
Malam hari pun tiba, Regan mempersiapkan semuanya untuk membantu sang papa yang akan melamar Raisa. Semuanya sudah siap, dia lekas masuk ke dalam kamar setelah semuanya beres.
Raisa pun datang, ia masuk dengan mengernyitkan dahinya. Bram mengenakan kemeja rapi, otot lengannya nampak terlihat jelas serta matanya yang seolah bersinar. Bram menyuruhnya untuk duduk lalu mereka berbincang di depan meja makan yang sudah ada makanan, bunga serta lilin yang menyala. Raisa masih bingung dengan hal ini namun masih diam tak ingin bertanya terlebih dahulu.
"Pak Bram, kenapa rumahmu malah seperti cafe?"
Bram menuangkan anggur merah untuk Raisa. "Biar lebih romantis."
Raisa meminumnya dengan hati-hati, ia masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Bram. Bram memotong steak daging sapi yang dia olah sendiri, untung saja makanannya matang karena sudah mati gaya sedari tadi.
Bram mengobrol ke sana ke mari, dia menjadi pria yang seolah berbeda malam ini dan Raisa bisa merasakan semua itu.
"Enak makanannya? Sepulang dari kantor aku memasaknya dibantu oleh Regan."
"Regan pulang?"
"Iya, aku juga sangat kaget dengan kepulangannya yang mendadak. Oh ya, mau kutuangkan anggurnya lagi?"
Raisa mengangguk, wanita cantik itu merasa jika Bram hari ini nampak berbeda sekali. Dia sangat berkharisma bahkan seperti anak muda saja. Bram memang tampan, pantas saja Regan juga mirip dengan sang papa yang sangat tampan. Makanan mereka pun habis, kini hanya ada lilin dan bunga yang ada di hadapan mereka. Raisa semakin canggung dibuatnya.
Sampai suatu ketika, Bram mengeluarkan sebuah cincin lalu menunjukannya pada Raisa. Rasa masih heran dengan semua ini.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Raisa, maukah kau menikah denganku? Menjadi pendamping pria tua sepertiku bahkan sepantasnya sudah punya cucu."
Raisa terkejut setengah mati, Bram melamarnya dengan sangat romantis seperti ini. Dia masih diam sambil berdebar dengan kencang sementara Regan mengintipnya dari kamar. Dia tak menduga jika Papanya bisa seromantis ini bahkan Regan merasa sangat kalah.
"Raisa, sekali lagi aku bertanya. Maukah kau menikah denganku?"
Raisa menarik nafasnya dengan kuat, dia menjadi merasa gila seperti ini. Apakah ini sungguh terjadi? Dia dilamar oleh seorang pria yang seumuran dengan papanya.
"Tapi..." Raisa mengatakan itu saja sudah membuat Bram sangat ketakutan. Dia menduga jika wanita itu akan menolaknya.
Bram semakin takut akan hal itu. Dia hanya bisa pasrah sambil berdoa jika Raisa menerima lamarannya.
"Bukannya aku ingin menolak namun sepertinya ayahku tidak akan setuju. Pak Bram seumuran dengan beliau walau Pak Bram sendiri terlihat seperti umur 40 tahun. Aku takut jika menerima Pak Bram malah ayahku menentang semua ini."
Bram menatap wajah Raisa yang menunduk sambil memainkan jemarinya. Wanita itu juga tak yakin untuk menolak lamarannya.
Raisa mencoba memandang Bram, pria yang mempunyai nama lengkap Bramasta Lekmana itu tahu jika Raisa ingin menerima lamarannya namun takut dengan sang ayah.
"Jika kau suka dan cinta denganku maka aku bisa meminta restu pada beliau."
"Jangan!!!"
Bram mengernyitkan dahinya, ia masih ingin mendengar ucapan Raisa.
__ADS_1
"Ayahku dulu perwira tentara, beliau sangat keras bahkan mantan-mantanku meminta putus karena beliau. Karena itu juga di umurku yang 35 tahun ini belum menikah. Semua pria takut mendekatiku."
Bram tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Raisa dengan erat. "Mari kita taklukan Papamu! Katamu tadi beliau seusiaku? Aku akan mendekatinya dan membujuknya supaya kita direstui."
**
Sena mengaduk susu sambil melamun, ia membayangkan di rumah ini terdengar suara bayi. Huh... namun dia bisa bernafas lega saat Serafina esok bisa dibawa pulang saat semua berkas terpenuhi. Setelah susu sudah siap diminum, ia membawakannya ke ruangan Devan.
"Sayang, minumlah dulu!"
"Iya, Sayang."
Sena duduk di samping Devan, ia melihat layar laptop yang terlalu terang. Pantas saja sang suami mengeluh matanya sering gatal.
"Sena, Bapak tidak pernah menelpon?" tanya Devan.
"Heum, jarang sih. Kenapa?"
Sena menatap wajah Devan dengan lekat. "Tidak apa, aku hanya bertanya saja."
Sena menguap, ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan. Rasa kantuknya semakin menjadi saat mencium wangi aroma sang suami.
"Bobok, Sayang!" ucap Devan.
__ADS_1
"Kau bobok, aku juga ikut bobok," jawab Sena.
Devan menutup laptopnya lalu menggendong Sena ala bridal style. Dia lalu membawa Sena ke kamar. Setelah sampai di kamar, mereka duduk di atas ranjang. Devan mengambil ponselnya lalu memperlihatkan video Serafina menyebut kata Mama, Ibu panti bilang yang dimaksud Mama adalah Sena karena setelah bertemu Sena, balita itu seolah mencari keberadaannya. Sena mengusap air matanya, ia tak sabar untuk membawanya pulang ke rumah.