Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 53. Lebih baik melawan 10.000 tentara


__ADS_3

Berata naik puncak gunung Fuji, diatas puncak gunung bersalju itu berata Bersemedi dan menyerap energi bumi dan langit dari Gunung Fuji yang dikenal dengan Gunung Fujiyama atau Gunung Keabadian.


Diatas Gunung Fuji Berata memanggil Dewi Dewantari. Berata menyerahkan Cincin Api kepada Dewi Dewantari.


“Berata, Beri aku waktu 1 bulan untuk menyembuhkan dan melatih Anindya, setelah itu kamu boleh datang ketempatku” Kata Dewi Dewantari


“Baik Dewi Dewantari, bolehkan Hamba menjenguknya, hamba sudah tidak kuat untuk menahan rindu hamba”, kata Berata dengan malu


“Hanya 1 bulan Berata, dan kalian bisa bersatu lagi, aku paham kamu sangan mencintai Istrimu”, kata Dewi Dewantari


“ Baik Dewi” kata Berata Menghormat lalu Dewi Dewantari menghilang. Berata memilih untuk Bersemedi selama hampir 1 Bulan diatas Gunung Fuji tanpa air dan makanan untuk menyembuhkan luka lukanya sekaligus untuk memperbaiki Baju Zirah Naga Anta yang Rusak. Puncak Gunung Fuji diselimuti Es Abadi adalah tempat yang sangat baik untuk memperbaiki Zirah Naga Anta karena kaya akan energi spiritual. Setelah itu dia pergi kembali ke Villanya di Nusa Penida.


Hampir 1 bulan lebih dia meninggalkan Villanya, pada bagian atas tidaklah banyak pada perubahan hanya terlihat beberapa kamera pengawas dan kamera intai jarak jauh untuk mengawasi laut dan kawasan udara.


Berata turun keruang Bawah tanah, tampak kesibukan yang luar biasa di ruang tersebut, anggota pasukan Berata, Para Gagak dan bawahan Damar sedang mempersiapkan sebuah ruang komando operasi.


“Selamat datang Bos”, kata Damar, lalu semua datang bersalaman dengan Berata.


“Bagaimana Persiapannya Damar”, kata Berata


“Untuk Ruang Operasi dan Kontrol dalam waktu 2 minggu lagi sudah akan selesai, untuk bangunan tempat tinggal pasukan akan selesai dalam 1 bulan, Aku sudah mengukur luas ruangan bawah tanah ini Berata, hampir mencapai 3 km2, cukup untuk kita menempatkan pasukan yang besar disini” Kata Damar


“Aku tidak ingin pasukan yang besar tapi aku ingin pasukan yang efektif, 99 pasukan eks Jatayu dan Para gagak sudah cukup untukku melakukan operasi atau menaklukkan sebuah negara kecil. Oleh sebab itu setiap hari kalian akan berlatih denganku, untuk pasukan pendukung atau logistik aku mau diurus dengan baik sehingga tidak seorangpun dari angota kita membocorkan tempat ini.”


“Baik Berata, kami juga sudah membuat 2 buah pintu masuk dari atas bukit ini yang bisa terbuka dan tertutup hampir seluar 50 m2, nantinya kita bisa lepas landas pesawat secara vertikal dan kami juga menemukan sebuah kolam dan terowongan bawah air yang langsung terhubung dengan laut lepas sehingga kalau kita nanti memiliki kapal selam, kita bisa menggunakan tempat itu sebagai keluar masuknya”, Kata Damar


“Pekerjaan yang Bagus, Sebentar lagi aku akan menjemput Istriku, aku punya hadiah untukmu”, kata Berata lalu dia mengeluarkan senjata - senjata dan Batu Surga yang jadi sumber tenaga utamanya. Lalu dia mengambil sebuah pistol, kemudian menembak sebuah batu yang tampak lebih tinggi dari yang lainnya, dia menembak, sinar laser keluar mengenai batu itu dan batu tersebut hancur menjadi debu.


“Senjata Neraka”, kata Damar


“Benar, jika sampai jatuh di tangan orang yang salah, oleh sebah itu kita harus bersiap, Wrath Of God punya teknologi ini, sebab itu kita tidak boleh lengah, kita harus lebih maju dari mereka, dan Kamu Damar, Prioritas pertamamu adalah menemukan semua informasi tentang keberadaanWrath of God, kita akan menghancurkannya sebelum mereka menjadi ancaman bagi umat manusia”, kata Berata


“Siap Bos”, kata Damar.


“jangan lupa juga untuk mencari jejak perusahaan Ayahku, kamu sudah gagal bertahun-tahun , kadangkala aku bertanya pada diriku, benarkah kamu itu Red Shadow yang hebat itu”, Kata Berata sambil tersenyum


“Ah, kamu meremehkan aku Berata”, kata Damar tersenyum masam


“Dan satu lagi kamu tidak boleh menikah dengan Bintang kalau belum menemukan Perusahaan Ayahku”, kata Berata.


“Eh itu tidak ada hubungannya”, kata Damar tapi Berata pergi dari tempat itu. Semua yang mendengar langsung tertawa lebar, “Kakak ipar rasa Bos” kata yang lainnya.


Berata lalu pergi ke Devanagari di lereng gunung Agung, desa ini tak akan bisa ditemukan olah orang biasa karena berada pada alam yang berbeda. Setelah Meminta ijin pada Dewi Dewantari, Berata bisa memasuki Devanagari. Di pintu masuk telah berdiri dengan gagah Anindya dengan Baju Berwarna biru muda, sangat Cantik. Melihat itu Berata sangat Senang lalu berlari menuju Anindya tapi saat dekat, Berata jatuh terjengkang, Berata seperti menabrak tembok.


“Sayang, kenapa kamu memasang perisai udara ini??”, kata Berata tak mengerti


“Dya kira kakak sudah lupa kalau punya istri disini”, katanya dengan ketus


“Bagaimana bisa kakak bisa lupa sayang?”

__ADS_1


“Bukankah Dewi Dewantari bilang waktunya 1 bulan. Ini sudah lebih dari 1 bulan, lebih baik tidak usah datang”, kata Anindya.


“Bukan Begitu Sayang, Setelah pertarungan dengan Dewa Api Kagutsuchi, kakak bersemedi diatas Gunung Fuji untuk mengobati luka luka kakak dan memperbaiki Baju Zirah Es Naga Anta”


“Lebih dari 1 bulan??”


“iya luka luka kakak parah, jadi kakak berpuasa lebih dari 1 bulan lalu kembali ke rumah setelah itu kesini”


“Kenapa tidak langsung kesini,kenapa harus pulang dulu??”


“Sayang, dalam perjalanan kakak banyak menemukan senjata dan teknologi yang dikembangkan oleh musuh, jadi kakak membawanya dan memberikannya kepada Damar, lalu kesini, langsung tanpa istirahat”, kata Berata


“Banyak Alasan”, kata Anindya langsung meninggalkan Berata yang bengong tak mengerti


“Ternyata kadar cemburunya masih belum berubah, kalau begini saja membuat dia marah, bagaimana menceritakan perihal mawinei”, pikir Berata sambil menggaruk kepalanya.


Lagi Anindya berbicara, “Mau ikut masuk atau tetap diam disana, kalo diam disana lebih baik pulang saja”, katanya sambil berjalan meninggalkan Berata.


Berata langsung mengejar Anindya kali ini tidak ada perisai udara yang terbentuk dan Berata langsung memeluk Anindya dari belakang, “Sayang jangan marah, kakak kangen sama kamu”, kata Berata


“Abis kakak Dya tungguin hampir 1 minggu baru muncul disini”, Kata Anindya


“Maafkan kakak, jangan marah lagi sayang, kakak sangat rindu padamu”, kata Berata


lalu Anindya berbalik dan memeluk Berata, “Jangan Diulangi lagi”. Mereka berpelukan degan hangat lalu muncul Dewi Dewantari, yang membuat mereka salah tingkah.


“Mari ada yang ingin aku biacarakan, duduklah disini, kita harus membicarakan hal ini, Berata” Kata Dewi Dewantari mengajak untuk duduk di meja kayu yang ada di depan mereka.


Dewi Dewantari menghela nafas dalam, Berata dan Anindya sedikit kebingungan tentang apa yang akan di bicarakan oleh Dewi Dewantari.


“Berata, Anindya ada 2 hal yang ingin aku katakan kepada kalian, Yang pertama, Anindya sudah sembuh, 4 unsur bumi telah menyatu dalam dirinya sehingga dia mampu menguasai dan menggeraklan, Air, tanah, api dan udara, Kemampuan Anindya Setara denganmu saat ini, jadi jika kalian bisa bekerja sama, kalian akan bisa mengalahkan Raja iblis”, kata Dewi Dewantari


Mendengar hal tersebut Berata sangat Bahagia, dia mengelus rambut Anindya dan memeluknya, “Lalu apa yang kedua Dewi”, kata Berata.


Dewi Dewantari menarik nafas dalam lagi,”maafkan aku, tapi aku harus mengatakan ini, demi kebaikan kalian. Karena Anindya sudah pernah kembali dari alam kematian maka maafkan aku, Kamu dan Anindya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan”


Kata-kata yang seperti geledek menyambar, air mata Anindya menetes, Berata menghapus air mata Anindya, lalu berjongkok di depannya, “Sayang itu tidak menjadi masalah bagiku, hanya satu yang kuinginkan, Bersamamu selalu dalam suka atau pun duka, itu sudah cukup”


“Tapi kak, memiliki anak adalah impian dari semua orang, aku akan menjadi wanita yang gagal”, kata Anindya


“sama sekali tidak sayang, sama sekali tidak, tujuan kakak menikahimu karena kakak menyangimu dan ingin bersama dengan kamu, ada atau tidaknya seorang anak adalah kehendak Dewata, Kakak tidak akan menpermasalahkannya, hanya bersamamu saja, itu sudah cukup, bukankah kakak selama ini sangat bahagia bisa merawatmu dengan saat sakit, jadi jangan takut, kamu selalu jadi nomer satu dihatiku sayang”


“Terimakasih kak, sudah mau mengerti Dya”.


“Berata, aku pikir kamu harus menceritakan semuanya yang kau alami dalam perjalanan kepada Anindya, supaya kedepannya tidak menjadi batu sandungan untuk kalian berdua”, kata Dewi Dewantari


“Apa maksud Dewi Dewantari “, suara Anindya langsung berubah. Tapi dewi dewantari beranjak pergi, kamu harus menjelaskannya sendiri Berata, kalau sudah selesai aku akan datang lagi”, kata Dewi Dewantari sambil tersenyum.


Anindya langsung melepaskan genggaman tangannya kepada Berata,”Ada yang kakak sembunyikan??”

__ADS_1


“Duduklah dahulu, kakak akan ceritakan Semuanya padamu, tak ada yang kakak sembunyikan “ Lalu Berata bercerita tengan Akira Nara dari awal pertemuannya, dia harus keluar dengan Akira Nara, ajakan Akira Nara untuk pergi bersama sampai akhirnya Akira Nara mati di tangan Iblis Bakebono.


“Jadi kakak memberinya Tusuk konde sebagai kenang – kenangan??? Dasar lelaki Perayu, matanya jelalatan kalau melihat wanita cantik”, sambil menggebrak meja


“Lalu apa hadiah untukku”, kata Anindya ketus


“Sayang tenang, kakak sudah menyiapkan hadiah untukmu, aku memberikan kamu Seekor Phoenix Api sebagai tungganganmu kalau sayang ingin pergi, Phoenix api keluarlah”, kata Berata lalu phoenix api keluar dari cincin Berata dan terbang mengitari Devanagari kemudian turun dihadapan Anindya dan menghormat, “Hormat kepada dewi pengendali Api”,kata Phoenix Api.


Anindya sangat senang, lalu melompat keatas punggung Phoenix api, “Mari kita lihat kemampuanmu”, Phoenix api sangat senang lalu mengajak Anindya terbang, berputar diatas langit Devanagari dengan kecepatan yang sangat tinggi, terbang menutar, bergulung-gulung, menukik, kemudian Anindya mencoba berdiri diatas punggung Phoenix api, “Phoenix Api, kita harus belajar bertarung saat aku berdiri di atas penggungmu”. Anindya memepuk leher Phoenix Api.


“Baik Dewi”, kata phoenix api lalu , mereka turun kembali kepada Berata.


“terimakasih Tuan Berata, dengan bantuan anda, hamba telah berhasil memiliki 3 buah telur yang nantinya akan menjadi penerus keturunan Burung Phoenix api di dunia ini”, kata Phoenix api kepada Berata, lalu masuk ke dalam cincin Berata. Lalu Berata mengeluarkan juga 8 Serigala temasuk Uila Serigala putih.


“ini Uila, Serigala putih dan 7 saudaranya”, kata Berata


“Hormat kepada Dewi”, Kata 8 Serigara tersebut. Lalu berata meminta mereka kembali masuk kedalam cincin api.


“Apakah sudah semua kakak ceritakan?”, kata Anindya curiga.


“Belum “Kata berata dengan muka tegang


“Kenapa wajah kakak berkeringat, apakah ini tentang wanita lagi” kata Anindya


“Sabar sayangku, aku akan bercerita semuanya, takkan ada yang kakak sembunyikan”. Lalu Berata bercerita tentang Mawinei, gadis yang ditemuinya di Gunung Kinabalu. Berata bercerita tengang Hantu Minyak, dan menyelamatkan Mawinei. Lalu bercerita bagaimana orang orang mendesakknya untuk menikahi Mawinei yang sangat – sangat mirip dengan Anindya. Bercerita juga bagaimana menolak permintaan penduduk desa dan mengancam mereka denganmengajaknya bertarung. Lalu Bagaimana mawinei memohon padanya untuk memberikan setets darahnya sebagi kenangan agar Penduduk desa tidak mengusir Mawinei sekeluarga. Lalu Berata diantarkan menuju kuli Bumi di Hutan Gunung Kinabalu.


“Jadi kakak lagi-lagi memberikan kenang - kenangan kepada gadis itu ?”, kata Anindya


“Hanya Setetes darah sayang, apalah artinya itu”, kata Berata


“Memang kakak laki-laki tak setia”, wajak Anindya memerah, tiba tiba meja tempat berata duduk hancur oleh gundukan tanah yang tiba tiba naik, kemudian tanah itu membentuk seperti balok menyerang berata, Anindya sekarang bisa mengendalikan tanah untuk menyerang Berata. Dan berata berhasil menghindarinya


“sayang hentikan, kakak tidak pernah berselingkuh atau suka dengan orang lain, kakak hanya menolong dia”, kata Berata


“Tadi Konde, sekarang darah, apa artinya itu kalau tidak selingkuh”, kemudian batu batu besar di sekitar Devanagari bersatu membentuk manusia raksasa dari batu, manusia batu tersebut menyerang berata, bertubi-tubi, sampai suatu saat Berata lengah sebuah serangan dan pukulan manusia batu mengenai tubuhnya


“Sayang hentikanlah”,kata Berata tapi tiba tiba tanah di bawah berata membentuk balok dan menghantam punggung berata dan melemparnya keudara. Belum sempat menyelamatkan diri tiba tiba angin ****** beliung menyambar tubuh berata dan menghempas tubuh berata berkali kali


“Sungguh hebat kekuatan istriku ini”, kata Berata. Kemudian Anindya menghunus shotel kembar pemberian Berata


“Sayang.. hentikan, kakak mengaku bersalah, kakak bodoh kakak tidak tau cara memerlakuan wanita dan menjaga diri dari kejaran wanita, maafkan kakak’, kata Berata


“Ooo… jadi begitu, sekarang merasa diri paling ganteng sehingga dikejar-kejar banyak wanita, rasakan ini”, Anindya menyerang Berata dengan 21 gerakan Shotel surgawi.


“Aduh salah ngomong lagi”, kata Berata.


Berata yang melihat gerakan aneh dan hebat dari Anindya lalu mengeluarkan seruling saktinya sebagi pengganti pedang, mereka bertarung dengan hebat, Anindya mampu menghadapi dan menyulitkan berata, tak terasa mereka hampir bertarung 1 jam dan 343 jurus bagian pertama sudah semua di keluarkan Anindya.


“ini baru 343 jurus bagian pertama, masih ada 20x343 jurus lagi, hadapi Dya”, kata Anindya

__ADS_1


“Berata menggelengkan kepalanya, LEBIH BAIK MELAWAN 10.000 TENTARA SEKALIGUS DARIPADA MELAWAN ISTRI YANG SEDANG CEMBURU”, gumannya dalam hati.


__ADS_2