
Keesokan harinya.
Devan sudah kembali ke kantor lagi dengan disambut semua pegawainya. Mereka memberikan bunga pada Devan setelah mendapat kemenangan dari sahamnya yang sempat anjlok. Mereka lebih suka jika Devan yang memimpin dari pada Alden yang hanya bisa marah-marah saja.
"Terima kasih semuanya, kalian boleh makan sepuasnya di kantin dan biar saya yang teraktir," ucap Devan.
Semua orang bersorak, ia sangat senang sekali karena Devan tidak berhenti dari pekerjaannya. Devan juga orang yang sangat royal sekali. Devan kembali ke ruangannya, dia menemukan bunga lili yang nampak segar sekali. Dia menduga jika itu dari Sena. Devan memotretnya lalu mengirimkannya pada Sena, ia sangat berterima kasih karena sudah pagi-pagi diberi kejutan namun Sena mengatakan jika dia tidak mengirimkan apapun.
"Suka bunganya?"
Devan menoleh ternyata Regan yang memberinya.
"Re, kapan kau datang? Cepat sekali?"
"Semalam aku datang namun tidur di hotel dekat bandara."
Devan memeluknya dengan erat, ia sangat merindukan Regan. Regan memberi selamat kepada Devan karena sudah menang dari Alden yang sombong itu. Devan menyuruhnya duduk dan membuatkan kopi sedangkan Regan melihat foto Sena dan Devan terpajang di atas meja kantor.
"Sena sudah hamil?" tanya Regan.
Devan menggelengka kepala. "Aku sangat payah dalam urusan keturunan."
"Tidak mencoba bayi tabung?"
Devan menghela nafas panjang, ia terhenti saat mengaduk kopi. "Bayi tabung hanya untuk ****** yang sehat sedangkan milikku... ehm ya begitulah."
Devan lalu memberikan kopi itu, ia juga duduk di sebelah Regan. Regan mulai meminum kopi tersebut, sedangkan Devan menatapnya dengan lekat. Dia heran kenapa Regan bisa pulang secepat itu dari Eropa. Apa benar jika Regan tinggal di Eropa? Sangat mencurigakan sekali bagi Devan.
"Oh ya, kau datang bukan untuk meminta kembali Sena 'kan?" tanya Devan.
Regan tersedak lalu terbatuk-batuk.
"Uhuk... uhuk..."
Devan menepuk punggungnya lalu tertawa kecil.
"Kau pandai sekali, sudah tahu maksudku," jawab Regan.
Wajah Devan menjadi tegang membuat Regan tertawa terbahak-bahak. Devan menatapnya dengan malas. Sungguh dia sangat takut sekali jika Regan merebut Sena darinya.
"Hahaha.. kau memang anak yang lucu, Devan. Kau takut sekali kehilangan mantan istriku?"
"Tolong jangan sebut dia mantan istrimu! Rasa-rasanya seperti aku merebutnya darimu. Hahaha..."
Mereka bercanda bersama sembari meminum kopi. Sudah lama sekali mereka tak mengobrol dekat seperti ini. Regan juga memberikan oleh-oleh untuk mereka namun Devan heran dengan semua oleh-oleh itu yang seperti berasal dari kota sebelah.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Kau sebenarnya kabur ke mana? Mana ada Eropa menjual makanan seperti ini?"
Regan menahan tawanya, ia lalu jujur jika sebenarnya dia tidak ke Eropa melainkan menjadi dosen di kota sebelah. Devan mendengarkan dengan seksama, sahabatnya itu selama ini telah berbohong kepadanya.
"Lalu kenapa harus bilang ke Eropa?"
"Aku tak ingin kalian sampai menjengukku di kota sebelah. Maafkan, aku!"
Devan menepuk bahu pria itu, pasti sulit bangkit bagi Regan yang sudah kehilangan segalanya. Dia terlihat sudah sangat menyesal dan sudah berubah menjadi pria yang baik. Setelah menghabiskan minumannya, Regan berpamitan untuk pulang bahkan Bram sendiri belum tahu jika putranya itu pulang.
"Re, terima kasih karena sudah meminjamiku uang. Aku akan segera mengembalikannya."
Regan mengangguk, dia lekas keluar dari tempat itu lalu menuju ke suatu tempat.
Di sisi lain, Sena membuka toko bunganya. Dia tersenyum sendiri saat mengingat pergulatan panas malam tadi. Devan sangat kuat untuk bermain lama dan ia harap setelah ini dia hamil.
Sena menyirami setiap bunganya, tokonya menjadi ramai jika akhir pekan.
Kling... Suara lonceng diatas pintu berbunyi pertanda ada seseorang yang membukanya.
"Selamat datang. Cari bunga ap.. pa?" Sena memandang sosok pria yang pernah tinggal di relung hatinya. Pria yang 2 tahun tak pernah menganggapnya ada. Pria yang tega menikah dengan wanita lain di belakangnya.
"Oh, ternyata di sini ada toko bunga? Aku tidak tahu, lebih baik aku membeli di sini saja," ucap Regan.
Regan juga sangat kaget tatkala pemilik toko bunga itu adalah Sena. Sena lekas sadar dari melamunnya lalu mencoba untuk bertanya pada Regan.
"Sena, kau masih takut padaku? Maafkan, aku! Seharusnya aku tak bertemu denganmu lagi."
Regan lekas pergi dari sana, ia keluar dan menjauhi toko bunga itu sedangkan Sena langsung terduduk di lantai. Itu Regan, iya, itu adalah Regan Anggara yang mendadak muncul setelah setahun yang lalu pergi.
Di sisi lain, ia masih mengingat wajah ketakutan Sena. Apakah dia semenyeramkan itu? Huh... Regan merasa bodoh sekali karena dulu telah menyakitinya begitu dalam.
Regan pulang ke rumahnya, ia sangat ingin memberi kejutan untuk sang papa. Namun dia lupa jika sang papa bekerja dan satu perusahaan dengan Devan. Kenapa dia tidak mampir sekalian? Huh... dia sudah terlalu pikun untuk saat ini.
Maya, tujuannya kali ini adalah Maya. Dia ingin menemuinya dan pasti wanita itu sudah melahirkan namun sesampainya di penjara, pihak polisi menyatakan Maya sudah dibebaskan oleh seseorang.
"Siapa yang membebaskannya?"
"Mohon maaf, orang tersebut tidak ingin diberitahu nama maupun identitasnya."
Regan lekas menuju ke mobilnya kembali. Dia sangat penasaran siapakah yang membebaskan Maya?
**
Makan siang.
__ADS_1
Devan masuk ke toko bunga milik sang istri. Sena di sana sudah menyiapkan makanannya di atas meja dan tidak lupa lilinnya.
"Maaf, agak telat," ucap Devan.
"Ah, tidak apa-apa," jawab Sena lekas menarik kursi untuk sang suami.
"Wajahmu pucat sekali. Kau sakit?" tanya Devan.
Sena menggelengkan kepalanya, ia mengambilkan makanan ke piring suaminya itu.
"Apa Regan ke sini?"
Sena langsung terhenti saat mengambilkan nasi untuk Devan.
"Cieee... bertemu mantan suami."
Lagi-lagi Devan meledeknya. Sena mencubitnya pelan. Devan tak mau kalah, ia mencubit pipi sang istri tercinta.
"Sena, aku tengah memikirkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Bagaimana jika kau menikahi pria lain untuk mendapatkan keturunan? Aku sudah tak ada harapan lagi untuk membuatmu hamil. Aku cacat."
Sena merasa sangat geram sekali, ia bahkan melempar centong nasi ke lantai sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Di negara ini tidak boleh poliandri. Jika diperbolehkan pun aku tidak mau. Mas tidak ingat jika kita akan mengadopsi Serafina?"
Sena duduk dengan sangat kesal, ia menaruh sebakul nasi ke piringnya. Devan menelan ludahnya kasar, istrinya memang sangat menyeramkan jika marah.
"Mas hanya bercanda. Maaf."
"Bercanda jangan yang aneh-aneh!"
"Iya, Maaf sayang!" Devan mencubit pipi Sena yang gembul itu.
Mereka lalu makan dengan lahap lalu melupakan obrolan tadi dan di saat bersamaan Bram datang.
"Sena, bisakah kau rangkaikan bunga untuk Papa? Ini penting. Maaf menganggu waktu makan kalian," ucap Bram sambil membuka pintu.
Sena berdiri dari kursinya. "Bunga apa?"
"Bunga yang cocok untuk wanita," jawab Bram membuat Devan dan Sena saling memandang.
***
__ADS_1
Maaf, slow update dulu sampai tahun baru. nanti Januari rajin update lagi :)