Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 59. Mawinei


__ADS_3

Sekitar jam 9 malam, Sony sedang memeluk Mahadewi, “Sayang, aku sudah tidak sabar , jam 12 terlalu lama, biarkan aku menemani wanita itu dahulu”


“Kamu dasar lelaki buaya, selalu kurang” kata Mahadewi bergelut dengan Sony dihadapan orang lain di villa


“Bukan begitu sayang, kan ada barang baru, jadi aku harus mencobanya, kalau denganmu yang pasti aku tak akan pernah bosan”, kata Sony sambil mencium bibir Mahadewi dengan tak malu.


“Baiklah sayang, kamu boleh memulainya dahulu”, kata Mahadewi


“Benarkah sayang???, terimakasih”, Sony langsung bangkit, “tunjukkan padaku dimana wanita itu di sekap”, kata Sony kepada pengawalnya


Pengawal lalu mengantar Sony ke bagian villa yang dipakai untuk menyekap Anindya. Kemudian Pengawal mencoba membuka pintu kamar Anindya, tapi tidak bisa.


“Pak Sony, maaf pintunya tidak bisa di buka, sepertinya di kunci dari dalam”


“Masa tidak bisa, di buka, bukankah wanita itu dibius?”


“Iya pak Sony, saya sendiri yang membawanya dia masuk kedalam, dan dia masih pingsan di bius”


“Panggil penjaga, minta kunci cadangan kata Sony”, pengawalpun kalang kabut.


Sony sudah tidak sabar, sedangkan Berata dan Anindya yang sudah bangun dari istirahat malah tertawa-tawa di dalam ruangan.


Dari luar pintu terdengar suara gedoran karena kunci cadanganpun tidak bisa membuka pintu, terdengar suara, “Dobrak saja”, lalu suara di luar makin ribut, dan akhirnya pintu bisa terbuka, Anindya pura-pura tertidur.


“Hohohoh gadis yang sangat cantik, aku beruntung sekali malam ini, kalian jangan mengganggu aku, jaga pintu ini, apapun yang terjadi kalian jangan masuk, aku akan berpesta sendiri, hahahahah” sambil menutup pintu.


Mata Sony melebar, air liurnya sampai menetes melihat tubuh Anindya, tapi tiba-tiba lehernya di totok Berata sehingga tidak bisa berteriak, Berata menendang lutut, Sony sampai jatuh ke lantai dengan suara gedebug, lalu Anindya juga nenendang Sony sehingga terdengar suara gedebug dan terikan tertahan. Para penjaga yang mendengar di luar pintu tersenyum-senyum saja, mengira Sony telah melakukanaksinya


“Sudah hampir 1 jam bos Sony, belum juga keluar”, kata Penjaga


“Iya .. kuat benar bos kita kalo urusan cewek”, kata yang lain sambil tertawa cekikikan


Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam , Berata muncul di depan pintu Villa pura – pura bersedih, “dimana istriku, cepat katakan padaku”, kata Berata kepada penjaga.


Lalu penjaga membawa Berata kepada Mahadewi, “Akhirnya kamu datang juga sayangku, aku sudah lama menunggumu, mari datanglah padaku, tempat kita sudah disiapkan, malam ini kita akan berbulan madu” kata Mahadewi


“Apa maksudmu”, kata Berata


“Ya aku sengaja menangkap istrimu dan sebagai tebusannya kamu harus tidur denganku”, kata Mahadewi


“Aku tak sudi tidur denganmu, iblis betina”, Berata marah


“Hahahahha, aku suka gayamu Berata, aku suka , itu yang aku tunggu, laki – laki yang tidak mudah menyerah, Ki Sadrak aku serahkan padamu”, Ki Sadrak langsung muncul dari balik pintu dan duduk di kursi yang ada di depan Berata.


“Aku dengar kamu jago silat juga, aku ingin melihat keahlianmu itu, sebelum kamu jadi mayat hidupnya mahadewi, hehehehehheh, tundukkan dia”, perintahnya kepada anak buahnya


1 orang melangkah kepada Berata, Berata mundur ke area taman, “Majulah kalian”, kata Berata


“Banyak bacot kamu”, kata seorang berpakaian hitam yang melompat langsung memukul Berata. Berata meladeni dengan malas dan hanya menghindar saja.

__ADS_1


“Hei lawan aku, jangan jadi pengecut”, kata orang itu.


Berata kesal, lalu memukul dengan cepat, lelaki itu mencoba menangkis, tapi pukulannya Berata dengan mudah menembus tankisannya dan mengenai dada orang itu sampai terjengkang kebeakang dan langsung pingsan.


“Kamu mengirimkan orang yang sangat lemah”, kata Berata


“Bangsat kamu, ayo jatuhkan dia”, kata Ki Sadrak


5 orang maju lalu mengepung Berata, tanpa babibu langsung memukul dan menendang Berata, berata dengan malas langsung saja menjatuhkan 5 orang itu dengan mudah. Ki Sadrak sangat marah lalu memerintah semua anak buahnya untuk menjatuhkan Berata, lalu semua orang itu pun jatuh tak bersisa. Melihat itu Mahadewi sangat marah, lalu dia menuju kamar dimana Anindya di sekap, sampai disana dia bingung melihat suaminya Sony, bengkak dimana-mana dan pingsang sedangkan Anindya masih pingsang seperti semula.


“Kalian penjaga, kenapa suamiku bisa babak belur begini kalian masih berjaga??”


“Dari tadi tidak ada yang masuk, kami diperintah tuan Sony untuk tidakmasuk apapun yang terjadi, kami kira dia sedang bersenang-senang”, kata penjaga


Mahadewi kemudian memerintah 2 anak buahnya untuk membawa Anindya menuju ke tempat Berata bertarung dengan ki Sadrak


Sementara itu Ki Sadrak mengeluarkan ilmunya, lalu 4 bayangan hitam muncul dari dalam tanah, bayangan hitam yang seram, rambutnya acak-acakan mulutnya bertaring tajam mirip dengan iblis Bakemono, 4 bayangan hitam itu menyerang Berata dengan kukunya yang tajam, berata juga meladeni dengan tangan kosong, pertarungan seimbang, ternyata ilmu ki Sadrak juga tingg, Bayangan hitam tersebut sebenarnya adalah mahluk peliharaan ki Sadrak.


Berata kesal dengan pertarungan yang lama, lalu mengeluarkan pedang Kalinyamat, kali ini aura pedang berwarna hitam.


“Pedang Kalinyamat”, kata ki Sadrak, “Ternyata kamu yang membunuh Adik Seperguruanku Kalimaya, saatnya sekarang untuk menuntut balas”, lalu bayangan hitam tersebut bergabung menjadi satu dan membesar 2x lipat, di tangannya muncul 2 pedang besar berwarna hitam


“Kamu harus mati berata, kamu hadapi Lawang Setanku”, bayangan hitam itu menyerbu Berata dengan hebat, pertarungan sengit karena Lawang Setan Ki Sadrak tidak mempan di tebas Pedang Kalimaya, terlihat seperti berata melawan bayangan ular hitam yang besar, akhirnya berata mundur kebelakang dan aura pedang Kalimaya tiba tiba berubah menjadi putih, dan kabut tipis bersinar mengelilingi tubuh Berata.


Berata berjalan kearah Lawang Setan, Lawang Setan menabas dengan keras, kini Berata dapan menangkis dengan mudah, Berata tetap maju walau di serang Lawang Setan, lawang setan pun mundur karena Berata tetap maju walau diserang ganas, Ki Sadrak terkejut, Berata mampu menandingi lawang Setan, karena terdesak akhirnya Lawang setan melompat mau melewati Berata, tapi Berata juga melompat menebas, Lawang Stan menangkis tapi Berata lebih cepat, tubuh Lawang Setan terbelah menjadi 2 dan menghilang menjadi Asap


Di mengambil sebuah bilah bambu yang dijadikan pengganti pedang, Berata kemudian memukul tubuh para penyerangnya dengan maksud untuk melumpuhkannya tapi walaupun kakinya sudah di patahkan Berata, orang-orang tersebut masih tetap bisa menyerang.


“Sepertinya aku harus melumpuhkan kakek tua ini terlebih dahulu”, lalu Berata memukul Ki Sadrak dengan pukulan jarak jauh, tapi malahki sadrak menggunakan tubuh anak buahnya untuk menghadang pukulan Berata, orang yang terkena pukulan langsung tewas di tempat.


“Tidak bisa kalau begini, harus dihentikan supaya tidak ada korban lagi”, Lalu berata bergerak secepat angin mencoba menembus pertahanan dari Ki Sadrak, Berata hanya menghindar dan selangkah demi selangkah mendekati Ki Sadrak, Berata terus maju dan akhirnya bisa mendekati Ki Sadrak, Setelah berberapa jurus Berata mampu memukul Ki Sadrak, dan tiba – tiba orang yang dikendalikanitulangsung Jatuh.


Ki Sadrak Tertawa, “Hahahahahah, kamu hebat bisa mengalahkan Jurus Raga Saketiku, sekarang kamu lihat ilmuku yang sebenarnya”


Tubuh Ki Sadrak berubah menjadi manusia berbadan Serigala, kukunya tajam bagai besi, lalu menyerang Berata , Berata mengeluarkan pedang Kalajengkingnya untuk melawan Ki Sadrak, ternyata geraka ki sadrak sangat gesit, tubuhnya kuat, tidak mempan di bacok oleh pedang Kalajengking, berata kewalahan juga melawan Ki Sadrak yang sudah berubah menjadi Manusia Serigala, lalu Berata memasukkan pedang Kalajengking dan mengeluarkan Kedang Kalinyamat dan memotong motong tubuh Ki Sadrak.


Berata kira sudah selesai , ternyata potongan tubuhnya bisa ki Sadrak bisa menyatu kembali, “kamu ingin mencoba kehebatan ilmu rawa rontek milikku, hahah”, rasakan ini, Ki Sadrak menerkam tapi Berata berhasil menghindar dan memeotong kepala ki Sadrak, tapi dalam hitungan detikbisa bersatu kembali.


Ki Sadrak tertawa hebat. Berata memerah otak untuk mengalahkan Ki Sadrak ini, “Sebelumnya aku cuman mendengar ilmu Rawa Rontek ini, sekarang aku melihatnya sendiri kehebatannya”, kata Berata


Hampir 10 kali Berata sanggup memotong kepala ki Sadrak, tapi terus bersatu kembali, kemudian Ki Sadrak berubah menjadi 5 orang dengan ilmu membelah diri.


“Melawan satu saja susah apalagi 5 sekaligus”, kata Berata


Berata lalu secepat kilat memotong kelima wujud ki Sadrak lalu mencincangnya dalam hitungan detik, lalu mengeluarkan 7 ekor serigala, dan juga Uila si serigala putih, “Makan saja habis tubuhnya”, kata Berata


Serigala yang lapar itu memakan dengan cepat tubuh ki sadrak sehingga tidak sempat merapat ilmu rawa rontek dan mati menggenaskan di dalam perut serigala.


Mahadewi dan pengawal yang melihat itu langsung gemetar, “Kamu bukan manusia Berata, jangan kesini, kamu bukan manusia, pergi… pergi”, kata Mahadewi

__ADS_1


Lalu Uila mendekati Mahadewi dan melolong di depannya , Mahadewi gemetar seteangah mati, jiwanya terguncangm sedangkan para pangawal sudah pingsan duluan. Anindya yang dari tadi pura – pura pingsang langsung bangun dan tertawa, “Hahah, aku kira pemberani, ternyata nyalinya cuman seiprit kepada Mahadewi.


Tapi Mahadewi tidak merespon, pandangan matanya kosong, jiwanya sudah sangat terguncang, lalutertawa –tawa sendiri sambil menunjuk semua, “Ada Hantu… hahah ada hantu hahah”


8 ekor sergala itu segera masuk kedalam cincin Berata karena sirine polisi sudah berbunyi mendekati lokasi mereka.


Keesokan harinya terjadi kehebohan yang luar biasa karena tertangkapnya Sony anggota parlemen karena pesta narkoba dan tuduhan penculikan, selain itu Artis Mahadewi di bawa ke rumah sakit jiwa.


………….


7 Bulan setelah kejadian


Disuatu Pagi, di kamar tidur Berata, Matahari mulai menampakkan sinarnya, Berata yang sudah sedari subuh bermeditasi di luar ruangan , tersentak mendengan Anindya yang mengigau saat tibur,”siapa kamu, siapa kamu , katakan padaku”, kata Anindya dalam tidurnya, lalu segera Berata membangunkan Anindya dari tidurnya.


“Sayang bangun sayang, Berata membangunkan Anindya dengan Lembut”. Anindya yang tersadar lalu memeluk Berata sambil menangis


“Kenapa sayang, kamu mimpi apa sampai badan kamu gemetar seperti ini??”


“Kak, ini ketiga kalinya dia datang padaku dalam mimpiku”, kata Anindya


“Siapa Sayang??”


“Aku tidak tau kak”


Berata lalu bangkit mengambilkan segelas air minum dan memberikannya kepada Anindya, lalu dia menuntun Anindya untuk keluar minikmati udara pagi yang segar, mari duduk disini, kamu tenangkan diri dan ceritakan semuanya padaku. Lalu mereka duduk di kursi santai, ANindya Bersandar di dada berata, Berata memeluknya dari belakang.


“Kak, pertama kali di datang padaku 1 bulan yang lalu, seorang gadis yang sangat mirip denganku, sangat sangat mirip, dia datang meminta maaf padaku atas kesalahnya, ketika aku tanyakan kepadanya apa kesalah dia, dia tidak menyebutkannya, dia tidak menyebutkan namanya , dia hanya terus meminta maaf padaku, apakah dia Mawinei Kak Berata??”


“Aku tidak tau Sayang”, kata Berata dan pikirannya kembali ke masa pertemuannnya dengan Mawinei


“ 1 minggu lalu, dia datang kedua kalinya , tapi dalam mimpi itu dia terlihat hamil besar, wajahnya sangat bahagia, bahkan dia mengijinkan Dya untuk mengelus perutnya yang terlalu besar untuk ukuran orang hamil, katanya kalau anaknya lahir, dia boleh memanggil anaknya juga sebagai anak Dya, mungkinkah dia Mawinei Kak??”.


“Kakak tidak tau sayang”, kata Berata suaranya lebih serak


“Lalu hari ini dia datang, meminta tolong padaku untuk menyelamatkan anak –anaknya yang kini ada di dalam Hutan, anaknya diasuh oleh binatang- binatang dan penunggu hutan. Dia meminta Dya untuk mencari dan merawat 7 anaknya, lalu dia pergi”


“Sayang mari kita momohon petunjuk dewi Dewantari, untuk hal ini, kakak juga tidak mengerti”


“Dya setuju sayang”


Lalu Berata dan Anindya Bersemedi untuk memanggil Dewi Dewantari, setelah Dewi Dewantari datang, mereka berdua mengatakan tentang mimpi dari Anindya.


“Dia adalah Anakmu Berata”, kata Dewi Dewantari


Bagai petir, perkataan Dewi Dewantari menyambar telinga Berata da Anindya, “Bagaimana mungkin Dewi, aku tidak pernah menyentuhnya sedikitpun”, kata Berata


“Benar Berata, kamu tidak pernah menyentuh mawinei, tapi apaah kamu lupa, kamu pernah memberikan setetes darahmu pada Mawinei??, saat itu dia memohon kepada Dewata untuk memberikan dirinya anak sebagai pengganti dirimu yang tak mau menikahinya, dan Dewata Merestuinya, Dia anakmu Berata, dia anakmu juga Anindya, karena dia adalah saudaramu dalam 5 kelahiran. Ketahuilah sejatinya manusia itu lahir 5 bersaudara, yang lahir kedunia akan menjadi manusia, sedangkan 4 lainnya akan menjadi air-ari dan penjaga kita di 4 penjuru mata angina, Mawinei adalah 1 saudaramu yang harusnya menjadi penjaga tapi malah ikut terlahir kedunia”, kata Dewi Dewantari.


“Kak Kita harus mencari Mawinei sekarang juga’, kata Anindya

__ADS_1


__ADS_2