Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 99 : Regan


__ADS_3

Pov Regan


Entah kenapa pikiranku selalu terikat kepada Sena, Ya... wanita yang menyadarkan ku arti dari sebuah kesetiaan. Mungkin dulu aku memang sangat brengsek telah melukai nya begitu dalam bahkan suara tangisan Sena masih terngiang-ngiang di telingaku sampai saat ini. Entah apa yang merasukiku kalau itu menyakiti istriku demi seorang wanita yang tidak jelas. Aku terjebak dalam 3 wanita sekaligus bahkan rasanya aku ingin memilikinya. Tak kuduga berpisah dengan Sena membuatku menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu hal bahkan semua mahasiswi baru ku mengajakku berpacaran setiap hari, namun apalah daya aku masih trauma dengan yang namanya sebuah hubungan.


Terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan, saat itu aku menikahi Maya dengan sah lalu menggelar resepsi yang besar, tapi malah kenyataannya bertambah hancur dan membuatku terluka lagi untuk kesekian kalinya. Oke... aku akui jika aku menikahi Maya hanya ingin membuat Sena cemburu dan membuatnya menangis darah di hadapanku, tapi pada kenyataannya fakta itu terbalik dan aku yang menyesal sampai sekarang.


Setahun telah berlalu, aku belum bisa melupakannya semudah itu, hatiku sangat terluka sekali ketika Sena bahagia dan kini malah hamil anak dari sahabatku. Aku ingin sekali merutuki Devan dari sekian banyak wanita kenapa harus mantan istriku juga. Apakah tidak ada wanita lain di dunia ini?


Aku mencoba berpikir positif, mungkin mereka memang lebih berjodoh dan aku harus mengakui semua itu. Tak apalah, aku memang tidak bisa memilikinya dan aku sadar jika aku tak pantas lagi bersamanya setelah apa yang aku lakukan kepadanya.


Pagi ini aku harus membereskan barang-barangku lagi, esok cuti ku sudah habis dan aku harus kembali ke kota sebelah. Orang lain masih mengira jika aku tinggal di luar negeri tepatnya di Eropa. Aku mengaku seperti itu supaya mereka tidak menghampiriku di kota sebelah. disini aku hanya ingin melihat keadaan Papaku dan sepertinya beliau sudah menemukan cintanya setelah kepergian mama dan adik-adikku. Aku selalu mendukungnya ketimbang dia merana sendiri di rumah. Namun sepertinya kisah cintanya tak segampang itu, calon mertuanya ternyata adalah mantan pacar Mama. Oh Tuhan kenapa kisah cinta Papa malah seperti kisah cintaku dengan Sena yang mendapatkan Devan. Yang ku tahu jika Om Arya itu adalah mantan tentara yang memiliki pangkat cukup tinggi. Aku juga tidak tahu jika Raisa adalah putrinya.


Aku masih merinding ketika malam itu aku menyaksikan drama kisah cinta papaku di depan mataku sendiri. Papaku cukup berani di depan calon mertuanya itu.

__ADS_1


Ah.. sudahlah... biar itu menjadi urusan papa ku, namun aku akan tetap mendukungnya untuk mendapatkan Raisa.


Aku berdiam diri di kamar memperhatikan kan langit yang sepertinya akan turun hujan, semua masa laluku terlintas di pikiranku begitu saja dan ketika aku ingin melupakannya justru semakin mengingatnya dan terkadang aku selalu mengingat bayi kami yang sudah keguguran akibat ulahku. Andai saja aku bisa menjaganya dengan baik pasti sampai saat ini ini dia sudah lahir ke dunia ini.


Aku menghela nafas panjang dan berharap badai segera berlalu dan aku harus menghadapi sinar mentari pada esok hari yang cerah. Aku terkadang menginginkan jika aku harus kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku hanya meminta kembali saat 3 tahun yang lalu untuk menebus semua kesalahanku pada Sena dan memperlakukannya dengan baik.


Tiba-tiba aku mendapatkan telepon, salah satu temanku mengalami kecelakaan dan tidak ada walinya, dia sangat membutuhkan ku. Aku menuju ke rumah sakit untuk menjadi walinya. dia adalah teman lamaku yang sempat satu kampus denganku, setelah aku pindah kami menjadi jarang bertemu. Aku mengambil jaket sepatu dan kunci motor, aku melajukan motor milik papaku dengan cepat supaya tidak kehujanan.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung memarkirkan motorku di parkiran lalu masuk untuk mencari ruangan temanku. Sesampainya di sana aku melihat temanku ku lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit Aku menghela nafas panjang dia ini memang terkenal pecicilan. Dia bisa masuk ke rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas.


...


"Kenapa bisa begini?" tanyaku.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, dia Lalu menyuruhku untuk membayar administrasi dengan menggunakan kartu debit miliknya. Aku lekas ke kasir dan membayar administrasi miliknya. Sampai suatu ketika aku melihat orang yang aku kenal lewat disampingku tanpa mengetahui diriku. Aku menoleh dan melihat jika pria itu adalah Alden. Untuk apa aku ada disini? Apakah ada keluarganya yang sakit? setelah aku mendapat nota pembayaran, aku lekas mengikutinya dari belakang. Niatku hanya ingin menyapanya saja. Aku mengikutinya sampai di depan ruangan khusus anak-anak. Yang kutahu dia tidak memiliki saudara anak kecil bahkan tidak punya keponakan. Aku semakin penasaran sekali dan ketika dia masuk ke ruangan itu, aku mencoba untuk mengintip dari balik jendela, tidak terlihat karena Alden memunggungi anak kecil yang sedang terbaring di sana.


Alden memandanginya dengan lekat dan sesekali tangannya mengusap kaki anak kecil itu. Ingin sekali aku masuk dan menanyakan hal itu namun sepertinya itu bukanlah urusanku. Aku lekas pergi dari sana sebelum Alden tahu kehadiranku dan aku kembali ke ruangan temanku itu dan mengembalikan kartu debit miliknya. Sesampainya di ruangan temanku aku masih penasaran sekali dengan anak kecil itu. Aku mencoba menghubungi Devan dan menanyakan perihal Askia, telepon pun tersambung dan beberapa detik kemudian dia mengangkat telepon.


"Hallo Regan, ada apa?" tanya Devan.


"Kia mana? Ada bersamamu 'kan?" tanyaku.


"Dia ikut Alden  sudah beberapa hari ini."


Aku menceritakan jika melihat anak kecil yang sedang berada di rumah sakit dan alden menemuinya. Devan meminta alamat rumah sakit kepadaku dan juga ruangan yang merawat anak kecil itu. Aku memberikannya, siapa tahu jika itu adalah Kia.


Aku terus menghela nafas panjang, sebenarnya hidup Devan jauh lebih rumit dari ku namun dia cukup pandai untuk menyabarkan diri dan membuat semuanya seolah baik-baik saja. Itu yang aku suka dari Devan, dia memang pantas mendapatkan Sena. Aku terus mengulang kata-kata itu, Devan pantas mendapatkan Sena dan Sena pantas mendapatkan Devan, lalu aku bagaimana? Biarkan waktu yang menjawabnya dan pastinya jodohku yang sebenarnya akan datang sendiri. Siapakah dia? biarkan waktu dan takdir yang menjawabnya. Aku hanya bisa menunggu dan menunggu sampai jodohku sebenarnya datang kepadaku. Hemm... berikan aku jodoh author... supaya aku juga tak kalah dengan Papaku yang menunjukan taringnya. 

__ADS_1


__ADS_2