Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 54. Penjaga Gunung Agung


__ADS_3

Jurus Shotel Surgawi Aninya sangatlah Hebat, sampai-sampai berata harus mengeluarkan Pedang Kalajengking untuk melindungi dirinya. Apalagi di padukan dengan Jurus pengendali 4 unsur bumi, gerakan Anindya sangat susah ditebak, tak terasa setengah hari mereka bertarung dan tak sekalipun berata balas menyerang. Tempat mereka bertarung sudah sangat berantakan, Devanagari yang sebelumnya tenang kini menjadi kacau balau.


Saat in tubuh Anindya sudah terbalut api dan shotel yang dipegangpun sudah membara. Anindya yang melayang kemudian menyerang dan mengeluarkan bola-bola api dari tebasan Shotelnya diudara. Tempat dimana Berata berdiri dihantam oleh bola bola tapi berata sudah menghidar, kemudian dari udara muncul angin ****** beliung yang besar , Anindya menembak bola bola dari shotel ke putting beliung tersebut sehingga putting beliungnya terlihat seperti naga Api yang menyerang Berata, Berata tak melawan, hanya menghindar saja. Anindya sangat marah, lalu membuat bola api yang besar lalu dari udara menembakkannya kepada Berata.


Berata melihat itu “Aku Harus mengakhiri ini, tidak ada jalan lain” katanya. Lalu Berata memasukkan Pedang Kalajengking dan Serulingnya, dan bersiap untuk menerima serangan Anindya. Berata merentangkan tangannya dan tersenyum kepada Anindya, “Aku mencintaimu” dengan Bahasa hati. Berata lututnya menyentuh tanah merentangkan tangannya kepalanya menegadah keatas dan menutup matanya, dia melepaskan semua ilmu kebalnya dan menjadi orang biasa.


Anindya yang melihat Berata melepaskan semuanya terkejut tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Berata.


“Kakak”, Anindya Berteriak.


Bola api tinggal 2 meter lagi kemudian sebuah tembok batu muncul di depan Berata dari dalam tanah danbola api itu menghantam tembok batu, suara bergemuruh dan tanah bergoyang akibat hantaman bola api


Berata yang memejamkan matanya menunggu, bingung kenapa bola api tak menghantamnya. Dia membuka matanya dan melihat sebuah tembok batu ada di depannya. Lalu tembok batu tersebut kembali kedalam tanah.


Anindya terbang menghampiri Berata dan langsung memeluknya, “kakak bodoh, kakak bodoh, Anindya menagis tersedu, memeluk Berata dengan erat , kakak memang bodoh… kenapa kakak melepas semua perlindungan kakak dan ingin menghadang pukulan Apiku, kalau kakak terkena pasti kakak akan mati”


“Kakak tak punya pilihan lagi untuk membuatmu percaya tentang apa yang kakak katakan”, Kata Berata


“Dya Percaya, Dya percaya, jangan lakukan itu lagi kak, jangan membahayakan diri kakak lagi”, kata Anindya


Mereka masih berpelukan , Anindya masih menangis tersedu, “Sudah marahnya? Kata Dewi Dewantari dengan muka kesal


“Coba kalian lihat apa yang telah kalian perbuat, kalian telah menggancurkan tempat ini”


“Maafkan kami Dewi , kami menyesal, kami akan memperbaikinya”, kata Berata


“Tidak perlu, sebaiknya kalian segera pergi dari sini menuju puncak Gunung Agung, kalian harus bertapa bersama disana selama 7 hari untuk menebus kesalahan kalian”, kata Dewi Dewantari kemudian segera menutup mintu perbatasan Devanagari sehingga Berata dan Anindya tida tiba berada di lereng gunung Agung.


“Sayang, sepertinya dewi marah dengan kita “, kata Berata


“Kakak sih, ganjen sama perempuan”kata Anindya cemberut


“Sepertinya kita harus segera menjalani hukuman kita untuk bertapa berata selama 7 hari di puncak gunung Agung ini”. Kata Berata


“Mari kita segera selesaikan supaya, kita segera bisa kembali kerumah”, kata Anindya pipinya memerah


“Apa yang kamu pikirkan sayang sehingga pipimu merah”, Berata menggoda Anindya


Anindya ngambek dan berjalan menuju puncak gunung, Berata mengejarnya, tiba tiba cuaca yang cerah berubah menjadi gelap, hujan dan petir mengglegar mengiringi perjalan mereka. “Dya mungkin ini cobaan dari dewata untuk kita dalam melewati 7 hari tapa berata ini”


“Benar Kak, Kata Anindya.


Angin bertiup sangat kencang, hujan sangat deras , sepertinya penunggu gunung Agung tidak rela Berata dan Anindya untuk naik kepuncaknya.


“Kita harus berusaha kak”, kata Anindya

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua sampai di puncak Gunung Agung, mereka duduk Berhadap-hadapan denganmenyatukan 2 tangannya. Tiba tiba muncul seekor Naga yang sangat Besar dri dasar Kawah Gunung Agung.


“Siapa Kalian, siapa yang mengijinkan kalian untuk bertapa berata disini”?


“Mohon Maaf Tuan Naga, hamba Berata, ini istri hamba Anindya, kami berdua pasangan suami istri yang diperintah untuk melakukan tapa berata oleh Dewi Dewantari disini sebagai hukuman kami telah merusak Devanagari”, kata Berata


“Jadi kalian yang merusak Devanagari”, kata naga tersebut marah


“Mohon maafkan kami, kami telah bersalah”, kata Anindya


“Aku Penjaga Gunung yang keramat ini, aku Naga Basuki, kalian bisa melakukan Tapa berata disini bila kuijinkan, oleh sebab itu kalian harus melewati ujianku, jika tidak silahkan kalian tinggalkan tempat ini. Kalian harus bisa menjawab 3 pertanyaanku, setelah itu kalian akan bertarung denganku”


“Kami akan berusaha dengansebaik baiknya Tuanku Naga Basuki”, Kata Berata


“Pertanyaan pertamaku, apa yang Awalnya kosong, selanjutnya kosong dan kembali lagi di akhirnya adalah kosong Apakah itu”, Kata Naga Basuki


Dengan tenang Berata menarik nafasnya, berpikir dengan tenang, “kak, pertanyaan kakek ini susah sekali, bagaimana kita bisa menjawabnya”, kata Anindya


Naga Basuki yang dibilang kakek mendengus dan mengeluarkan api dari mulutnya.


“Jawabannya adalah Manusia Tuanku Naga Basuki, Sesungguhnya manusia terlahir dengan kosong dan telanjang, dia tidak terlahir dengan perhiasan di tubuhnya walaupun dia anak seorang raja, saat manusia lahir semuanya sama dan berawal dari kosong. Sesungguhnya dalam hidup manusia apa yang dimilikinya hanyalah titipan belaka, nasib dapat mengambilnya kapan saja menjadi kosong kembali kapanpun sang waktu ingin mengambilnya. Saat manusia kembali kepada penciptanya dia tidak membawa kekayaan dari apapun yang dihasilkannya dari dunia ini, seorang rajapun mati hanya berbekalkan amal budinya untuk dipertanggung jawabkan di pengadilan akhirat nantinya. Jadi apa yang awalnya kosong , selanjutya kosong dan berakhir kosong adalah manusia Tuanku Naga Basuki


“Jawabanmu Benar”, Kata Naga Basuki, Anindya melonjak kegirangan


“Apa pertanyaan keduanya Kakek?”,kata Anindya


“Kakek Naga, Pertanyaanmu terlalu sulit, bagaimana kami bisa menjawabnya”, kata Anindya kesal


“Aku Beri kamu waktu 1 jam untuk menjawabnya, sementara itu aku Akan menghukum mulut istrimu yang berbisa ini “kata Naga Basuki


“Tuan Naga Basuki maafkan istriku, biarkan kami memecahkan teka-teki ini bersama-sama”


“Baiklah, 1 jam “ kata Naga Basuki lalu pergi kedasar Kawah dan menghilang


“Kak Berata kita pergi saja dari sini, pertanyaan kakek naga itu terlalu sulit untuk di jawab”, kata Anindya, tapi berata memilih untuk duduk bersemedi mencari jawaban atas pertanyaan dari Naga Basuki. Anindya yang merasa diacuhkan merasa kesal lalu mencoba –coba mengangu Berata yang sedang bersemedi dengan menarik-narik rambut Berata yang panjangnya hampir sebahu


“Ternyata suamiku ganteng sekali, pantas banyak wanita ingin mengejarnya”, kata Anindya membuyarkan Semedi Berata.


“Kamu mengganguku untuk menemukan jawabannya Dya”, kata Berata


“Kalo begitu lebih baik aku pergi saja”, kata Anindya pura-pura berjalan turun gunung. Tapi karena melihat berata tetap diam, akhirnya kembali dan duduk bermalas malasan, dia juga bingung memikirkan jawabannya.


Naga Basuki kembali muncul dihadapan Berata ,”Apakah kamu sudah menemukan jawabannya Berata?””


“Apa yang lahir dari kegelapan dan mati saat fajar, Jawabannya adalah HARAPAN Tuanku, Saat manusia mengalami sesuatu yang buruk dan hampir menyerah disitulah Harapan muncul dari dalam diri manusia, harapanlah yang bisa membuat manusia keluar dari masalah, dan harapan itu hilang ketika tujuan kita sudah tercapai”

__ADS_1


“Jawabanmu sekali lagi benar Berata”, kata Naga Basuki


Anindya tak percaya, “Ternyata suamiku yang ganteng ini juga sangat pintar”


“Dya tenanglah”, kata Berata


“Silahkan Tuanku Naga Basuki pertanyaannya yang ketiganya”, kata Berata


“Apa yang lebih dingin dari pada Es , lebih panas dari pada Api, lebih tajam dari pada pedang”


“Pertanyaan apa lagi itu kakek naga, pertanyaanmu susah sekali”, kata Anindya


“Maafkan istriku Tuan Naga Basuki, aku sudah memikirkannya, yang lebih dengin dari es, lebih panas dari api dan lebih tajam dari pada pedang adalah PEREMPUAN Tuanku Naga Basuki” kata Berata


“Perempuan??” kata Anindya


“Saat perempuan marah dan kecewa, hatinya bisa sedingin es, pandangan matanya dan amarahnya laksana api yang bisa membakar dunia, dan perkataannya lebih tajam dari pada pedang, Tuan Naga Basuki” kata Berata


“Jawaban Yang cerdas”, Kata Naga Basuki


“Kakak Menyidirku??”, kata Anindya Sengit kepada Berata


“Bukan begitu Sayang, itu hanya jawaban dariku untuk Tuan Naga Basuki”, kata Berata


“Jawabanmu Benar Berata, Sekarang Aku akan menguji kemampuan kalian Berdua, Bersiaplah”


Naga Basuki berubah Wujud menjadi Seorang Kakek Tua Brahmana mengguanakan sebuah tongkat. Tongkat tersebut menancap ketanah lalu Kakek Brahmana itu memukulkan tongkatnya ke tanah, lalu muncul beberapa manusia Batu di depannya. Manusia batu ini kemudian menyerang Berata dan Anindya. Berata melawannya dengan jurus patung tanah tapi Anindya malah membuat manusia batu juga . terjadilah pertarungan hebat, Anindya dan Berata mampu mengalahkan dan menghancurkan manusia batu tersebut.


Kakek Brahmana memecah dirinya menjadi banyak, dan dengan bersenjata tongkat menyerang berata dan Anindya. Anindya mengeluarkan Shotel kembarnya dan melawan dengan hebat, Berata mengeluarkan pedang kalajengkingnya untuk melawan. Awalnya mereka bisa melawan dengan mudah tapi lama kelamaan gerakan kakek Brahmana semakin cepat, Berata dan Anindya kesulitan untuk melawan, sampai akhirnya sama sama terjengkang karena dipukul tongkat kakek Brahmana.


“Sayang, kita harus bekerjasama untuk bisa mengalahkan formasi ini”, kata Berata


“ya kak, kita dari tadi bertarung secara terpisah, kita harus bisa menggabungkan jurus jurus kita dan mengalahkan formasi ini”, kata Anindya


Lalu Berata Berdiri di Depan Anindya mengambil kuda kuda, Anindya memegang Shotel kembar ada di belakangnya. Kakek Brahmana kembali menyerang, kali ini Berata dan Anindya bertarung bersama tidak terpisahkan, jurus shotel ditambah dengan pengendalian tanah dan api di bantu dengan jurus patung tanah berata, kakek Brahmana tak mampu mendekati Berata sampai pada Berata melihat dari banyak Kakek Brahmana ini ada satu yang sedikit berbeda lalu Berata dan Anindya fokus untuk menjatuhkan Kakek tersebut, dan benar saat tipuan Anindya dengan serangan pengendalian tanah Anindya menendang kakek Brahmana sampai terjatuh


Kakek Brahmana kembali berubah menjadi Naga Basuki. “Kalian Hebat, kini terima serangan ku yang terakhir, Naga Basuki terbang keudara berputar putar dan membuat bola Api Raksasa dan siap menyerang Berata dan Anindya. Berata kemudian memakai Baju Zirah Naga Anta dan mengeluarkan Pedang Es , Anindya kemudian mengumpulkan semua air yang ada di sekitarnya dan membentuk perisai es bersama Berata, Bola api menuju Berata, Perisai Es juga membesar , benturan keduanya menyebabkan terjadi gempa di lereng gunung Agung, batu-batu berguguran dari puncak. Gempa dan gemuruh menyebabkan penduduk sekitar kaki gunung Agung ketakutan dan berlari untuk menyelamatkan diri.


“Sudah Cukup Kakanda Naga Basuki” Sebuah suara mengglegar di udara


“Kakanda cukup engkau menguji mereka, mereka layak untuk menerima berkah darimu” Suara tersebut kembali bergema hebat. Naga Basuki pun menghentikan serangnnya.


“Baiklah Kanda Hyang Putranjaya”, kata Naga Basuki.


Berata kemudian melepaskan dan menyimpan kembali Zirah Naga Anta.

__ADS_1


“Kalian Berdua, kalian memang layak untuk menjadi murid-muridku, kalian ambillah sikap tapa berata, aku akan memberi kalian anugrah dan kalian harus bertapa berata disini selama 7 hari”


Berata dan Anindya tak banyak bertanya lalu mengambil sikap Tapa berata, duduk bersila berhadapan dan menyatukan kedua tangannya. Mereka berdua terangkat dan melayang di udara dan berhenti diatas kawah Gunung Agung, kedua tubuh mereka di balut Api penyucian Naga Basuki .


__ADS_2