Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 52 : Keterpurukan


__ADS_3

Regan hanya bisa melamun saat malam ini harusnya menjadi malam kesekian baginya bersama Maya di saat sudan menikah secara sah. Regan juga tak mau keluar dari kamar karena merasa hidupnya sangat hancur. Hanya air mata yang menemaninya kali ini sehingga hanya kesunyian yang menemaninya. Sedangkan Bram masih mengurus administrasi pernikahan Regan yang sempat belum terlunasi.


Regan mengambil obat yang ada di atas meja, obat anti depresan yang sudah diminumnya sejak bercerai dengan Sena. Hanya meminum itu membuat dirinya bisa tenang dan damai.


Regan tentunya bingung dengan langkah ke depannya, istrinya di penjara bersama sang adik sedangkan sebentar lagi dia akan segera berangkat ke Eropa untuk melanjutkan pendidikannya.


Aku mengaku salah, semuanya di mulai dari saat itu. Saat aku khilaf melakukan apa yang membuatku puas saja tanpa memikirkan orang lain.


2 tahun yang lalu.


"Zara, aku akan menikahi mantan mahasiswiku."


"Apa? Maksudmu apa? Aku sudah menunggu sekian lama namun kau malah akan menikahi wanita yang tidak kau cintai."


Regan menatap Zara dengan lekat, ia sangat mencintai kekasihnya tersebut namun apa mau di kata, Zara sudah memiliki anak dari pria lain.


"Maaf, kita akhiri saja semuanya."


Regan pergi dari tempat Zara, esok dia harus menikahi Senarita, wanita polos, dekil berambut keriting yang selalu membuatnya kesal apalagi Regan sudah tahu jika Sena adalah anak dari orang yang menabrak adiknya sampai tewas.


Keesokan harinya.


Akad nikah sudah di gelar dan dihadiri kerabat dekat. Kini mereka menjadi sepasang suami istri. Sena masih sangat takut dengan sosok Regan yang galak apalagi mempunyai sorot mata yang seperti elang.


Setelah acara makan sederhana selesai, Bapak pulang lalu menitipkan Sena kepada keluarga Bram. Bram pun senang bisa mempunyai menantu seperti Sena. Bram sudah tahu jika Sena adalah putri dari sahabatnya yang sudah meninggal.


Intan juga nampak menyukai Sena, mereka dekat saat itu juga apalagi Sena pandai memasak.


Malam hari, keluarga itu mengobrol. Regan dan Sena nampaknya malam ini akan pulang ke rumah Regan.


"Sena, kami ingin tahu apa pekerjaanmu?" tanya Intan.


"Saya hanya kasir di mall," jawab Sena.


Sena memang memiliki gelar sarjana namun saat itu ia masih kesusahan mencari pekerjaan. Bram yang bekerja sebagai manajer menawarkan pekerjaan pada Sena karena kualifikasi Sena sangat cocok di perusahaan itu.


"Regan, bagaimana menurutmu?" tanya Bram.


"Aku tidak peduli, Pah."


Jawab Regan sungguh membuat hati Sena terluka. Pria itu selalu menyakiti perasaannya.

__ADS_1


"Sena, tidak usah pedulikan ucapan Regan. Segera urus surat lamaranmu! Perusahaan juga sedang mencari pegawai baru."


Sena mengangguk paham, gadis lugu itu beruntung mempunyai mertua yang baik seperti Bram dan Intan. Ke depannya ia akan berusaha menggapai hati sang suami sebisa mungkin.


Setelah itu mereka pulang ke rumah Regan.


Di dalam mobil Sena sangat canggung dengan Regan karena nanti malam mereka akan melakukan malam pertama. Sena takut jika Regan kecewa dengannya saat malam pertama nanti. Sena mencoba jujur dari sekarang.


"Pak Regan?"


Regan tak menggubris, dia tetap menyetir sambil fokus ke depan.


"Aku hanya ingin jujur jika nanti malam pertama..."


"Cukup! Tidak ada malam pertama bagi kita. Simpan khayalanmu!"


Sena tercekat saat Regan mengatakan semua itu secara langsung. Tak ada malam pertama lalu untuk apa Regan menikahinya?


"Oh ya, jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Aku bukan dosenmu lagi. Panggil aku Kak saja!"


"Baiklah, Kak."


Setelahnya tak ada obrolan, Sena memilin rambutnya yang keriting sembari melirik ketampanan dosen yang sempat dia kagumi, namun sayang sekali saat Regan seolah terpaksa menikahinya.


Regan membuka pintu kamar, ia menyuruh Sena untuk masuk.


"Ini kamarmu dan di seberangnya adalah kamarku. Kau tidak boleh masuk ke kamarku tanpa izin."


Regan langsung ke kamarnya sendiri lalu menutup pintu. Sementara Sena masuk ke kamarnya sendiri. Oh Tuhan, apakah ini yang namanya pernikahan? Bahkan kamar mereka berbeda.


Keesokan harinya.


Sena bangun pagi-pagi untuk memasak sarapan dan mencuci pakaian Regan yang menggunung. Regan memang sudah tinggal sendiri sedari dulu. Ada mesin cuci namun Regan lebih sering melaundry-nya.


Sena menyalakan mesin cuci dan mencuci pakaian kotor Regan termasuk kemeja yang menggantung di depan sana. Sena pikir jika Regan melihat akan senang namun tak sesuai harapan Sena.


"Kemejaku yang di sini mana?" tanya Regan dengan bertelanjang dada.


Pipi Sena memerah, ini pertama kalinya dia melihat pria tampan itu menunjukan otot-otot tubuhnya.


"Hei, kau cuci?" tanya Regan melihat mesin cuci sudah berputar.

__ADS_1


"Iya, Kak."


"Bodoh! Aku akan memakainya ke kampus."


Sena mengernyitkan dahi. "Bukankah seharusnya Kak Regan cuti?"


"Untuk apa cuti? Buang-buang waktu saja."


Regan masuk ke kamarnya lagi membuat Sena sangat sedih. Dia menghela nafas panjang lalu melanjutkan aktivitasnya.


Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti. Regan tak kunjung menyentuhnya bahkan Regan jarang pulang ke rumah. Sena mulai curiga dengan Regan dan mengikutinya sepulang kerja. Pria itu mampir ke toko mainan membeli banyak mainan setelah itu menuju ke suatu tempat.


Tapi kecurigaannya hilang saat Sena tahu jika Regan pergi ke panti asuhan. Dia pikir Regan akan ke tempat orang lain. Sena cukup lega dan memutuskan pulang, sementara Regan lekas pergi dari panti asuhan lalu menuju ke rumah Zara.


Hubungan Regan dengan Zara kian intens apalagi Regan mendapat jatah batinnya dengan Zara. Sungguh keterlaluan! Regan telah mengkhianati Sena.


Tahun kedua Sena dan Regan menikah. Regan mulai renggang dengan Zara dan mulai bosan dengan hubungan mereka yang tidak jelas.


Sampai suatu ketika di kampusnya terdapat dosen wanita baru yang sangat cantik. Awalnya Regan tak menggubrisnya namun di malam itu saat acara ulang tahun rekan dosennya, Maya dengan sengaja memasukan obat perangsang pada Regan, pria yang menurutnya tampan, menarik serta memikat.


Ketika obat itu mulai bereaksi, Maya membawa Regan yang sudah tidak karuan di kamar hotel yang sudah ia sewa. Abimanyu juga ikut terlibat bahkan dirinya terekam CCTV hotel saat memapah Regan yang mabuk serta bernafsu tinggi itu.


"Pokoknya buat Regan seolah yang menghamilimu. Kau suka Regan 'kan? Kau ingin memilikinya 'kan?" tanya Abimanyu.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian! Kita sudah berencana seperti ini sejak dulu. Aku juga ingin membalas dendam pada Regan yang sok pintar itu," ucap Abimanyu.


Abimanyu juga memasang kamera untuk merekam mereka. Aksinya memang sudah terencana matang. Jika Regan tak mau menikahi Maya maka Maya bisa menyebarluaskan video tersebut.


***


Di ruangan Regan.


Regan memandang video itu, dia tidak mengingat kejadian malam itu namun hanya mengingat sekilas adegan panasnya dengan Maya.


"Aku sudah punya istri."


"Ceraikan istrimu! Kau tidak mencintainya 'kan?"


Regan tersenyum kecil. Dia bukannya memikirkan Sena malah memikirkan Zara. Setelah berpikir cukup lama, Regan lalu memberikan jawaban pada Maya.

__ADS_1


"Besok kita bisa menikah siri, aku akan bilang pada orang tuaku. Aku juga sudah muak menjalin pernikahan dengan istriku. Akan ku akhiri semuanya."


__ADS_2