
Wah... pembaca saya terbagi menjadi dua kubu. Tim Regan dan Tim Devan.
Ayo tunjukan alasanmu di kolom komentar kenapa memilih #Regan atau #Devan. (Dengan alasannya ya!)
1 orang yang beruntung di tim Regan akan mendapat pulsa @25 ribu.
1 orang yang beruntung di tim Devan akan mendapat pulsa @25 ribu.
Lumayanlah baca novel + memberikan pendapat dapat pulsa.
Terima kasih. Semoga tak bosan membaca kisah ini dan ini baru bab 36, tolong jangan minta dipercepat alurnya. Wkakkakak.. πππβΊοΈ
_______________~~~~_________
Regan sudah membereskan perlengkapan mengajarnya dan memasukan ke dalam kardus. Walau dia sudah tak mengajar lagi di akhir bulan namun ia mencicil untuk membereskannya.
Menjadi seorang dosen adalah mimpinya sejak kecil namun sepertinya mimpi yang tak sejalan dengan kenyataan.
"Pak Regan?"
Seorang pria masuk ke ruangannya dan memberikan secarik kertas.
"Ini alamat Abimanyu. Oh ya, untuk apa mencarinya?"
Regan menerimanya lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Terima kasih."
Pria itu lalu pergi, Regan memastikan sebelum berangkat ke Eropa ia harus membantu Maya untuk mencari Abimanyu. Bagaimanapun alasannya, Maya harus meminta pertanggungjawaban pada pria itu.
Tangannya meraih beberapa buku lalu salah satu buku itu terselip kertas yang jatuh ke lantai. Regan memungutnya, ia membaca kertas itu yang ternyata dari Sena ketika masih menjadi istrinya.
Untuk suamiku.
Bukunya sudah aku sampul supaya tidak kotor. Selamat mengajar dan mencetak mahasiswa-mahasiswi terbaik. Love you, Sayang.
Regan tersenyum kecil, ia menyimpan kertas itu di dompetnya.
"Andai saja waktu bisa diputar, aku akan menjagamu dengan baik."
Di sisi lain.
Sena hanya termenung di kamar kosnya sambil membayangkan masa depan dengan si kecilnya. Karena bosan, ia memutuskan untuk menyambangi sang bapak di penjara. Beliau juga belum tahu jika Sena sedang hamil anak Regan.
Sena mengambil tasnya lalu berangkat menggunakan motor. Dalam perjalanan, ia memikirkan wajah Devan yang selalu baik dengannya, entah itu rasa kagum atau cinta dia sendiripun tidak paham.
Sesampainya di penjara, ia melihat sang Bapak nampak bugar dan sehat. Mereka bertemu namun terhalang kaca penyekat.
"Wajahmu pucat sekali?" tanya Bapak.
__ADS_1
"Iya, aku sedang hamil, Pak. Jadi sering mual jika pagi."
Bapak sangat terkejut, hamil? Sena menjelaskan jika dirinya hamil anak Regan dan ia memang tidak memberitahukan saat proses perceraian terjadi. Sena tidak ingin perceraian itu gagal karena dirinya sedang hamil.
"Lalu rencanamu apa?" tanya Bapak.
"Aku tidak tahu namun sepertinya akan membesarkan anak ini sendirian. Bapak tahu bosku? Pak Devan, dia sangat baik dan selalu menolongku."
Bapak menatap wajah Sena yang memerah. "Kau suka dengannya?"
Sena hanya diam, tak mungkin menyukai orang secepat itu apalagi dalam keadaan hamil. Sena pun terkadang segan untuk menolak kebaikan Devan.
"Sena, kau baru saja bercerai, jangan dekat dengan pria dulu! Tak baik."
Air mata Sena menetes, dia tak ada keluarga selain Devan yang selalu ada untuknya.
"Aku hanya kesepian, tidak ada saudara, tidak ada Bapak dan Ibu. Terkadang aku berpikir apa lebih baik aku mati saja, namun aku sadar jika aku tidak selamanya sendirian, ada bayi dalam perutku yang juga berhak mendapatkan kehidupan."
Bapak juga menitikan air mata, sebagai orang tua malah tidak bisa menjaga putrinya saat sedang terpuruk.
"Setiap malam rasanya aku ingin mengakhiri hidupku. Aku merasa kesepian, andai saja Ibu masih ada. Kala sedih pasti dia akan memelukku." Isakan Sena semakin menggema membuat Bapak menjadi tidak tega.
"Tunggu Bapak keluar dari penjara! 8 tahun lagi, itu waktu yang singkat, benar 'kan? Sadarlah Sena! Kau wanita yang kuat, masak seperti ini saja menyerah? Kasihan bayimu."
Sena mengusap air matanya, ia mengangguk sambil tersenyum, benar jika dirinya harus kuat menghadapi semua ini. Semuanya sudah terlewati, pengkhianatan Regan semuanya sudah usai. Dia kini bisa bangkit menjadi sosok single mom yang tangguh.
Sena menggeleng.
"Jangan kembali padanya! Sampah yang di daur ulang tak selalu bermanfaat. Tau 'kan maksud Bapak?"
"Aku paham, Pak. Terima kasih sudah mau menjadi tempat keluh dan kesahku."
Bapak tersenyum manis, orang mana yang tega melihat anak satu-satunya menderita? Bapak pun yang merasa tak pernah membahagiakan Sena merasa sangat bersalah. Sedari kecil Sena selalu menderita bahkan sampai kuliah pun Sena bekerja sendiri membiyayai kuliahnya.
"Pak, aku bawa makanan! Jangan lupa dimakan! Jika begitu aku pulang dulu."
"Hati-hati, Sena! Tetap semangat! Oh ya, jangan lupa pesan Bapak! Jangan dekat dengan pria manapun dulu! Fokus pada kandunganmu saja! Karena anak tiri tetaplah anak tiri, paham? Tau 'kan maksud Bapak?"
Sena tersenyum. "Paham, Pak."
Sena keluar, ia sangat lega bisa curhat dengan sang Bapak. Setelah ini pun dia ingin ke salon Keke untuk merilekskan diri sambil curhat dengan sahabat barunya itu.
Saat perjalanan menuju ke salon, ia menikmati jalanan yang sepi. Angin masuk ke dalam helmnya dan menerpa jaket yang dia kenakan. Bibirnya bersenandung menghilangkan rasa jenuh, dia bisa merasa jauh lebih segar seperti ini.
Brakk....
Tiba-tiba sebuah mobil menabraknya dari belakang, Sena terjatuh dari motor dan untung saja pelan. Mobil itu langsung melarikan diri tanpa menolongnya.
__ADS_1
"Ah... perutku sakit." Sena memegang perutnya yang keram.
Orang yang ada di sekitar menolongnya.
"Mbak gapapa?"
"Iya, aku gakpapa."
Sena berdiri, ia naik ke atas motornya lagi. Untung saja lukanya hanya di lengan.
"Mbak yakin tidak ingin ke rumah sakit?"
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih."
Huh... Rumah sakit? Aku sudah 3 hari di rumah sakit. Aku tidak mau masuk rumah sakit lagi.
Sena melajukan motornya menuju ke salon, perutnya hanya keram sesaat saja. Dia yakin kandungannya tidak akan terjadi apa-apa. Dia sepertinya hafal dengan plat nomor yang menabraknya, namun dia tak ingin berburuk sangka.
Itu seperti mobil Regan? Jadi dia memang ingin balas dendam denganku.
Di sisi lain.
Aura, adik dari Maya tertawa saat sudah menabrak Sena lalu kabur begitu saja. Maya pun sangat takut jika ketahuan orang lain jika mereka menabrak dengan sengaja.
"Kau keterlaluan, kita bisa dipenjara," ucap Maya sudah ketar-ketir.
"Haha, nomor platnya sudah aku ganti yang sama dengan plat nomor milik Kak Regan dan mobil ini adalah mobil sewaan."
"Kau selalu bertindak bodoh, Aura."
Aura mendengus kesal. "Kakak mau saja disakiti mereka. Mereka tidak pantas menyakiti kakak, terutama Sena. Dia itu wanita tidak baik. Dia penjilat, ia bisa menjadi sekertaris karena menjadi simpanannya Pak Devan."
***
"Sena, katanya kau sakit?" tanya Keke.
Sena duduk di kursi sambil melepas maskernya. "Sudah sembuh."
Saat duduk, ia merasakan nyeri di perutnya.
"Sena, ada apa?" tanya Keke.
"Tidak apa-apa. Oh ya, aku ingin creambath dong! Seperti biasa ya! Ini bayinya minta Mamanya dipijat."
Keke tertawa kecil. "Cepat carikan Bapak gih tuh bayi!"
Sena mencubit wanita kemayu itu, ia masih merasakan keram di perutnya dan berselang menit kemudian rasa keram itu hilang.
__ADS_1
Sepertinya setelah ini aku harus ke dokter kandungan lagi. Aku takut bayiku kenapa-napa.