Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 97 : Pesta dan menunggu Kia


__ADS_3

Malam hari


Keluarga dekat terus berdatangan, mereka membawa berbagai kado untuk anak angkat Devan dan Sena. Mereka sangat penasaran sekali dengan wajah cantik yang menjadi anak mereka. Namun sayangnya ada beberapa yang mencibir jika Sena dan Devan sangat bodoh karena mengadopsi bayi yang cacat serta tak berguna, namun mereka tetap diam saja karena tak ingin menyakiti saudaranya itu. Tak berselang lama kemudian Serafina datang tengah digendong Devan, balita kecil itu menggunakan gaun warna pink yang sangat cantik. Beberapa orang mendekatinya dan mencubit pipi gembulnya itu.


"Namanya siapa, Sayang?"


"Nama saya Serafina Auradella, Onty."


Mereka sangat gemas sekali dan bergantian menggendongnya dengan hati-hati. Memang sedikit rumit untuk menggendong Serafina namun semua itu tak mematahkan semangat mereka untuk menggendongnya.


Makanan sudah tersedia dalam bentuk prasmanan mereka sepuasnya bisa memakan semua makanan itu. Beberapa rekan Devan juga hadir membawa banyak kado untuk Serafina. Sena sangat cantik dengan dress warna pinknya yang serupa dengan milik Serafina. Sena datang dan lekas menggendong Serafina yang seolah rewel ketika digendong rekan-rekan Defan. Bayi itu nampaknya tak terbiasa dengan banyak orang dan dia malah menangis.


"Cup sayang... mereka orang baik pengen main denganmu."


Tangisan Serafina semakin kencang, Devan menyuruh Sena untuk membuatkan susu. Sena menuju ke dapur dengan menggendong Serafina. Dia meminta bantuan Bibi untuk membuatkan susu. Bibi lekas membuatkannya sedangkan Serafina duduk di kursi sambil mengecup pipi anaknya tersebut.


"Bu, Kia tidak datang?"


"Mas Devan mencoba menelponnya namun tidak diangkat," jawab Sena.


Dia pun juga sama halnya khawatir dengan Kia. Kia tak ada kabar sama sekali. Setelah susu terbuat Sena lekas meminumkannya pada Serafina. untung saja bayi gembul itu cepat terhenti dari tangisannya dan membuat tidak kerepotan.


Setelah susu itu habis, Sena membawa putrinya menemui mereka tamu semakin banyak namun acara belum lekas dimulai karena Devan masih menunggu kedatangan putrinya. Rekan datang bersama Bram membawa banyak hadiah untuk putrinya itu.


"Hallo, adik manis. Namanya siapa?" tanya Bram.


"Namanya Serafina, Kakek."


Bram mengernyitkan dahinya. Kakek? Semenjak dia dekat dengan Raisa malah tidak suka dianggap tua.

__ADS_1


"Papa aja panggilnya, jangan kakek!" ucap Bram.


Sena tertawa dibuatnya, Bram memang sangat lucu ketika sedang jatuh cinta. Sementara Regan hanya menatapnya jengah, ia lalu memberikan hadiah untuk anak angkat dari mantan istrinya itu.


"Selamat, kudengar kau juga sudah hamil?" tanya Regan.


Sena mengangguk dan menerima semua hadiah dari mereka. Dia sangat senang sekali ketika mereka mau hadir di acara kecilnya. Devan masuk ke dalam rumah setelah menunggu kedatangan Kia yang tak kunjung datang. Sena menghampirinya lalu menyuruh untuk memulai acara. Devan paham, ia lantas mengambil alat pengeras suara dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah hadir dalam acara kecil ini. Dia memperkenalkan Serafina sebagai anak keduanya, sementara anak pertamanya tetap Kia yang kini tidak bisa hadir karena ikut bersama mamanya ke luar kota. Setelah acara sambutan selesai, Devan juga mengumumkan kehamilan Sena. Semua orang sangat senang sekali bahkan bertepuk tangan memberikan selamat, mereka sudah menunggu selama 1 tahun dan lantas sudah mendapatkan hasil dari buah kesabarannya. Tak mau berlama-lama, Devan pun meminta mereka untuk makan dan mengambil sepuasnya karena hari ini adalah hari bahagianya.


Devan menghampiri Sena lagi, dia menyuruh Sena untuk makan terlebih dahulu sementara Devan akan menjaga Serafina. Sena mengambil makanan yang banyak, entah mengapa saat hamil dia menjadi sangat rakus sekali. Sesekali dia melirik Regan yang makan bersama Bram sambil mengobrol hangat. Sena menghampirinya, ia ingin bertanya masalah Maya.


"Kak Re, maaf menganggu. Apa kau bertemu dengan Maya?"


Regan mengangguk, dia menceritakan pertemuannya itu setelah satu tahun lebih tidak bertemu dan Regan juga menceritakan jika Maya sempat berbuat buruk pada Sena. Sena menghela nafas panjang, dia tak masih tak menyangka jika Maya berani berbuat seperti itu.


"Kak Regan tak ingin kembali padanya?" tanya Sena.


Regan hanya diam, Sena yang merasa ucapannya salah segera minta maaf dan lekas pergi dari mereka. Bram memperhatikan wajah putranya yang masih menyimpan rasa suka pada Sena namun mereka tak bisa bersama lagi. Bram menepuk bahu Regan dan menyuruhnya untuk segera makan. Regan makan dengan lahap, ia terus memperhatikan wajah Sena yang berseri-seri saat mengobrol dengan sahabatnya itu. Kenapa harus menikah dengan sahabatnya? Devan sangat tega sekali kepadanya.


"Coba telpon Alden!" pinta Sena.


"Dia tidak mungkin mau mengizinkan Kia untuk datang ke mari," jawab Devan.


"Coba dulu, Mas!"


Devan dengan terpaksa menelponnya namun malah tidak aktif. Devan semakin kalut dan takut jika terjadi apa-apa dengan Kia. Sena membantu mencoba menelpon Winda, ketika diangkat Winda malah seolah tidak tahu.


"Kak Winda, tolong! Beritahu Kak Alden supaya Kia bisa datang ke acara kami," pinta Sena.


"Kenapa aku yang ikut repot sih? Aku tidak mau."

__ADS_1


Sena menghela nafas panjang, dia hanya bisa menunggu kedatangan Kia saja. Sena selesai makan, ia menyuruh Devan untuk makan juga. Acara sangat meriah sekali dan ada musik yang mengalun. Semua orang menikmati makan malam kali ini, Devan berhasil menghidupkan suasana kebersamaan mereka.


Devan terus menatap pintu rumahnya yang terbuka lebar, dia membayangkan jika Kia datang, Devan ingin memperkenalkan Kia pada Serafina dan memberitahu Kia jika dia akan punya adil lagi yang masih berada di perut Sena. Namun sepertinya tak semudah itu, sampai penghujung acara Kia tidak datang. Devan menganggap jika Kia sudah melupakannya begitu saja padahal banyak makanan favoritnya.


"Mas, tidak ada kabar dari Kia sampai sekarang?" tanya Sena.


"Tidak ada, dia sudah membenciku."


Sena mengusap punggung Devan untuk menyabarkannya, dia tahu kegundahannya selama ini.


Di sisi lain. Alden mengusap wajahnya kasar saat melihat Kia sudah bersimbah darah di tangga darurat. Masalah akan menghampirinya setelah ini.


"Kau mendorongnya?" tanya Alden.


"No, dia lari dari kamarku dan aku mengejarnya namun dia malah jatuh ditangga. Aku tidak mau tahu, kembalikan uangku!"


"Uangmu? Memangnya kau bisa mengembalikan semua ini?:


Bule itu menatap tajam Alden. "Aku hanya perlu mendapatkan uangku kembali dan masalah anak kecil itu urusanmu."


Alden tak menggubris ucapan bule tersebut. Dia mengangkat tubuh Kia dan bersyukur Kia masih bernafas.


Saat akan berjalan menaiki tangga, bule itu sudah ada di sana.


"Sialan! Dapat uang tak seberapa namun malah mendapatkan seperti ini. Hei! Anaknya Winda, bangun! Jangan pura-pura mati! Sial! Aku harus bagaimana?"


Alden lekas meminta bantuan pada pihak apartemen untuk membawa Kia ke rumah sakit.  


**

__ADS_1


Untuk kisah Regan tunda dulu ya, soalnya nunggu intruksi editor untuk mulai updatenya. Semoga masih mau untuk mengikuti.


__ADS_2