
Keesokan pagi.
Sena merenggangkan tubuhnya mengikuti irama hati. Beban berat dirinya semakin hilang satu persatu. Senyumannya mengembang tatkala ia melihat tulisan yang bertuliskan "Semangat, Senarita!" yang merupakan tulisan mendiang sang ibu menempel di kertas yang dilekatkan di dinding.
Hanya itu penyemangat yang tersisa.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara ketuk pintu, dengan wajah yang masih seperti bantal karena sehabis bangun tidur membuat Sena begitu sangat imut.
"Ya?"
Sena membuka pintu ternyata Anjas, sang asisten dari Devan.
"Kak Sena, Pak Devan sudah menunggu di mobil?"
"Hah?!"
Sena melihat mobil Devan, Devan melambaikan tangan dari kaca mobil. Bahkan Sena pun belum mandi dan berdandan, betapa paniknya dia.
"Kalian berangkat dulu saja! Aku bahkan belum apa-apa," pinta Sena.
"Kata Pak Devan, dia mau menunggu selama apapun sampai Kak Sena benar-benar siap bahkan mau menunggu sampai kau diajak menikah," ucap Anjas menggoda.
Sena dengan refleks menoel bahu Anjas membuat pria itu kesakitan, Anjas memang lebih muda dari Sena namun dia memiliki segudang prestasi yang banyak sehingga Devan mengangkatnya menjadi asisten pribadi.
"Kak, Pak Devan melihat."
"Biarin." Sena menjulurkan lidah lalu segera masuk.
Sena segera mandi secepat bebek lalu dandan ala kadarnya dan akan melanjutkan berdandan di mobil. Sena merupakan sekertaris yang beruntung, dia bahkan dijemput langsung oleh atasannya. Betapa istimewanya dia.
Anjas masuk ke dalam mobil, ia tak enak hati dengan Devan.
"Sepertinya Sena sering sekali mencubitmu?" tanya Devan saat Anjas masuk ke dalam mobil.
"Maaf, Pak. Kami tidak bermaksud membuat anda cemburu."
Devan tersenyum kecil. "Aku memang sangat cemburu, ingin sekali aku dicubit olehnya namun sayangnya tidak pernah."
Anjas melirik Devan dari kaca spion atas. "Karena anda atasannya, sekali cubit pecatan di depan mata."
Devan tertawa terbahak-bahak, benar saja. Sena tak berani melakukan itu padanya dan pasti Devan akan memecatnya lalu menyuruh Sena bertanggung jawab karena sudah membuatnya berdebar sangat kencang.
Tak berselang lama kemudian, Sena masuk ke dalam mobil, dia mengucapkan selamat pagi pada Devan dengan senyuman lebar.
"Eh, Kia mana?" tanya Sena.
__ADS_1
"Dia ikut ibunya." Nampak raut wajah Devan sedih.
"Jangan sedih, Pak! Harusnya bersyukur karena Kia masih mau menemui ibunya."
Devan tahu semua itu, Kia masih butuh ibunya. Devan tak mau egois dan menang sendiri. Anjas melajukan mobilnya menuju ke kantor. Devan melirik Sena yang sangat cantik walau memakai make up tipis.
"Sudah sarapan?" tanya Devan.
"Aku mau makan di kantin saja," jawab Sena.
"Baiklah."
Setelah itu tak ada obrolan, mereka sangat canggung. Pria yang lebih tua darinya 6 tahun itu terkadang kaku seperti kanebo dan tak punya obrolan yang seru.
Sesampainya di kantor.
Sena melangkah duluan, ia masuk ke dalam lalu menuju ke ruangannya. Dia tak ingin berjalan dengan Devan karena takut pegawai lain mencibirnya. Saat itu juga, ia melihat Aura. Dia ketakutan melihat Sena. Sena tak menggubris namun tiba-tiba Devan sudah ada di belakangnya.
"Pak Devan?"
"Sebentar lagi polisi akan mencarinya karena telah terbukti berusaha mencelakaimu dengan sengaja menabrak motormu saat itu dari belakang."
Sena teringat kejadian itu, kejadian yang hampir membuatnya kehilangan anaknya yang di kandungannya. Sena tak menduga jika mereka akan menggunakan cara licik itu.
"Apa Maya terlibat?"
"Masih diselidiki."
***
Regan merasa sudah sia-sia semua perjuangannya di depan Sena. Dia terus melamun sampai tak menghabiskan makanannya.
"Regan, ada apa?" tanya Maya.
"Tidak apa, kau segera habiskan makanannya! Kita bisa datang ke tempat Abimanyu lagi."
Maya menggeleng, ia tak mau menemui pria itu lagi jika pada akhirnya dia harus menjadi istri kedua untuk kedua kalinya. Regan begitu tidak tega dengannya, ia juga tak bisa rujuk kembali dengan Maya setelah apa yang dia lakukan.
"Aku bisa membesarkan anak ini sendirian. Kau jangan khawatir! Kejarlah Sena!"
"Jika anakmu masih punya ayah sebaiknya dia harus bertanggung jawab."
Maya menggelengkan kepala. "Bahkan ayahnya tak mau mengakuinya."
Regan menggenggam tangan Maya, ia berjanji akan membawa Abimanyu kepadanya bagaimanapun caranya. Maya menangis, ia merasa dirinya paling menderita. Dia hanya ingin Regan menikahinya lagi secara sah negara dan agama namun sepertinya Regan masih berusaha keras membujuk Sena untuk kembali kepadanya.
"Aku harus berangkat ke kampus. Nanti siang aku akan membawakanmu makanan," ucap Regan.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa tinggal di sini lagi?"
"Maaf, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa."
Regan mengirim pesan pada Sena setiap paginya untuk menyemangatinya namun sepertinya sebuah karma untuknya karena dulu Sena yang melakukannya setiap pagi tapi Regan tak pernah menghiraukannya.
Regan
Semangat! Tak selamanya kenangan buruk itu berakhir memilukan. Masih ada celah untuk memperbaiki semuanya.
Sena
NGIMPI!!!!!
Regan tersenyum sendiri, ia akan terus berusaha sampai titik darah penghabisan. tak dapat di pungkiri lagi jika dia masih mengharapkan Sena untuk rujuk kembali.
Di sisi lain.
Winda datang bersama Kia, ia tentunya menemui Devan. Sena sudah lama tidak berjumpa dengan Kia, ia mencoba tersenyum padanya namun Kia memalingkan wajah. Kia langsung berlari masuk ruangan sang papa sedangkan Winda menghampiri Sena.
"Aku cukup takjub denganmu. Kenapa Devan bisa langsung terpikat denganmu yang notabenya seorang janda?" tanya Winda.
"Pak Devan menganggapku sebagai bawahan saja." Sena menjawab tanpa menatap Winda.
Winda hanya tersenyum tipis, ia memandang Sena sebagai gadis muda yang masih segar, pantas saja Devan terpikat dengannya.
"Devan orangnya jika sayang pasti dia tidak akan melepaskan begitu saja," ucap Winda.
Sena baru menatapnya dengan heran. "Kenapa baru menyadari semua itu setelah kalian bercerai?"
Winda mendekatkan bibirnya pada telinga Sena. Dia membuat Sena sangat terkejut. "Devan itu mandul, dia tidak bisa mempunyai keturunan. Askia bukan anaknya."
DEG...
Sena lalu melirik Devan yang sedang memangku Kia sambil bekerja. Devan pun juga menatap mereka.
"Winda, jangan ganggu sekretarisku! Kau boleh pergi jika tidak ada kepentingan lain," ucap Devan.
Winda tersenyum kecil sambil berkedip pada Sena. Apa Devan tahu jika Kia bukan anak kandungnya? Kenapa Sena ikut sakit hati? Bayangkan Devan jika sampai tahu, dia pasti akan sangat terluka.
"Kau akan rugi jika mau menikah dengan Devan. Jika menikah pun kau harus mencari pria lain yang bisa membuatmu hamil. Bukan salahku 'kan jika aku mencari kesenangan di luar sana. Semua itu ada alasannya termasuk mantan suamimu juga pasti merasakan hal yang sama denganku, makanya dia mencari kepuasan dari wanita lain," ucap Winda.
Byurrr....
Sena menyiram Winda menggunakan air putih di dalam botol. Dia begitu sangat kesal dengan ucapan Winda. Devan dan Kia sangat terkejut melihat ruangan sebelah.
"Kenapa kalian pelaku perselingkuhan malah bangga dan menyalahkan kami? Bukannya kami tak becus memuaskan kalian, kalian saja yang kegatelan dan murahan!" teriak Sena.
__ADS_1
***
Akan sering update jangan lupa LIKEnya.