Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 85 : Devan tak terkalahkan


__ADS_3

Hai pembaca yang budiman, jika berkenan mampir ke karya teman-teman saya ya :)








***


Rapat dadakan ini diselenggarakan dengan penuh emosi. Semua orang berdebat untuk mendapatkan pembenaran masing-masing. Termasuk Alden, dialah yang paling mengotot untuk menguasai perusahaan tersebut. Sedangkan Devan masih terlihat santai namun Antony yang panik.


Suasana semakin riuh, dewan direksi mencoba menenangkan mereka. Mereka berdiskusi dan mengumumkan siapa pemenang dalam rapat dadakan ini.


"Oke, baiklah. Melihat jelas masalah intern yang dialami perusahaan ini kami memutuskan jika Pak Devan memenangkan saham tertinggi di perusahaan."


Alden langsung berdiri sedangkan Antony sangat kaget sekali. Dari mana Devan mampu membeli saham sebanyak itu padahal Antony sudah ketar-ketir karena rekannya hanya sedikit meminjamkan sahamnya.


"Saya tidak terima. Tunjukan perbandingan saham kami!" ucap Alden.


Mereka mengangguk lalu menunjukan di layar yang berada di tembok. Alden tak mempecayai ini semua. Dari 10 orang pemegang saham, milik Devan adalah yang tertinggi sedangkan Alden berada di urutan nomor 2. Itu menunjukan jika perusahaan ini sebagian milik Devan dan dia masih pantas menjadi seorang pemimpin.


Alden membanting gelas membuat mereka sangat terkejut sedangkan Devan tak kaget dengan reaksi Alden yang seperti itu.


Rapat ditutup, mereka langsung keluar dari ruangan dan menghampiri istri masing-masing yang menunggu dengan ketar-ketir. Sena langsung memeluk Devan, apapun yang terjadi dia akan menerima suaminya apa adanya.


"Mas, bagaimana?"


"Semuanya baik-baik saja."


Sena masih tak paham, ia memeluk Devan dengan erat.


"Devan, Papa ingin bicara."


Sena melepas pelukannya, Devan menggandengnya untuk mengikuti Antony. Mereka duduk di depan meja makan. Terlihat wajah Antony nampak sangat kebingungan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dalam beberapa jam saja kau mengembalikan saham yang anjlok itu? Bahkan bantuan dari teman Papa harusnya tidak bisa menutupi semuanya," ucap Antony.


Sena masih bingung dengan percakapan ini dan dia hanya menjadi pendengar setia saja.


"Mungkin orang lain menganggapku hanya diam saja namun aku sudah bertindak saat Alden mengusirku dari kantorku sendiri," jawab Devan sambil tersenyum geli mengingat semua itu. "Tentunya aku meminta bantuan juga dari beberapa klienku dan menggunakan saham rahasia milik Kia."


Antony mengernyitkan dahinya. Devan menjelaskan jika dia sudah memiliki uang untuk putrinya itu di bank bahkan Winda tahu hal itu makanya saat ini Winda mencoba mendekati Kia lagi untuk meminta hak milik Kia. Namun, Devan tak sebodoh itu. Dengan cepat Devan memakai uang itu untuk membeli saham perusahaan yang awalnya sempat anjlok karena harga pasar salah satu produk sedang turun drastis.


"Kau sesayang itu pada Kia? Devan, orang sebaik dirimu pasti banyak cobaan. Kau yang sabar! Pasti Tuhan akan mendengar keluh dan kesahmu," ucap Antony.


Devan mengangguk, mereka melanjutkan makan malam yang tertunda sambil mengobrol hangat. Sebenarnya dia cukup ragu untuk menggunakan uang jatah putrinya itu namun keraguannya menjadi hilang tatkala Kia mulai didekati oleh Winda dan Alden.


Seusai makan, Devan dan Sena berpamitan pulang pada mereka semua. Semua menghormati Devan karena dia orang yang santun dan tenang, tidak seperti Alden yang sedikit-sedikit mengeluarkan emosinya.


Di dalam mobil, Sena bingung dengan Devan karena sedari tadi siang Devan bersamanya dan tidak melakukan apapun namun bisa menghandel semua masalah yang ada.


"Mas, kok kau bisa gercep gitu?"


"Apa yang gercep, Sayang?"


"Masalah saham."


Devan tertawa kecil, ini bukan pertama kalinya saham miliknya anjlok namun untung saja selalu bisa tertolong. Devan menjelaskan juga jika banyak orang baik yang membantunya. Setelah ini dia harus berterima kasih pada mereka termasuk Regan yang mau meminjamkan uang setelah mereka berkirim pesan tadi sore, dia harus membeli saham baru untuk menutupi miliknya.


"Apa? Pinjam Kak Re?"


"Ciee memanggilnya masih Kak Re."


Sena mencubit bahu sang suami membuatnya kesakitan. Dia sangat kesal sekali sebab Devan selalu menggoda masalah Regan.


"Kenapa dia mau meminjamkan?" tanya Sena dengan heran.


"Karena aku memang pinjam. Aku menceritakan masalah perusahaan padanya. Dia mengatakan jika ada uang tabungan lalu menawariku. Aku butuh sekali uang itu lalu aku meminjamnya dan akan ku kembalikan bulan depan," jawab Devan.


Sena menggigit bibirnya, untuk apa malah terikat dengan Regan. Regan dan Alden seharusnya menjadi pria yang harus ditakuti mereka karena sikap mereka pernah jahat di masa lalu.


"Uangnya lekas dikembalikan. Aku tidak mau ada hutang apapun," ucap Sena.


"Iya, aku pasti mengembalikannya."


Mereka pulang ke rumah dengan tenang dan sesampainya di rumah meminta jatah pada Sena. Sena memberikannya apalagi dia membeli sebuah gaun malam yang baru. Mereka bercumbu menikmati malam ini apalagi di rumah itu sudah tidak ada Kia yang menganggu mereka.

__ADS_1


**


Raisa, wanita cantik itu sedang mengecek tugas milik muridnya. Dari jendela kamarnya ia bisa memperhatikan siluet Bram yang sedang mondar-mandir. Raisa meletakan pulpennya lalu menuju ke tempat Bram.


Tok... tok... tok...


Bram membuka pintu, ia langsung memegang kedua bahu Raisa.


"Kau bisa mengusir kecoa?"


Raisa menganggukan kepalanya. "Ada kecoa?"


Bram mengangguk, ia lekas menyuruh Raisa untuk masuk dan mengusir kecoa itu. Raisa memandang kecoa yang berada dibalik lemari dan ternyata ada banyak sekali kecoa. Bram yang seorang duda tidak sempat membersihkan rumah dan tidak ada pembantu di sana.


"Pak Bram, ada banyak sekali kecoanya."


"Tolong bersihkan! Aku phobia dengan kecoa."


Raisa, ia lekas mengambil penyemprot insektisida lalu menyemprotkan di sarang kecoa itu. Kecoa itu beterbangan ke sana ke mari membuat Bram sangat ketakutan. Di berdiri di balik tubuh ramping wanita itu dan suatu ketika kecoa itu menempel pada bajunya sehingga membuat Bram langsung memeluk erat tubuh Raisa dari belakang.


Raisa terkejut, saat mencoba untuk melepaskan tapi tidak bisa karena begitu kencangnya.


Raisa lekas menyemprotkan ke seluruh ruangan sampai kecoa itu mati dan terbang ke luar.


"Pak Bram, sudah... kecoanya sudah pergi."


Bram yang tersadar memeluk Raisa dengan erat lalu melepaskannya. Dia meminta maaf jika lancang.


"Sa, jangan berpikiran jika aku mesum! Aku hanya refleks saja. Maafkan, aku!"


"Tak apa, lain kali rumahnya dibersihkan! Banyak kecoa repot sendiri 'kan?"


"Besok aku akan mencari pembantu."


Raisa mengangguk, dia berpamitan pulang namun Bram mencegahnya. "Tunggu! Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?"


Raisa terhenti dari langkahnya lalu tersenyum kecil. "Besok kita sarapan pagi bersama di warung dekat rumah. Bagaimana?"


Bram berpikir sejenak. "Oke, biar aku yang traktir."


Raisa sangat senang, ia kembali ke rumahnya sedangkan Bram sangat malu mengingat kejadian tadi. Bisa-bisanya ia takut kecoa di depan wanita cantik seperti Raisa.

__ADS_1


***


__ADS_2