Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 46 : Membujuk


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" tanya Winda sangat geram.


Dia menjambak rambut Sena, Sena pun tak hanya diam saja, dia juga menjambak rambut Winda. Devan segera menghampiri mereka dan melerainya. Devan menduga jika Winda memang mengatakan hal yang menyakitkan pada Sena, Sena bukanlah wanita penyerang yang tanpa sebab menyerang orang, pasti ada alasan dibalik semua itu.


"Ada apa kalian? Ini kantor bukannya jalanan," ucap Devan menatap bergantian mereka.


"Dia yang menjambakku, apa kau tak melihatnya?" tanya Winda sambil membenarkan rambutnya.


Kia memeluk sang mama erat lalu menatap tajam pada Sena. "Jangan sakiti Mamaku!"


Sena menatap gadis kecil itu yang seolah sudah berubah. Tentu saja, pasti Winda yang mengomporinya. Winda keluar dengan Kia. Devan mencoba menarik Kia namun gadis itu tak mau ikut dengan sang Papa.


"Kia, mau ke mana? Kau harus pulang ke rumah Papa."


"Gak mau. Aku mau ikut Mama."


Mereka lalu keluar dari ruangan itu, Devan merasa ada yang tidak beres dengan Kia. Sedangkan Sena terduduk sambil menyisir rambutnya. Dia merasa kesal dengan Winda, wanita tersebut terlalu meremehkan Devan sebagai korban.


"Kenapa kalian sampai bertengkar? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Devan.


Sena menggelengkan kepalanya, tak mungkin dia mengatakan pada Devan, pasti dia akan merasa sangat sakit hati. Sena merapikan dan mengelap mejanya yang sempat terkena air. Devan mengusap wajahnya kasar lalu keluar dari ruangan itu. Devan pasti marah padanya karena bertengkar dengan mantan istrinya.


Sena tak mau ambil pusing melanjutkan pekerjaannya. Namun dia masih kepikiran Devan, apakah dia menyadari jika Kia bukanlah anaknya? Jika Devan sudah tahu namun berpura-pura tidak tahu maka dialah aktor yang sebenarnya.


Ah... sudahlah, itu urusan Pak Devan. Urusanku dengan Regan saja masih belum terselesaikan.


Sena kembali bekerja dengan cepat, ia tak mau menyia-nyiakan waktu. Sebentar lagi jam istirahat makan siang akan tiba. Sambil mengerjakan, ia teringat dengan samg bapak yang sudah lama dia tak menjenguknya di penjara. Sena memutuskan nanti sore akan menjenguk sang bapak serta membawakannya makanan.


Sore hari tiba.


Pekerjaannya selesai, ia melihat ruangan sampingnya dan melihat Devan masih di depan laptopnya. Sena masuk ke ruangannya, ia melihat Devan sedang memijat pelipis matanya.


"Pak, pekerjaanku sudah selesai. Aku boleh pulang?"


Devan mengangguk.


"Pak Devan tidak pulang?"


"Nanti saja. Oh ya, Anjas akan mengantarmu pulang."

__ADS_1


Sena tersenyum setelah itu dia segera keluar dari sana. Ketika sudah sampai di depan pintu, ia melihat Devan masih termenung membuat Sena tidak tega. Sena kembali lagi menghampiri Devan lalu mengajaknya untuk pergi ke pasar malam yang diadakan sebulan sekali.


"Sena, aku tidak bisa. Lain kali saja ya?"


"Kau marah denganku karena bertengkar dengan mantan istrimu?"


Devan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya ingin di sini dulu."


Sena paham, ia lekas keluar dari sana lalu berharap Devan bisa mengetahui apa yang diucapkan Winda tadi. Sena begitu tak tega meninggalkan Devan saat sedih padahal Devan selalu ada jika Sena sedang terpuruk. Tak mau berpikir panjang, Sena lekas kembali menghampiri Devan lalu menarik kursi, dia duduk di depan Devan membuat pria itu heran.


"Sena, tak jadi pulang?"


Sena menggeleng. "Aku akan menemanimu sampai kau ikut pulang juga."


"Aku tidak apa-apa. Aku memang sedang malas pulang ke rumah karena Papaku berusaha menjodohkanku dengan seseorang."


Sena sangat terkejut, pantas saja sedari tadi Devan sangat resah. Devan sudah sangat dewasa untuk di jodohkan, dia bukan anak kecil lagi.


"Pak Devan bisa menolaknya."


"Aku bisa menolaknya asalkan kau mau jadi kekasihku?"


Tak berselang lama, Kia datang. Dia memeluk sang Papa. Devan menciuminya dengan gemas.


"Tante sekarang jangan dekat-dekat Papaku!" ucap Kia.


"Kia sayang, Tante salah apa?"


Kia memalingkan wajahnya. Devan tentu saja memarahinya. Pasti semua ini ulah Winda yang membujuk Kia untuk membenci Sena.


"Tante Sena minta maaf jika ada salah sama Kia," ucap Sena.


"Tante jahat, Kia sakit tapi tidak mau menjenguk," jawab Kia. 


Sena mengernyitkan dahi, itu sebabnya Kia marah padanya? Sena berjongkok sambil menggenggam tangannya. Kia menepisnya dan meminta sang Papa untuk segera pulang.


"Sena, maafkan Kia ya!" ucap Devan.


"Tidak masalah, Pak Devan. Aku paham kok."

__ADS_1


Devan menggandeng Kia untuk keluar namun langkahnya terhenti dan menatap Sena. "Sena, katanya ingin ke pasar malam?"


Sena tersenyum senang. Dia mengangguk, mungkin ini kesempatannya untuk dekat kembali dengan Kia.


*


Regan memandang kantor tempat Sena bekerja. Dia hanya bisa menatap dari jauh saja. Saat Sena keluar, Regan merasa sangat sakit hati saat melihat mantan istrinya bersama Devan beserta anaknya.


Apa memang sudah sudah tidak ada kesempatan untukku? Apa semuanya sudah terlambat? Aku menyesali semuanya.


Sena menatap mobil Regan dari kejauhan, ia lekas menggandeng Devan membuat pria itu terkejut. Banyak pasang mata yang melihatnya namun tak membuat Sena melepaskan gandengannya.


Devan mencari sesuatu, benar saja jika Sena melakukan itu karena ada hal lainnya.


"Kenapa mantan suamimu sangat keras kepala sekali?" tanya Devan.


"Dia memang keras seperti batu," jawab Sena.


Regan yang sangat cemburu segera keluar dari sana lalu menghampiri mereka yang akan masuk mobil. Tangan Regan menarik tangan Sena namun Devan juga menarik tangan Sena yang satunya.


"Sena, Mama ingin bicara padamu. Ayo ikut sebentar!"


Sena menggelengkan kepalanya. "Bukankah Mama membenciku bahkan tidak ingin menemuiku?"


Regan menarik paksa sedangkan Devan masih mempertahankannya. Mereka menjadi tontonan dan membuat Sena sangat malu. Dengan sekuat tenaga Sena memberontak dan ia malah jatuh terduduk.


"Akh..." Sena berteriak kesakitan karena bagian intimnya baru saja melakukan kuret akibat keguguran.


Regan dan Devan segera membantunya bangun. Sena melepaskan tangan mereka berdua yang membantunya berdiri namun Regan memohon untuk kali ini saja ikut dengannya karena Intan benar-benar ingin berbicara pada Sena.


"Oke, aku ingin ikut denganmu dan jika kau berbohong maka burungmu aku potong," ancam Sena.


Regan dan Devan bergidik ngeri. Sena meminta maaf pada Kia karena tidak bisa pergi ke pasar malam, esok dia berjanji akan pergi bersama-sama. Kia cemberut, ia tak merespon sama sekali. Perubahan Kia membuat Sena sangat sedih.


Regan senang pada akhirnya Sena mau ikut bersamanya lalu dia memilih naik taksi dari pada satu mobil dengan Regan.


"Sena, Mama ingin minta maaf denganmu. Beliau sudah tahu perihal kau keguguran," ucap Regan saat menunggu Sena mencari taksi.


"Aku akan maafkan beliau namun jika disuruh rujuk denganmu, aku tidak mau," jawab Sena tanpa basa-basi.

__ADS_1


__ADS_2