Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 54 : Restu


__ADS_3

"Kenapa Kak Dev berkeringat sekali?" tanya Sena. 


Devan nampaknya merasa sangat grogi sebab akan meminta izin untuk menikahi Sena di depan calon Bapak mertuanya. Sena tersenyum geli, baru kali ini Pak bosnya merasa kurang percaya diri. Sena lekas menarik Devan dan masuk ke kantor polisi tersebut. Sena datang untuk meminta waktu sebentar menemui sang Bapak walau hanya mendapat waktu sebentar saja itu cukup untuk meminta restu. 


Devan semakin grogi kala Bapak datang, Sena serta Devan mencium tangannya. 


"Ada apa, Sena?"


Devan tak ingin dikatakan payah lekas mengucapkan perihal keinginannya. "Bapak, perkenalkan nama saya Devan dan saya adalah kekasih dari Sena."


Bapak mengangguk, Sena sudah sering mengatakan jika Devan adalah pacarnya. 


"Bapak, saya ingin meminta restu dari Bapak untuk mengizinkan Senarita menikah dengan saya."


Bapak tentunya sangat terkejut, Sena saja baru bercerai sekitar 3 bulan yang lalu tiba-tiba kini akan menikah lagi. "Apakah ini tidak terlalu cepat? Kalian baru dekat 'kan?"


Sena menggenggam tangan sang Bapak dengan erat dan meyakinkannya jika ia dan Devan sudah memantapkan diri untuk menikah. Bapak menatap Devan sekali lagi, beliau trauma menikahkan putrinya dengan pria yang belum lama dikenalnya.  Sena menunduk sedih, ia merasa jika sang bapak tidak akan merestuinya. 


"Bukan apa-apa, kau ini orang kaya sedangkan putriku orang biasa bahkan aku sebagai bapaknya di penjara. Bagaimana jika orang tuamu tahu? Lagi-lagi Sena pasti akan dihina," ucap Bapak. 


"Mama saya menyukai Sena dan meminta Sena untuk menjadi menantu beliau namun untuk Papa saya, saya akan mencoba membujuknya." 


Bapak menghela nafas panjang, itu permasalahannya. Jika salah satu mertua tidak menyukai menantunya maka dipastikan sang menantu tidak akan hidup tenang. 


"Apa kau benar-benar mencintai Sena? Kau pasti sudah tahu Sena seorang janda. Apa kau menerimanya?" tanya Bapak.


Devan tersenyum kecil. "Saya sangat mencintainya dan maka dari itu saya ingin menikahinya." 


Sena sudah meneteskan air mata, kebaikan Devan memang tak dapat diragukan. Devan selalu ada untuknya.  


"Pak, mohon maaf, saya seorang duda dan memiliki anak umur 8 tahun bernama Askia. Pasti Bapak tambah tidak merestui kami 'kan?" 


Bapak melihat kesungguhan mereka, apalagi Sena kini sendirian dan butuh teman hidup. Bapak tak ingin egois, ia mengangguk lalu mengenggam tangan mereka. Sena dan Devan juga melihat ke arah beliau. 

__ADS_1


"Bapak merestui kalian."


Hati Devan tentunya sangat senang, ia menciumi tangan calon bapak mertuanya. "Terima kasih, Bapak. Terima kasih atas restunya."


Bapak mengangguk. "Tapi ingat! Perlakukan Sena sebaik mungkin, sayangi dia sepenuh hati. Bapak tidak ingin kau ikut menyakitinya."


Devan mengangguk, mereka sudah lega karena sudah mendapat restu dari Bapak dari Sena, kini tinggal menunggu Papa dari Devan saja. Waktu bertemu mereka sudah habis, Sena akan memberi tahu kapan mereka menikah setelah mendapat restu dari orang tua Devan. Sena dan Devan berpamitan, Devan berjanji akan membahagiakan Sena. 


"Bapak percaya padamu."


"Bapak baik-baik di sini ya."


Bapak tersenyum sambil menepuk bahu Devan, pria itu sangat sopan bahkan sering memberikan senyuman jika berbicara.  Seusai dari kantor polisi, mereka memutuskan untuk mencari makan. Devan sangat lapar sekali. 


"Kak Dev, aku mau naik motor saja ya?" tanya Sena.


Devan mengangguk. Dia membantu memakaikan helm. Sena menahan tawa karena mempunyai kekasih sebucin ini. Pria duda jika bucin tidak ada yang menandingi. 


"Ada apa?" tanya Devan heran.


Devan paham, ia lekas masuk ke dalam mobilnya. Sena memainkan gas motornya lalu menuju restoran langganan mereka. Devan memang tak pernah melarang apapun yang akan dilakukan Sena namun yang terpenting dia tahu apa yang tengah Sena lakukan.  Di dalam mobil, Devan memperhatikan sang kekasih mengendarai motor. Matanya lekat memandang Sena.


"Anjas, jika aku beli motor saja bagaimana?" tanya Devan.


"Motor untuk apa bos?" 


"Untuk dinaiki dengan Sena. Sepertinya seru jika aku memboncengkan dia."


Anjas tertawa kecil. "Hahaha... tidak ingat Pak Devan terakhir naik motor jatuh ke sawah?"


Devan memutar bola matanya jengah. Dia memang memiliki trauma akan naik motor sampai sekarang. 


"Dulu ya dulu, itu 'kan dulu tiba-tiba ada kambing menyebrang jadinya aku banting stang karena refleks terkejut," pungkas Devan. 

__ADS_1


Anjas menertawai kejadian itu, kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan.  Devan yang malu kembali fokus memandangi Sena. Sebentar lagi mereka akan disatukan dalam sebuah hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan. 


Sesampainya di restoran, Sena memarkirkan motornya. Devan lekas keluar dari mobil lalu melepaskan helm yang dipakai Sena. Sena semakin geli dengan bucinnya Devan, baru kekasih saja sesayang ini apalagi jika mereka menikah nanti. Winda adalah orang bodoh yang melepaskan Devan begitu saja, dia tak pandai bersyukur mendapat suami seperti Devan. 


"Sudah, ayo masuk!" 


Sena mengangguk, dia masuk ke dalam sambil bergandengan tangan. Rasanya dunia seperti milik mereka berdua saja.  Saat sudah ada di dalam, Devan lekas memanggil pelayan lalu memesan makanan yang lezat. 


"Kia mana kok tidak diajak?" tanya Sena.


"Dia sekolah. Oh ya, dia ingin mengajakmu melihat pertunjukan pianonya."


Sena kaget. "Aku?"


"Iya, dia sangat senang sekali akan memiliki Mama baru, dia juga akan pamer pada teman-temannya."


Sena menggelengkan kepala, ia saja belum resmi menjadi ibu Kia. Dia tak ingin berselebrasi dulu sebelum akad nikah dilakukan. Sena melepaskan jaketnya, ia teringat jika Regan sudah menyerahkan diri ke kantor polisi untuk bertanggung jawab atas kesalahannya. 


"Tadi aku bertemu Papa Bram, tadi juga Regan menyerahkan dirinya di kantor polisi."


Devan mendengarkan dengan seksama, yang jelas pasti sebentar lagi Sena akan dipanggil pihak kepolisian untuk menjadi saksi. Devan paham jika Sena sudah memaafkan Regan dan tentunya ia ingin Regan tidak ditahan karena Regan sudah mau mengakui kesalahannya. 


"Maya juga sedang di proses bersama adiknya karena waktu itu sengaja menabrakku."


"Nana, bukan Regan yang mengataimu di sosmed namun ulah Maya beserta adiknya."


Sena sudah tahu hal itu, tak mungkin Regan akan meninggalkan kata-kata kotor di media sosialnya karena dia adalah seorang dosen. Sena menghela nafas panjang, saat ini yang dia pikirkan adalah Bram yang malang. Jika Regan dinyatakan bersalah maka Bram juga akan kehilangan Regan. 


"Kak Dev, Regan sudah berani mengakui kesalahannya. Apa aku bisa bersaksi pada polisi jika Regan tak bermaksud mendorongku?"


Devan menatap Sena dengan lekat, Sena pun segera menjelaskan jika tidak ada maksud apa-apa. Dia hanya ingin Regan dibebaskan dan menemani Bram yang pasti sangat terpukul. 


"Kak Devan jangan cemburu! Aku tidak ada maksud lain. Manusia itu terkadang bisa khilaf juga dan kadang dia bisa berubah jika diberi kesempatan. Aku ingin dia bebas dan menemukan pasangan yang baru untuknya bukan bersama Zara, Maya ataupun denganku. Dia pasti punya alasan menyakiti 3 wanita sekaligus walau statusnya masih dianggap sangat salah." 

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan maka lakukanlah! Aku tidak cemburu ataupun marah jika kau membela Regan. Aku juga pernah ada di posisimu, aku pernah membela Winda walau dia salah dan menyakitiku. Aku akan selalu dukung keputusanmu."


Sena sangat senang karena memiliki calon suami yang berpikiran dewasa dan memakai logikanya. Sena dan Devan memiliki masa lalu yang suram namun mereka tak mau dendam dengan yang namanya mantan. Mereka sudah memaafkan orang-orang yang sudah menyakitinya.  Begitulah cara menjalani hidup dengan saling memaafkan 'kan?


__ADS_2