
Pesawat Berata segera menuju ke BIH, setelah sebelumnya menelpon Maharani untuk mengosongkan Atap gedung dan landasan Helikopter. Kurang dari 30 menit Berata sudah sampai, dalam kegelapan, taka da yang bisa melihat Pesawat mendarat vertikal di atas gedung. Para dokter kepercayaan Berata telah menunggu diatas atap, begitu Berata Sampai, mereka langsung masuk dan mengambil Bayi Berata.
Malam itu juga langsung dilakukan Observasi kepada 5 Bayi laki dan 2 bayi perempuan, bahkan Berata dan Anindya terjaga untuk memantau keadaan bayi.
“Dewata yang agung telah memberikan kita Anugrah yang tidak ternilai Kak Berata”, Kata Anindya
Berata memeluk Istrinya dengan erat, “Terimakasih Sayangku, kita harus menjaganya dengan baik”
“Benar sayangku, Dya akan menjaga seperti darah daging Dya sendiri”.
“Kita harus segera memberi mereka nama sayang, tapi coba kita tanyakan dulu pada Bakei apakah Mawinei sempat memberikan Nama pada anak-anaknya”, kata Berata
“Kak. Kita berdua bersalah besar pada Mawinei andai saat itu aku tidak egois Mawinei mungkin masih hidup kak”
“Terlebih aku sayang , aku tak menyangka semua ini, tapi aku memang tak mau membagi hatiku untuk orang lain, saat ini biarlah kita menebus semua kesalahan kita kepada Mawinei dengan merawat anak- anak kita dengan baik”
Lalu keluarlah team dokter yang menangani ke tujuh bersaudara itu. “ Tuan dan Nyonya Berata, Anak anda berdua sungguh luar biasa, tubuhnya sangat sehat untuk seumuran mereka, saat ini kami sudah mengambil sampel darah mereka untuk diteliti, besok kita pasti sudah menerima hasilnya tuan”.
“Terimakasih, setelah ini anda bisa membantu saya untuk membuat surat kelahiran untuk anak-anak saya, untuk namanya akan saya berikan besok pagi”, kata Berata
“Baik Tuan Berata, senang sekali bisa membantu anda”, kata Ketua team dokter.
“Sayang, sepertinya aku harus pulang dahulu, aku harus mempersiapkan ruangan untuk anak-anak kita, ruangan atas jelas tidak mungkin karena kita tak mungkin bisa mengurusnya sendirian, aku mau mengubah ruang bawah untuk kamar sementara anak-anak kita supaya Baby sitter bisa dengan mudah membantu mengawasi anak kita”, kata Anindya
“Benar sayang , tapi ini sudah malam, beristirahatlah dulu, besok kita belanja kebutuhan bayi kita, untuk ruangan aku akan perintahkan Damar untuk mengubah ruangan bawah menjadi kamar bayi kita” kata Berata
Berata meminta Damar untuk segera merubah ruangan bawah menjadi kamar Bayi, dan juga meminta agar beberapa orng menjemput ibunya untuk diajak merawat anak-anak mereka, karena Berata dan Anindya belum berpegalaman dalam mengurus anak.
Berata dan Anindya disiapkan ruangan khusus untukbesa beristirahat, tapi sebelumnya berata menemui Bakei untuk bertanya perihal Nama anaknya.
Kesokan Paginya, Ibu dan Bintang sudah hadir di Rumah sakit dan langsung berada di ruang observasi bersama Berata dan Anindya. Dari Bakei Berata mendapatkan informasi mana bayi yang lahir pertama sampai yang ke tujuh dan juga nama yang sudah disiapkan oleh Mawinei.
Nama Anak Berata
Wayan Djata Putra Hyman yang artinya Keteguhan Iman
Made Hanyi Putra Hyman yang artinya Anugrah Tuhan
Nyoman Nanjan Putra Hyman yang artinya Pemberani
__ADS_1
Ketut Mantikei Putra Hyman yang artinya Besi yang Lentur
Putu Harati Putra Hyman yang artinya Cerdas
Made Arai Putri Hyman yang artinya Riang Gembira
Komang Sanja Putri Hyman yang artinya Tenang dan Indah
7 Bersaudara yang lahir berselisih hanya kurang dari 5 menit masing-masing. Berata lalu memberikan Kalung berisi nama panggilan mereka supaya mereka tidak keliru saat memanggil nama anak-anak mereka.
“Nak kemarilah” kata Ibu kepada Berata dan Anindya, “ Bu Made mengeluarkan sebuah poto bayi dan memberikannya pada Berata
“Ibu, apakah poto ini foto aku waktu kecil??”, kata Berata
‘Benar nak, ini poto yang ibu simpan dulu, dari bayi ibutelah merawatmu, melihat bayi-bayi ini, ingatan ibu kembali pada waktu kamu kecil, mereka sangat mirip denganmu, lihatlah dan bandingkanlah dengan wajah bayimu, kelimanya mirip denganmu, ibu yakin bayi perempuanmu pasti mirip juga dengan Anindya”, kata bu made
Anindya memeluk lengan Berata, “Ibu bantu kami mengurus mereka, satu saja belum punya sekarang dikasi langsung 7 anak, tanpa ibu kami tak akan mampu mengurus mereka, apalagi kak Berata mungin dia lebih fasih melawan 100 orang daripada mengurus bayi”, kata Anindya yang membuat semua yang ada di ruangan tertawa.
Ketua team dokter masuk kedalam ruangan, wajahnya sedikit panik, “Tuan Berata mohon maaf, hasil observasi sudah keluar, kami membacanya dan ada yang aneh dalam darah ke tujuh bayi ini, lalu kami mencoba untuk menguji kembali darangnya , tapi kami tak bisa mendapatkan sampel darahnya”
“Maksud anda??”. Kata Berata
“Lalu apakah ada kelainan pada Bayi kami??”, kata Anindya dengan cemas
“Ibu Berata, bayi anda sangat – sangat sehat bahkan sangat kuat untuk bayi yang baru nerumur 2 hari, oleh sebab itu kami meneliti darahnya, dan kami menemukan sel sel dalam jumlah yang 10x lipat di bandingkan orang biasa sehingga pertumbuhan mereka bisa lebih cepat dari orang biasa”
“Jadi menurut anda Putra dan putri saya bisa berkembang 10 kali lebih cepat dibandingkan bayi biasa?”, kata Berata
“Benar Tuan Berata, secara sederhana seperti saat ini bayi anda baru berumur 2 hari tapi kondisi tubuhnya seperti bayi yang sudah berumur 20 hari, Satu lagi Tuan , Detak jantung anak anda 2x lebih lambat dari detak jantung normal orang biasa”
“terimakasih Dokter atas penjelasannya, tidak usah Kuatir, anak ini anugrah dari Dewata kepada kami, kami yakin pasti mereka adalah anak yang luar biasa”, kata Berata
3 hari kemudian, Berata membawa Bayi-bayi mereka pulang, bersama mereka juga ikut 7 orang Baby sitter yang bertugas mengurus si kecil.
Villa telah mereka rubah menjadi ruang bayi yang sangat besar, Bayi mereka sangat aktif, dalam sebulan mereka sudah bisa berdiri, semua orang terkejut dengan perkembangan super cepat mereka, tak terkecuali Berata dan Anindya yang begitu bahagia bisa mengasuh anak-anak luar biasa ini. Pulau Nusa Karang Suwung milik Berata sudah disulap menjadi Hutan buatan, ada juga danau buatan, tempat itu sekarang Asri dengan pohon yang rindang, Siamang Putih pun tinggal di hutan buatan itu, sekaligus menjadi pengasuh 7 bersaudara.
Saat mereka berumur 1 tahun badan mereka sudah seperti anak yang berumur 10 tahun, dan sesuai dengan petunjuk Dewi Dewantari agar Berata dan Anindya merelakan ke 7 putra dan putri mereka untuk diangkat Murid oleh Naga Basuki, Berata dan Anindya Sendiri yang mengantarkan mereka ke lereng Gunung Agung. Anindya tak mampu menahan tangisnya tapi dengan menguatkan hatinya hatinya Anindya mau juga melepas mereka. Berata Juga meninggalkan 7 Ekor Serigala untuk anak – anak mereka didalam pengawasan Naga Basuki, Uila dan Phoenix Api yang saat ini telah memiliki 3 anak masih ikut dengan mereka.
…..
__ADS_1
1 Bulan sudah anak Berata di dalam asuhan Naga Basuki, 1 bulan juga Anindya duduk murung di Villa, tidak ada yang mampu menghiburnya.
Berata memeluknya dari Belakang, “Sayang, 1 bulan kamu mangabaikan suamimu ini”, sambil mencoba mencium Anindya
“Eh, jangan dekat – dekat, tidak ada jatah sampai anak-anakku kembali”, kata Anindya
“Sayang , 1 tahun lho, masa 1 tahun aku tidak boleh menyentuhmu”
“Masa bodo”, kata Anindya
Berata pun pergi dengan uring – uringan dan turun menuju ruang bawah tanah menemui Damar.
“Kenapa mukamu begitu Berata???, Anindya masih ngambek??”, kata Damar
Berata mengangguk, “mana senjata yang aku minta”, kata Berata
“sabar… aku ambilkan “, kata Damar
Lalu Damar membawa sebuah senjata laras panjang yang terlihat ramping,”Berata senjata ini memiliki 3 mode, lihat ini tombolnya, yang berwarna hijau adalah mode biasa daya hancurnya ringan, tapi tetap bisa membunuh 1 orang, yang ini mode warna kuning, daya hancurnya sedang dan berbahaya, sekali tembak bisa membununh 10 orang disekitanya, dan yang ini adalah mode merah, mode berbahaya, saat ditembakkan bisa menghancurkan batu besar menjadi debu”, kata Berata
Berata lalu mencobanya satu persatu Mode tempur yang di katakan oleh Damar, dia mencoba mode hijau, yang bisa menembak 3 tembakan dalam 1 detik, kemudian mode kuning , mode kuning bisa menembak 1x satu detik. Untuk mode Merah karena daya hancurnya 5 detik.
“Damar, aku mau kamu perbaiki untuk mode merah , pengisian tenaga harus bisa dalam 2 detik”, kata Berata
“Baik Damar”, lalu menyerahkan sebuah pistol kepada Berata, “pistol ini cuman punya 2 mode, hijau dan kuning, pistol ini tidak akan terdeteksi metal detector, karena terbuat dari bahan plastik yang sudah aku modifikasi, ini sangat cocok saat kita melakukan penyerbuan dan pistol ini adalah pistol pintar karena hanya bisa digunakan oleh orang yang terdata sidik jarinya di serverku”.
“Baik, aku juga mau sebuah Pistol untuk Istriku”, kata Berata.
“Berata ada hal yang aku mau katakan padamu, Selama ini aku sudah berusaha mencari Mardi, sangat susah sekali, tapi aku berhasil menemukan sedikit data tentang dia. Terakhir dia terihat di sebuah desa kecil di pinggiran Kota Prancis. Desa itu adalah sebuah desa wisata di lereng bukit Col de l'Iseran, nama desa itu Desa Bonneval-sur-Arc, ini poto Pak Mardi , mungkin kamu bisa sekalian mengajak ANindya kesana sambil bulan madu”, kata Damar sambil tertawa
“Ini kesempatanku untuk memperbaiki hubunganku dengan Istriku”, guman Berata
Berata lalu naik ke kamar atas, Anindya belum juga beranjak dari tempat duduknya semula, Berata kemudian mendekati Anindya.
“Sayang, Damar menemukan sedikit petunjuk tentang Pak Mardi , pegawai kepercayaan Ayahku”
“Trus”
“Trus apa sayang”
“Trus kenapa harus memberitahu aku??”
__ADS_1
“Maksud kakak, ingin sekalian mengajak Dya kesana , karena katanya tempat itu desa wisata , Sayangku, bukan hanya kamu yang sedih, kakak juga sedih tidak bisa bersama dengan anak-anak tapi itu demi kebaikan mereka, mereka disana dididik untuk bisa menjadi tangguh seperti kita, kedepan jalanyangakan kita tempuh sangat terjal, kita harus mempersiapkan diri untuk melawan raja iblis, mungkin dengan perjalanan ini kita bisa sedikit mengobati kegundahan hati kita”, kata Berata
Anindya diam, merenung, berpikir, “Ayo kita Berangkat sekarang”, kata Anindya , sambil bangkit berjalan menuju Kamar mandi. Berata geleng-geleng dengan sifat istrinya yang seperti Angin ribut. Beratapun akhirnya kalangkabut sendiri, mengurus keberangkatannya, beruntung sebagai Mantan Anggota pasukan Garuda Berata punya Akses untuk mengurus keberangkatan secara cepat dan Anindya juga adalah Mantan Diplomat , jadi ijin lebih mudah di dapatkan. Mereka Berangkat Sebagai pasangan Suami istri yang akan berbulan madu.