Berata, Pendekar Tak Tertandingi

Berata, Pendekar Tak Tertandingi
Bab 60. Menjemput Impian


__ADS_3

Pagi itu juga Berata mempersiapkan team penjemputan Mawinei, 3 mantan Komandan Jatayu, Rico, Michael dan Jose dan masing – masing 5 orang anggotanya ikut bersama Berata dan Anindya. Mereka naik pesawat hasil modifikasi Damar yang memiliki teknologi Hantu dan bisa lepas landas secara vertikal, langsung menuju ke Gunung Kinabalu.


Hanya dalam kurang dari 30 menit mereka sampai Desa Khadazan, mereka turun ditengah hutan tanpa diketahui siapapun, lalu berata dengan 3 komandan menuju rumah kepala suku Khadazan, saat mereka masuk desa, semua heran dan memanggil Mawinei, mawinei, tapi mereka berjalan terus menuju rumah kepada Suku, dan banyak penduduk yang mengikuti mereka berlima.


Sampai di rumah kepala Suku, Sudah banyak orang orang yang menunggu disana. Kepala suku keluar dari pintu rumahnya, “Berata kamu datang lagi”, kata Kepala suku


“Dimana Mawinei”, tanya Berata kepada kepala suku


Tapi kepala suku malah melihat kepada Anindya, “Kamu mirip sekali dengan Mawinei, pasti kamu Anindya istri Berata”


“Aku tak mau berbasa-basi, aku datang kesini untuk mencari Saudaraku Mawinei”, kata Anindya


“Mari kita masuk kedalam dulu, kita bicara didalam saja”, kata Kepala Suku lalu masuk kedalam rumah kepala suku, Berata dan Anindya ikut masuk tetapi, Rico, Michael dan Jose berjaga di luar.


Kepala suku duduk bersila, didepannya Berata dan Anindya tetap berdiri, “Berata, Mawinei sudah diusir sejak kamu meninggalkan tempat ini”, kata Kepala suku


“Kalian mengusir Mawinei”, pekik Berata yang tenaganya sampai keluar dari rumah, semua ketakutan dengan suara Berata.


Pov Mawinei, 9 bulan lalu


Mawinei sepeninggalan Berata, duduk di depan jembatan dimana Berata telah meninggalannya, lalu menangis, “Dewata dengar permohonanku, walaupun aku tidak bisa bersama kakak Berata jadikanlah Darah Kakak Berata ini sebagai pengganti kakak Berata untuk mendampingi aku”, lalu terdengar suara petir mengglegar, kemudian Mawinei meminum setetes darah Berata itu.


Mawinei kemudian pergi dari tempat itu menuju ke rumahnya. Tapi penduduk desa ramai berkumpul depan Rumah Mawinei, berdiri didepan rumah mawinei paling depan adalah Orang tua Mawinei.


“Kenapa kalian berkumpul dirumahku, ayah ibu, kenapa ada tas bajuku di depan kalian”, kata Mawinei


Ibu Mawinei menangis, “maafkan anakku, kamu harus pergi dari tempat ini, kamu telah gagal untuk menikah dengan penolongmu , oleh sebab itu kamu harus pergi dari tempat ini untuk mengasingkan diri di hutan”, kata ibu Mawinei


“aku tidak bersalah ibu, tolong jangan usir aku ibu”, kata Mawinei


“Kamu harus pergi nak, itu sudah peraturan dari suku kita, kamu sekarang harus pergi dari desa ini, kau sudah bukan lagi suku kami, kamu sudah diusir dari suku ini, sekarang pergilah atau kamu akan dilempari sampai mati”, kata Ayah Mawinei


“Kalian semua mengusirku??, kalian semua lupa kalau selama ini aku selalu menolong kalian, kamu lupa kalau aku pernah menyelatkan hidupmu”, menunjuk seseorang


“Pergi… pergi”, kata orang orang sambil mulai mengambil batu siap untuk melempari Mawinei


“Aku akan pergi dari sini, tapi aku tak akan mati, suatu saat nanti Suamiku Berata akan datang untuk menuntut balas”, kata Mawinei sambil berjalan pergi menuju Hutan tanpa membawa pakaian ataupun barang apapun, hanya pakaian yang menempel di badannya.


Mawinei masuk kedalam hutan , hari sudah sangat gelap, perutnya lapar karena belum makan dari pagi, dia menangis tersedu duduk dibawah sebuah pohon.


“Dewata, tolong hambamu ini, hambamu lapar dan kedinginan”, lalu tertidur.


Saat Mawinei tertidur muncullah sinar - sinar seperti kupu-kupu kecil yang berjumlah ratusan, kupu-kupu itu kemudian mengelilingi tubuh Mawinei, tubuh mawinei itu kemudian di angkat terbang menuju kesebuah tempat , tubuh Mawinei dibawa masuk kesebuah Gua yang Besar di lereng gunung Kinabalu. Sinar sinar itu adalah Roh Penjaga Hutan atau Kek Catok dalam mitologi orang Dayak Khadazan

__ADS_1


Pagi hari, Mawinei terbangun , dia heran bisa berada di dalam sebuah Gua, ada banyak buah-buahan didepannya, karena lapar dia segera mengambil buah itu dan memakannya dengan lahap. Lalu muncul satu persatu binantang hutan di dalam gua tersebut. Terutama seekor siamang berbulu putih, di tangannya dia membawa beberapa buah mangga yang matang di pohon. Melihat itu Mawinei sangat gembira, “terimakasih siamang putih”, Siamang putih itu mengangguk seperti mengerti perkataan Mawinei.


Di dalam Goa terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir , tempat ini juga hangat, karena matahari bisa masuk dengan leluasa. Saat siang hari, terdengar suara yang sangat riuh di pintu Gua, terdengar banyak suara binatang hutan, Mawinei bangun dari tidurnya dan melihat Siamang putih memimpin banyak siamang lain dan monyet, mereka membawa banyak kayu dan juga dedaunan, akhirnya Mawinei mengerti kalau Siamang putih ingin membuatkan dia tempat beristirahat.


Akhirnya Mawinei menyingkir dari tempat duduknya dan duduk ditempat lainnya, lalu tampak Siamang dank era-kera itu membuat sebuah rumah panggung dari kayu dan berdinding daun daun kelapa dan daun sawit, sedangkan Mawinei malah asik duduk makan pisang yang di bawa oleh kera-kera itu.


Selain Siamang dan Kera, banyak pula binatang yang lainnya, seperti rubah, serigala, macan tutul dan beruang. Jadi Mawinei selama di hutan dijaga oleh Kek Cantok melalui binantang hutan , setiap hari perut mawinei bertambah besar, dia tak pernah kesepian , selalu ada binatang yang menemani dan menghibur Mawinei.


Setiap hari Mawinei tidak pernah kekurangan makanan, bahkan Beruang sering membawakan ikan-ikan dan di bakar oleh Mawinei.


“Kak Berata, usia anak kita sudah 7 bulan, sebentar lagi akan lahir, aku merindukanmu kak, tapi kamu mungkin tidak tau kalau aku mengandung anakmu, terimakasih Dewata engkau tidak pernah meninggalkan aku, selalu menjaga aku, memelihara aku selama ini. Dewata saat anakku lahir, mohon jaga anakku, karena aku tak akan bisa menjaganya sendiri”


“Kak Berata, sepertinya anak kita tidak hanya satu, aku menghitung ada 7 detak jantung di dalam perutku, aku tidak tau apakah aku bisa melahirkan 7 anak ini sendirian kak”.


Malam harinya Siamang Putih dan Beruang selalu berjaga di dalam Gua, ada pula Kek Cantok yang berbentuk kupu-kupu bersinar yang hinggap di atas langit-langit gua.


Memasuki bulan kedelapan, kesehatan mawinei menurun, tubuhnya kurus dan lemah, hanya perutnya yang semakin membesar. Malam harinya Mawinei menangis tersedu.


“Kak, sepertinya aku tidak akan sanggup menjaga anak-anak kita , aku akan berusaha untuk melahirkan mereka dengan selamat, kak beri aku kekuatan, Dewata bantu aku”


Malam harinya Mawinei bermimpi bertemu dengan Anindya, dia sangat senang , dia berbicara banyak hal dengan Anindya dan meminta tolong kepadanya untuk menjaga anak anaknya”


….


“Kak Berata, tahan dirimu, lebih baik kita pergi untuk mencari Mawinei”, kata Anindya.


Berata menginjakkan kakinya ke tanah, dan tanah bergetar menyebabkan gempa yang menyebabkan beberapa rumah roboh, lalu keluar dari rumah ketua suku.


“Kalian pergi ke pesawat, lalu pergi mencari aku, kalian bisa melacak posisiku”, kata Berata lalu berdua menghilang dari tempat itu sehingga semua orang terkejut, berata berlari cepat menuju ke hutan dimana Mawinei pergi, berata dan Anindya mencari sampai kedalam hutan tapi tak menemukan Mawinei.


“Mawinei dimana kamu”, kata Berata dan Anidnya


Hari sudah malam, mereka tetap mencari kesana kemari tapi tak menemukan Mawinei. Berata duduk merenung sambil memeluk Anindya. Anindya mengelus rambut Berata, “Kak, sabarlah , besok kita cari lagi dimana Mawinei.


Lalu Sebuah kupu-kupu bersinar hinggap di lengan Anindya, “Hei Apa ini kak Berata, sebuah kupu-kupu yang bersinar”, kata Anindya


“Roh Hutan Sayang, mungkin roh hutan sedang membantu kita untuk menemukan Mawinei”, kata Berata


Lalu muncul lagi ratusan kupu-kupu bersinar yang yang terbang menuju sebuah tempat, Berata dan Anindya mengikuti kemana kupu-kupu itu pergi.


Sementara itu Mawinei sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan anak pertamanya di bantu oleh siamang putih dan beberapa siamang lainnya, Mawinei Berhasil melahirkan yang pertama, kemudian seekor Siamang memutuskan tali ari-arinya, kemudian Siamang putih memberikan anak laki-laki yang menangis itu pada seekor siamang dan kemudian disusui, anak itu langsung diam, begitulah Mawinei berhasil melahirkan 5 anak laki-laki dan 2 anak Perempuan , ke tujuh anak tersebut disusui oleh binatang yang ada disana, ada Siamang, ada Rubah dan Ada Serigala yang mebetula sedang menyusui Anak-anaknya.


Mawinei tertidur kelelahan tak sanggup lagi untuk bangkit, tubuhnya lemah, tangannya di pegang oleh Siamang putih, “Tolong jaga anak – anakku, aku sudah tidak kuat lagi, Ayah mereka akan datang menjemput mereka, saat itu belum tiba tolong jaga anak – anakku”, kata Mawinei

__ADS_1


Lalu di depan pintu gua banyak binatang yang bersuara, serigala melolong, semua ribut, lalu pintu gua terlihat terang benderang , Berata dan Anindya masuk kedalam Gua. Mereka melihat banyak sekali binatang yang ada di dalam gua, lalu melihat sebuah gubuk, Berata dan Anindya langsung melompat kedepan gubuk, di depan gubuk berata melihat Mawinei ditemani Siamang putih.


“Mawinei”, Kata Berata langsung menhampiri Berata, begitu pula Anindya.


Mawinei membuka matanya , “Kakak Berata kamu akhirnya datang, maafkan aku Kak, aku membohongi kakak”, Menoleh kepada Anindya, Anindya memegang tangannya, siamang putih pergi dari tempat itu.


“Kamu Pastilah Anindya istri kak Berata, maafkan aku Anindya, aku telah bersalah kepadamu, aku telah mengganggu hubungan kalian”, kata Mawinei kepada Anindya


“Jangan begitu Adikku, kamu juga adalah istri kakak Berata, seharusnya aku juga menjagamu”, Kata Anindya


“Waktuku tidak banyak lagi Anindnya, maukah kau menjaga anak-anakku, jagalah mereka seperti anakmu sendiri”


“Jangan berkata seperti itu Adik, kamu tidak akan kemana-mana, kita akan bersama –sama menjaga anak-anak kita”, kata Anindya, Berata hanya bisa melihat dan mendengar, tak terasa air matanya menetes, dia merasa Bersalah.


“Kak pegang tanganku” katanya kepada Berata


Berata memegang tangan Kanan Mawinei, Berata di sebelah kanan Mawinei dan Anindya disebelah kirinya, Mawinei menyatukan tangan Berata dan Anindya. “Kakak , Mawinei menyerahkan anak-anak kita kepada Anindya, dia adalah juga ibu mereka, Anindya tolong jaga anak-anak kita, sudah waktunya aku harus pergi”, lalu mawinei menghembuskan nafasnya yang terakhir”


“Mawinei, maafkan Aku, kata Berata, seandainya aku tau lebih awal, kamu tidak akan menderita arena aku”, Kata Berata


“Maafkan aku Adikku, aku akan menjaga anakmu seperti anakku sendiri, maafkan aku selama ini yang tidak tau tentang kamu”, kata Anindya


Lalu Kek Cantok atau Roh Hutan dalam bentuk Kupu-kupu yang bersinar, mengelilingi tubuh Mawinei, mengangkatnya ke udara, tubuh Mawinei bersinar dan menjadi roh dan kembali menjadi penjaga Anindya bersama saudara-saudaranya yang lain.


Berata dan Aninyda keluar dari gubuk, dan melihat ke tujuh Anak Mawinei sedang disusui oleh Binatang Hutan.


“Terimakasih Banyak kalian sudah menjaga anak-anakku” Kata Berata


“Ijinkan kami mengambilnya , kami akan merawatnya”, kata berata Kembali


Lalu Siamang putih itu menghampiri Berata, “Tuan, jika engkau ijinkan bolehkah kami ikut menjaganya, karena sejak dari kandungan ibunya kami sudah bersama-sama menjaganya”


“Mereka akan ikut dengan Aku pulang, jika engkau mau, engkau boleh ikut bersama kami “ kata Berata


“Terimakasih Tuan, aku akan ikut bersama istriku, aku akan membantu menjaga anak-anak ini” kata Siamang putih


“Siapa namamu”, kata Berata


“Bangsaku memanggil aku Bakei, ini istriku Sukei”


Lalu Tampak 7 ekor Kupu-kupu berwarna emas mendekati 7 bayi Mawinei dan hinggap di dahi mereka, tubuh bayi itu langsung bersinar keemasan dan kupu-kupu itu lenyap ketubuh bayi Mawinei.


Berata dan Binatang itu berbicara layaknya manusia karena Berata mengerti Bahasa mereka. Lalu masuklah anggota pasukan Berata ke dalam Gua, mereka sangat heran melihat banyak sekali Binatang yang berkumpul. Kemudian Berata membawa 7 Anak Mawinei ke dalam pesawat, Siamang putih dan istrinya ikut kedalam pesawat.

__ADS_1


__ADS_2