Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 67. Rajam


__ADS_3

Jean Luc keluar dari Villa dengan tangan terikat. Didepannya terhampar pasukannya yang telah tak berdaya , semua pingsan terkena senjata laser. Pasukan Berata mengikat Jean Luc di depan Kap Mobil Jeep. Jose yang menyetir mobil Jeep sengaja mengebut dan seakan – akan menabrak mobil dan bangunan yang ada di sepanjang perjalanan, Jean Luc berteriak ketakutan, mukanya pucat pasi. Jose membawanya ke depan hotel tempat Berata menginap sebelumnya. Terjadi kehebohan karena Jean luc tampak ketakutan diikat di depan Kap Mobil Jeep.


Michelle Ibu pemilik Hotel yang di bakar anak buah Jean Luc keluar dari lobby, memandang tak percaya, dia berjalan perlahan dengan tertatih-tatih dibantu tongkatnya. Di depan Jean Luc dia berdiri, kemudian dengan ujung tongkatnya mengangkat dagu Jean Luc, “Ternyata memang benar kamu, bajingan”, lalu mencolok mata Jean Luc dengan ujung tongkatnya.


“Arrrrgh”, Jean Luc berteriak kesakitan, kemudian Michelle memukul badan Jean Luc dengan membabi buta sambil menangis,”Patricia...” Michelle berteriak, “aku kan membalaskan dendam atas kematianmu, Patricia lihatlah, bajingan yang telah menyebabkan kematian mu, dia akan merasakan sakitnya disiksa”, lalu memukul Jean Luc dengan tongkatnya dengan marah.


Anindya menghampiri Michelle lalu memeluknya, “Jangan tergesa-gesa Bu... jangan sampai dia terlalu cepat mati”, kata Anindya. Michelle berhenti lalu memeluk Anindya sambil menangis, “Terimakasih Nak, kamu telah memberikan ibu jalan untuk membalas dendam kepada manusia bejat ini”


Pasukan Berata melepaskan Jean Luc dari kap mobil lalu mengikatnya di sebuah tiang listrik di pinggir sungai. Lalu tampak beberapa orang tua dan ibu-ibu termasuk anak-anak mengerumuni Jean Luc yang diikat, sebagian dari mereka maju dan meludahi Jean luc, suasana jadi sedih di tengah makian dan teriakan para ibu.


“kamu lihat Jean Luc, Tuhan tidak tidur, kamu akan di hukum atas kejahatan – kejahatan yangtelah kamu lalukan, kamu telah banyak mengambil nyawa orang tak bersalah, merusak banyak gadis, kamu pantas mati”, kata seorang ibu tua


Lalu seorang gadis kecil sekitar 10 tahun mengambil seorang batu segenggam tangannya dan melemparnya pada Jean Luc dan mengenai Dahinya, Jean Luc menangis kesakitan, “Itu untuk Ibuku yang kamu perkosa dan kamu bunuh, ini untuk Ayahku yang kamu tembak karena melawanku”, sambil melemparkan sebuah batu lagi yang mengenai bibirnya. Jean Luc berteriak kesakitan. Tanpa di komando para ibu dan orang tua mulai mengambi batu yang ada di sekitar tempat itu sambil melemparnya pada Jean Luc, hanya dalam waktu 15 menit Jean Luc sudah tewas menggenaskan dengan banyak luka akibat lemparan batu.


Setengah jam kemudian Tentara Prancis sampai di Bonneval, mereka melihat Jean Luc terikat di tiang listrik dalam keadaan tak bernafas, tentara menanyakan bagaimana kejadiannya tapi semua bungkam. Tentara kemudian mencari rekaman CCTV tapi anehnya tak ada satupun rekaman yang menunjukkan kejadian yang menimpa Jean Luc.


Suasana riuh rendah, tangisan, makian bergabung menjadi satu, Berata dan Anindya menghilang dari tempat itu bersama pasukannya tanpa disadari orang orang, tapi sebelum itu, Damar sudah menghapus semua data dari CCTV dari tempat kejadian. Pasukan Jose kembali ke pangkalan di Pulau Karang Suwung, Berata dan Anindya kembali melanjutkan perjalanan ke Bonneval-sur-Arc dengan motornya.


5 jam perjalanan di tempuh, Berata sampai di bawah gunung bersalju Cool de ilseran. Di kaki gunung itu terdapat desa yang asri dan indah, mereka memutuskan untuk mencari penginapan kecil yang asri dan memperkenalkan diri sebagai pasangan yang baru menikah. Mereka diterima pemilik penginapan seorang pria paruh baya yang tampak cukup kekar di lihat dari usianya, pria tersebut tampak ramah tapi terlihat misterius, matanya tak lepas dari Berata dan Anindya, pandangannya tajam menyelidik tapi ditutupi dengan sikap lembut tutur katanya.


“Selamat Malam Tuan, saya martin Le Blanc selamat datang di Desa Bonneval, kami menyambut anda dengan segala keramahan kami “, katanya sambil membungkukkan badan.


“Terimakasih Tuan Le Blanc , saya Berata dan ini istriku Anindya, kami dari Indonesia kami mau bersiwata di desa yang indah ini, siapa tau anda bisa menunjuukan kami tempat yang baik untuk kami kunjungi”.


“Oh tentu tuan dan nyonya Berata, kami sudah berpengalaman puluhan taun dalam mengelola pariwisata disini, kami yakin kami bisa membuat anda terpesona”


“Terimakasih Tuan Martin, kalau bisa kami diberi kamar yang bisa menghadap langsung dengan pemandangan kaki gunung”


“Kami punya, kami akan sediakan tempat yang anda minta Tuan Berata”.


Berata mengisi data tamu dan mengambil kunci, tapi dari sudut matanya dia melihat martin memberikan tanda rahasia pada pegawainya, hal ini menimbulkan kecurigaan Berata. “sayang, aku curiga, tempat ini tampak seram dan aneh”, kata Berata dalam hati kepada Anindya


“Iya kak, aku juga memperhatinya tempat ini menyimpan sesuatu yang misterius”

__ADS_1


“kita ikuti saja permainan mereka”


“baik kak”, kemudian pegawai mengantar mereka ke kamar yang bernuansa gotik eropa, Anindya menutup pintu dan menguncinya. Lalu merebahkan diri di tempat tidur.


“Sayang, ruangan ini tampak aneh, sepertinya ada banyak mata yang mengawasi kita”, kata Berata dalam hati


“Kak, kita pura pura tidak tau, sepertinya ada banyak kamera pengawas di kamar ini, kita pura pura tidur saja”


“Baiklah sayang”, lalu berata juga naik ketempat tidur setelah melepas alas kakinya, mereka berpura-pura seperti orang yang kelelahan. Tiba – tiba dari atas flafond keluar asap tipis.


“Kak, ada gas tidur yang di sebar di ruangan ini”, kata Anindya


“Iya sayang, kita pura pura saja tidak tau”


Setelah 5 menit gas tidur di lepaskan, sebuah rak buku di tembok , bergeser perlahan, dari dalamnya seorang laki-laki yang mengenakan pakaian putih, dia memeriksa denyut nadi Berata dan Anindya, “Mereka sudah tertidur”, katanya. Lalu keluar lagi 1 orang dari ruang rahasia di balik rak buku, mereka memeriksa seluruh barang bawaan Berata dan Anindya.


“Mereka orang miskin, lihatlah tidak banyak uang di tas mereka, tidak ada barang berharga selain pakaian”, kata yang lainnya


“Baiklah, aku akan mengambil sample darah mereka”


“Sampel darah”, Berata dan Anindya Berkata bersama di dalam hati.


Lalu laki laki yang pertama mengekuarkan sebuah suntikan kecil, kemudian mengambil lengan Berata, mencari nadinya di lengan, setelah didapatkan , orang itu menusuk tangan berata, tapi jarumnya langsung bengkok, dia terkejut, “ah jarum sekarang kualitasnya tidak baik”, pikirnya


Dia meminta suntikan baru kepada temannya, dan menusukknya, tapi kulit Berata tidak tembus, Berata tertawa dalam hati. “Sam kulit orang ini kenapa tidak bisa tembus ya???”, kata laki – laki berbaju putih.


“Mungkin kamu kurang keras menusuknya Jim”


“Aku coba lagi”, kata jimmy. Dia menusuk lenganberata dengan keras ndan jarumnya pun patah


“Jarumnya patah Sam, apa kulit orang ini terbuat dari batu ya, kenapa jarum setajam ini tidak tembus”


“Kita coba di istrinya”, kata Sam lalu mengambil suntikan untuk mengambil darang di lengan anindya, anindya diam saja. Sam menusukkan jarum, dan terjadi hal yang sama, 2 jarum suntiknya, patah.

__ADS_1


Sammy dan jimmy ketakutan, “Jimmy, sepertinya mereka bukan orang sembambarangan, jarum kita tidak mempan di kulit mereka, kita lapor Pak Martin”


“Sammy, kamu tau Pak Martin, dia pasti memukul kita karena gagal menjalankan tugas “


“Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukakan Jimmy, bukankan kita sudahlihat bersama kalau jarum sintik yang kita bawa tammampu menembus kulitnya, kita laporkan saja dulu, selain itu waktu kita tinggal 15 menit lagi sebelum mereka sadar”


“Baiklah kita tinggalkan tempat ini, rapikan semua kembali ketempat semula” kata Sammy. Lalu mereka berdua keluar dari kamar Berata melalui pintu rahasia di balik rak buku.


“Sayang , janganbergerak kata Berata, aku sudah meminta Damar untuk meretas tempat ini, dia minta waktu 5 menit untuk merekam kita saat tidur dan akan di putar di pengawas mereka sehingga kita bisa leluasa menyelidiki tempat ini”.


“Baik kak”, kata Anindya


5 menit dan mereka bangun dari tempat tidur, kemudian Berata mencoba mencari cara untuk membuka pintu rahasia, ternyata 1 buah buku yang di geser adalah Tuas pintu rahasia, Berata masuk sendiri, dia meminta Anindya tetap di dalam kamar. Berata masuk kedalam ruanga di balik pintu, ternyata itu adalah jalan atau lorong sebesar kira kira 60 cm yang menegelilingi seluruh ruangan dan kamar di hotel.


“hmm pantas saja aneh, aku merasa bangunan ini besar tapi ruangannya tampak lebih kecil, ternyata antara ruangan terdapat lorong pemisah”. Berata berjalan, dia melihat setiap cermin dalam kamar ternyata cermin satu arah, dia bisa melihat semua aktifitas tamu di dalam ruangan dari cerminnyang ada di kamar tamu.


“Semakin menarik tempat ini, ternyata ada rahasia yang tersembunyi disini”, lalu Berata menyusuri lorong rahasia sampai membawanya kesebuah ruangan bawah tanah. Berata masuk dengan perlahan, dia melihat banyak peralatan medis di dalam ruangan itu, ada beberapa meja operasi, juga beberapa lemari pendingin besar dan incubator .


“tempat apa ini??”, kemudian Berata membuka lemari pendingin, dia melihat mayat seorang lelaki yang tubuhnya sudah di jahit di bagian dadanya.


“Pedagang Organ Manusia”, jerit Berata dalam Hati, “Kurang ajar, ternyata tempat ini adalah kedok mereka untuk mencari mangsa dan korban untuk diambil organ tubuhnya” lalu Berata keluar dari tempat itu dan kembali kekamar dengan marah.


“Bagaimana Kak?” kata Anindya


“Tempat ini adalah kedok untuk perdagangan organ manusia , mereka sengaja menyasar turis asing yang datang kesini , sehingga tidak menimbulkan kecurigaan “


“Yang widi, kejam sekali mereka, kita hancurkan saja tempat ini”


“Pasti tapi tidak sekarang, yang penting sekarang adalah menyelamatkan para pengunjung tempat ini, jangan sampai mereka menjadi korban selanjutnya”


“Caranya gimana kak”


“Kita harus memaksa mereka para tamu keluar dari tempat ini, kita buat kebakaran sehingga semua keluar, barang bukti ada di ruangan bawah tanah ,kakak yakin akan aman, walau terjadi kebakaran”

__ADS_1


__ADS_2