
Malam telah mulai larut tapi kebahagiaan dalam pernikahan Berata masih berlangsung. Berata sendiri sudah mengendong Anindya untuk Memasuki Kamar pengantin mereka. Berata mengganti Gaun Pengantin Anindya dengan hati – hati supaya selang Makanan di perut Anindya tidak bergeser.
“Kak, Dya malu”
“Kenapa harus malu sayang, kakak adalah suamimu sekarang, jadi tidak ada yang harus membuatmu malu”
“Tapi Aku malu kak"
Berata tersenyum,”Kakak akan menyiapkan air hangat, kakak akan mengelap tubuhmu, supaya tidurmu nyaman nanti”
Berata kemudian mengambil waslap dan mulai mengelap seluruh tubuh Anindya setelah itu menggantinya dengan baju tidur yang nyaman.
“Tidurlah sayang, sudah malam", Berata menarik Selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.
“Kak Berata, Sekarang kita sudah menjadi suami istri, tapi Dya tidak mampu menjalankan kewajiban sebagai Istri yang baik, apakah kakak akan kecewa nantinya”
Berata memiringkan badannya kearah Anindya, “Kamu adalah anugrah terindah dalam hidupku Dya, jangan pernah berkata seperti itu lagi, apapun kondisimu kakak menerimanya dengan ikhlas”, Berata bangkit dan mengecup bibir Anindya
“Air mata menetes dari mata Anindya”
“Kenapa kamu menangis Sayang”, kata Berata
“Aku menangis Bahagia Kak”
“Tidurlah sayangku” Berata memeluk tubuh Anindya
Bangunan Villa yang di bangun Berata terletak di Sebuah Pulau Kecil yang berada di sekitar gugusan pulau Nusa Penida. Pulau itu Hanya seluas 5 Km2, berupa Batu karang yang tingginya hampir 100 meter dari air laut, jalan masuknya hanya satu lewat ceruk kecil dan hanya bisa dilalui oleh kapal kecil saat air surut. saat air tinggi maka jalan masuk tidak akan terlihat . Setelah melewati ceruk tersebut akan terhampar pantai berpasir putih.
Pulau ini sebelumnya tidak berpenghuni dan diberikan sebagai hadiah pengabdian Berata kepada Negara. Dimana Sebagai Komandan Jatayu telah berhasil mengharukan nama Indonesia di Kancah Internasional.
Karena terdiri dari Batu Karang maka tidak ada tumbuhan besar yang bisa hidup, untuk membangun Villa utama saja Berata mendatangkan ribuan kubik tanah untuk bisa menanam rumput dan pepohonan perindang dan pohon Bebuahan
Bangunan Villa utama berada di tempat yang paling tinggi, seluas hampir 500m2. Bangunan utama dibuat seperti menara yang tingginya hampir 40 meter yang hanya berisi Ruang kamar tidur utama. Kamar utama hanya bisa dijangkau dengan Lift khusus. Saat pagi hari kita bisa menyaksikan Matahari Terbit begitupun saat sore hari dapat menyaksikan Sunset. Atap bangunan berbentuk kubah dengan Kaca Anti peluru sehingga saat malam hari bagian atap bisa di buka dan melihat gugusan bintang.
Sebelum mengajukan pensiun, Berata juga telah membagikan Uang hasil rampasan ketika menghancurkan semua musuhnya di tambah dengan uang miliknya. Berata mengeluarkan uang sebesar 20 Triliun , jadi masing masing anggota team Jatayu mendapatkan hampir 200 Milyar.
Pagi harinya Matahari sudah mulai masuk ke kamar utama, berata mengangkat tubuh Anindya kemudian di dudukkan pada kursi roda, dan menuntunnya ke jendela melihat Matahari yang mulai bangun dari peraduannya, Berata berdiri dibelakang Anindya dan memeluk nya’
“Aku sangat Bahagia kak”, Kata Anindya
Berata mengurus Anindya sendirian, dia tidak mengijinkan orang lain membantu, dari memandikan, membuat makanan Anindya sampai pada membersihan kotoran Anindya. Siang Harinya, Berata akan membacakan buku – buku buat Anindya. Terkadang Anindya akan di gendong untuk berada di pinggir pantai untuk menikmati deburan Ombak. Itulah rutinitas yang dijalani Berata selama 3 bulan setelah menikah.
Hari ini dia memutuskan untuk mengajak Anindya berjalan jalan sambil membeli barang kebutuhan sehari-hari. Pergilah mereka naik Kapal Boat khusus milik Berata. Setelah 45 menit mereka sampai di Dermaga Pantai Sanur. Saat turun dari Kapal, semua mata memandang kepada Berata dan Anindya yang ditemani oleh Bintang yang kebetulan sedang libur kuliah.
“Duh lakinya ganteng, istrinya cantik tapi sayang kayaknya istrinya cacat, cuman matanya saja yang bergerak gerak”, kata beberapa orang
“Iya Kasian, lakinya ganteng banget, mending ma gue, cantik dan muda” kata 4 gadis yg sedang duduk menikmati suasana pantai.
“Kak”, kata Bintang,” Apa perlu ku bungkam mulut orang orang ini”
__ADS_1
Berata tersenyum,”Kamu masih muda jadi maklum darahmu meledak ledak, kakak kasi tau, lebih baik belajar untuk menghindari masalah, tapi kalau kena masalah, jangan lari, hadapi dengan gagah”
“Baik kak Berata”, kata bintang
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Supermarket dan berbelanja yang sangat banyak, dan para pengawal Berata dengan sigap mengumpulkan semua yang dibeli oleh Bintang.
“Berata” suara seorang gadis memanggil
“Ya… aku tau itu kamu, aku tidak salah, kamu Berata kan, aku sudah mencari mu kemana mana”
“Mahadewi”, gumam berata
“Apa yang kamu inginkan”, Kata berata dingin
“Santai bro aku tak akan memakan mu, ini istrimu kan, Gadis kecil di acara Graduation kemarin kan?”
“Ya, Anindya istriku”
“Aku dengar dia meninggalkanmu ke Amerika 10 tahun yang lalu, tak disangka dia kecelakaan dan cacat seumur hidup, aku sungguh prihatin, tapi malah kamu menikahinya atas dasar kasihan” kata Mahadewi
“Kak, ayo kita pergi dari tempat ini”, kata Anindya yang sudah menangis, hatinya sakit”
Berata Geram, “Aku tak pernah menggangu kehidupanmu, jadi jangan ganggu jalanku”, kata Berata
“Kamu tidak menggangu hidupku?? Kamu tau sejak bertemu denganmu aku ingin memiliki kamu, kamu memiliki daya Tarik yang berbeda, kamulah satu satunya yang pernah menolak pesonaku sampai saat ini”
“Aku tidak tertarik padamu, aku sudah menikah”
“Aku sarankan, jangan mencoba atau kau akan mengalami nasib buruk”, kata Berata lalu mendorong kursi roda Anindya dan kembali ke kendaraan .
Di dalam mobil Berata melihat Air mata Anindya ,”Jangan menangis sayang, jangan hiraukan perkataan wanita picik tadi”
“Tapi benar kata dia kak, aku istri yang cacat, aku istri yang tidak sempurna, kalo kakak mau meninggalkan Dya, Dya Rela demi kebahagiaan kakak”
“Sayang.. sayang,, sayang,, jangan berkata itu lagi, kakak tak akan meninggalkan Dya sampai kapanpun”
Bintang yang melihat kakaknya bercakap – cakap dengan Anindya, lalu bertanya, “Kakak bisa mendengarkan perkataan kakak ipar??”
Memandang Bintang, “Bisa adikku sayang, Dya bisa mendengar percakapan kalian semua, tapi saat dia berbicara, hanya kakak yang bisa mendengarkan nya”
“Wah mau dong di ajarin kak”, kata bintang
“Kakak juga tidak tau, itu muncul begitu saja”, kata berata sambil tersenyum.
Sesampainya di Dermaga ternyata air masi terlalu surut, jadi harus menunggu 1 jam lagi hingga air naik. Berata mengajak Anindya untuk berjalan di atar trotoar yang ada disepanjang pinggir pantai Sanur. Dia berjalan ke arah utara dengan perlahan di bawah pohon yang rindang. Anindya sangat menikmati pemandangan dan perjalan ini, sepanjang jalan mereka bercengkrama.
Mereka berjalan sudah hampir 200 meter mendekati pantai Padang Galak, tiba tiba ada seorang gadis kecil berdiri di depan mereka membawa setangkai bunga mawar berwarna putih, gadis itu menyerahkan tangkai mawar kepada Anindya. Berata Berhenti, berjongkok didepan gadis kecil itu, Adik kecil, kakak ini sedang sakit jadi tidak bisa mengambil bunga sendiri.
“Aku ingin kakak ini yang memegang bunga ini”, kata gadis kecil tersebut
__ADS_1
“kak, pegang tanganku”, kata Anindya
Berata memegang tangan Anindya, memegang jarinya dan mengambil Setangkai bunga dari anak kecil tersebut. Tiba tiba angin bertiup kencang, debu debu dan daun berterbangan , semakin lama semakin kencang dan putaran angin mengelilingi tubuh mereka bertiga. Berata menahan tubuh Anindya , dia mengerahkan tenaga dalamnya, tapi sepertinya sia-sia saja tak mampu menahan pusaran Angin, tubuh mereka seperti terangkat ke langit, Anindya sudah tidak mengenakan kursi rodanya, Berata memeluk Anindya dan membiarkan dirinya dibawa angin tersebut.
Angin berputar itu mulai berhenti, Berata dan Anindya menginjak padang rumput, angin memudar dan dihadapan mereka terbentang suatu tempat yang sangat indah.
“Apakah ini Surga kak”, kata Anindya
“AKu rasa bukan sayang”
Lalu mereka melihat gadis kecil tersebut di depan mereka, perlahan berubah menjadi seorang Dewi yang sangat cantik.
Berata merasakan hawa para dewa dari Aura dewi tersebut, Dia kemudian membungkuk hormat.” Saya Berata, siapakah gerangan dewi ini dan dimanakah kami berada?”
“Berata kamu ada di tempatku, Devanagari, Aku Dewi Dewantari yang sedang kau cari”
“Hormat kepada Dewi Dewantari,” kata berata
“Berata, aku bisa menyembuhkan Istrimu, tapi aku ingin kamu melakukan beberapa hal”
“Dewi Dewantari, hamba bersedia melakukan apapun demi kesembuhan Anindya”
“Baiklah, Aku telah memilih Anindya untuk menjadi muridku, jadi dia akan tinggal bersamaku beberapa waktu, tapi aku memerlukan beberapa benda untuk pengobatannya. Saat ini Bunga Rumput Gunung Kailash sudah ada dalam tubuhnya. Kita tinggal perlu 3 benda lagi untuk menyembuhkannya.”
“Yang pertama kita membutuhkan CIncin api dari gunung Mauna Kea, yang kedua Stempel Dewa bumi dari gunung Kinabalu dan Guci Dewa bayu dari gunung Fuji. Keempat elemen bumi ini akan membantu kesembuhan Anindya, dan Aku akan mempersiapkan Anindya untuk menjadi pendamping mu dalam menyelamat kan dunia ini”
“Hamba kurang mengerti Dewi, mohon dijelaskan”
“Saat ini Raja Iblis sedang mempersiapkan kekacauan nya di bumi, kamu lah yang dipilih para dewata untuk mengatasi masalah ini. Didalam dunia Iblis dan dewata, setiap 1000 tahun mereka akan bertemu dan bertarung, kamu harus mempersiapkan dirimu”
“Hamba mengerti Dewi”
“Satu lagi , tinggalkanlah perkamen dan Shotel kembar itu, aku akan mengajarkan pada Anindya cara membaca dan mempelajari 21 jurus dalam Perkamen tersebut”
Berata kemudian mengeluarkan Shotel kembar dan perkamen tersebut, lalu abdi Dewi Dewantari meminta Anindya dari pelukan Berata.
“Tunggu Aku sayang”, kata Berata
“Kembalilah cepat Kak”
“Setelah kamu mendapatkan ketiga benda tersebut datanglah ke lereng Gunung Agung, kamu akan menemukan jalan menuju tempat ini.”
Angin berhembus kencang dan Berata kembali berada di trotoar sendiri, sedangkan Anindya ada bersama Dewi Dewantari
Bintang kebingungan saat melihat Berata kembali sendiri tanpa di temani oleh Anindya
“Kak Berata, kakak ipar dimana” kata Bintang
“Dia Ada ditempat aman, sedang melakukan pengobatan, kita pulang saja” kata Berata
__ADS_1
“Tapi kak” belum selesai berbicara Berata sudah melompat ke kapal, mau tak mau Bintang juga melompat ke kapal, mereka lupa ada di tempat ramai, mereka melompat hampir 10 meter jauhnya dari bibir pantai ke kapal boat.