
Pagi hari, suara ketikan laptop membuat Sena terbangun. Netra matanya melihat sang suami tengah sibuk di depan laptopnya, hidung mancung darinya membuat Sena sangat gemas sekali. Sempurna, itu kata yang pas bagi penggambaran wajah tampan Devan. Sena selalu beruntung dalam masalah laki-laki, dia mendapat pria yang tampan dan menawan.
Pertama Regan dan kedua adalah Devan, mereka adalah tipe orang sempurna di dunia ini. Tampan, mapan serta banyak uang namun bedanya Regan tak sesempurna itu, dia memanfaatkan kesempurnaannya untuk membohongi wanita hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Sayang, berisik!" ucap Sena.
Devan menoleh kearahnya lalu tersenyum manis. "Maaf." Devan menutup laptopnya lalu mengecup pipi Sena dengan lembut dan rupanya sang istri masih sakit.
"Demammu belum turun padahal nanti siang kita ke Bali," ucap Devan.
"Tunda ya? Kepalaku pusing sekali," jawab Sena.
Sena bangun lalu duduk diatas pangkuan Devan, tangannya menarik tangan Devan lalu meletakkannya di keningnya. "Elus!"
"Kenapa istriku mendadak manja begini?"
"Mumpung suamiku baik, hehehe..."
Devan mengelus-elus kening Sena dengan lembut. Sena nampak terlelap kembali. Devan pun sampai heran karena manjanya Sena melebihi manjanya Kia. Dan benar saja, Sena tertidur kembali. Devan tersenyum kecil, ia justru senang saat melihat Sena manja seperti ini. Pria itu menghirup aroma sampo milik sang istri, entah apa yang dia pikirkan justru terlintas saat pertama kali bertemu dengan Sena. Dia tak menyangka akan menjadi suami dari karyawannnya sendiri.
__ADS_1
Devan meraih ponselnya, ia akan membatalkan bulan madunya sampai Sena sembuh. Dia menatap layar ponselnya, ia lekas mengganti wallpapernya menjadi foto Sena dan Kia. Mereka kini adalah penyemangatnya untuk hidup.
Kling...
Papa Antony : Dewan direksi meminta makan malam, sungguh kau tidak jadi bulan madu?
Devan : Malam ini? Iya, kami membatalkan bulan madu karena Sena mendadak sakit.
Papa Antony : Ajak Sena sekalian untuk dikenalkan pada mereka jika Sena baikan.
Devan : Oke, Pah.
2 jam kemudian.
Waktu menunjukan pukul 9 pagi. Sena bangun lalu merenggangkan tubuhnya, ia melihat tubuhnya masih diatas sang suami dan sang suami sedang menonton TV. Sena memeluknya dengan erat dan sangat gemas sekali dengan Devan.
"Apa sih, Sayang?" tanya Devan heran.
"Jangan ke mana-mana ya! Sini aja!"
__ADS_1
"Sudah ganti pembalut belum? Ganti dulu gih! Sudah jam 9 ini."
Sena mengangguk. "Gendong sampai ke kamar mandi."
Devan tersenyum, ia menggendong ala bridalstyle dan menuju ke kamar mandi. Setelah sampai ke kamar mandi, Sena diturunkannya dan Sena menyuruhnya keluar.
10 menit kemudian.
Sena keluar dari kamar mandi dengan keadaan panik. "Kak? Kok aneh sekali? Kemarin jelas-jelas aku menstruasi namun ini sudah berhenti dan flek saja."
Devan mengernyitkan dahi. "Benarkah? Mungkin kemarin kau salah."
Sena menggelengkan kepalanya. "Kemarin sungguh keluar. Apa masih ada masalah ya dalam rahimku? Tapi kistaku sudah dikeluarkan bersamaan dengan janinku saat itu."
"Apa perlu kita ke dokter saja? Sekalian memeriksakan demammu?"
"Aku tidak mau. Aku takut jika memang rahimku bermasalah lagi."
Sena sangat sedih tatkala ia harus kehilangan janinnya, ia terus mempikirkan janinnya yang jika lahir akan mirip Regan. Devan mengusap pipinya, ia meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1