Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 56. King & Quenn


__ADS_3

15 Menit Kemudian Berata sudah menunggu di depan Ruang Anindya Berhias, dia sudah tidak sabar menantikan penampilan Anindya. Pintu ruangan terbuha yang keluar malah Mbak Maya, lalu menutup pintunya.


“Mbak kok ditutup” Berata Protes


“Iya dong, ini kamarku bukan Anindya”, kata Maya


Lalu pintu ruangan sebelah terbuka, keluar Anindya dengan Gaun indah berwarna hijau muda, Berata bengong melihat Anindya, matanya tak berkedip sedikitpun, Anindya mendekatinya, lalu memperbaiki letak dasi kupu-kupu Berata.


“Kakak sangat Ganteng, Dya Beruntung bisa mendapatkan hatimu kak”


Berata memegang 2 tangan Anindya, “Kakak yang beruntung sayang, bisa mempersunting bidadari yang turun dari langit”, sambil mencium tangan Anindya


“Sedetik saja aku jauh darimu aku tak sabar istriku”.


“Akupun sama suamiku, jauh darimu sangat tidak menyenangkan”, mereta saling merayu


“He em.. mungkin kami besok harus pergi ke dokter control gula darah, melihat kalian tak tau malu disini mengumbar kemesraan kalian”, kata mbak Maya


Berata tersenyum, lalu menaruh tangan kirinya di pinggang, kemudian Anindya memegang tangan Berata dan berjalan menuju ruangan. Mereka memasuki ruangan , semua langsung hening, melihat pasangan yang sangat serasi, elegan. Semua mata memandang merka mmemasuki ruangan, undangan laki-laki memandang Anindya begitu juga sebaliknya undangan wanita memandang Berata yang tampak Gagah.


Dari kejauhan, Ibu Made memandang anak dan menantunya, Air matanya jatuh, begitu pula Bintang melihat anindya dia juga ikut menangis. Berata dan Anindya mendatangi Ibu terlebih dahulu, ibu made memeluknya dengan menangis, begitu pula memeluk Anindya, “Anakku, kamu sudah sembuh nak”, kata Bu Made, Anindya mengangguk lalu memeluk Ibu Made. Pemandangan yang haru bagi mereka yang tahu sejarah dan riwayat hubungan Berata dan Anindya.


Setelahnya mereka naik keatas panggung, memberi salam papa Quinton dan Sandra.


“Tuan”, Quinton memeluk Berata Erat


“Janga panggil aku tuan, cukup Berata saja, selamat atas pernikahan kalian berdua, kami turut berbahagia”, kata Berata. Anindya pun memeluk Sandra, “Terimakasih atas bantuan dan dukungannya kepadaku selama ini, “kata Anindya


Suasananya mengharukan sekaligus bahagia tergambar dalam acara pernikahan Quinton dan Sandra, kemudian Berata duduk bersama Ibunya, Bintang dan juga Damar.


“Selamat Berata, kamu berhasil, Anindya sudah sembuh sekarang kalian bisa Raja dan ratu dan melakukan banyak hal yang tertunda, sambil mengedipkan mata pada Berata”, kata Damar


Berata mendengar hal itu salah tingkah, Anindya pun pipinya memerah. “Kurang ajar kamu Damar, ini acara resmi tau”, kata Berata


“Hahhaah, aku mengatakan yang sesungguhnya, bukankah kalian sudah menunggu begitu lama untuk bisa memulai malam pertama”, kata amar lebih pelan.


Wajah Anindya memerah, “Dasar tambah kurang ajar kau Damar, pokoknya kalao kamu tidak menemukan Perusahaan ayahku, kamu tidak boleh menikahi Bintang”, kata Berata kesal


“Eh.. eh.. jangan bawa pekerjaan dong, curang kau Berata” kata Damar Panik


Ibu Made Tersenyum mendengar semua percakapan mereka. Lalu tiba saatnya speech dari Pengantin Pria. Quinton mengucapkan terimakasih kepada semua kolega dan undangan.


“Para kolega dan undangan semua, para stake holder, dan pemegang saham , di hari yang sangat berbahagia ini adalah saat yang sangat tepat untuk saya mengatakan hal yang paling penting dari diri saya. Tentunya semua pasti semua bertanya tanya tentang posisi saya di PT INS sebagai Direktur. Semua pasti ingin tau siapa pemilik dari PT INS ini, oleh sebab itu dengan sangat Hormat saya mengundang Owner PT Inti Nusantara Sakti, Tuan dan Nyonya Berata untuk bersama saya disini.


Berata tak menyangka bahwa Quinton akan membuka rahasianya, hanya tersenyum kepada Damar, dan Damar pun mengerti untuk segera menghapus semua berita dan poto tentang dia.


Berata dan Anindya berjalan dengan elegan sekali lagi keatas panggung, Quinton menyerahkan mic pada Berata, “Terimakasih Semua atas kerjasamanya, saya yakin tampa bantuan anda semua, kita tidak akan bisa sampai disini, terimakasih sekali lagi dan saya sampaikan kepada anda semua bahwa anda mengetahui saya cukup hanya di ruangan ini saja, untuk selanjutnya Quinton akan selalu mewakili saya” , hawa dingin menyebar dari tubuh berata, dan semua yang mendengarnya bergidik, seperti ancaman yang disampaikan dengan halus. Lalu Berata Turun dari panggung ke meja


“Kamu terlalu kejam dengan ancamanmu Berata”, kata damar sambil tertawa.


Ada sepasang mata yang tak pernah berhenti menatap Berata dari sisi pengisi acara, ternyata singer dari Band pengiring adalah Melanie. Anindya merasakan itu juga lalu bertanya kepada Berata, “kak siapa penganyi itu kenapa matanya terus memandang kepada kakak?”, Berata yang tak memperhatikan, lalu menoleh kearah yang dikatakan Anindya, “Melanie”, katanya


“Siapa lagi Melanie ini”, mata Anindya sudah mendelik


“Kan sayang sudah pernah ketemu dengan dia pas Ultahnya Bintang”, Kata Berata


“Ada hubungan apa kakak dengan Penyanyi itu?”


“Tidak ada hubungan apa apa, kami teman sekelas waktu SMA”


“Pandangan matanya mengartikan lainnya”, kata anindya sambil melengos

__ADS_1


“Alamat gagal malam pertama nie bos”, Damar nyeletuk


“Kak Damar, jangan ikut campur masalah orang lain” kata Bintang sambil menjewer kuping damar


“Kak Anindya, benar kok Malanie itu teman kak Berata, tapi mereka hanya teman biasa, kan kak Berata dulu culun, tidak pernah punya teman wanita bahkan sama cewek saja takut waktu sma”,kata Bintang


“ohhh begitu”, Anindya tersenyum, “Tidak akan ada yang bisa merebut suamiku dari tanganku, “kata Anindya sambil memeluk tangan Berata manja.


Beratapun menggelengkan kepalanya melihat prilaku istrinya bagai hujan angin yang bisa datang tiba tiba. Tampak Ibu Made menganggukkan kepala kepada Berata. Dan Berata pun mengerti, segera Berata mengajak Anindya keluar dari ruangan.


“Kita Jalan yuk sayang, Sumpek”, kata Berata


“Naik motor baru mau”, kata Anindya


“Siapa takut, ayo kita naik Motor”, kata Berata


Lalu Mereka bergandengan tangan keluar dari tempat itu, sampai di luar gedung ternyata ada Mbak Maya, “ kalian mau kemana, ini sudah larut malam”, kata Maya


“Kami mau Keluar menikmati malam”, kata Anindya sambil membuka hiasan kepalanya dan menberikannya pada Maya


“Dasar anak muda”, kata Maya sambil tersenyum


“Satu lagi mbak Maya, Supervisor disini yang namanya Raditya, tolong buatkan satu cabang untuknya danjadikan dia manager disana”, kata Berata


“Baik Berata”, kata Maya


Berata menuju tempat parkir untuk mengambil motornya sekarang perlakuan para satpam berubah 180 derajat, berdiri dengan hormat, bahkan Kepala satpampun gemetar.


“Jangan pernah memperlakukan pelanggan dengan tidak hormat”, Kata Berata


“Baik Tuan”, kata mereka serempak


Lalu mereka naik Motor, Berata memakaikan Helmnya pada Aninyda,”Hati hati dengan Pakaianmu sayang, kita tidak ingin merusaknnya”. Anindya naik ke atas motor berboncengan laki-laki, mengangngkat gaunnya dan memperlihatkan kakinya yang jenjang yang menambah kecantikannya.


Cahaya mentari menampakkan wajahnya dan Pasangan ini pun bangun, dan tertawa lebar tentang kebodohan mereka melewati malam pertama bermalam di pelabuhan. Tapi mereka sangat bahagia, tak memperdulikan pendapat orang lain tentang diri mereka lalu kembali pulang kampung halaman.


Sesampainya di rumah, Ibu sudah menunggu dengan tersenyum, “kemana saja kalian tadi malam”


“Maafkan kami Bu, kami tertidur di Dermaga”, Kata Anindya


“Kalian ini seperti anak kecil, kalian mandilah dulu, kamar kalian sudah ibu rapikan”


“Kamar kami Bu” Mereka berkata bersamaan


“Iya kan kalian sudah menikah jadi sewajarnya kamar kalian satu”, kata Ibu dengan tersenyum


Berata dan Anindya masuk dengan canggung kedalam kamar mereka. Di dalamkamar mereka duduk berjauhan, “Sayang kenapa sepertinya kita tampak canggung seperti ini”, kata Berata


“Ntahlah kak, Dya tidak pernah Berada bersama lelki dalam satu kamar”


“Sayang, selama tiga bulan kita menikah kakak selalu tidur memelukmu, bukankah itu artinya kita sudah bersama 3 bulan”Kata Berata


“Kakak, aku mau mandi dulu kak” Kata Anindya malu.


Cerita selanjutnya skip ya karena Cerita dewasa. Heheheh


……….


Hampir setengah hari mereka baru terbangun dari tidurnya. “Sayang bangun, sudah siang, apa kamu tidak lapar”kata Berata


“Kak aku lelah sekali” kata Anindya mukanya memerah

__ADS_1


“Kita harus keluar sayang, malu sama ibu”


“Kalo begitu biar Dya mandi dulu”, kata Anindya berjalan menuju Kamar mandi


“Kakak ikut”, menuju Kamar mandi, dan 1 jam kemudian baru mereka keluar untuk makan. Wajah mereak berdua merah padam karena malu.


“Hal yang wajar, tidak usah malu sama ibu, makan dulu setelah itu kalian baru boleh mejanjutkan perjalanan kalian”, kata ibu


“Ya bu, kami berencana bertemu kakek Banaspati terlebih dahulu setelah itu kami akan kembali ke Denpasar”, Kata Berata


“Baiklah, jangan lupakan tempat ini Berata dan Anindya, tempat ini juga Rumah kalian”


“Baik Bu” Kata Anindya


30 menit kemudian mereka selesai makan dan berjalan keluar menuju kantor PT Bali Sutrepti. Made Bawa menerima mereka dengan gembira, dia memeluk Berata, “Selamat ya Berata , Selamat ya Anindya juga sudah sembuh”


“Bagaimana dengan perkembangan tempat ini Bawa”, kata Berata


“Berata , seluruh areal sudah selesai dengan baik, tempat ini adalah sekarang tempat pemusatan latihan paling baik di Bali, atlet – atlet bali juga sudah mulai menjadi yang terbaik di negeri ini”, kata Bawa


“Baiklah, kamu lanjutkan menjaga tempat ini, aku mau mengunjungi kakek Banaspati”, kata Berata


“Baiklah, hati – hati Macan kumbang mungkin sudah kangen padamu”.


“Macan kumbang Kak”, kata Anindya


“Iya, macan kumbang yang kakak selamatkan dulu, sekarang tinggal bersama Kakek”


“Baiklah mari kita mengunjungi kakek”


Mereka berdua berjalan melewati tempat yang sangat asri dan ditata baik, tak berapa lama akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk tempat kakek Banaspati tingal.


“Kakek… kakek” panggil Berata


Tapi tak ada yang keluar dari dalam rumah, lalu masuk kedalam rumah dan mendapati Kakek Banaspati terkulai lemas.


“Kakek.. kakek..” Berata mendekati Kakek Banaspati dan mencoba membangunkannya.


“Kakek kenapa kek”, kata Berata


Kakek Banaspati membuka matanya perlahan, “Berata, akhirnya kamu datang, kakek sengaja menunggumu disini”.


“kakek kenapa kek”, kata Anindya


“Berata, Anindya, waktu kakek sudah tiba , kakek senang kalian berada disini. Sebelum kakek pergi kakek mau memberi ini pada kalian”, sambil memberi sebuah gulungan pada Berata


“Berata, ini adalah kunci untuk menemukan Busur Surgawi , Busur surgawi adalah senjata Betara Guru yang bisa membunuh Raja Iblis.


Berata menerima Gulungan itu dari kakek Banaspati, membukanya ternyata sebuah Peta tapi tidak tertulis petunjuk apapun dan sebuah Cakra yang terbuat dari emas.


“Kakek, begitu hebatkah Busur ini”, kata Berata


“Berata, busur surgawi ini ditempa Betara Guru sendiri di bantu oleh para dewa, dan memiliki kekuatan yang sangat hebat dan hanya busur Surgawi yang dapat membunuh Raja Iblis , tapi busur itu belum pernah digunakan dan hanya orang terpilih yang mampu mengangkatnya”, kata Kakek Banaspati


“Kakek, Berata akan mencarinya dengan sepenuh hati”.


“Berata, sudah tiba waktunya kakek untuk kembali ke Sang Pencipta”, lalu kakek Banaspati diam, menutup matanya dan menghembuskan nafasnya.


“Kakek”, kata Berata dan Anindya.


Kemudian Tubuh Kakek Banaspati melayang, terangkat dari tempat tidurnya dan perlahan terbakar dan hangus tidak meninggalkan bekas apapun.

__ADS_1


Anindya meneteskan Air matanya, Berata Terdiam. Kemudian Berata mencari Macan Kumbang dan mengajaknya untuk tinggal di dalam cincinnya karena di dalam cincin itu Berata telah membuat sebuah hutan yang luas sebagai tempat tinggal dan berburu bagi hewan peliharaannya.


__ADS_2