Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 73 : Pengantin baru


__ADS_3

Tengah malam, pengantin baru itu rupanya tidak bisa tidur setelah menyelesaikan ronde kedua. Mereka yang hanya menggunakan selimut sambil berbaring menatap langit-langit kamar hanya diam menatap kosong. Perkelahian panas memang membuat pikiran mereka sedikit lega pasalnya sudah berbulan-bulan tidak melakukannya. 


"Mau lagi?" tanya Devan.


"Eh.... kuat sekali?" 


Devan meliriknya. "Besok pagi-pagi saja ya?" 


Sena memunggungi Devan, ia seolah menolaknya. Devan memeluknya dari belakang, ia menghirup aroma dari rambut istri barunya itu yang sangat menyegarkan. 


"Terima kasih atas semuanya," ucap Devan.


"Sama-sama. Kau cukup perkasa juga," jawab Sena.


"Cukup?"


Sena mengernyitkan dahinya lalu menoleh ke arah Devan. "Sangat perkasa. Puas?"


Devan tertawa, ia mencubit hidung Sena lalu menciumi pipinya. Ada rasa bahagia di dalam lubuk hatinya karena bisa mendapatkan Sena, ada rasa sedih juga saat mengingat dia menikahi mantan istri temannya sendiri, sebenarnya ia sangat bersalah pada Regan namun apa boleh buat? Takdir tidak bisa dibohongi. 


Sena dan Devan kini berusaha untuk tidur namun sebelumnya membersihkan diri dulu, mereka ke kamar mandi bersama dan Sena sedikit merasakan nyeri pada miliknya seperti melakukan pertama kali saja. 


"Kenapa jalanmu tidak nyaman seperti itu?" tanya Devan dibelakang Sena.


"Ehm... sakit."


"Kau sebelumnya belum pernah disentuh Regan atau bagaimana?"


Sena menghela nafas panjang. "Tidak sampai 3 kali." 

__ADS_1


Tentu saja Devan sangat terkejut, bagaimana bisa seorang istri tidak mendapatkan nafkah batin selama 2 tahun? Sungguh Regan sangat keterlaluan dan malah meminta pada wanita lain yang bukan istrinya. Kenapa ada pria yang seperti itu? Devan memeluk Sena dari belakang, ia berjanji akan menjaga dan menyayangi Sena selayaknya pada seorang istri. 


"Aku janji akan menyayangimu dengan baik dan tidak akan menduakanmu. Kita sama-sama pernah disakiti namun apalah daya saat itu kita bertahan karena egois dengan diri kita masing-masing."


Sena mengangguk, ia membalikan badan lalu memeluk Devan. Pria itu memang sangat baik sekali dan seorang yang penyayang. Tak hanya sampai berpelukan, rupanya Devan mencium bibir Sena dengan lembut dan seolah tak ada rasa lelah.  Mereka berciuman dengan mesra lalu merasakan sensasi yang luar biasa kembali, akankah ada ronde ketiga? Maklum saja, mereka pengantin baru dan berusaha ingin cepat mendapatkan keturunan. 


Keesokan harinya.


Sena sangat kelelahan sampai bangun jam 9 pagi, sedangkan Devan sudah mandi dan menatap laptop untuk mengurus pekerjaannya. 


"Pagi sayang, mau minum kopi biar aku buatkan?" tanya Devan sembari menatap Sena. 


"Iya, aku mau cuci muka dulu," jawab Sena.


Devan beranjak dari sofa lalu membuatkan minuman hangat untuk sang istri tercinta. Devan memang sosok pria yang penyayang dan romantis. Perempuan yang bodoh yang menyiakannya. Devan mengambil kopi bubuk dan tak lupa memberinya sedikit susu kental manis. 5 menit kemudian, Sena keluar dari kamar mandi lalu menuju ke sofa duduk disebelah sang suami.


"Pagi-pagi sudah urus pekerjaan?" Tangan Sena meraih secangkir kopi lalu meminumnya. 


"Mau bagaimana lagi? Inilah pekerjaanku dan memang tidak bisa terlalu lama ditinggal," jawab Devan. 


Devan memperhatikan busa kopi yang menempel pada sang istri namun bukannya mengelap dengan tangan malah menggunakan bibir. Sena sontak terkejut, ia mundur namun bibir Devan sudah menguasainya dan bahkan lidahnya sudah menjelajah masuk. Ciuman kali ini berasa kopi susu, rasanya manis dan tertinggal sedikit pahit. Tangan nakal Devan juga mulai menjelajah. 


"Eummmh..." Sena mendorong Devan sebelum sang suami meminta lagi dan lagi.


"Kenapa sayang?"


"Aku capek, mau bobok."


Devan tersenyum kecil. "Yaudah, aku bobok.in," goda Devan. 

__ADS_1


Sena menggelengkan kepala namun Devan masih ingin bermain-main dengannya, ia mendekatkan bibirnya yang nakal pada tengkuk leher Sena membuat wanita itu sangat merinding. 


"Sudah!" Sena mendorong dada Devan. "Ampun!" sambung Sena dengan nada suara yang mengiba. 


"Ampun apa? Tidak ada kata ampun. Hari ini adalah waktu kita berdua di kamar sampai malam."


Sena mengernyitkan dahi, ia langsung lari berkeliling kamar ini sedangkan Devan mengejarnya. Mereka berlarian bahkan Sena melempar bantal dan guling pada Devan. Mereka sangat menikmati momen ini apalagi kini mereka sudah menjadi suami istri yang sah. 


"Ah... hentikan! Jangan kejar aku!" teriak Sena.


"Kau yang  mengajak lari-lari," jawab Devan.


Sampai suatu ketika Devan terjatuh karena tersandung guling yang berada di lantai. Kepalanya terbentur lantai lumayan keras dan meringis kesakitan.  Sena sangat terkejut, ia lantas menghampirinya dan melihat keadaan sang suami. 


"Kak Dev? Kau tidak apa-apa?"


Sena mencoba memangku kepala Devan, jidat sang suami merah akibat mengejar Sena. Sena sangat merasa bersalah segera mengambilkan salep namun tangan Devan mencegahnya. Mereka berpandangan cukup lama sampai Sena tersadar jika tangan Devan mengelus pipinya. 


"Terima kasih sudah menerimaku yang tak sempurna ini. Aku susah mempunyai anak karena kondisiku namun kau masih mau menerimaku setelah mengetahui semua itu."


"Aku juga tak sempurna, aku juga banyak kekurangan jadi jangan merasa merendah begitu. Tak selamanya kekurangan itu menyedihkan asalkan kita bisa menguatkan satu sama lain." Sena dengan yakin menciumi wajah Devan lalu menggesekan hidungnya dengan hidung sang suami. 


Sena juga memberanikan diri mencium bibir Devan, Devan bukan seorang perokok membuat bibirnya terasa sangat manis. Mereka berciuman sambil duduk di lantai. Hari ini memang waktu mereka memadu kasih seharian di kamar untuk lebih mengenal satu sama lain. Mereka berciuman sangat lama membuat bibir masing-masing sangat basah. Nafas yang terengah-engah membuat pagi ini sangat panas bagi pasangan pengantin baru tersebut. 


***


Sampai di sini ada yang belum ikhlas jika Sena dengan Devan?


Tunggu ya! Nanti Regan akan ada novel baru.

__ADS_1


__ADS_2