
“Ditha, katakan pada kakak, apa Dya sudah menikah??”
Aninditha tertawa, “Kak Berata, kak Berata, apakah kakak meragukan Adikku??, bagaimana dia bisa menikah kalau dia menutup pintu hatinya rapat rapat pada semua lelaki”
Senyum Berata tersembunyi diantara gerakan bibirnya.
“Kak, Anindya sekarang beda dengan dulu, dia yang dulunya hangat berubah dingin seperti ES bahkan di kampus kami dia dijuluki Elsa the Ice Princes, saking dia tidak mau sekedar berteman dengan laki laki lain. Hatinya masih untuk kak Berata”
“Kak, maafkan kami telah memisahkan kakak berdua”
“Masa lalu biarlah berlalu, saat ini kita mulai hari yang baru”, kata Berata
“Kak, Anindya menyelesaikan kuliahnya hanya 2 tahun, dan memperoleh program magister hanya dalam setahun, saat ini dia bekerja di Kementrian Luar Negeri Indonesia, Dia diplomat termuda untuk PBB dari Indonesia, dia juga telah pergi ke seluruh dunia dengan harapan bisa menemukan kakak. Kami sempat menghubungi Kapten Sagara, kemudian kami tau bahwa kakak ikut pelatihan milter dan sudah menghilang selama 10 tahun, itulah sebabnya Anindya selalu menerima tugas keluar negeri dengan harapan bisa bertemu dengan kak Berata”
“Ditha, kakak juga sudah menyusuri semua belahan dunia dengan harapan bisa bertemu Anindya, saat bertugas ke Amerika, kakak selalu berusaha menemukan keberadaan kalian, bahkan kakak pernah bertemu dengan paman kalian tapi beliau tetap merahasiakannya”
“mungkin belum waktunya kak, ini alamat kami di Amerika, ini nomer Telpon Anindya, Kakak harus segera bertemu dengannya, sudah waktunya kalian untuk bersatu kembali”, sambil menyerahkan secarik kertas kepada Berata
“Terimakasih Ditha, kakak harus pergi sekarang” Berata bangkit mengucapkan selamat tinggal, ada senyum terkembang yang selama ini hilang dari bibirnya.
Malam itu dia menelpon Sarah mengatakan akan ke amerika untuk bertemu dengan Anindya, Sarah pun ikut menangis bahagia mendengarkan Berata, dia bisa merasakan bagaimana bahagianya Berata.
“Berata tak menunggu waktu lagi, setelah sampai dirumah, dia langsung merapalkan ilmu Sapta Buana dan langsung berada dekat dengan tempat tinggal Anindya. hari itu di Amerika siang hari karena perbedaan waktunya antara Bali dan Amerika sekitar 12 jam, di Bali lebih awal. Berata sengaja tidak memberikan kabar terlebih dahulu untuk memberikan kejutan kepada Anindya. Berata berjalan ke florist terdekat dan membeli seikat mawar merah yang dia bawa khusus untuk Anindya.
Kemudian pergi kerumah Anindya yang berada dalam kawasan Bay Ridge, Brooklyn New York. Karena termasuk kawasan Elit, tentunya dijaga pasukan keamanan khusus, dia dihentikan oleh petugas keamanan dan ditanyakan tujuannya. Berata mengatakan Dari Indonesia ingin bertemu dengan Anindya
“I’m Sorry mr. Berata, you're late, Miss Anindya has go to Mogadishu Last night”, kata penjaga
“Are you Sure, she go to Mogadishu?”
“Yes Mr. Berata, She was pick up last night from Indonesian consulate Officer, I heard Indonesian consulate in Mogadishu was attach by Somalian Rebelion, and Indonesian officer was hostage. Miss Anindya go there as a Negotiator”
“Thanks you for information”, lalu Berata meninggalkan Lokasi
Berata menelpon Kementrian Luar Negeri, kenapa dia tidak ada pemberitahuan tentang kejadian di Mogadishu. Dan informasi yang di dapat adalah yang dikirimkan team lainnya. Berata sangat marah . setelah menutup telponnya lalu menelpon Jatayu Merah, Kuning dan Hijau. “Bawa masing-masing 5 orang terbaik kalian, pergi ke Mogadishu sekalian, hubungi kontraktor disana, siapkan persenjataan untuk kita. Aku akan langsung kesana dari Amerika.”
Berata kemudian pergi ke central Park, lalu menekan nomer telepon Anindya, setelah 3 x berdering akhirnya diangkat dan di jawab oleh Anindya.
“Hello, Who is this, this is my private number, how can you know this number”
Suara yang di dengar berata seakan membuatnya membeku, rasa rindu yang sekian lama terobati hanya dengan mendengarkan suara dari Anindya walau suaranya sendiri terdengar sangat jutek.
“Hei, if you don’t want to speak a will cut off”
“Dya”, hanya itu yang keluar dari mulut Berata
Mendengar kata Dya dari suara yang tidak asing dan sangat dirindukannya, Anindya langsung membeku. seperti petir yang menyambar saat mendengarkan suara yang dirindukannya selama 10 tahun.
“Dya , ini kakak” katanya lagi
Lalu telpon mati. Berata terkejut, setelah beberapa saat ada panggilan video dari nomer Anindya. Berata mengangkatnya, terlihat wajah cantik Anindya di balut blaser hitam.
“Kakaaak, kata Anindya menangis, sambil tersenyum juga”
“Dya Sayang” berata juga tak mampu menahan Air matanya, 10 tahun dan Anindya tampak lebih dewasa dan matang”
“Kak, kakak dimana?”
“Sebenarnya kakak di Amerika mencari mu Dya, kemarin kakak ketemu Ditha, jadi kakak langsung kesini untuk memberi kejutan kepadamu, tapi kamu sudah berangkat kemarin malam”
“Kak aku sangat merindukan kakak, setelah urusan ini selesai, Dya akan pulang mencari kakak, tunggu Dya Kak”
Lalu tampak pegawai konsulat mengatakan bahwa Anindya harus segera berangkat ke lokasi
“Dya tunggu kakak, kakak akan segera kesana” firasat Berata tidak enak
__ADS_1
Anindya tertawa,”Kak ini Mogadishu, Dya harus segera berangkat, sandera harus segera di selamatkan”
tiba tiba.. Boom...
Lalu panggilan Video terputus, saat coba dihubungi sudah tidak ada sambungan lagi. Lalu Berata menghubungi Temannya di Kementrian Luar Negeri.
“Berata, maafkan aku, terjadi ledakan BOM di hotel tempat team kementrian luar negeri, kami belum tau siapa saja korbannya “
“Kalau terjadi apa-apa aku akan menghancurkan kalian semua” lalu berata segera menghilang dan muncul di keramaian dan hiruk pikuk akibat Bom yang meledak, Hotel tampak sudah rata dengan tanah. Berata berlari ke kerumunan orang, kemudian memindahkan puing reruntuhan mencari Anindya
setelah melihat Berata bergerak baru kemudian orang orang sekitarnya juga membantu memindahkan reruntuhan bangunan. Datang juga petugas keamanan dan medis ke lokasi, setelah beberapa lama, mereka berhasil menemukan beberapa korban , tapi berata tidak bisa menemukan Anindya.
Lalu Berata mencoba memanggil Anindya lewat suara hatinya, “Kak berata, kak, tolong Dya, “
“Kamu dimana Dya,”
“Gelap kak, gelap, Dya tidak tau dimana, Dya terjepit kak, tolong” suaranya menyayat hati
Berata melihat di sekitarnya mencari dimana kira kira lokasi Anindya, lalu melihat sebuah tumpukan tembok yang belum tersentuh dari tadi. Lalu berata mengangkat tembok tersebut sendiri, tentunya orang disekitarnya terkejut, lalu terlihat beberapa korban dibawah tembok tersebut. Orang orang sekitar lalu menahan tembok tersebut yang lainnya mengeluarkan orang yang tertindih, tapi tidak ada Anindya.
Berata melihat di bawah tembok yang sulit di jangkau sebuah kain hitam yang terjepit, “Anindya” lalu berata berteriak lagi dan semua orang minggir, dia mengangkat dan membalikkan tembok ukuran 3x3 meter setebal 15 m Sendirian lalu mengangkat lagi tembok yang menutupi kain hitam tersebut
“arrrghh, kak.. ka Berata” Anindya melihat Berata kemudian Pingsan.
Berata panik, kemudian mengangkat Anindya dan menggendongnya menuju ambulance. Berata sedih, 10 tahun berlalu dan saat bertemu, Anindya terluka, apa benar yang dikatakan oleh Bu agung kalau dia tidak baik bagi Anindya, dan hanya membawa bencana saja bagi kehidupannya.
Berata ikut dalam mobil Ambulance, Anindya dalam keadaan kritis, ternyata ada serpihan besi yang melukai bagian belakang Anindya.
“Dya.. bangun Dya….” Alat EKG dalam mobil Ambulan sudah tidak menunjukkan denyut jantung, petugas kemudian memakai alat kejut jantung 2 kali tapi tetap tidak direspon
“Bangun Dya… Bangun, ini kakak, berata mengguncang tubuh Anindya sambil menangis”
“Sory bro, She is Died” kata petugas medis sambil menepuk bahu Berata.
“No, She is not dead Yet, please don’t take off she's equipment. I Will Back soon” lalu berata menghentikan mobil.
Sopir dan petugas medis saling berpandangan , “Ok I Will waiting for you 5 minute, than we will go to hospital”
Berata kemudian mengambil posisi Bersemedi, dari tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna emas, Sopir dan Petugas medis mau lari karena ketakutan tapi kaki mereka seperti kaku.
Roh Berata kemudian terbang ke Pintu Neraka.
“Kamu lagi, kamu lagi, waktumu belum tiba, cepat kembali” kata penjaga pintu neraka
“Aku tidak akan kembali sebelum kalian kembalikan Anindya kepadaku”
“Buku Kematian sudah ditulis, sudah waktunya Anindya untuk kembali mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di dunia”
“Kembalikan dia, atau aku akan menghancurkan tempat ini”
“Belum pernah ada yang bisa mengalahkan kan kami, apakah kamu mau mencobanya”
“Jangankan kalian penguasa langit pun akan ku lawan”. Berata mengeluarkan Pedang Kalinyamat
Untuk pertama kalinya pedang kalinyamat mengeluarkan cahaya merah yang mengerikan.
Pasukan penjaga neraka berkumpul membentuk pasukan, hampir 10.000 pasukan.
“Maju kalian semua”, Berata maju menebas pasukan Neraka, pedang kalinyamat di tangan Berata berubah menjadi senjata mematikan, setiap tebasan mengeluarkan bayangan pedang hampir 10 meter panjangnya, jadi tidak ada penjaga yang bisa mendekati Berata.
Hampir ½ pasukan Neraka sudah mati dibantai Berata.
Terdengar sebuah suara menggelegar, “Kamu sudah melawan aturan langit Berata, kami akan menghukum mu” lalu muncul Raja Neraka dihadapan Berata”
“Kamu sudah membuat onar , aku akan membunuhmu dan memberikan hukuman sumur hidup untuk kamu”, kata Raja neraka kemudian mengeluarkan Pedang besar yang aneh dengan hawa berwarna hitam.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak menyerahkan Anindya , Aku sendiri yang akan menghancurkan Neraka ini sehingga setiap orang yang mati nantinya tidak perlu dihukum di tempatmu lagi”
Lalu terjadilah pertarungan yang Hebat antara raja neraka dan Berata, kekuatan yang besar dari mereka telah menghancurkan bangunan bangunan yang ada di sekita tempat pertarungan mereka.
Berata kesal dengan pertarungan yang begitu lama, lalu dia mengeluarkan Busur Gandiwa, langit berubah hitam dan petir menyambar-nyambar, Berata mengucap sembah dan busur Pasoepati ada di tangannya. Semua pasukan Neraka gemetar dengan senjata Arjuna yang ada di tangan Berata
“Hentikan” Semua suara bergemuruh datang dari arah Surga
“Dia tidak ada disana, dia ada bersama dengan kami” lalu Pengawal Surga membawa Anindya kehadapan Berata”
“Berata apakah kamu yakin akan membawanya kembali”
“Ya saya yakin”
“Berata Tubuh gadis ini terluka parah, luka di kepalanya sangat parah, kemungkinan dia tidak akan pernah sadar seumur hidupnya”
“tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semuanya mungkin, Aku akan merawat dia Seumur hidupku”
“Baiklah. Itu semua adalah kemauanmu”
Lalu kesadaran Berata kembali kedalam Ambulance, Aura magis dalam mobil berkurang, dan mesin EKG dalam mobil Ambulance kembali menampilkan sinyal kehidupan “ tut tut tut tut tut”
Petugas medis dalam mobil sangat terkejut dan gembira, “You really bring her back bro” katanya
Anindya di rawat di ICU dirumah sakit Mogadishu. Walau dalam keadaan koma, Berata bisa berbicara dengan anindya lewat kata hati masing-masing.
“Kak, kenapa kita bertemu setelah sekian lamanya tapi dalam keadaan begini, aku tak mampu memeluk kakak”
“Tunggu kamu sembuh Sayang, kalo Dya pingin dipeluk, biar kakak saja yang memeluk” Lalu Berata memeluk Anindya, memegang tangannya.
“kak, aku sangat bahagia bisa melihat kakak lagi, bisa dipeluk kakak lagi”
“Sabarlah sayang, sebentar lagi, kamu sembuh, maka kita bisa pergi kemanapun kamu suka” Berata terus berada disisi Anindya. Tubuh Anindya lemah karena terluka parah.
“Dya Besok pagi Petugas akan membawa Dya ke Jakarta terlebih dahulu, kakak akan disini 1 hari setelah itu kakak akan temani Dya selamanya”
“Kakak mau ngapain?”
“orang yang membuatmu seperti ini harus menerima ganjarannya”
“Kak, jangan Dya takut kakak terluka”
“Tenang Sayang, belum ada yang mampu melukai kakak, bahkan raja neraka sekalipun. Tidurlah yang lelap sayangku , kakak akan menjagamu disini.
Malam harinya 18 orang berbadan tegap mengunakan Baju tempur berwarna hitam masuk areal ruah sakit yang di jaga pasukan PBB dan Garuda.
Komandan pasukan Garuda terkejut melihat lambang pasukan tentara yang digunakan. “Pasukan Jatayu disini’, kata komandan kepada anak buahnya
Kemudian sesama pasukan garuda saling menghormat. “mohon ijin bertanya, apakah ada misi pasukan Jatayu disini?”
“Tidak, kami hanya menjemput Komandan kami”
“orang di dalam itu adalah komandan kalian”
“Benar, beliau adalah Komandan dan mentor kami”
Berata kemudian keluar dari Ruang ICU, “Apa kalian sudah siap”, Tanya berata kepada Jatayu Merah
Menghormat,”semua perlengkapan sudah siap Komandan”
Lalu Berata mendekati komandan pasukan Garuda yang ada disana, langkah Berata sungguh mengintimidasi, para pasukan PBB yang berjaga pun merasakan hal yang sama.
“Jaga tempat ini baik-baik kapten, jaga dengan darahmu, dan besok pagi persiapkan dengan baik keberangkatan pasien langsung ke Jakarta. Akan ada Pesawat Hercules datang malam Ini. Aku ingin semua berjalan dengan baik”
“Siap Komandan”
__ADS_1
Lalu Berata pergi dengan Pasukan Jatayu yang berjumlah 18 orang.