
3 Bulan sudah Anindya dirawat, Setiap hari Berata menemani Anindya dengan penuh kasih. Hari ini Erika datang berkunjung dengan Abah. Erika menemani Anindya dan Abah Berbicara dengan Berata.
“Hi, kamu cantik sekali Anindya, pantas Berata sangat sayang padamu. sepertinya Berata merawat mu dengan benar, kamu tau dia sangat merindukanmu, aku ingat dulu saat dia bilang dunianya hanyalah kamu seorang. Kamu tau gak waktu kita Ospek, hihihi... dia itu idola para wanita.. mau itu mahasiswa baru atau kakak kelas, semua ngefans ke Berata, sampai sampai dia dimusuhi kakak kelas" Erika bercerita sendiri, Anindya mendengarkan tapi tak bisa merespon
“kamu tau, dunianya runtuh, semangat hidupnya hilang saat dia tidak bisa menemukanmu. Saat ini aku melihat semangat itu kembali, senyum itu kembali, dia sama sekali tidak terbeban dengan adanya kamu, tapi sebaliknya dia sangat bahagia, cahaya hidupnya telah kembali, bintang terang dihatinya telah kembali, kamu Anindya, kamu harus kuat, kamu harus bertahan Anindya demi Berata mu, kamu harus bangkit dan mengejar mimpimu untuk bisa bersama.”
Disisi yang lainnya. “Abah, apakah abah bisa membantu Anindya”” kata Berata
“Nak, tidak ada yang tidak mungkin Bagi Gusti Allah, selalu ada jalan untuk Kesembuhan Anindya, Abah pernah mendengar Legenda Tabib Sakti di Lereng Gunung Agung, Para tetua dahulu bilang titisan Dewi Dewantari tabib para dewa, tidak ada yang tidak bisa di sembuhkan nya, Abah dengar konon kabarnya terakhir dia muncul 50 tahun yang lalu, hanya yang berjodoh yang bisa menemuinya”
“Berata akan mencobanya Abah, tapi saat ini Berata ingin merawat Anindya dengan Baik, Berata akan mencoba mencari Dokter terbaik untuk mengobati Anindya.”
“Yang kamu lakukan sekarang adalah kamu harus meminta selalu Petunjuk Gusti Allah Supaya Beliau memberikanmu petunjuk untuk jalan kesembuhan Anindya”
“Baik Abah, Berata akan melakukan semua yang Abah katakan”
“Berata, Abah memberikan benda yang paling berharga yang Abah punya”, memberikan sebuah kotak kayu kecil kepada Berata, “ Ini adalah bunga Rumput Gunung Kailash, rumput ini rumput langka yang tumbuh dalam lapisan Es Abadi. Bagi dunia persilatan rumput ini bagai berlian yang sangat berharga, karena mereka yang memakannya akan naik kekuatannya sampai 100 kali lipat dan kekuatan ini akan abadi di dalam tubuhnya, semoga bunga rumput ini bisa memberi kesembuhan pada Anindya”
“Abah, terimakasih banyak, ini pasti sangat membantu kesembuhan Anindya”
Abah dan Erika kemudian meninggalkan rumah Berata. Sesuai petunjuk Abah, Berata memasak Bunga Rumput tersebut, bukan dengan api tetapi Tenaga Dalam. Tepat tengah malam obat tersebut selesai.. kemudian Berata membangunkan Anindya dan memberikan obat tersebut kepada Anindya.
Berata membuka penutup selang makanan yang ada di perut Anindya, Selang ini di buat oleh Dokter langsung ke lambung, untuk menjaga nutrisi makanan. Makanan yang diberikan lebih banyak berupa cairan berupa susu dan air.
Berata memasukkan makanan dengan perlahan, Saat cairan tersebut telah masuk semua ke tubuh Anindya, tubuh Anindya yang sebelumnya hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin, dingin sedingin es, hawa dingin pun mulai keluar dari tubuh Anindya, Berata mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menahan hawa dingin tubuh Anindya, perlahan tubuh Anindya tampak terangkat dari tempat tidur melayang hingga hampir 30 cm dari Kasur, kemudian tubuh Anindya mengeluarkan sinar tipis berwarna biru. Perlahan dalam 1 jam tubuh Anindya tampak kembali hangat, semua bekas luka dalam tubuh Anindya menghilang, wajahnya dan kulitnya bercahaya.
Anindya kemudian meminta Berata melepas selang oksigen karena membuatnya tidak nyaman, karena setelah minum ramuan Bunga Rumput Kailash semua peredaran darah nya terasa lancar, nafas pun terasa lancar. Bahkan saat ini kelopak mata Anindya yang sebelumnya selalu terbuka sudah bisa menutup dan berkedip pelan.
Berata sangat terharu kemudian meminta 2 Perawat yang berjaga untuk memeriksanya, 2 perawat sangat terkejut melihat perubahan dalam tubuh Anindya, tapi tidak berani mengambil keputusan sendiri sehingga menelpon dokter untuk memeriksanya.
Dr. Heru segera meluncur ke rumah Berata, dia adalah salah satu dokter yang merawat Anindya. Dokter muda berumur 27 tahun.
Dr. Heru sangat terkejut melihat Anindya, Anindya terlihat sangat sehat, dan tanda vitalnya sangat baik sehingga dia mengijinkan untuk untuk melepas alat bantu pernafasan dari tubuh Anindya.
“HHmmm, gadis ini sangat cantik, baru pertama kali aku melihat pasien secantik ini, sayang dia koma”. Dia tersenyum, “ini mungkin kesempatan bagiku, dia sangat cantik aku tak sabar untuk menyentuhnya”, kata dr. Heru
__ADS_1
…….
Hari-hari seterusnya tampak Heru semakin rajin untuk datang ke tempat Anindya, Saat memeriksa Anindya dia dengan sengaja memberi sentuhan sentuhan ringan pada bagian bagian sensitif Anindya, Anindya pikir itu tak di sengaja dan bagian dari tugasnya.
“Aku harus mencari cara untuk bisa menikmati tubuh gadis ini saat Berata tidak ada, 2 perawat itu bukan apa apa, halanganku Cuma Berata”, gumam heru dalam hati.
Sore harinya setelah Perawat membersihkan tubuh Anindya, Berata menemani kekasihnya, mata Anindya sudah bisa berkedip sangat bahagia dengan perlakuan dan kasih sayang Anindya
“Anindya , kakak mau minta ijin untuk bertugas selama 1 minggu, Negara memanggil pasukan kakak untuk menyelesaikan Penyanderaan dokter oleh separatis di perbatasan Papua” berata terlihat sedih
Anindya meminta Berata untuk membawa tangan Anindya membelai rambut Berata, “Kak,pergilah, Tugas Negara adalah kewajiban untuk Semua warga negara untuk berpartisipasi”
“Sayang, kakak berjanji ini adalah tugas terakhir, setelah itu kakak akan mengundurkan diri, kakak akan berada di sampingmu setiap hari”
“Kak, apapun keputusan kakak, Dya mendukung kakak, berada disini bersama kakak saja sudah membuat Dya Bahagia.”
“Sayang ayo kita menikah setelah kakak kembali ”, kata Berata tiba tiba
“Kakak mau menikahi Dya??”
“ih, kakak modus nie”
“Bukan itu sayang, saat ini perawatlah yang merawat mu setiap hari, nanti kalo kita menikah, kakak yang akan merawat Dya setiap hari, sebagai suami kakak harus bertanggung jawab kepada istrinya.”
“Kakak tidak malu punya istri yang mati suri seperti Dya??”
“Kakak tidak pernah malu Dya, bila perlu kakak akan mengajakmu pergi ke seluruh dunia bersama”
“Kakak, aku ingin memeluk kakak”
Berata memeluk Anindya daan mengalungkan tangan Anindya di tubuhnya.”
Esok paginya Berata pergi bersama team Jatayu lengkap, dan berata minta para gagak untuk mengambil tugas untuk menjaga Anindya.
Hari kelima, datang dr. Heru ke rumah Berata dengan alasan untuk memeriksa kesehatan Anindya. Penjaga mengijinkannya. Dia juga membawa makanan cepat saji dan minuman untuk 2 orang Perawat Anindya.
__ADS_1
Dia berpura pura menanyakan catatan medis Anindya, setelah beberapa saat 2 perawat tersebut pingsan, ternyata minumannya sudah dibubuhi obat tidur.
Kemudian dia melepas jas dokternya, dan masuk ke ruang perawatan Anindya. Saat itu Anindya tengah tertidur.
“Huh… sangat cantik, gadis ini, tak tahan aku untuk segera menyentuhnya, aku sangat beruntung Berata pergi dan perawat bodoh itu sudah tertidur”
Dia menyentuh rambut Anindya, “Kamu sangat Cantik sayang… huuhh.. mulus sekali”, dia menyentuh kulit tangan Anindya. Anindya terbangun, batanya membelalak .
“Kenapa sayang kamu tidak suka??, sebentar lagi kamu akan suka, aku dengar kamu masih gadis, tapi tenang aku akan melakukannya dengan perlahan, kamu pasti akan menikmatinya” Heru menyentuh jari Anindya perlahan naik sampai ke pundaknya… “Memang kamu sangat cantik, sebentar lagi kamu akan jadi milikku gadis kecil”
Dia kemudian berusaha untuk membuka kancing baju Anindya, Anindya yang tak bisa bergerak lalu berteriak “Kak, Berata Tolong” bola matanya melotot memandang Heru
Kancing Pakaian paling atas sudah terbuka, dia menyentuh leher Anindya dengan tangannya lalu turun untuk membuka kancing yang kedua
“Kak, Berata tolong”, teriak Anindya
Belum sempat dia membuka kancing kedua baju Anindya. Tiba tiba Berata yang masih dengan pakaian Milter Ada dibelakangnya, memegang tangan kanan Heru.
Heru terkejut, “Berata, kau kau bukankah kamu sedang di Papua”
Berata kemudian mencekik leher dr. Heru dengan kanan kanannya.
“Tutup matamu Dya”, Menoleh Heru,”Kamu terlalu berani untuk menyentuh Anindya ku, kamu pantas mati” Kata Berata
“Kamu juga akan mati, hahaha “Heru tertawa
“Krak”, leher Heru patah dan tewas di tempat, dia melemparkan mayat itu ke Lantai di luar ruangan. Berata lalu memeluk Anindya,”maafkan kakak sayang, kakak sudah meninggalkanmu dalam bahaya”
Anindya pun menangis, air mata mengalir membasahi bahu Berata.
Kapten Sagara kemudian datang dan memeriksa mayat tersebut, ternyata terdapat tato ular kecil di lengannya. Tapi meraka tidak memperhatikan hal tersebut.
Setelah kehebohan tersebut di dapati kalau dr. Heru itu baru 1 bulan bekerja di Bali Internasional Hospital
1 bulan kemudian Berata menepati janjinya untuk menikahi Anindya. Pernikahan dilakukan di sebuah Villa yg dibeli Berata sengaja sebagai Hadiah pernikahan nya untuk Anindya. Pernikahan hanya dihadiri keluar dekat saja. Anindya tampak sangat cantik dengan gaun sederhana , dan hiasan bunga baby breathe di kepala. dengan kursi Roda berpenyangga kepala, Berata mendorong kursi roda sampai di tempat acara dan mengucap janji pernikahan.
__ADS_1
Makan malam keluarga juga dilakukan, sepanjang acara Berata tak pernah jauh dari kursi roda Anindya, semua sangat bahagia, sekaligus hari dengan perlakuan dan cinta kasih Berata kepada Anindya.