
Berata mengantarkan Anindya ke rumah bibinya, sepanjang perjalanan, dia diam saja, Berata yang merasa canggung lalu menghentikan motornya di Taman Kota dan mengajak Anindya duduk di sebuah bangku
"Dya, kamu kenapa seperti ini, kakak tidak bisa melihatmu pendiam begini, biasanya kamu ceria Dya"
Anindya masih juga diam saja tidak merespon Berata
Berata berusaha mencari topik pembicaraan tapi Anindya masih tetap diam saja, akhirnya Berata menyerah
"Sudah malam Dya, kita pulang saja", sambil berjalan menuju parkiran motor
Sesaat sebelum menghidupkan motor Berata merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang, " Kak, jangan tinggalin Dya, Dya sayang sama kakak"
Berata mematung, tak menyangka Anindya akan Berkata seperti itu
"Dya.. Gak baik dilihat orang"
"Kak Berata,biarkan Dya memeluk kakak sebentar", Dya tau hati Berata belum bisa dia gapai
" Dya, ayo kita pulang, nanti ibu khawatir"
"Baik kak, tapi Dya mau beli minuman dulu disana" Menunjuk stand minuman di areal Taman Kota
Berata mengangguk, lalu mengambil ponsel menelpon sahabatnya Nyoman Bawa yg dia lupakan selama dia pulang
Sementara itu
"Cewek... Cantik banget sih.. Kenalan yuk" Kata seorang pengunjung kepada Anindya
Anindya tidak merespon kata kata kumpulan pemuda tadi
Seorang pemuda berpakaian parlente mendekati Anindya lalu mencolek lengan Anindya,
"Eh cantik.. Sombong amat sih.. Namamu siapa, gabung kita yuk"
Anindya tetap diam dan sedikit menjauh
Tiba tiba pemuda tersebut memeluk pinggang Anindya dan memaksanya ketempat duduk mereka
"Kak Berata tolong" Plak Anindya menampar pemuda tersebut
"Kurang ajar kamu ya, berani menamparku" Tangannya terangkat mau menampar Anindya
"Arrggh.." Sebuah kerikil melayang, Tangan kanan pemuda yang mau menampar Anindya tiba tiba berdarah.. "Siapa yg berani melukaiku" Teriaknya marah
"Laki laki sejati tidak akan menyakiti Perempuan" Kata Berata mendekat lalu berdiri didepan Anindya
"Kamu tidak tau ya, kami ini siapa" Kata pemuda tadi " Kami dari perguruan Tapak Sakti
"Aku tidak kenal" Kata Berata cuek
"Kamu... Serang dia" Sambil memerintah anak buahnya
"Berhenti.." Terdengar suara menggelegar
"Kak Bawa", kata pemuda tadi ketakutan
" Apa yg kamu lakukan?" Kata Nyoman Bawa
__ADS_1
"Kak Bawa, orang ini melukaiku, lihat tanganku berdarah terkena batu yg dilempar nya" Menunjuk Berata
"Dia temanku" Kata Bawa
"Apa?? dia teman kak Bawa?"
"Tapi darah Harus di bayar darah kak" Geram
"Kamu mau melawanku??"
Nyalinya ciut, "ok, aku melepas mu kali ini, kalau aku melihatmu lagi jangan salahkan aku melukaimu" Lalu pergi dgn teman temannya
"Berata" Bawa memeluk Berata
"Selamat datang saudaraku" Kata Bawa
"Terimakasih sudah membantuku, eh kenalkan ini Anindya temanku di Denpasar"
Anindya menjabat tangan Bawa
"Hebat baru beberapa bulan ke Denpasar udah bawa pulang cewek cantik"
Pipi Anindya memerah, "hush... " Kata Berata menjitak kepala Bawa
"Siapa mereka tadi" Kata Berata
"Yg tadi kamu lukai nama panggilannya Poleng, dia murid terbaik perguruan silat tapak Sakti, bahkan dia pemenang kejuaraan silat antar perguruan tahun lalu"
"Tapi kenapa dia tampak takut padamu?"
"Pertama gurunya adalah pamanku, kedua aku pernah menghajarnya babak belur" Sambil tersenyum
"Baiklah.. Aku pergi dulu nampaknya kamu bakal sibuk, jgn lupa antar pacarmu pulang, ini sudah malam" Sambil langsung kabur dan mengejek Berata
"Awas kamu besok" Guman Berata
"Dya.. Kita pulang yuk"
Bagai kerbau di cokok hidungnya Anindya jadi penurut dan diantar kerumah bibinya
........
besoknya Jam 8 Pagi, Nyoman Bawa sudah ada di rumah Berata di kampung, Ibunya dan Bintang sudah kembali di kampung, tidak tinggal di kota lagi.
"Bawa.. Yuk kita sarapan dulu, setelah itu kita bicara" Kata Berata
30 menit kemudian
"Bawa, kamu Satu satunya sahabatku, aku tau semua tentang kamu, aku yakin aku tidak akan salah pilih, aku yakin kamu mampu mengemban tugas yang aku berikan"
Bawa yang bingung hanya bengong saja..
" Kamu mengigau ya.. " Sambil tertawa
"Kamu dengarkan aku dulu, setelah itu boleh tertawa" Kata berata serius
"Baiklah"
__ADS_1
"Yang pertama aku ingin kamu bekerja untuk ku, aku beri kamu gaji 20 jt sebulan di awal"
"Hahaha hahaha mimpi..mimpi.. Sejak kapan sahabatku punya uang banyak hahaha"
"Tak..." Berata menjitak jidat bawa
"Aduh"
"Itu hukumanmu tidak mendengarkan aku"
"Hahah lucu.. Kamu lucu..bagaimana aku bisa mempercayaimu, aku sudah menjadi sahabatmu 14 tahun Berata, bagaimana aku tidak tau keadaan keluargamu"
"Kamu dengarkan aku atau kamu pulang?" Berata kesal
"Ba baik lah, aku akan dengar dulu yg kau sampaikan," Sambil menahan tawa
"Lalu berata menceritakan kisahnya dari kecil, 30 menit berlalu, Berata menceritakan semua kepada sahabatnya, Bawa terdiam, tangannya mengepal marah"
"Aku akan membantumu menemukan pembunuh Orangtuamu" Kata Bawa Geram
"Kamu bantu aku disini saja aku punya rencana"
" Baik, katakan rencanamu"
Yg kedua, aku ingin kamu melindungi ibu dan Bintang "
"Tanpa kau suruh aku akan melindungi mereka, mereka sudah seperti keluargaku"
"Selanjutnya aku ingin kamu Membeli seluruh area perbukitan ini, aku ingin melestarikan peninggalan Pekak Urip"
"Kamu, beli semua, apabila itu berbentuk sawah kamu beli saja, suruh pemilik sebelumnya tetap mengelola sawah dan kebunnya, dengan pembagian 50% untuk pemilik sebelumnya dan 50% untuk kita.
Pelan pelan setelah kita mendapatkan tanah di perbukitan ini, aku ingin membangun sebuah panti asuhan, sekolah dan pemusatan olah raga, aku ingin mengumpulkan semua talenta berbakat di bidang olah raga dan akan membawa mereka ketingkat dunia"
"Mimpi yg besar saudaraku, aku akan membantumu mewujudkan"
Berata memberikan sebuah kartu kepada Bawa " Kartu ini berisi 100 juta, kamu gunakan sebagai modal kerja awal dan gajimu, aku akan mentransfer lagi, kamu telpon saja aku"
bawa dengan gemetar memegang kartu,"kamu gak bohong kan, ini berisi 100 juta"
"Kamu mau lagi" Sambil mengeluarkan kartu hitam yang lainnya
"Tidak.. Ini saja cukup"
"Selanjutnya kamu akan bergerak bersama ibu, kamu jaga ibu dan adikku karena aku akan Mencoba mencari orang kepercayaan ayahku"
" Baik Berata, percayalah kepadaku"
Berata kemudian memanggil Ibunya dan Bintang, berata mengutarakan maksudnya, kalau berata memberikan sebuah kartu hitam juga kepada ibunya dan kemudian bersiap untuk kembali ke Denpasar.
pada kesempatan yg tidak diketahui Ibunya Berata juga memberikan Kartu berwarna Hitam kepada Bintang.
"Bintang sayang, jaga kartu ini baik baik, kakak yakin kamu anak yang baik, gunakan saja seperlunya, kalo kamu perlu uang sekolah atau apapun, tarik saja di ATM, tapi ingat jangan berfoya-foya."
"baik kak. bintang akan menjaga amanah kakak, bintang yakin bintang bisa dan mampu"
"nah itu baru adikku sayang, sambil memeluk bintang"
__ADS_1
"kak jangan lupa pulang, ibu dan bintang pasti kangen kakak"
"iya pasti Kakak akan segera pulang".