpangan malam ini”


Tiba tiba suara belasan helikopter tampak menderu di langit, berputar putar , sebuah helikopter ,mendarat, lau helikopter yang lainnya mendaratkan pasukan dari tali yang di turunkan.


Seorang tinggi besar hampir 2 meter mendekat mereka, lalu pasukan yang lain tampak menodongkan senjata kepada Anindya dan Berata.


Lelaki itu mendekati nenek retno, “ibu, anda tidak apa – apa?”


“apa yang kamu lakukan terhadap tamuku?”, bentaknya kepada laki laki itu


“Ibu, maafkan Rhino , tapi identitas tamu ibu mencurigakan sekali, banyak sekali kejadian yang terjadi belakangan ini berkaitan dengan mereka berdua, aku sudah menyeidikinya, mereka ada dan terlibat dalam kejadian di negeri kita belakangan ini, aku takut mereka anggota organisasi kejahatan”


“Mereka dari Indonesi Rhino, negeri dimana kamu dilahirkan, ibu tidak percaya kalau mereka adalah penjahat.”


“Ibu, biarkan aku meneyelidikinya, setelah aku memastikan siapa mereka , aku akan membiarkan mereka untuk bersama ibu, Bawa ibuku masuk dan lindungi semuanya”, perintah Jendral Rhino

__ADS_1


__ADS_2