Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 24. Membasmi sampai ke akar nya


__ADS_3

Berata benar benar pergi sendiri, dia menggunakan jubah dan topeng gagak emas


Berata masuk ke gudang yang dijaga pasukan bersenjata


Dia melihat, kapten Sagara dan 11 orang lainnya sudah diikat menjadi satu, darah berceceran dimana-mana, Berata maju mendekati kapten Sagara tapi seorang bersenjata mendekati, tanpa bicara Barata langsung menampar orang tersebut sampai terlempar 5 meter.


Sontak semua senjata terarah kepada Berata, tapi pemimpin mengangkat tangannya menahan anak buahnya untuk tidak menembak


Berata mendekati kapten Sagara yang pingsan karena kehilangan banyak darah


“mereka belum mati tapi akan segera mati setelah kedatangan mu” Kata pemimpin


“lepaskan mereka, aku yang kalian mau”


“Tidak semudah itu, aku akan membuat kalian semua menderita sama seperti menderita nya aku kehilangan uang uangku”


“Lumpuhkan dia, tapi jangan bunuh” kata pemimpin


20 orang segera mengurungnya, lalu menyerang Berata, ternyata 20 orang tersebut ahli dalam beladiri, gerakan mereka tidak kalah cepat dengan Berata


“kalian cukup hebat, tapi belumlah lawanku” kata Berata kemudian mempercepat gerakannya sehingga lawannya tidak mampu mengikuti dan semua jatuh terpukul


Pemimpin terlihat marah sekali,” tembak dia, jangan kasi ampun, “


Lalu pasukan tersebut semua menembak kearah Berata, Berata dengan secepat kilat mengeluarkan Seruling Saktinya meniup dan membangun perisai energi, semua peluru jatuh kelantai saat menabrak perisai energi Berata.


Berata kemudian meniup lebih kencang serulingnya, peluru yang sebelumnya jatuh kelantai sekarang mengambang di udara.. Berata berteriak.”Perisai Bumi” peluru kembali terbang ke asalnya, dan semua penembak tampak kesakitan dan terluka


Seluruh penyerang sudah jatuh, Pemimpinnya menghilang, Berata berusaha menyadarkan Kapten Sagara.


Lalu keluar seseorang dengan pakaian pejabat kepolisian, “hebat kamu nak, kamu sudah menyelamatkan sana dan team Kapten Sagara”


“anda siapa”


“saya kepala polisi, mendengar kapten Sagara ditawan, saya langsung kemari”


Berata berpikir “bukankah yang tau hanya pak gubernur dan pak de Goro??, Hhmm aku akan ikuti permainanmu”


Lalu Berata kembali mencoba menyadarkan Kapten sagara, begitu kapten Sagara membuka mata dia terkejut melihat Berata di depannya dan kepala polisi yang ada di belakangnya tersenyum jahat


“Be. Be...” belum selesai kapten Sagara berbicara, kepala polisi mengambil pistolnya dan menembak kepala Berata


“mati kamu, dor... Dor”


bukan kepala Berata yang pecah , Peluru timah ternyata tidak melukai Berata malah gepeng seperti menabrak besi, kepala polisi terkejut tidak menyangka


“Aku sudah tau kamu siapa sebenarnya, aku cuman ingin Mengikuti permainanmu, sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi” kata Berata


“Aku tidak akan tertangkap” kata pemimpin, lalu menembak kepalanya sendiri


“Sialan, aku terlambat” kata Berata, kemudian menelpon Pak de Goro, dan segera sirine berbunyi, pasukan tentara dan ambulans datang ke lokasi penyergapan.


“Kapten, aku pergi, aku akan mengunjungimu di rumah sakit, jangan mati dulu” kata Berata sambil melompat pergi


“Bocah sialan, masih juga bisa bercanda disaat seperti ini


.......

__ADS_1


2 Minggu sudah Anindya dan ibunya bersembunyi di rumah Berata, tiba tiba telpon Berata Berdering, ada panggilan dari Anindya


“Kak Berata” sambil menangis


“Kenapa Dya, kenapa kamu menangis?”


“kak Berata, kak Anindita dan Ibu menghilang?”


“menghilang bagaimana maksudmu Dya??’


“Ibu dan kak Dita tadi pagi pergi kepasar, sampai siang ini belum pulang, lalu ada pesan masuk ke HP Dya, kalau Dya harus datang sendirian menjemputnya dan membawa uang tebusan 100 juta”


“Bagaimana ini Kak Berata”


“Kamu tenang saja, katakan padaku kemana harus aku jemput Kakakmu dan Ibu??”


“Ibu dan kakak sudah di bawa ke Suatu tempat dekat pelabuhan Padangbai, Dya kirimkan lokasinya”


“Baik Dya, percaya sama kakak, kakak akan membawa pulang Dita dan ibu”


“Kak, waktu pertemuannya jam 8 MLM ini”


“baik, katakan saja kamu akan datang Dya, lalu matikan HPmu, kakak akan menghubungi kamu lewat Hpnya Bintang”


“Baik kak”


“Berata kemudian menghubungi Gagak Merah untuk mengumpulkan saudaranya dan pergi bersama ke lokasi.


Berata dan gagak bersiap, masuk panggilan dari Damar, “Hati hati Berata, tempat itu terlihat sepi, tapi ada banyak orang yang bersembunyi, pembacaan panas satelit ada lebih dari 100 orang yang menjaganya”


“Baik Damar, aku akan berhati-hati”


“Baiklah kita masuk, Gagak ungu, sebaiknya kamu diam saja, karena aku belum menguasai cara merubah suara, pasti suaramu akan berbeda dari Anindya”


“Baiklah,. Aku akan mencobanya” kata Gagak ungu.


Kemudian Berata membawa masuk sebuah tas besar yg didalamnya berisi uang 100 juta


Sebuah gudang kosong yang dipenuhi dengan semak belukar, Berata masuk, terlihat 1 buah lampu pijar dan dibawahnya terdapat Anindita dan Bu agung yang terikat di kursi”


Tiba tiba dari kegelapan terdengar suara tawa yang keras


“Hahah, aku sungguh bahagia, hari ini semua dendam ku terbalaskan, Berata kamu akan mati, dan aku mendapatkan kan bonus kakak beradik yang cantik”


“Lepaskan mereka, aku membawa uang 100 juta yang kamu minta Oka”


“Kamu kira aku mau uangmu, aku hanya mau kamu datang untuk mati di tempat ini”


Lalu Anindita tersadar “Kak Berata, harusnya kamu tidak membawa Anindya kemari,” suaranya bersedih, hilang sudah semua keangkuhan yg biasanya ada di dalam diri Anindita


“Tenanglah Anindita, aku akan menyelamatkan kalian semua”


“haha kamu memang banyak omong Berata,” tiba tiba melompat ke depan Berata sekitar 20 orang


“Oh ternyata kalian, perguruan Tapak sakti, ternyata kalian antek dari 99Anarchi”


“dulu kami boleh kalah, tapi sekarang kamu akan mati Berata”

__ADS_1


Lalu Oka, menodongkan pisau di leher Anindita, “Anindya,. Cepat kemari bawa uangnya atau kakakmu akan mati”


Anindya menoleh kepada Berata, Berata pun mengangguk. Anindya berjalan perlahan, seperti orang ketakutan, kira kira berjarak 1 meter dari Oka, Oka kemudian mengunci leher Anindya dari belakang dan menodongkan pisau ke muka Anindya


“Hahah, akhirnya kamu akan segera menghangatkan tempat tidurku bersama dengan kakakmu” terlihat Anindya menangis


“bunuh Berata” kata Oka


Lalu lampu besar menyala, ternyata hampir 100 orang muncul di dalam gudang , semua bersenjatakan parang


Belum mereka menyerang Berata, tiba tiba gagak Merah, gagak hijau, gagak biru dan gagak hitam menyerang mereka dari belakang, mereka terkejut, tak siap, terjadi pertarungan sengit


“Ternyata kamu datang dengan persiapan Berata, kamu adalah lawan kami” poleng kemudian menyerang Berata, Berata menghadapi semua dengan bergerak cepat dan efektif, setiap pukulan dan tendangan yang diberikan mengenai sasaran, sehingga dalam tempo singkat semuanya jatuh


Anindita yang melihat Berata bertarung, pandangan langsung berubah, mengagumi Berata


Hanya dalam 10 menit semua pasukan Oka sudah tumbang, dia marah sekali


“Jangan bergerak, aku akan membunuh Anindya” sambil menodongkan ujung pisau ke leher Anindya


Tiba tiba Gagak Ungu berkata “kamu kira aku Anindya buang lemah” kemudian dia memegang tangan Oka yang memegang pisau lalu, memelintir tangan Oka sehingga kesakitan dan membantingnya


“Arrrrrggghh” siapa kamu"


“Aku bukan Anindya, aku Ken Sulasih” kemudian wajahnya berubah menjadi bukan Anindya lagi


Anindita terkejut, “siapa kamu”


“Aku teman Berata,. Mereka semua adalah Kakak ku” sambil menunjuk para gagak


“Terimakasih semuanya, sudah membantu kami .”


Gagak merah kemudian menangkap Oka, dengan sedikit paksaan ternyata dia membeberkan semua rahasia dan tempat persembunyian 99Anarchi di Bali.


Berata mengirim informasi tersebut ke Pak gubernur, lalu malam itu juga polisi dibantu tentara melakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap sisa kelompok 99Anarchi termasuk Ayahnya Oka.


Berata mengajak Ibu Agung dan Anindita kembali kerumah mereka.


“sekarang sudah aman, Ibu dan Ditha disini saja, Besok pagi Berata akan menjemput Anindya untuk membawanya kemari.”


“terimakasih Berata, kamu sudah menyelamatkan Ibu dan kami”


“Sudah kewajiban Berata untuk menjaga Ibu”


“kak Berata terimakasih” Anindita kemudian spontan memeluk Berata, Berata terkejut


“tolong lepaskan Kakak, Ditha,”


Anindita tetap memeluk Berata sambil menangis “maafkan Ditha yang selama ini sering kasar sama kakak, maafin Ditha ya kak”


“iya.. kakak sudah maafkan, tolong lepaskan kakak”


Kemudian, Bu agung bangkit dan menenangkan Anindita


“Berata pamit, ibu tenang saja, sudah ada yang menjaga tempat ini”


Lalu pergi meninggalkan rumah Bu agung.

__ADS_1


Terjadi kehebohan yang luar biasa malam itu, lebih dari 1000 orang ditangkap petugas dan paginya langsung dipindahkan ke Nusakambangan.


__ADS_2