Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 55 : Salah paham


__ADS_3

Sena beruntung mempunyai calon suami yang pengertian, Devan tak pernah marah jika Sena melakukan kesalahan justru malah membimbing Sena dengan baik. Makanan pun datang, mereka lekas makan. Sedari tadi Devan terus melirik Sena, ada suatu hal yang belum Sena ketahui tentang dirinya, namun Devan enggan untuk memberitahukan karena takut jika Sena menjauhinya.


"Kak Dev, ada apa?" tanya Sena.


"Tidak apa-apa. Setelah ini kita ke salon ya?"


Sena setuju, ia akan mempercantik diri di salon langganannya. Devan tentu saja ikut dengannya untuk memastikan sang kekasih mendapatkan perawatan kecantikan yang terbaik. Seusai makan mereka lekas ke salon, Sena melajukan motornya dengan pelan sementara Devan masih di belakangnya. Restoran dan salon itu dekat sehingga tak butuh waktu lama mereka sampai.


Motor terparkir sementara mobil Devan berada di sebelahnya. Hari ini memang hari libur mereka untuk mempersiapkan diri menuju hari menjelang pernikahan. Devan menjadi pusat perhatian karena dia begitu putih, tinggi serta tampan. Sena sangat beruntung sekali bisa bersanding dengannya.


"Halo... Iiih... bawa cowoknya ke sini," ucap Keke.


"Iya, dia ingin lihat aku nyalon. Tolong luruskan rambutku, ya! Warnai juga."


Sena lekas duduk di depan kaca, sementara Devan menunggu tepat di belakangnya. Keke begitu canggung karena Devan adalah orang yang cukup terkenal di kota itu bahkan sering wara-wiri di televisi seperti selebriti saja.


"Pak Devan mau minum apa ya? Aku takut dia tidak suka dengan makanan dan minuman yang aku suguhkan. Salon aku 'kan kecil tidak seperti salon lain," bisik Keke pada Sena.


"Kak Dev orangnya gak pemilih. Beri dia air putih pun pasti diminumnya," jawab Sena.


"Eh, kok air putih." Keke memanggil asistennya dan menyuruh membelikan minuman dan camilan.


Sena hanya menggeleng-gelengkan sahabatnya itu. Sena baru sadar jika calon suaminya adalah orang hebat namun semua itu membuat Sena semakin minder untuk bersanding dengan Devan.


"Oh ya, ini mau diwarnai warna apa?" tanya Keke.


"Kak Devan? Bagusnya ku cat warna apa?" tanya Sena pada Devan.


Devan berdiri lalu mendekati Sena. Dia melihat tangannya di depan dada sambil berpikir sejenak. "Terserah kau saja selagi cocok tak masalah."


"Cooo cwiiit... idaman sekali," goda Keke sambil mencolek bahu Sena.


Pipi Sena pun menjadi merah merona, Keke semakin membuatnya salah tingkah dengan ucapannya di depan Devan. Devan sangat menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum dan di saat bersamaan Kia menelpon untuk minta dijemput.


"Nana, aku jemput Kia dulu, ya? Nanti aku akan ke sini lagi."


"Baiklah, hati-hati."

__ADS_1


Devan mengangguk lalu lekas pergi. Sementara itu Sena tetap menikmati waktu menyalonnya.


Rambut Sena diluruskan terlebih dahulu supaya lebih rapi, waktu pengerjaan cukup memakan waktu karena rambut Sena sangat panjang lalu setelah itu adalah pewarnaan rambut. Sena memilih warna rambut coklat semu tua. Entah kenapa setelah bercerai ia sangat menyayangi rambutnya.


"Keke, nyalakan TV dong! Bosan."


Keke memberikan remot pada Sena, Sena menekan tombol On lalu mengganti chanel yang menurutnya bagus. Hanya ada sinetron, kartun serta talkshow yang tak bermutu. Sena mengganti lagi sampai ia menemukan tayangan gosip yang sedang mewawancarai seseorang.


"Kak Davikah katanya akan bertunangan?" tanya wartawan.


Davikah yang baru keluar dari mobil langsung tersenyum manis. "Benar."


"Apa benar dengan Devan, pemimpin perusahaan Aston Company?"


"Benar, hahaha... Kalian tahu dari mana? Bahkan keluarga kami masih bungkam."


DEG!!!


Sena dan Keke tak kalah terkejut, hati Sena sangat mendongkol. Dia lekas berdiri lalu mengambil tasnya.


"Mau ke mana? Belum selesai rambutmu, harus di cuci dulu!"


"Sena, jangan gegabah! Bicarakan dengannya dulu! Siapa tahu salah paham."


Sena tak memperdulikan lalu lekas menuju ke parkiran. Baru saja diterbangkan namun dia malah dijatuhkan. Sena tak mau terjadi untuk kedua kalinya apalagi jika ada bau-bau wanita lain.


Sena bergegas pulang ke kostnya, ia berencana untuk mengemasi seluruh barang-barangnya. Sebelum terjadi akad pernikahan lebih baik dia mundur.


Di sisi lain.


Devan kembali bersama Kia ke salon. Keke lekas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan dilihat Sena. Devan tentu saja takut jika Sena salah paham, ia segera menuju ke kos Sena.


Kia hanya bingung dengan situasi yang terjadi, ia hanya diam saja sembari berharap tidak terjadi apa-apa dengan hubungan mereka.


Sesampainya di tempat kos.


Devan melihat Sena sudah membawa koper, Sena panik, ia kembali masuk ke kamar kosnya namun Devan sudah menarik tangannya.

__ADS_1


"Pak Devan, kita akhiri saja hubungan ini."


"Apa maksudmu?"


"Kau akan bertunangan dengan wanita lain namun malah mengajakku menikah."


Devan menggelengkan kepala, sepertinya ada kesalahpahaman.


"Wanita itu lebih cantik dan pantas menjadi Ibu untuk Kia."


Sena sudah tidak bisa menangis karena tangisannya sudah habis untuk Regan.


"Aku jika mencintai seseorang maka tidak akan main-main. Aku pria sejati yang tak akan menyakiti hati wanita. Aku bahkan tidak tahu apa maksud Davikah mengatakan itu pada media," jelas Devan.


Sena melepas genggamannya. Dia menguatkan diri untuk tidak menangis. "Sudahlah, Pak Devan. Jika di sekitarmu masih ada wanita lain ku putuskan untuk menunda pernikahan ini bahkan aku juga akan membatalkannya saja."


Devan mengusap wajahnya kasar. Kenapa menjadi seperti ini? Dia bahkan jarang bertemu Davikah. Sena menarik kopernya melintasi Devan.


"Mau ke mana?" tanya Devan membuat langkah Sena terhenti. "Kau tidak bisa lari begitu saja sebelum tahu kejadian sebenarnya."


Kia menghampiri mereka, gadis kecil itu lagi-lagi harus melihat pertengkaran orang dewasa. Kia tidak tahu masalahnya namun dia memohon pada Sena untuk tidak pergi.


"Kenapa Tante suka sekali pergi meninggalkan kami? Tante janji 'kan akan selalu menemaniku?" tanya Kia.


Sena merasa tertampar dengan omongan Kia jika dia selalu pergi jika terjadi masalah.


"Papaku itu baik, dia tak pernah menyakiti perasaan Tante. Setiap hari dia terus membicarakan Tante di depanku dan di depan Oma." Kia menggenggam tangan Sena dengan erat, Sena kembali luluh dengan ucapan anak kecil itu.


Devan mendekati mereka, ia memandang Sena dengan lekat. "Ayo kita bertemu dengan Davikah! Kita bicarakan baik-baik."


***


Di cafe.


Sena hanya menunduk tatkala ia bertemu dengan wanita yang mengaku akan bertunangan dengan Devan. Wanita yang bernama Davikah itu juga tak bisa berkata-kata karena membuat mereka menjadi salah paham.


"Sena, aku minta maaf. Pernyataan di media tadi hanya omong kosong saja. Aku hanya ingin memanas-manasi mantan pacarku. Kami baru saja putus. Maafkan aku jika membuat hubungan kalian hancur," ucap Davikah dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Aku dan Davikah kebetulan masih saudara jauh. Jika kami dijodohkan pun pasti kami akan menolaknya. Kami tak mungkin menikahi saudara kami sendiri," jelas Devan.


__ADS_2