Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 48. Genesis F-5


__ADS_3

Phoenix Api Terbang menuju puncak Gunung Muana Kea, belum setengah perjalanan, Meriam – Meriam laser di puncak gunung sudah menyala dan mulai menembak, Burung Phoenix meliuk - liuk menghindari Tembakan Laser, Barata pun meniup seruling untuk membangun perisai di Burung Phoenix.


Tembakan Kali ini sungguh gencar, ada lebih dari 20 meriam yang menembak bergantian, sulit bagi Berata mendekati puncak Gunung, Burung Phoenix pun terbang menjauh. “Burung Phoenix api, Sulit bagi kita untuk menembus pertahanan Meriam Laser tersebut”, kata Berata


“Benar tuan, tapi aku bisa menghancurkan meriam tersebut kalau aku punya kesempatan untuk mengeluarkan bola Apiku”, kata burung Phoenix


“Baiklah kita coba, aku akan melindungi mu dengan perisai Seruling ku, setelah dekat kamu bisa menghancurkan Meriam – Meriam tersebut.


Berata meniup seruling nya dan membuat perisai berbentuk bola yang melingkupi mereka, kemudian burung phoenix terbang sangat cepat mendekati puncak gunung. Meriam pun menembak, kali ini burung phoenix tidak mengindari tembakan tapi tetap terbang mendekati Meriam, 20 Meriam itu menembak bersamaan mengenai perisai Berata, cahaya biru Meriam beradu dengan cahaya emas perisai Berata, burung phoenix tetap terbang mendekati Meriam, dan dalam jarak 50 meter , burung phoenix mengeluarkan 5 bola api secara bergantian, bola bola api itu langsung menghantam 5 meriam dan menghancurkan 5 meriam tersebut.


Kemudian burung phoenix terbang menjauh dari puncak gunung. “Kita berhasil”, kata Berata


“Maaf tuan, saya hanya bisa mengeluarkan 5 bola api pada saat yang sama, mari kita ulangi lagi”, kata burung phoenix


“Baik, kita ulangi lagi”, Berata kemudian Meniup serulingnya lagi dan membangun perisai. Mereka terbang lagi dan melakukan cara yang sama, dan 5 Meriam lagi hancur.


“Tinggal 10 lagi, ayo kita hancurkan” kata Berata semangat. Burung phoenix kembali terbang, perisai berata menembus dengan mudah, jarak mendekati 50 meter , burung phoenix bersiap menembakkan bola api, tiba tiba sebuah Meriam raksasa yang berukuran 5 x dari Meriam biasa muncul dan menembakkan laser yang ukurannya 10x lebih besar, tembakan itu menghantam perisai Berata dan burung phoenix , “Duaar” suaranya sangat keras, Burung Phoenix terlempar, dan Berata terlepas dari dudukannya di atas burung. Berata berdiri melayang di langit, burung phoenix kemudian terbang mendekatinya.


“Senjata yang sangat Berbahaya, teknologi apa ini, kenapa mereka bisa memiliki teknologi seperti ini” kata Berata

__ADS_1


“Kita harus bisa mendekati dan menghancurkan senjata tersebut, kalau tidak kita tidak akan bisa mendapatkan Guci Udara”, kata Berata.


Tubuh Berata Naik keatas burung phoenix dan meniup serulingnya, kali ini perisai bukan berwarna emas tapi perisainya berbentuk api, dengan cepat terbang mendekati Meriam raksasa. Meriam menembak, cahaya biru beradu dengan perisai Api Berata, Perisai api perlahan menekan sinar biru. Saat sinar biru melemah, Burung Phoenix siap menembak tiba-tiba dari langit turung angina tornado yang menghantam Berata dan Burung Phoenix, Berata terhisap oleh angin tornado itu, lalu dengan kecepatan tinggi Burung phoenix berjuang sekuat tenaga untuk dapat menembus tornado tersebut.


Setelah mencoba dengan keras akhirnya berhasil keluar dari tornado, burung phoenix terbang menjauh. Tornado itu menghilang. “Apakah ini kekuatan Guci udara yang dibilang Namakaena Momoa”, kata Berata


“Phoenix, sepertinya tugasmu cukup sampai disini saat ini, aku tidak ingin kamu terluka”, kata Berata


Lalu burung Phoenix menurunkan Berata dan masuk kedalam cincin. Lalu muncul 5 buah tornado besar di udara, Tornado itu ujungnya seperti memukul ke bumi (touch down) mencari keberadaan Berata. Berata kemudian berlari melesat ke arah puncak gunung dan mendekati Meriam laser tersebut, kecepatan Berata tak mampu di ikuti Meriam dan 5 tornado tersebut dan dengan mudah melumpuhkan 10 meriam kecil dan 1 meriam besar.


5 tornado tersebut kemudian mengurung Berata dan menjadi lebih besar, batu – batu dan benda benda sekitar terus berterbangan . 5 tornado tersebut bergabung menjadi satu dan berata menjadi pusatnya, Badai tornado ini bisa dikatagorikan F3 dengan kecepatan putaran 200 km/jam. Benda dan batu batu menabrak Berata, tubuh berata terangkat kemudian di banting banting oleh kekuatan tornado dan di hempaskan di bebatuan.


Lalu muncul lagi 5 tornado katagori F3 dan berusaha mendekati Berata, berata kemudian bergerak cepat untuk menuju ke puncak gunung, bergerak cepat tiba tiba Berata terpental seperti menabrak tembok tebal, berata terlempar, saat terlempar, dengan sigap 5 tornado tersebut melingkari Berata, mereka bergabung, menjadi Tornado katagori 5 yang kecepatannya lebih dari 500km/jam. Tubuh berata di hantam lebih keras, selain itu petir menyambar tubuh Berata, tubuh berata bersinar keemasan, di di banting ketanah oleh ujung tornado, dan tempat dimana Berata jatuh berlubang hampir 10 meter. Berata kemudian berdiri tertatih tatih, tubuhnya lelah, baru berdiri, tornado F-5 Touchdown lagi , mengangkat tubuh berata dan kembali menghempasnya ke tanah, tanah pun kembali berlubang hampir sedalam 20 meter. Kemudian beberapa kali tornado F-5 menghantam dan menghempas tubuh berata ke tanah, tanah tersebut kini berlubang lebih dari 50 meter.


Berata kini tak bangun lagi setelah di hantam beberapa kali oleh tornado F-5. Sebuah tornado mengangkat tanah sekitar dan mengubur tubuh berata sedalam 50 meter. Berata terbangun di sebuah ruang gelap. Kemudian dia melihat seorang anak kecil berumur 2 tahun sedang bermain dengan orang tuanya, neraka tampak sangat bahagia “Ayah… ibu”, kata Berata tapi tak sanggup menyentuhnya. Kemudian Berata melihat anak kecil tersebut perlahan bertumbuh menjadi anak umur 5 tahun, di sebuah rumah besar, dibangunkan tengah malam dan diajak melarikan diri oleh Ibunya, Bi Made. Berata melihat bagaimana orang tuanya terbunuh, dia berteriak, menangis menjerit, tapi tubuhnya kaku tak mampu bergerak.


Dalam pelarian Bi made , melihat seorang lelaki tua yang menolongnya pun terbunuh akibat di bunuh anak buah pamannya Darius, kemudian dia bertemu ayah angkatnya Pak Karyo yang terbunuh juga, berata menggeram, marah tapi tak berdaya. Kemudian dia melihat anak kecil tadi belajar ilmu silat di atas bukit dengan bimbingan sorang kakek tua, melihat anak tersebut bertumbuh besar dan akhirnya melihat anak tersebut bertemu dengan seorang gadis cantik, banyak hal yang dikerjakan bersama, dan mereka merajut kisah cinta yang indah. Gambaran tersebut menampakkan Anindya pergi meninggalkan Indonesia ke Amerika, Anindya tampak mengurung diri dalam kamar, kemudian Anindya mulai bangkit dan menjalani hidupnya, tapi dia berubah dari periang menjadi pendiam. Berata tampak sedih sekali, air matanya menetes melihat perubahan pada diri Anindya, setelah itu tampak gambaran beberapa orang mendekati Anindya, ada yang memberikan bunga, ada yang memberikan hadian mewah, semua di tolak oleh Anindya.


Gambaran berikutnya tampak Ibu agung datang meminta maaf kepada Berata, “Berata, maafkan ibu memisahkan kalian, ibu telah bersalah kepadamu dengan Anindya, ibu telah membuat dan merubah Anindya seperti sekarang ini, dia bukan lagi dirinya sendiri tanpamu, maafkan ibu", lalu bayangan ibu Agung memudar, di ganti dengan Anindya yang berada di Hotel Mogadishu sedang berkoordinasi dengan para atase militer negara Somalia. Lalu tampak sekelompok orang memasang BOM di ruang bawah tanah Hotel tempat Anindya bertugas. Berata mencoba memanggil Anindya, berteriak untuk mengingatkan Anindya.

__ADS_1


Berata melihat Anindya menerima telpon dari dirinya, tampak sangat bahagia, sampai tidak terasa Anindya melompat-lompat saking bahagianya menerima telpon dari Berata. Kemudian Anindya menutup telponnya menuju ke depan pintu hotel, menuju mobil konsulat Indonesia yang sudah di pasangi BOM.


“Jangan pergi Dya.. jangan pergi , Berata berteriak, Bom mobil meledak, Anindya yang berada 5 meter dari mobil terpental ke pintu masuk hotel yang terbuat dari kaca, gambaran itu seperti gerakan lambat, Berata melihat bagaimana pecahan kaca mobil menembus tubuh Anindya dan saat anindya terlempar ke pintu hotel itulah bagian kepala Anindya terluka oleh pecahan kaca pintu hotel. Setelah anindya terlempar ke dalam hotel, bom kedua meledak dari ruang di bawah Anindya, tubuh Anindya terlempar keatas terbawa lantai di bawahnya kemudian jatuh terbanting kebawah. Setelah itu bangunan hotel 3 lantai itu runtuh, beruntung Anindya jatuh di tempat yang agak dalam dan ada lempengan tembok yang menutupinya sehingga saat gedung runtuh, reruntuhan berada di atas lempengan tembok tebal tersebut.


Tubuh Berata bergetar, geram dan marah, melihat gambaran tersebut. Dalam keadaan terkubur di bawah tanah sedalam 50 meter, tubuh Berata bergetar semakin keras . tanah pun bergetar dan bergemuruh seperti gempa. Lalu tampak 7 cahaya berwarna pelangi turun dari langit menghujam tanah tempat Berata terkubur, tubuh berata yang lemah kemudian terangkat ke langit dan cahaya tersebut berputar seperti lintasan mengelilingi tubuh berata.


Tubuh Berata tampak mulai berdiri, kemudian 7 cahaya tersebut masuk kedalam dada Berata, dan 7 cahaya berubah warna menjadi putih dan bersinar sangat terang dan tampak baju Zirah berwarna putih kerang membalut tubuh Berata. Didepan Berata kemudian muncul Dewi Sri, Berata berlutut dengan satu kaki dihadapan Dewi Sri.


“Bangunlah Berata, aku telah mendengar permintaan pertamamu, Aku telah menyelamatkan hidupmu dan ini adalah hadiah dari Ayahku Naga Anta, ini adalah Jubah perang naga putih miliknya, sekarang itu milikmu dan terimalah juga Pedang Naga ini”, di tangan Dewi Sri muncul sebuah pedang yang indah yang mengeluarkan cahaya putih.


“terimakasih Dewi atas kemurahan anda”, kata Berata. Lalu Dewi Sri menghilang dari hadapan Berata.


Berata kemudian terbang kembali menuju puncak gunung Muana Kea. Didepannya sudah menghadang 5 ternado F-5. Berata terbang menuju Tornado tersebut kemudian menebas ke kiri dan ke kanan, muncul 5 naga putih dari pedangnya dan melilit tornado F-5 milik Mangkit Pakusadea. Tornado tersebut langsung dililit tubuh naga putih dan menghilang. Berata turun ke tanah dan berjalan menuju kubah udara yang tadi tidak bisa di tembusnya. Kemudian Berata menebas kubah itu dengan pedang naga , dan perisai udara itu pun hancur, berata melesat menuju keatas bukit, tampak para tentara mulai panic dan takut melihat berata , kemudian memilih melempar senjatanya ke tanah dan berlari menuruni gunung. Ada sekitar 2000 orang tentara bayaran yang memilih lari setelah melihat Berata mengalahkan Tornado F-5. Berata membiarkan mereka pergi karena Namakaena Momoa sudah berjaga di lereng gunung.


Berata kemudian masuk kedalam satu satunya bangunan yang ada di atas gunung api yang sudah tidak aktif tersebut. Dan menemukan sebuah lift yang menuju kebawah tanah. Pintu lift terbuka, sebuah ruangan yang sangat besar, dengan alat alat canggih. Lalu di tengah terdapat sebuah mesin raksasa yang ujungnya menuju ke langit, dan seorang menggunakan kursi roda berdiri didepannya.


“Kamu memang Hebat, kamu bisa mengalahkan mesin Genesis F-5 milikku, aku mengira tak akan ada orang yang mampu menghadapi tornado F-5 yang dihasilkan mesin Genesis F-5. Sekarang aku bisa mati dengan tenang, Medusa akan punya lawan yang sepadan” katanya sambil tersenyum


“Andakah yang bernama Mangkit Pakusadea”, kata Berata

__ADS_1


“Aku Mangkit Pakusadea , aku yang menemukan mesin luar biasa ini, waktuku tinggal sedikit lagi, aku menyerahkan mesin ini padamu, jangan biarkan dia jatuh lagi ke tangan orang yang salah, cukup aku saja yang menyalahgunakannya. Jantung Mesin ini adalah Guci udara yang kamu cari, itu milikmu. Ambillah”, kemudian Mangkit menyerahkan sebuah kunci dari emas kepada Berata. Dan tiba-tiba Mangkit jatuh dari kursi roda langsung tidak bergerak, dari mulutnya keluar busa putih. Dia tewas oleh racun.


__ADS_2