Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 37. Menghilang


__ADS_3

7 hari sejak pertemuan terakhir Berata ke rumah Anindya ternyata rumah tersebut sudah kosong . Seorang tetangga mendatangi Berata mengatakan kalau sudah dua hari rumah ini kosong, katanya pergi jauh tidak akan kembali lagi


Berata pergi dari rumah Anindya, lalu tiba tiba teringat, kemudian memeriksa hp-nya, mencari titik lokasi di mana Anindya sekarang. Titik lokasi Anindya ternyata ada di rumah sehingga ia memutuskan kembali ke rumah Anindya dan coba masuk ke dalam rumah Anindya dari jalan belakang


Setelah Berata masuk ke dalam rumah , Berata sangat terkejut karena keadaan rumah tampak kosong. Berata memeriksa seluruh ruangan yang ada di dalam rumah itu, didapati bahwa barang-barang dalam rumah itu sudah benar benar kosong, tidak ada pakaian yang tersisa. Poto - poto yang dulu banyak didinding sudah dilepas semua.


Berata kemudian masuk ke dalam kamar Anindya, di atas tempat tidur dia mendapati sebuah map berwarna coklat yang di atasnya terdapat jam pemberian Berata kepada Anindya. “Pantas titik lokasi Anindya masih ada di rumah ini”, pikir Berata


Berata membuka map tersebut, dia terkejut. Dia melihat foto yang sudah dirobek-robek. Berata kemudian mencoba – coba menyatukan potongan-potongan foto tersebut dan di lihatnya semakin membuatnya terkejut, ternyata poto-poto yang di robek itu adalah Poto dia bersama dengan beberapa orang gadis.


" siapa yang melakukan ini semua", teriaknya dengan marah. Berata melihat juga tulisan berwarna merah di dinding kamar Anindya.


“Jangan pernah mencari Anindya lagi, kakak sudah mengkhianati Anindya. Anindya tidak akan pernah memaafkan kakak lagi. Jangan pernah mencari Anindya lagi. Anindya benci kakak.”


“Arrrgh… “Berata berteriak dan tak disadari mengeluarkan tanaga dalam yang seperti angin yang bertiup dan langit pun langsung mendung, petir menyambar di udara. Kemudian pelan – pelan Berata mulai menguasai dirinya, petir dan mendung pun berangsur-angsur menghilang. hal ini tentunya membuat orang kebingungan.. apa yang sebenarnya sedang terjadi


Membaca tulisan tersebut Berata sangat sedih, hatinya hancur , dia tidak mengerti apa kesalahannya, Poto itu pun rekayasa, dan dia tidak pernah melakukan hal yg dilihatnya di poto.


“Anindya kenapa kamu tidak memberikan kakak kesempatan untuk menjelaskannya,kamu pergi begitu saja, tanpa pesan kemana dan dimana”


Berata menangis memanggil nama Anindya, dia kerahkan semua kemampuannya untuk mencari Anindya, tapi sepertinya Anindya menutup dirinya rapat-rapat. Semua ilmu yang dia pelajari seakan tak berguna untuk mencari keberadaan Anindya.


“Oh Tuhan kenapa aku sekarang tidak bisa merasakan kehadiran Anindya Sedikitpun, berbicara pun tidak bahkan aku biasa melihatnya dalam tapaku, kenapa sekarang tidak bisa”, Berata Berteriak


Kemudian dia menelpon Damar meminta untuk mencari keberadaan Anindya.


Merata meratap dalam kesedihannya, pandangannya kosong, kemudian dia berjalan Keluar tanpa arah dan tujuan untuk mencari Anindya.


Damar menelpon Berata dan mengirim kan citra satelit kepada Berata, Anindya sudah pergi dari Rumah 2 hari yang lalu dan langsung menuju Amerika, Pasport dan Visa perjalan dan tiket perjalanan pun dikirim. Jelas Anindya dan keluarga dijemput beberapa laki laki dengan mobil Pengawalan langsung menuju Bandara Internasional Ngurah Rai dan terbang menuju New York Amerika.


Berata sangat terpukul, dia kembali kerumah kos. Dia mematikan Hpnya dan menutup pintu kamarnya dan menyendiri


1 bulan sudah semua orang mencari Berata, semua bingung termasuk ibunya dan sahabatnya, sampai masuk ke televisi dan internet, tapi semuanya tanpa hasil sampai Damar pun tidak menemukan keberadaan Berata. Berata menghilang dari rumah kos, semua tanda pengenal nya ditinggalkan, termasuk HP dan Dompet.


3 bulan pencarian tidak membuahkan hasil, sampai terdengar berita di media online, seorang gelandangan menyelamatkan seorang gadis kecil yang tiba – tiba menyeberang dengan sembarangan, Gelandangan tersebut memeluk gadis itu dan membiarkan dirinya tertabrak Truk yang melaju, Tubuh berata dan Gadis itu terpental hampir 20 meter, tapi anehnya dia tidak luka apapun bahkan gadis dalam pelukannya pun selamat.


Video tersebut langsung Trending dan Damar Segera memberi tahu Kapten Sagara bahwa itu pasti Berata, dan langsung mengirim koordinat keberadaan Gelandangan yang mirip Berata


Lalu muncul sebuah video Gelandangan tersebut dipukuli karena dituduh mencuri di daerah Banten – Jawa Barat, anehnya walau dipukuli tidak tampak satupun luka di badannya. Kapten Sagara yang melihat berita tersebut segera mengontak team Banten untuk segera mengamankan dan menjaga gelandangan tersebut dan Kapten sendiri langsung terbang menuju banten. Dia berangkat tidak sendiri, dia mengajak Kakek Banaspati dan Abahnya Erika untuk berjaga -jaga


Kapten Sagara yang melihat Berata kemudian memeluknya erat


"Ayo kita kembali pulang”, Kata kapten Sagara


“SIapa kamu??, aku mau cari Anindya”katanya

__ADS_1


“Aku mau cari Anindya”, Berata berteriak, semua orang menutup telinga dan kaca- kaca jendela diruang polsek langsung pecah. Para polisi yang berjaga di polsek bergegas untuk mengamankan Berata, tapi mereka tidak mampu menahan kekuatan Berata dan terlempar.


Kakek Banaspati dan Abah langsung mengambil tindakan pengamanan dengan mencoba melumpuhkan Berata, tapi mereka bukan lawan Berata yang sedang tidak sadar. Kakek Banaspati dan dan Abah terlempar ke halaman Polsek


“Berata tenangkan dirimu”, kata Kapten Sagara


“Kamu mau menghalangiku mencari Anindya”, lalu menyerang kapten Sagara, hanya 3 pukulan kapten Sagara sudah tersungkur di tanah.


Kakek Banaspati dan Abah kemudian menyerang dari kedua sisi, tapi dengan cepat berata menangkap dan memegang leher kedua orang tua tersebut. Kakek Banaspati ditangan kirinya, dan Abah di tangan kanannya sedangkan Kapten Sagara tidak bisa bergerak karena dadanya diinjak Berata .


“Kalian Mencari mati karena menghalangiku mencari Anindya”


Semua orang yang menonton berteriak ketakutan , ada juga yang memohon untuk melepaskan mereka.


Wajah Berata berubah seperti iblis, hawa kematian yang keluar dari dirinya membuat semua orang ciut nyalinya. Bahkan seorang polisi yang coba melumpuhkan berata dengan tembakan, sia sia karena setiap peluru yang mengenai berata langsung jatuh ketanah dengan suara berdenting.


Lalu seorang anak perempuan berusia kira kira 5 tahun berlari mendekati Berata, semua yang melihat menahan nafas, tak sanggup menghalangi anak kecil tersebut pergi kearah Berata. Anak kecil tersebut kemudian memeluk kaki Berata, sambal menangis dia berkata “Kakak, lepaskanlah mereka, lepaskan mereka”


Berata yang dipeluk kakinya oleh gadis itu terkejut, perlahan dia menatap mata si anak kecil tersebut, matanya bagai langit yang luas. Kemudian Berata perlahan tersadar , tangannya melepaskan kakek Banaspati dan Abah. Kemudian berata tiba tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Melihat Berata tak sadarkan diri, Kapten Sagara segera mengangkat Berata, memasukkan kedalam mobil dan mereka berempat segera meninggalkan polsek untuk mencari tempat yang relatif sepi, takut berata tidak sadar lagi.


Akhirnya Abah memutuskan untuk membawa Berata ke sebuah padepokan di lereng Gunung Gede.


Selama 3 hari Berata di rawat oleh para guru padepokan dan juga Abah.


Sementara itu kejadian di Polsek telah membuah kehebohan besar, semua bertanya – Tanya siapa Gelandangan yang menyedikan itu, videonya pun trending, dan Damar sengaja tidak menghalangi penyebarannya supaya Anindya pun menonton.


“Siapa Anindya yang dicari gelandangan itu” itulah judul – judul berita online dan cetak mengomentari kejadian Berata


“Siapa Anindya??, apakah dia pacarnya atau dia adiknya”


Video tersebutpun akhirnya sampai pada Aninditha di Amerika, dia menangis, melihat Berata, kemudian menunjukkan pada Ibunya.


“Ibu, kita berdua telah berdosa membuat Kak Berata seperti ini, tidakkah ibu lihat tindakan ibu telah mengorbankan Berata dan Anindya?? Ibu lihat Anindya keadaanya pun tidak lebih baik dari berata. Ibu kita harus hentikan semua ini”


“Tidak, ini semua demi kebaikan kalian”


“ibu, tidakkah ibu lihat kalau Anindya sudah seperti mayat hidup selama 3 bulan ini, tak sekalipun dia terlihat berbicara dengan orang lain”


“Semua demi kebaikan kalian, Barata tidak baik buat hidup kalian


Anindya setelah berada di Amerika, selama 3 bulan ini hanya berada di kamar, mengurung diri , tak pernah berkata sepatah katamu kepada Ibunya ataupun Aninditha, pandangannya selalu kosong


Anindya dan aninditha di ajak ke Amerika oleh ibunya, Saudara Bu agung adalah pegawai senior konsulat Indonesia di Amerika. Rencana nya Anindya akan melanjutkan kuliah hubungan Internasional DI Amerika.

__ADS_1


Sementara itu, Berata sudah berada di alam kematian tapi Neraka tak mau menerimanya begitu pula dengan surga.


“Aku tidak akan pulang, aku disini saja, tempat ini bagiku sangat nyaman” dan tak satupun pengawal pintu surga dan neraka berani melarang Berata


Sementara itu Anindya yang melamun tiba tiba melihat bayangan Berata dalam lamunannya. Dia melihat berata ada di sebuah tempat yang tinggi, yang tak mampu menjangkaunya. Anindya mencoba memanggil namun lidahnya kelu, dengan sekuat tenaga dia mencoba memanggil nama berata tapi mulutnya seperti terkunci.


Lalu dengan sekuat tenaga Anindya berteriak “Kak Berata…..” lalu dia tersadar karena Anindit dan ibunya sudah berada di kamar Anindya.


“Kenapa kamu berteriak nama Berata?? “kata Ibu Agung marah


“Aku seperti melihat kak Berata dalam bahaya, dia seperti berada di tempat yang tinggi, dan dibawahnya adalah jurang api yang sangat panas, lalu Dya hanya memanggil meminta kak Berata untuk turun ” kata Anindya


“Jangan sebutkan nama itu lagi, mulai saat ini dan seterusnya kamu harus bisa melupakan nama itu selamanya” lalu bu Agung pergi dari kamar Anindya


Aninditha memeluk Adiknya, “Kamu masih sayang kak Berata?”


Anindya mengangguk


“Kamu percaya poto-poto itu?”


“Sekarang Aku sudah tidak percaya poto itu lagi, Aku percaya kak Berata” sambal menangis tersedu


“Lihat ini, Kak Berata mencari mu, sudah 3 bulan ia meninggalkan rumahnya dan mencari mu dengan berjalan kaki”, Anindita menunjukkan berita dan video Berata


Anindya menangis, “ Kak Berata, Kak Berata”


“Ssstt, jangan keras keras, kamu tau kan ibu seperti apa. Kak Berata mu pun tidak lebih baik darimu, saran kakak kamu harus melanjutkan hidupmu, saat ini dia sudah dijemput Kapten Sagara, jika memang kalian berjodoh, kalian pasti akan bertemu lagi”


“Baik kak” Secercah senyum di bibir Anindya, tapi dia tidak memiliki kontak Apapun tentang Berata karena semua sudah disita ibunya. Dia memilih percaya cinta akan mempertemukan mereka


Dibelahan dunia yang lainnya, saat Anindya memanggil nama Berata, Berata yang ada di dunia orang matipun mendengar panggilan sebuah suara yang sangat dirindukannya, di kemudian turun dan mencari sumber suara tersebut dan Berata yang sedang dirawat tiba –tiba sadar dan bagun dari tidurnya.


Semua yang sedang merawatnya menampilkan wajah yang lega, karena Berata sudah lolos dari kematian.


“Sekarang tinggal memulihkan tubuhnya’, kata Abah


Kapten Sagara mengabarkan kepada Damar kalau Berata sudah ditemukan dan sedang di rawat di sebuah padepokan di Gunung Gede


Setelah sadar, perlahan kekuatan dalam tubuh Berata kembali. Dia Memutuskan untuk berlatih dan belajar di Padepokan itu untuk sementara waktu.


Setelah 1 bulan utusan seorang jendral datang diantar kapten Sagara mendatangi Berata ke Padepokan untuk menyampaikan pesan. Ternyata Berata diundang untuk ikut seleksi tantama dan pasukan khusus karena saat video beredar, beberapa petinggi sempat menonton dan kagum kepada Berata.


Berata yang masih sedih kehilangan Anindya langsung setuju, “Mungkin saja dengan ada kegiatan, aku bisa melupakan Anindya” pikir berata


Lalu Berata meminjam telpon Kapten Sagara, menelpon semua yang dikenalnya, Ibunya, Bintang, Damar, Bawa, Gagak merah, dr. Sarah, Maharani tak terkecuali Quinton, semua dengan topik berbeda, kemudian berata pergi dengan utusan jendral tersebut. dan Itu terakhir kalinya Kapten Sagara melihat sosok Berata.

__ADS_1


__ADS_2