
Berata memeriksa tubuh dukun Engtat, ternyata memang memiliki tato ular kecil di dadanya. “Medusa, medusa apakah ini disengaja, mulai saat ini aku harus lebih waspada” kata Berata
“Terimakasih Anak muda, kamu telah menyelamatkan Suku kita ini, mari kita ke tempatku, kita akan berbicara tentang keperluan mu datang ke Suku kita ini.” Kata Ketua suku
Berata kemudian mengikuti ketua Suku kerumahnya, tapi seorang ibu berbicara lantang, “Ketua Suku , bawalah Mawinei ke rumahmu supaya bisa melayani pemuda ini dengan baik” ternyata gadis buang selamat kan Berata namanya Mawinei
“Apa maksudnya melayani dengan baik ,”Kata Berata kepada Kepala suku
“Nanti saya jelaskan, mari Mawinei, ikut kami”, kata kepala suku
…….
“Begini Nak, menurut tradisi kami suku Kadazan, setiap lelaki yang mampu menyelamatkan seorang gadis dari tangan Hantu Minyak, dia Berhak tidur dan memperistri Gadis itu”, kata ketua suku
“Maaf ketua Suku, maksud saya ke tempat ini adalah karena ingin menyelamatkan Istri saya yang sedang sakit, bukannya mencari istri. Saya harus bisa menemukan kuil Dewa Bumi”
Semua yang ada dalam ruangan terkejut “Kuil Dewa bumi, kamu mau ke kuil Dewa Bumi?”
“Benar, Dewi Dewantari yang memintaku untuk mencari Kuil Dewa Bumi”
“Kuil Dewa Bumi adalah tempat keramat leluhur kami yang tidak sembarangan orang bisa memasukinya, selain itu Pintu Kuil Dewa bumi dijaga seekor naga mistis Raksasa, belum ada seorangpun yang mampu memasuki kuil itu selama Ribuan tahun.”
“Untuk Pergi ke Kuil Dewa Bumi, kamu harus menjadi orang kami, untuk menjadi orang kami, kamu harus menikah dengan orang kami, saat ini kamu telah menyelamatkan Mawinei, bukankah ini suatu kebetulan”
“Mohon maaf apapun persyaratannya, saya tidak akan mengikutinya, karena saya sudah memiliki Seorang istri. Saya akui wajah istri saya sangat mirip dengan Mawinei, tapi Mawinei bukan Anindya”
Orang – orang yang ada di sana marah mendengar Berata menolak untuk Menikahi Mawinei, mereka berteriak seperti orang gila, mengecap Berata
“Kalau tau akhirnya seperti ini, seharusnya aku membiarkan Hantu Minyak itu membunuh kalian semua”, kata Berata
Semua penduduk langsung diam, “Atau kalian mau mencoba untuk bertarung denganku??” penduduk tambah diam
__ADS_1
Lalu Mawinei mendekati Berata,” Kak kalau boleh aku ingin tau nama kakak”
“Aku Berata”
“Tadi kakak bilang kalau istri kakak mirip denganku, bolehkah aku melihat potonya kak” kata Mawinei
Berata lalu mengeluarkan Ponselnya, memperlihatkan poto pernikahan mereka dan juga poto Anindya, Mawinei melihat poto tersebut dengan tak percaya.
“Kak, istri kakak sangat mirip denganku, aku kira tidak ada yang kebetulan terjadi, ini pasti kehendak para dewa. Aku tidak akan memaksa kakak untuk menikahi aku, dalam tradisi kami, seumur hidupku aku tak boleh menikah dengan lelaki manapun, keluargaku dan aku akan dikucilkan dan di buang dari Kampung ini”
“Tapi aku tidak bisa mengkhianati Anindya istriku,” kata Berata
“Kak, izinkan Mawinei untuk mengantar kakak ke Kuil Bumi, karena hanya kami yang tau tempatnya, setalah itu izinkan aku meminta setetes darahmu kak, darahmu itulah yang akan menjadi suamiku, kakak tidak perlu untuk menikahi aku, Aku dan keluargaku akan terhindar dari pengusiran”
Setelah berpikir beberapa lama, “Baiklah, antarkan aku menuju Kuil Bumi, setelah itu akan memberi setetes darahku untukmu”, kata Berata.
Kemudian Mawinei menjelaskan semuanya kepada penduduk Desa Dan Tetua suku. Akhirnya Berata diberi ijin untuk menuju kuil bumi. Perjalanan menuju Kuil Bumi sangat sulit, menaiki dan menuruni beberapa bukit dan lembah sampai akhirnya sampai pada sebuah Jurang yang sangat dalam, terdapat sebuah jembatan kayu kecil.
“Terimakasih Mawinei sudah mengantarku sampai disini, aku akan menepati janjiku untuk memberi setetes darahku padamu”, lalu mengambil belati yang terselip di pinggang Mawinei, melukai tangannya. Mawinei Membuka telapak tangannya lalu Berata meneteskan Setetes darahnya di tangan Mawinei. Setelah menerima darah tersebut, Berata Meninggalkan Mawinei menyeberang di jembatan kayu dan perlahan kabut menutupinya, Mawinei Berlutut menengadahkan kepalanya dan tangan keatas sambil menangis, “Aku akan menjaga mereka, terimakasih kak” Sambil meminum setetes darah Berata.
Berata menyusuri kabut pekat itu, setapak demi setapak melangkah dengan hati hati dan waspada. Di ujung jembatan dia melihat tanah yang luas dan sebuah pintu masuk yang tingginya hampir 10 meter. Di depan pintu terdapat patung – patung tanah berbentuk manusia dengan berbagai macam jurus, ada pukulan gerakan, tendangan, kuncian , bantingan dan senjata pedang. Berata mulai berjalan melalui patung tanah tersebut, tiba tiba patung-patung tanah itu bergerak merapat membentuk sebuah benteng menghalangi Berata , formasi mereka berbentuk segi tiga, ujungnya menghadap berata dan semakin banyak di belakangnya, kira kira ada 100an patung.
Sebuah patung tanah yang paling ujung bergerak seperti hidup lalu menyerang Berata dengan pukulan, Berata dan patung tersebut beradu pukulan, seberapapun cepat Berata memukul dapat diimbangi patung tersebut, Berata menendang tapi patung itu menangkisnya dengan pukulan - pukulan khas. Berata mencoba berpikir untuk mencari kelemahan pukulan ini tapi tidak mampu menemukan sedikitpun kelemahannya. “Bagaimana caraku mengalahkan patung penjaga ini”, lalu berata menyerang lagi dengan cepat, tapi semuanya sia sia.
“Kuil dewa bumi ini adalah kuil dewa yang hebat”, lalu berata mengingat-ingat semua gerakan pukulan yang khas dari patung tersebut,”Sepertinya aku harus mengalahkannya dengan gerakan mereka sendiri.
“Ayo kita selesaikan ini dengan cepat”, Berata memperagakan gerakan gerakan pukulan persis seperti patung itu, Berata bertukar pukulan semakin lama semakin cepat, dan patung itu mulai kewalahan menghadapi Berata, akhirnya setelah 105 pukulan, Patung tersebut terpukul di dadanya, Patung tanah itu Hancur, tapi kemudian menyatu kembali menjadi Patung tanah dan berdiri ditempat semula.
Berata melompat mundur, menghitung patung tersebut ternyata ada 105 buah. Ada 14 baris total seluruhnya. Berikutnya 2 patung tanah hidup menampilkan cara memukul yang berbeda, “Apakah aku harus bertukar 105 pukulan lagi dengan mereka?”
2 patung tersebut, menyerang Berata, Berata melawan dengan pukulan yang sama dengan gerakan yang pertama, tapi berata tak mampu melawannya dan dada berata terkena pukulan, “Tang”, genta emas Berata melindunginya.
__ADS_1
“Gerakan ini berbeda dengan yang pertama”, Berata mengingat dalam pikirannya, memejamkan mata, lalu mempelajari dan memahami gerakan tersebut. Tiba-tiba dia merasakan hembusan angin yang menuju dirinya, dia membuka mata dan menangkis pukulan 2 patung tanah tersebut, kemudian Berata beradu pukulan lagi dengan dengan gerakan yang sama dengan 2 patung itu. Dan sama setelah 105 pukulan patung tersebut kalah oleh berata, patung tersebut kembali ke posisinya semula.
3 Patung kembali hidup, “Ternyata aku harus melawan 14 lapisan penjaga Kuil Dewa Bumi ini”. Begitu seterusnya setelah 105 jurus yang sama dengan patung berata bisa mengalahkan mereka, dan kemudian patung barisan penjaga yang lain mulai hidup lagi. Total ada 5 baris peraga pukulan. Ada 5 baris peraga tendangan dan 4 baris peraga Pedang.
Hampir seharian baru berata bisa mengalahkan 105 Patung tersebut. Berata lega, Dia telah menguasai 14 teknik pukulan , tendangan dan pedang. Patung tersebut kemudian bergerak membentuk barisan dan membuka jalan sambil membuka jalan. Pintu Kuil Bumi terbuka lebar, Berata masuk kedalam kuil dewa Bumi. Pintu langsung tertutup, Suasana yang gelap tiba tiba diterangi cahaya keemasan dari seekor Naga raksasa yang sudah menunggu Berata.
“Aku penjaga Kuil dan Gunung ini, Aku Naga Aki Nabalu yang akan menjadi rintangan terakhirmu, jika kamu sanggup mengalahkan aku, aku akan memberikanmu Segel Dewa Bumi ini untukmu”
Naga Aki Nabalu ini sebenarnya adalah terbuat dari Batu yang dilapisi Armor emas berbentuk sisik ular, Berata Mengeluarkan Pedang Kalinyamat, Mereka bertarung dahsyat, beberapa kali Berata mampu menebas Naga Aki Nabalu tapi tak mampu untuk melukai Naga raksasa tersebut.
Berata Sudah sangat lelah, setelah tadi bertarung dengan patung tanah, kini harus bertarung dengan Naga raksasa yang tak mampu dilukai.
“Aku akan mencoba 4 jurus pedang Patung tanah tadi, siapa tau bisa mengalahkan Naga ini.”
Berata kembali mengangkat Kalinyamat, setelah melakukan beberapa Gerakan pedang yang di dapat dari pertarungan dengan Patung tanah, Pedang Kalinyamat berubah auranya menjadi kuning Berata merasakan kekuatan pedang Kalinyamat meningkat , Dia kembali menyerang Naga Raksasa tersebut, terjadi pertarungan lebih hebat dan melelahkan , getaran pertarungan tersebut menimbulkan gempa – gempa kecil disekitar Gunung Kinabalu.
Pedang Kalinyamat bisa melukai sisik Naga tersebut, tapi naga terlalu kuat sehingga Berata terkena kibasan Ekornya dan terhempas ke bebatuan
Akhirnya Berata Mengeluarkan Busur Gandiwa dan panah Pasoepati, Berata menarik Busurnya keatas kemudian membidik Naga Aki Nabalu, Naga Raksasa itu tidak tinggal diam dia menerjang dan menerkam Berata, Panah Pasoepati melesat memotong udara dan menimbulkan suara menggelegar, terbang langsung menusuk Jantung Naga Aki Nabalu, Naga Raksasa tersebut mengeluarkan suara keras, gunung Kinabalu bergetar, dan meletus tiba tiba bersamaan dengan matinya Naga Aki Nabalu.
Sementara itu Setelah Naga Ani Nabalu Mati, bertiup angin kencang , menyelimuti tubuh Naga Ani Nabalu, kemudian badan Naga Raksasa itu bersinar dan berubah menjadi orang Dewi dengan pakaian Keemasan, Dewi tersebut melayang di udara dan turun di depan Berata.
“Terimakasih, Anak muda, Aku Dewi Sri, kamu telah membebaskan aku dari kutukan Ayahku Naga Anta, saat ini Aku bisa kembali ke Dasar Bumi, sebagai terima kasihku, aku akan memberikanmu 3 permintaan”
Berata menunduk hormat, “terimakasih Dewi, Hamba hanya punya satu permintaan, Berikanlah Hamba Segel Dewa Bumi sehingga hamba bisa menyembuhkan istri hamba”
“Berata, aku kagum dengan kebaikan hatimu, ini hadiah dariku, Segel Dewa Bumi, ambillah ”, kata Dewi Sri
Berata menerima Segel Dewa Bumi, segel ini berbentuk Lencana yang terbuat dari emas.
“Berata, Penawaranku masih berlaku, jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu panggil namaku dan aku kan datang kepadamu, Segel ini adalah hadiah karena kamu sudah melepaskan aku dari kutukan ayahku”, Lalu Dewi Sri menghilang dari hadapan Berata
__ADS_1
Gunung Kinabalu yang sebelumnya mengamuk tiba tiba, letusannya mengecil dan menghilang. Hal ini membuat semua orang yang sebelumnya ketakutan kembali lega.