
"Kamu bisa cek CCTV yang ada di depan tokomu. Untuk apa aku berbohong, Sena?"
Sena mengambil laptopnya, ia membuka file yang terhubung langsung di CCTV toko bunganya. Matanya terbelalak saat melihat Maya sudah menumpahkan satu jerigen saat tidak ada orang yang lewat.
"Percaya? Orang bisa berubah dengan cepat itu cuman wacana. Mungkin terlihat Maya sudah berubah namun sikap buruknya dia masih menyimpannya."
Sena menunduk, ia menghela nafas dan mencoba tersenyum. "Tak apa, waktu itu aku berniat untuk menolong anaknya yang kehabisan susu. Aku tidak mau memikirkan Maya yang pernah menusukku dari belakang.
Devan merangkul Sena, ia mengecup pipinya dengan gemas. Sena memang memiliki pemikiran yang dewasa dari yang dia duga.
"Mas makan dulu deh! Setelah ini tidak kembali ke kantor kan?"
"Iya, aku hari ini pulang lebih cepat untuk mempersiapkan acara nanti malam. Aku juga mengundang anak-anak panti."
Sena tersenyum. "Surga menantimu, Mas."
**
Kia pulang ke apartemen dan di sana hanya ada Alden. Kia menghampirinya lalu meminta uang membuat Alden sangat kesal.
"Minta uang terus tadi pagi sudah minta uang," ucap Alden.
"Aku ingin shopping."
Alden menatap malas wajah Kia. "Dasar ****** kecil macam ibunya."
Alden mengeluarkan beberapa lembar uang untuk gadis kecil itu, saat Kia akan meraihnya tiba-tiba Alden menarik uang itu kembali. Kia heran lalu menatap wajah Papa kandungnya dengan lekat.
"Umurmu berapa?"
"10 tahun."
Alden mengambil ponsel lalu memotret wajah cantik Kia. Askia pun bingung sekali, kenapa dia memotretnya.
"Kau ingin dapat uang?" tanya Alden.
Kia mengangguk.
"Ikut aku! Dandan yang cantik dan pakai parfum yang wangi."
Kia bingung, karena dia ingin dapat uang pada akhirnya dia mau melakukan apa yang disuruh Alden. Setelah siap, Alden mengantarnya ke salah satu kamar apartemen. Seorang bule tampan membukakan pintu untuknya.
"Wow, dia gadis kecil yang kau ceritakan?"
"Ya, dia cantik 'kan?"
"Bisa apa saja dia?"
Alden tersenyum kecil. "Dia bisa melakukan apapun yang kau mau."
__ADS_1
Pria bule itu tersenyum, dia segera menstransfer uang pada rekening Alden. Alden mengecek sebuah pesan yang ternyata adalah saldo masuk.
"Oke, baiklah. Nanti malam kembalikan lagi ke apartemenku," ucap Alden.
"Oke, aku akan bersenang-senang dengannya."
Kia ditarik oleh pria bule itu untuk masuk ke dalam apartemennya. Kia menolak, ia sangat ketakutan. Dia menggigit tangan pria bule itu lalu lekas keluar dan berlari sekencang mungkin. Pria itu masih mengejarnya, Kia menuju ke lift namun lift itu tak kunjung terbuka. Kia memilih masuk ke tangga darurat, ia berlari dengan kencang namun tiba-tiba pria itu menarik rambutnya.
"Lepasin!!"
Kia memberontak, ia menggigit tangan pria itu lalu berhasil untuk kabur namun tubuhnya yang tidak bisa seimbang lalu terjatuh terguling-guling di tangga dan kepalanya terbentur tembok dengan kuat.
Duaaak...
Pria bule itu sangat kaget, dia cepat kabur dari sana sebelum orang lain melihatnya.
Devan yang membuatkan susu untuk Serafina tiba-tiba tak sengaja menyenggol gelas dan seketika pecah.
Pyaaarr...
Devan sangat terkejut sekali, ia lekas membersihkan pecahan gelas tersebut. Setelah bersih, dia masuk ke kamar dan melihat Sena memangku putrinya itu. Devan memberikan susu itu pada Sena, Sena meminumkannya pada Serafina.
"Makanan sudah siap semua?" tanya Sena.
"Sudah, ruang tamu juga sudah aku panggilkan jasa dekorasi," jawab Devan.
Devan mengambil ponselnya, dia mencoba untuk menghubungi Winda untuk menanyakan perihal Kia lewat pesan.
Winda : Aku sedang di luar kota. Bilang saja pada Alden.
Devan : Alden pasti tidak memperbolehkannya.
Winda : Deritamu!
Devan : Orang yang kau anggap mandul ini akan segera memiliki bayi dari istrinya.
Winda : Sena hamil?
Devan : Iya.
Winda : Pasti bukan anakmu. Aku yakin itu.
Devan : Dia tak semurah dirimu.
Winda : Sialan! Aku melakukan itu karena kau selingkuh dengan sekertarismu dulu. Apa aku bongkar semua kebusukanmu di depan Sena?
Devan : Kau masih mengingat itu saja. Winda, orang licik sepertimu hanya bisa melihat kesalahan orang lain yang sebenarnya tidak ada. Sudahlah, masalah itu hanya salah paham dan aku tidak takut akan ancamanmu.
Winda : Lihat saja! Kau membangunkan singa yang tidur.
__ADS_1
Devan : Apa kau sungguh singa? Bagiku kau hanya tikus got yang suka keluar masuk lubang yang berbeda namun lubang itu sama busuknya.
Winda : **** this!!!!
Devan tersenyum sinis dan lekas menyimpan ponselnya. Sena memandang wajah sang suami dengan lekat.
"Mas, kau bisa gendong Serafina sebentar?"
Devan mengangguk, dia memangku balita kecil itu lalu membantu meminumkan susu botol. Sedangkan Sena langsung ke kamar mandi. Devan mengecup pipi Serafina, balita bule itu memang sangat menggemaskan sekali.
Tok.. tok... tok...
"Masuk!"
"Pak Devan, Pak Antony dan Bu Sofia datang."
"Suruh mereka masuk!"
Tentunya Devan mengundang orang tuanya untuk datang lebih awal karena ingin memberinya surprise. Sofia dan Antony masuk ke kamar putranya itu lalu melihat Serafina.
"Pah, Mah. Duduklah sini!"
"Sena mana?" tanya sang mama.
"Di kamar mandi."
Sofia menatap wajah cantik balita tersebut, ia ingin menggendongnya. Devan memberikan pada sang mama lalu tak berselang menit kemudian Sena keluar dari kamar mandi.
"Sena, kalian pintar sekali memilih anak. Dia sangat cantik sekali."
"Terima kasih, Mah."
Devan melirik Sena, Sena paham, ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Sofia dan Antony sangat heran, namun keheranannya berubah menjadi bahagia saat melihat 2 buah tespek menunjukan hasil yang positif.
"Kau hamil, Sena?"
Sena mengangguk, betapa bahagianya mereka yang mendengarnya. Antony mengusap kepala Devan, ia bangga dengan putranya itu.
"Kesabaran kalian membuahkan hasil. Kalian akan memiliki momongan juga tapi bagaimana dengan Serafina? Kalian akan mengembalikannya di panti asuhan?" tanya Sofia.
"Kami akan tetap mengadopsinya " jawab Devan.
Antony nampaknya kurang setuju, ia menyarankan untuk fokus pada anak mereka sendiri dan mengembalikan Serafina. Devan memandang wajah Sena yang mendadak murung.
"Pah, ini pilihan kami. Sera adalah pembawa keberuntungan bagi kami. Baru sehari dia datang di rumah ini sudah ada kabar baik jika Sena hamil," ucap Devan.
Sofia sangat setuju dengan Devan, Sera sudah terlanjur diadopsi dan tidak mungkin dikembalikan begitu saja ke panti asuhan. Antony hanya bisa menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar mereka.
"Jangan hiraukan ucapan Papa kalian!" ucap Sofia.
__ADS_1
Sofia memutuskan untuk menyusul suaminya. Setelah mereka keluar, air mata Sena menetes, tentu saja banyak yang mencela kondisi putri angkatnya itu.
"Serafina hanya anak kecil yang butuh diperlakukan sama. Dia tidak salah apa-apa. Kenapa banyak orang yang tidak menyukainya?" ucap Sena.