
Berata menuju mesin Genesis F-5, dia mengeluarkan kunci yang diberikan Mangkit Pakusadea, sebuah kunci emas yang yang bentuknya aneh, dia memutar anak kunci dari ruang tenaga mesin Nemesis. Dia melihat seperti Mangkok bulat yang di dalamnya seperti terdapat sinar berwarna biru yang berputar pelan. Berata mengatupkan tangan di depan Guci udara dan kemudian mengambilnya, berata merasakan tenaga yang luar biasa dari Guci udara ini.
Berata kemudian memasukkan semua mesin dan peralatan yang dalam ruangan itu ke cincin Dewi Aisani. Berata menjelajah ruangan tersebut , lalu menemukan sebuah gudang besar yang berisi batu berwarna biru bercahaya yang sama seperti sumber tenaga laser.
“Batu apakah ini, dia seperti memiliki sumber tenaga yang tak habis, Damar dan teamnya harus bisa mengetahui apa saja kegunaan batu ini”, lalu berata memasukkan semuanya kedalam cincin.
Berata memeriksa seluruh tempat itu dan menemukan sebuah gua yang di gali dan menemukan banyak pecahan batu biru tersebut, “ternyata tempat ini adalah sumber batu ini”, kata berata.
“Batu itu dalam Bahasa kami disebut POHAKU LANI atau Batu Surga”, kata Namakaena Momoa yang tiba tiba sudah ada di ruangan itu.
“Batu surga”, kata Berata
“Iya Batu Surga, karena batu ini terus mengeluarkan cahaya selamanya, batu ini susah ditemukan, aku tak menyangka di dalam gunung ini terdapat banyak sekali batu surga”
“Batu ini memiliki tenaga yang tak terbatas, tempat ini harus di hancurkan sehingga tidak ada orang jahat ataupun negara serakah ingin menggunakannya”, kata Berata.
“Aku setuju Berata, tapi bukankah batu ini akan berguna bagi kamu dan pengembangan teknologi dan pasukanmu”.
“Aku akan mengambilnya sedikit dan menutupnya”
“ Baiklah, mari kita segera keluar dari tempat ini, Semua pasukan Mangkit sudah kami tangkap” Kata Namakaena Momoa
“ Baguslah, kamu keluar dahulu, aku akan keluar dari puncak gunung ini”, kata Berata
“Baik, aku akan kembali ke desaku, kita bertemu disana, aku harap kamu bersedia memenuhi janji untuk mengajarkan kami beberapa ketrampilan”
“Aku akan menepati janjiku padamu Momoa” kata Berata
Momoa keluar dari ruang bawah tanah dengan Lift. Berata pergi kedalam Gua, kemudian mengambil banyak bongkahan yang sudah di tambang sebelumnya dan memasukkannya dalam cincin. Setelah itu dia melompat naik ke puncak gunung, Dia mengeluarkan Guci Udara, melakukan semedi dan memerintahkan badai tornado menghancurkan sebuah bukit batu untuk mengambil bebatuan , bebatuan itu dipakai untuk menutup ruang bawah tanah Gunung Muana Kea.
Diatas gunung , Berata kemudian memanggil Dewi Dewantari dan memberikan Guci Udara. Setelah itu Berata turun gunung dengan menaiki Serigala Putih. Desa Suku Kanaka Maoli pun heboh dan ketakutan melihat Serigala yang besarnya seperti seekor kuda bahkan lebih besar, semua bersembunyi melihat Berata Masuk desa dengan Serigala dengan duduk diatasnya. Sampai di depan ruang pertemuan, Namakaena sudah menunggu sambil terheran-heran melihat Berata yang menaiki Serigala Raksasa.
“Namakaena apakah aku bisa meminta tolong kepadamu”, kata Berata
“Katakan padaku, aku pasti berusaha membantumu”, kata Nakamaena Momoa
“Aku butuh banyak hewan dan binatang untuk aku lepas dalam cincinku ini, Sekarang aku punya 8 ekor serigala raksasa dan 1 ekor burung Phoenix Api, bagaimanapun aku harus memberi mereka makan”
“Baiklah kami akan menyediakannya untukmu”
“Aku akan membelinya, sediakanlah untukku, setelah itu aku akan menepati janjiku padamu , aku akan mengajarkan 2 ilmu kepadamu”
“Baik Berata, aku akan segera menyediakannya, kamu beristirahatlah”
“Baik” lalu Berata mengikuti Namakaena kesebuah tempat di pinggir Hutan, ditempat itu terdapat rumah suku Kanaka Maoli.
Berata bersemedi di dalam rumah, Serigala putih menunggu di luar rumah berjaga-jaga.
Dalam semedi, “Sayang”, Panggil Berata kepada Anindya.
“Kakak.. kakak membuyarkan pikiran Dya, Dya hampir saja selesai melatih jurus ke 17”, suara Anindya terngiang di pikiran Berata
__ADS_1
“Kakak menggangu??, kalau begitu kakak akan membiarkanmu berlatih”
“Jangan, Dya sudah berhenti berlatih, Dya kangen sama suami Dya yang tak pernah ada kabarnya”terdengar suara cemberut
“Maafkan suamimu sayang, kakak tidak melupakanmu, terlalu banyak halangan dan rintangan yang suamimu ini hadapi dalam perjalanan ini”
“Kakak, Dya kasian dengan kakak, demi Dya kakak bertaruh nyawa, Dewi Dewantari sudah bercerita kepada Dya semua tentang kakak”
“Kakak berharap segera menemukan cincin Api sehingga kakak bisa segera bisa bertemu denganmu istriku sayang”
“Hmmmm dalam perjalanan Pasti kakak bertemu dengan banyak wanita cantik ya” kata Anindya
Pertanyaan Anindya seperti petir yang menggelegar, “Kakak bertemu dengan mereka tapi tak ada mampu menandingi engkau istriku”, dengan hati kecut mengingat darahnya yang diminta Mawinei di Gunung kinabalu
“Awas ya kak, kalo ketahuan, Dya gak akan ampuni kakak” kata Anindya. Memang cinta kadang membuat kita menjadi seperti anak kecil. (Author)
“Sayang, kakak punya hadiah untukmu, pasti kamu suka, doakan kakak bisa segera menemukan cincin Api dan kita akan segera bersama”
“Kak, kangen”
“Kangen apa Sayang”
“Kangen ingin dipeluk kakak”
“Setelah kakak kembali kakak akan memelukmu dan akan pernah melepas mu lagi”
…..
Namakaena kemudian datang ke tempat Berata membawa makanan, tapi dia tidak diperkenankan masuk oleh Serigala Putih. Berata Keluar dan mempersilahkan masuk semua yang orang - orang yang membawa makan tersebut. Memang Berata hampir 10 hari tak menyentuh makanan karena pertarungan sebelumnya.
“Aku belum memberinya nama” kata Berata
“Ijinkan aku memberikan nama padanya dalam Bahasa kami karena disinilah dia lahir” kata Momoa
“Baiklah, aku setuju kalau dia setuju”, menunjuk ke Serigala putih, dan serigala putih pun mengangguk
Nakamaena Momoa sangat gembira, “Aku akan memberinya Nama UILA yang artinya petir, karena kecepatannya seperti petir dan warnanya putih”
“Nama yang bagus, Aku akan memanggilmu UIla mulai saat ini”, kata Berata
Uila, duduk dihadapan Berata, “Masuklah Uila, bergabunglah bersama saudaramu, Besok pagi aku akan memberi kalian makan “ kata Berata.
Berata kemudian bersantap malam dengan Namakaena Momoa. Saat tengah malam Berata mengajarkan Namakaena Momoa ilmu Kebal dan ilmu pernafasan. Ilmu kebal yang diajarkan adalah Ilmu Genta Emas dan ilmu pernafasan yang diajarkan adalah ilmu pernafasan Bebek. Ilmu pernafasan Bebek ini memungkinkan yang menguasainya bernafas melalui *****, sehingga saat di cekik atau di gantung , masih tetap bisa bernafas melalui *****
Pagi hari, saat matahari bersinar baru Berata selesai membimbing Namakena Momoa. Namakaena Momoa merasa sangat senang, tubuhnya terasa berbeda setelah diajarkan 2 ilmu tersebut.
“Berata terimakasih banyak, aku juga akan mengajarkan ilmu yang kau turunkan itu kepada semua anggota sukuku”, kata Namakaena Momoa
“Jangan pernah memberi ilmu ini pada orang yang tidak baik karena ilmu ini berbahaya, aku menurunkan padamu karena Gunung ini memiliki harta yang sangat berharga, Batu Surga. Jangan biarkan siapapun menggalinya terlebih anak buah dari Medusa”
“Siapa Medusa Berata??”
__ADS_1
“Medusa adalah pimpinan sebah organisasi rahasia, namanya Wrath Of God yang menjadi dalang berbagai kerusuhan di dunia ini. Markas mereka sudah hancur disini, aku berharap itu bisa menghambat mereka. Kamu harus menjaga dengan baik tempat ini, akan ada saatnya mereka akan datang, kamu bisa meminta bantuan padaku nanti”, kata Berata
“ Baik Berata, terimakasih banyak, kami akan menjaganya dengan nyawa kami, mari ikut aku, sepertinya mereka sudah mengumpulkan hewan yang kamu minta’, kata Namakena Momoa
“Nanti aku akan mengirimkan beberapa senjata yang bisa kau pakai untuk mempertahankan tempat ini”, kata Berata sambil berjalan mengikuti Namakaena Momoa
Mereka sampai disebuah lapangan tanah yang luas , ada ribuan hewan di lapangan tanah tersebut, Sapi, Kambing , Ayam , burung dalam kandang, “aku harap ini cukup”, kata Namakaena Momoa
“Terimakasih Momoa”, lalu berata memasukkan semua binatang tersebut kedalam cincin, lalu mengeluarkan sekantung berlian dan memberinya pada Momoa
“Ini terlalu Banyak Berata”, Kata Momoa
“Gunakan untuk membangun pertahanan gunung ini”, kata Berata
Para penduduk yang melihat keajaiban yang di lakukan Berata hanya bisa terheran – heran. Kemarin mereka melihat Berata menaiki Serigala putih, sekarang menghilangkan semua Binatang di lapangan, Kemudian mengeluarkan Sekantung berlian. Mereka berteriak Me’e, me’e yang artinya pahlawan yang ditujukan pada Berata.
Berata kemudian pergi dari tempat itu, lalu menghilang dan muncul Di sebuah Danau di kaki gunung Fuji. Dia duduk disebuah batu besar di bawah pohon. Lalu ada sepasang orang tua mendekati Berata, “Anak muda apakah anda wisatawan”.
“Iya saya wisatawan” kata Berata
“Hari sudah menjelang sore, tempat ini berbahaya di malam hari, mari ikut kerumah kami, tinggallah semalam dan besok pagi kamu bisa meneruskan perjalananmu”, kata si istri
“Baiklah kakek dan nenek, aku akan mengikuti kalian”, lalu berata membantu nenek dan kakek tua tersebut untuk membawa Kayu bakar yang mereka bawa. Mereka tiba di sebuah Rumah asli Jepang yang disebut MINKA, minka ini adalah rumah biasa untuk Para petani di Jepang. Rumahnya sangat sederhana tapi bersih.
“Siapa namamu anak muda “, kata suaminya
“Saya Berata , saya dari Indonesia, saya baru sampai hari ini, dan berjalan-jalan sampai lupa waktu” berata berbohong
“Selamat datang di Gubuk kami Berata, Saya Izanagi dan ini istri saya Izanami”.
“Apakah kakek dan nenek tinggal berdua saja di tempat ini”
“Iya kami berdua saja, anak anak dan cucu kami semuanya tinggal di kota, Silahkan kamu mandi, ini pakaian untuk ganti kamu , ini milik anakku, sepertinya cukup untukmu, Kata nenek Izanami
“Terimakasih Nenek”, Berata undur diri.
Rumah – rumah di pinggir danau Saiko ini berjarak hampir 50 meter dari rumah lainnya, sebuah desa yang asri dan damai. Malam hari, pintu kamar Barata di ketuk untuk ikut makan malam bersama. Bagian tengah rumah tersebut terdapat Api unggun yang di gunakan sebagai penghangat tubuh pada malam hari dan juga memasak makanan, di sekelilingnya lantai dialasi dengan kayu, Berata sangat suka berada di rumah pasangan ini, berata makan dengan lahap yang membuat pasangan ini sangat senang. “Berata kamu mirip dengan Nozomi anak kami, kami bahagia sekali melihat kamu mau tinggal disini”, kata Izanami
“Siapa Nama anak nenek, apakah dia tidak sering pulang kemari”, kata Berata
Raut wajah Izanami tampak murung, lalu kakek Izanagi berkata, “Nozomi sudah pulang kerumahnya yang abadi, Dia meninggal tahun lalu di hutan Aokigahara.”
Berata berhenti makan, “Mohon maaf Nenek dan kakek, Berata telah membuat kalian sedih”
“Tidak apa-apa Berata nenek hanya rindu pada Nozomi”
“Berata apakah tujuanmu ke gunung ini hanya untuk berwisata??”kata Kakek Izanagi
“Benar Kek, Berata ingin naik ke Gunung fuji”
“Kamu bohong nak, jalur ini bukanlah jalur pendakian menuju Gunung Fuji” kata Kakek Izanagi
__ADS_1
“Mohon maaf Kakek, kakek benar tujuan utama Berata kemari bukanlah untuk Mendaki Gunung Fuji, Berata ingin Mencari Kuil Dewa Api Kagutsuci”
“Kuil Dewa Api Kagutsuchi” Kakek Izanagi dan nenek Izanami juga berteriak terkejut